Kupat dan Lepet : Makanan Khas Hari Raya yang Penuh Makna

 


Dok. Google

Hari raya Idul Fitri kurang lengkap jika di meja makan tidak tersedia kupat dan lepet, karena makanan ini biasanya ada pada hari tertentu saja. Keeksisan kupat dan lepet masih terjaga dari dulu hingga sekarang, di jaman modern makanan tersebut masih menjadi andalan setiap hari raya. Antara kupat dan lepet mungkin tak bisa dipisahkan, di mana ada kupat di situ ada lepet, begitupun sebaliknya. Kupat (Jawa) yang dalam istilah bahasa Indonesia di sebut "Ketupat". Sedangkan kata "Lepet" itu merupakan istilah asli dari Jawa pula. Ketupat dan lepet tak jauh beda dalam pembuatannya, hanya saja dalam pembuatan kupat menggunakan beras sedangkan lepet berasal dari beras ketan. Namun yang unik dari kedua makanan ini pembungkusnya menggunakan daun kelapa yang masih muda atau yang biasa di sebut dengan janur.

Dari berbagai literatur yang dibaca penulis, kupat dan lepet adalah makanan khas yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada awal abad ke-15. Sunan Kalijaga memperkenalkan kupat dan lepet dalam rangka untuk berdakwah menyebarkan Islam kepada masyarakat di tanah Jawa. Penggunaan kupat dan lepet sebagai media dakwah dipilih karena memang dekat dengan kebudayaan masyarakat Jawa saat itu. Mungkin kita yang tinggal di daerah Jawa sudah tak asing lagi dengan sebutan Bodo atau Bakda Kupat. Biasanya Bakda Kupat dilaksanakan satu minggu setelah hari raya Idul Fitri. Yang unik dari Bakda Kupat, ada kenduri atau selametan setelah subuh yang dipimpin oleh kyai atau sesepuh setempat. Orang-orang yang mengikuti kenduri kupatan biasanya membawa beberapa kupat yang sudah dibelah tengah kemudian ditaburi parutan kelapa dan tentunya ada lepet.

Istilah "Kupat" merupakan singkatan dari “Ngaku Lepat" yang berarti mengakui kesalahan. Sehingga sudah tak asing lagi apabila kita pada hari raya Idul Fitri banyak manusia yang mengakui kesalahannya dan biasanya pengakuan tersebut dilakukan dengan cara sungkeman kepada orang yang lebih tua.

Selain itu pada wadah kupat atau yang biasa dibuat dari Janur yang berasal dari singkatan "Jatining Nur" yang berarti cahaya hati. Arti itu melambangkan kebersihan hati setelah mengakui kesalahan dan meminta maaf.

Sedangkan anyaman kupat yang sangat jlimet alias rumit melambangkan bahwa setiap kehidupan manusia memiliki jalan berlika liku dan tak terpisahkan oleh kesalahan. Jika dilihat dari bentuknya, ketupat berbentuk segiempat yang memiliki 4 sudut yang melambangkan 4 jenis nafsu di dunia, yaitu nafsu lawwamah, amarah, supiah dan mutmainah.

Selain itu, ketupat diisi dengan beras. Tentunya hal itu juga ada maknanya. Beras yang ada di dalam ketupat melambangkan kemakmuran. Beras yang semula hanya butiran kemudian setelah di masak melebur dan menyatu jadi satu, yang melambangkan adanya kebersamaan sanak family, tetangga, kerabat pada saat hari raya Idul Fitri.

Tentunya makan ketupat tak lengkap jika tanpa kuah sayur. Mayoritas masyarakat Indonesia memasak kuah sayur ketupat menggunakan santan untuk menambah cita rasa. Hingga sampai sekarang kita seringkali mendengar sebuah pantun “makan ketupat pakai santan, bila ada salah mohon dimaafkan” kira begitulah bunyinya.

Pantun tersebut ada hubungannya dengan kata "Lepet" yang berasal dari singkatan “Silep kang rapet” dalam bahasa Indonesia berarti tutup yang rapat. Setelah kita bermaaf-maafan di hari raya hendaknya antara satu dengan yang lain saling menutupi kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.


Penulis : Kharirroh (Kru Magang LPM Edukasi 2020)

Editor : Syafiq

Posting Komentar

0 Komentar