![]() |
| (illustration edit from canva) |
Nara menemukan kotak kayu itu di sudut lemari, tertutup debu dan kenangan. Kotak kecil berwarna cokelat tua, dengan kunci sederhana yang sudah lama berkarat. Ia membukanya perlahan, seolah takut mengganggu sesuatu yang selama ini tertidur. Di dalamnya, ada puluhan surat. Semua ditulis dengan tulisan tangan yang sama rapi, sedikit miring ke kanan. Surat-surat itu tidak pernah memiliki alamat, tidak pula pernah dikirim. Nama di bagian atas selalu sama: Ibu.
Sejak ibunya meninggal tiga tahun lalu, Nara berhenti menulis. Padahal dulu, setiap kali hatinya penuh, ia menuangkan semuanya ke dalam surat. Tentang hari-hari yang melelahkan, tentang kegagalan kecil, juga tentang hal-hal sepele yang ingin ia ceritakan pada ibunya. Ada hari-hari ketika Nara merasa baik-baik saja. Namun ada pula malam-malam sunyi ketika kesedihan datang tanpa permisi. Ia akan duduk di tepi ranjang, menatap langit-langit kamar, dan bertanya pada dirinya sendiri mengapa kehilangan terasa semakin berat justru ketika waktu telah berlalu lama. Ia belajar bahwa waktu tidak selalu menyembuhkan kadang ia hanya mengajarkan cara berpura-pura kuat.
Nara duduk di lantai kamar, membuka satu per satu surat itu. Pada beberapa surat, tinta tampak memudar, seolah ikut lelah menyimpan emosi terlalu lama. Nara menyentuh kertas-kertas itu dengan ujung jarinya, membayangkan ibunya membaca setiap kalimat dengan senyum sabar yang dulu selalu ia rindukan. Ia merindukan cara ibunya mendengarkan tanpa menghakimi, merindukan pelukan yang tidak menuntut penjelasan apa pun.
Air mata jatuh tanpa permisi. Bukan karena sedih semata,
tetapi karena kesadaran bahwa selama ini ia menahan terlalu banyak hal
sendirian. Ia sering berkata pada dirinya sendiri bahwa ia sudah kuat, padahal
yang ia lakukan hanyalah menunda runtuh. Malam itu, Nara mengambil selembar
kertas kosong dan mulai menulis lagi. Untuk pertama kalinya setelah
bertahun-tahun, tangannya tidak gemetar.
Kotak kayu itu kembali ia simpan di lemari. Bukan sebagai tempat kesedihan, melainkan sebagai pengingat bahwa cinta tidak pernah benar-benar pergi ia hanya berubah menjadi rindu yang lebih sunyi. Dan malam itu, sebelum tidur, Nara berbisik pelan ke udara kosong, “Aku akan baik-baik saja, Bu. Pelan-pelan.”
Penulis: Nazwa Aulia
Editor: Muhammad Fatih
