Top News



Dok. Internet 
Moksa

Tanpa peti mati
Kita pulas di kematian
Dan moksa di jarak langit yang jauh
Kata orang bijak “Kau di dalamku
Dan aku di luarmu”
Kita jagat yang saling membentuk lingkaran yang tak putus
Hayat yang mati
Dan mati yang hidup
Kita timbul sebab-akibat
“siapa aku?”
“siapa yang satu?”

2017

Mural

Tulislah tentang rentang jalan kota:
Ruang yang mengembalikan semua keramaian ingatan
Di gemilang mata lampu
Aku sakit: batuk dan asma
Ada kemacetan yang merapat di lengan
Menaksir tajam pisau-pisau kehilangan di kepala
Aku ada, ingin reda;
Aku ingin kembali ke musim segar
Aku ingin pulang tanpa kemacetan
Aku mau ibu, aku mau rindu atau mau mati di tanahku.
Bukan di kota yang tak menyimpan ari-ariku

Aku ingin mencuri warna krayon hijaumu
Menggambar gemunung dan pantai yang utuh.
2017


Hantu

Langit sepia dan orang-orang murung adalah keserasian November
Hantu-hantu muncul di kepala mereka
Menunggu kopi sedia membantu terjaga seharian
Dalam hitungan menit pertama, kedua dan ....kesepuluh
Hantu gerimis bergentayangan
Memenuhi udara
Bukankah cinta membantu terjaga...

Aku mencoba tidur
Melupakanmu di luar kedai
Menghitung domba kembali
Mencoba tidur lagi
Satu, dua, tiga....

Domba-domba tidak menolong ketika hujan turun.
Hantumu tetap menyerbu, menerjang dan merayu.

2018



Dok. Edukasi/ Alma


Semarang, EdukasiOnline – Sebelum mengakhiri masa bhaktinya, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Kabinet Sinergi Karya UIN Walisongo  adakan serangkaian acara “Tadarus Kebangsaan” yang dimulai pada hari Senin (10/12). Acara pertama yang diselenggarakan yakni Seminar Nasional dengan tema "Menjaga Stabilitas Pertumbuhan Ekonomi Bangsa" yang bertempat di Auditorium 2 kampus III. Acara yang diikuti oleh ratusan mahasiswa ini tepat dimulai pada pukul 09.00 WIB.

Arifuzaki Ulil Absor, selaku Ketua Panitia mengatakan bahwa Seminar Nasiobal ini merupakan  salah satu rangkaian acara yang diselenggarakan oleh DEMA UIN Walisongo, Semarang. "Acara ini merupakan salah satu  persembahan terakhir kita dari DEMA Kabinet Sinergi Karya. Ada kurang lebih 5 event yaitu Seminar Nasional, Mimbar Bebas 1&2, Bedah buku, dan Dialog Publik", terangya.

Ia pun menambahkan bahwa ada beberapa pembicara yang terlibat dalam seminar kali ini, antara lain; Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia, Bank Indonesia Republik Indonesia, Ahmad Rofiq –Guru besar UIN Walisongo, dan Imam Yahya selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang. Sri Mulyani yang merupakan Menteri Keuangan Republik Indonesia dan digadang sebagai pembicara dalam acara seminar ini berhalangan hadir karena suatu hal.

Hani Pramono yang merupakan salah satu peserta seminar ini mengatakan bahwa seminar ini penting untuk diadakan, "Acara seminar ini penting, terutama untuk mengetahui bagaimana pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Indonesia saat ini", ujar mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan semester 3 tersebut. (Edu_On/AL)




Dok. Internet


“Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang sesat karena semua perempuan korban penipuan dan ketidakadilan”


Saat itu saya merasa bosan dengan kuliah dan tugas yang menumpuk, hingga perpustakaan menjadi tempat pelampiasan. Awalnya saya hanya sekedar mencari buku tanpa niat untuk meminjam. Sampai saya ke rak bagian novel dan menemukan salah satu buku kecil yang menyedot perhatian saya. Warna merah yang kental bagai darah dan ilustrasi perempuan yang sedang memeluk lutut membuat saya penasaran apa isi novel tersebut, dan akhirnya saya meminjam walapaun terkena denda sekian ribu.

Novel itu berjudul Perempuan Di Titik Nol, ditulis oleh seorang dokter bernama Nawal El Sadawi paska mengunjungi seorang tahanan perempuan di Mesir. Novel ini bercerita tentang bagaimana peliknya kehidupan perempuan di Mesir yang masih kental dengan sistem patriarki. Perempuan di sana tak ubahnya perempuan di Indonesia. Mereka hidup di dalam aturan yang ketat dan dibawah bayang-bayang laki-laki. Perempuan menjadi target kekerasan baik secara fisik maupun psikis oleh kaum laki-laki.

Potret itulah yang digambarkan melalui Firdaus, tokoh utama dalam novel ini. Sejak kecil Firdaus hidup dalam tekanan dan sudah mendapatkan pelecehan seksual dari teman dan pamannya. Bahkan ketika sudah menikah Firdaus acap kali dipukuli oleh suaminya sendiri.
Selain itu Nawal juga memaparkan tentang masalah kaum perempuan, yakni berupa pendidikan. Perempuan dalam novel ini hanya boleh mengenyam pendidikan setingkat SMA. Karena tokoh utama Firdaus, tidak diizinkan oleh pamannya melanjutkan sekolah lantaran biaya sekolah yang cukup tinggi.

Lalu kisah pun berlanjut. Paman serta bibinya menikahkan ia dengan seorang pria tua. Pria tua itu memang kaya raya, namun pelit dan memiliki penyakit bisul bernanah di wajahnya. Karena tidak tahan dengan perlakuan suaminya yang keras dan sering memukul, Firdaus akhirnya kabur dari rumah.

Di tengah perjalanan, ia bertemu Bayoumi, seorang laki-laki  yang awalnya baik hati ternyata memperkenalkannya pada profesi pelacur. Ia  merasa dijajah oleh banyak laki-laki karena Bayoumi selalu mengajak teman-temannya. Ia tidak tahan dan kabur meninggalkan rumah Bayoumi. Di perjalanan, ia bertemu seorang perempuan yang ternyata seorang germo, berkat perempuan itulah ia mengetahui bahwa dirinya memiliki harga tinggi.

Sampai pada suatu hari, ia dipaksa oleh seorang germo laki-laki  untuk menikahinya. Firdaus tidak mau. Dan timbullah  percekcokan antara mereka, hingga laki-laki itu mengambil pisau dari kantongnya.Tapi dengan cepat Firdaus dapat menangkis dan menancapkannya ke leher, dada dan perut si germo. Lalu Firdaus kabur. Polisi menangkap dan memutuskan hukuman gantung. Sebenarnya Firdaus bisa bebas dengan meminta pengampunan ke presiden namun Firdaus menolak tawaran tersebut.

Kebebasan

Setiap manusia adalah pelacur demi memenuhi hasrat masing-masing. Begitulah jalan pikiran Firdaus seorang sosok perempuan yang terlahir dari ketidakadilan budaya saat itu, di mana laki-laki berkuasa di atas perempuan. Novel ini juga menyajikan pergolakan batin dan perasaan. Bagaimana bisa seorang perempuan diperlakukan semena-mena oleh kaum laki-laki meskipun itu saudara maupun suami sendiri.

Dalam novel ini, kita disajikan potret patriarki yang begitu kejam dan mengekang. Tapi begitulah adanya, budaya patriarki menurut Soe Tjen Marching selalu menuntut kepasrahan dari kaum wanita. Firdauslah sketsa dari cerita itu. Namun Nawal seolah tak pernah mengiklaskan akan padangan itu. Nawal melalui tokoh Firdausnya ingin berbicara lebih lantang terkait kedudukan wanita. Bukankah semua manusia berhak bebas dan memilih pendidikan dan jalan hidupnya masing-masing, tak terkecuali kaum perempuan. Sebab itulah kenapa Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci, karena ia mempunyai kebebasan dan menjadi penguasa untuk dirinya sendiri. 


Judul Buku                  : Perempuan di Titik Nol
Penulis                         : Nawal el – Saadawi
Tahun terbit                 : Juni 2010
Penerbit                       : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Jumlah halaman           : 155 halaman
ISBN                           : 978-979-461-040-4
Peresensi                     : Zamrud Naura Orchida 


.

doc. Edukasi
 Semarang, Edukasi Online – Bertempat di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo, Mahasiswa Kelas Seni Budaya dan Keterampilan Pendidikan Guru Madrah Ibdita’yah (PGMI) adakan Seminar Nasional Wayang Beber, Rabu (06/12). Acara ini merupakan kerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Penerbitan Masyarakat (LP2M ) dan Pusat Pengembangan Islam dan Bahasa Jawa (PPIBJ) .  Seminar ini dibuka oleh ketua LP2M, Solihan ditandai dengan melukis di kanvas. Dalam acara ini panitia mengundang Wisto Utomo seorang pelestari Wayang Beber dari Gunung Kidul, Yogyakarta, dan Nony Tia atmawati seorang dalang remaja Wayang Beber.

“Awalnya kita hanya ingin mengadakan kunjungan wayang beber di Gunung Kidul. Tetapi setelah dipertimbangkan lebih bermanfaat jika mendatangkannya langsung dari Gunung Kidul.” ujar Shofa, ketua panitia seminar.

 Menurut Muhammad Rikza Chamami  selaku perwakilan PPIBJ mengaku mendukung acara ini. Ia juga menambahkan adanya kegiatan ini dapat mendorong mahasiswa dan akademisi  memiliki kepribadian untuk melestarikan peninggalan terkait dengan Walisongo.

Dalam kesempatan kali ini, Rikza sapaan akrabnya berharap untuk kedepannya  acara ini menjadi kegitan rutin sebagai wujud   kecintaan dengan budaya jawa. “Saya harap terdapat acara ini bukan hanya ceremonial belaka tetapi sebagai follow up. Sehingga nanti jika ada mahasiswa yang ingin menjadi dalang maka bisa kita dorong.” ujarnya.

Ditulis oleh : Catur Krisna (Kru Magang LPM Edukasi 2018)
Doc. Edukasi/ Fatim

Semarang, EdukasiOnline—Seminar Nasional dengan tema “Wayang Beber; Pelestarian dan Transformasi Bagi Pendidikan Karakter Bangsa”, pada (5/12) berjalan lancar. Acara tersebut berlangsung di Auditorium II Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, dihadiri oleh tiga pembicara, yakni Wisto Utomo sebagai Pelestari Wayang Beber, Nony Tia Fatmawati sebagai dalang remaja Wayang Beber, dan Rikza Chamami sebagai perwakilan dari Pusat Pengembangan Islam dan Budaya Jawa.

Sebelum pementasan Wayang Beber dimulai, Wisto Utomo bercerita tentang sejarah Wayang Beber. Ia menyatakan bahwa Wayang Beber datang ke Gunung Kidul dan Pacitan pada kisaran tahun 1742 Masehi. “Wayang Beber datang dari Kartosuro dimana saat itu Kerajaan Kartosuro dan China berperang, beruntung ada orang yang menyelamatkannya,” papar lelaki berumur 48 tahun tersebut.

Usai bercerita soal sejarah Wayang Beber, Wisto, panggilan akrabnya menjelaskan terkait dengan perawatan Wayang Beber. Perawatan tersebut berupa pemberian sesajen setiap malam Jum’at Kliwon, lalu pemberian kemenyan setiap pentas Wayang Beber akan digelar.

Terakhir, penyimpanan Wayang Beber juga merupakan ritual yang penting dilakukan. Seperti penempatan di ruang khusus,  yang di dalamnya terdapat burung merak sebagai bahan pengawet alami untuk Wayang Beber. “Karena benda ini sangat keramat, maka perawatan dan penyimpanannya harus menggunakan cara sakral dan hati-hati,” pungkasnya. (Edu_On/Ris)


Doc. Internet


Bagi penggemar lagu poprock tentu tak asing lagi dengan grup band asal Amerika, yakni Maroon 5. Beberapa waktu yang lalu, saya membuka portal youtube dan seketika itu muncul video lagu yang berjudul Girls Like You. Setelah saya amati ada beberapa hal yang menarik disana.

Dalam video bertajuk Girls Like You  ini memang menyita perhatian banyak orang. Bagaimana tidak ? Terbukti sampai saat ini video tersebut sudah memiliki like 9,3 juta dan ditonton sebanyak 2,1B . Selain itu Maroon 5 menggandeng Cardi B yang tak lain adalah seorang rapper. Namun ada sisi lain yang menyita perhatian banyak orang, yakni isi video dalam lagu ini. Penyatuan kekuatan wanita yang berasal dari berbagai suku, ras, agama dan profesi.

Lalu mengapa harus wanita yang ada dalam video tersebut ? Ya, karena memang judul lagunya Girls Like You , dan wanita itu acapkali diidentikkan dengan makhluk yang tidak berdaya dan menjadi obyek sasaran menjadi korban kekerasan. Lagu yang digawangi oleh Adam Levine ini pun menghadirkan 26 wanita yang berasal dari berbagai ras, suku, agama, budaya dan profesi. Mereka dihadirkan dalam video tersebut, menyatu dalam alunan musik, tertawa dan bahagia bersama.

Video yang berdurasi kurang lebih empat menit tersebut melakukan penyampaian maknanya secara rapi dan tersirat. Maroon 5 dengan berani ingin mendobrak isu- isu perbedaan yang kini kian menjadi permasalahan di berbagai belahan dunia.

Ada beberapa lirik lagu yang menyampaikan bahwa hubungan antara laki- laki dan perempuan itu saling melengkapi. Dan keduanya memiliki posisi yang setara dan tak ada yang berat sebelah.

Girls like you
 Love fun, yeah me too
 What I want when I come through
I need a girl like you.

Beberapa bintang ikut serta mewarnai musik video itu. Mereka adalah, Tiffany Haddish, J Lo, Camila Cabello, Pheobe Robinson, Sarah Silverman, Mary J Blige, Rita Ora, dan sang Wonder Woman, Gal Gadot. Tak hanya itu, pembawa acara televisi Ellen DeGeneres yang juga hadir dengan penampilan maskulinnya.

Kemudian, Jackie Fielder yaitu seorang wanita yang telah mengambil peran besar dalam Dakota Access Pipeline (DAPL), untuk menyediakan asupan air bersih bagi masyarakat. Ada juga wanita yang telah meraih prestasi besar di dunia olahraga seperti, Danica Patrick. Ia adalah seorang pembalap wanita yang telah memenangkan balapan IndyCar Series. Secara keseluruhan pose wanita  dihadirkan dengan rupa, pakaian dan gaya dalam bertindak secara berbeda- beda. Dan hal itu memberikan kesan tersendiri bagi warganet.

Selain wanita yang menjadi bintang- bintang besar, mungkin ada beberapa wanita yang asing. Namun mereka adalah wanita yang tergabung sebagai aktivis perdamaian dunia.

Namun dari sekian hal yang membuat ketertarikan pada video lagu ini,  ada hal yang menjadi titik kekurangan.  Jikalau lagu ini ingin memberikan pesan kepada kaum perempuan melalui perjuangannya,  harusnya dalam video lagu ini ditampilkan pula sedikit gambaran usaha perempuan itu dalam mencapai dan menggapai tujuannya. Karena tak sedikit masyarakat awam yang belum mengenal tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam video lagu itu. 

Wanita Berhijab
Selain beberapa wanita yang telah disebutkan, selang beberapa detik muncul dua perempuan yang berhijab. Hal ini menarik karena menurut beberapa sumber, baru kali ini Maroon 5 berani menghadirkan wanita berhijab dalam video lagunya. Mereka adalah wanita yang menggagas media Islam Muslimgirl yakni Amani Al-Khatahtbeh dan wanita pertama yang menjadi legislator di Amerika Serikat yakni Ilhan Omar. 

Sebagai penutup dalam lagunya, dihadirkan Behati Prinsloo dan anaknya yang baru lahir beberapa waktu lalu Gio Grace Levine. Dengan pelukan hangat, video musik ini pun ditutup dengan begitu manis.

*Ditulis oleh Fatimatur Rohmah


Doc.  Edukasi/Zamrud NO



Seseorang kawan bercerita kepadaku. Ia mengeluhkan tentang selebaran yang ditempelkan pihak birokrasi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), beberapa waktu lalu. Larangan berjualan "Kantin Kejujuran" di sekitar gedung perkuliahan FITK. Tepatnya di Gedung N dan Gedung D kampus 2 UIN Walisongo.

Merasa geram dengan himbauan itu, ia tak tinggal diam. Tentu ia merasa simpati kepada kawan seperjuanganya, para mahasiswa penjaja kantin kejujuran. Ia pun melakukan pergerakan, pembelaaan. Tentu saja dengan cara sederhana, cara-cara orang pinggiran yang tak berkuasa. Ia membalas selebaran larangan berjualan yang tertempel manis di dinding. Mungkin saja ia terinspirasi oleh cerpenya Eka Kurniawan "Corat-coret Di Toilet". Untung saja selebaran itu tak tertempel di toilet yang jarang berair itu. Ups, keceplosan.

Ia pun menjawab dengan  menuliskan di secarik kertas, ditempelkanya berdampingan. Biar terlihat mesra.  "Ampun ngoten pak, bu".  Aku masih mendengarkan ceritanya. Merasa terpanggil, kawannya pun meniru hal yang dilakukan kawanku. Ia menambahi balasan kawanku. "Itu kan halal, jangan mematikan belajar mahasiswa dalam berwirausaha lah" tulis kawannya kawanku.

Membunuh Semangat Wirausaha Mahasiswa
Begitulah kira-kira cerita kawanku yang masih aktif kuliah di kampus, eh, di gedung perkuliahan FITK maksudku. Beda dengan mahasiswa tua sepertiku. Aku mendengarnya dengan mengelus dada. Sekalian mengambil korek di saku. " Tega bener nih birokrasi", batinku dalam dada.

Ini sungguh kebijakan yang fatal menurutku. Tak seharusnya birokrasi FITK mengambil keputusan yang dapat membunuh semangat mahasiswa dalam berwirausaha, meskipun kecil-kecilan macam kantin kejujuran. Seharusnya birokrasi memberikan jalan keluar bukan hanya melarang. Contoh saja polisi lalu lintas, saat hendak melakukan blokade jalan meraka juga memberikan solusi jalur alternatif kepada pengendara yang hendak melintas.

Memang benar, dengan hadirnya kantin kejujuran, gedung perkuliahan jadi tidak sedap dipandang. Berserak dimana-mana. Di depan kelas, di beteng tempat duduk, tentu membuat mahasiswa ingin duduk terganggu karena keberadaan lapak kecil kantin kejujuran. Ditambah lagi bekas sampah yang berceceran sisa bungkus makanan dari kantin kejujuran. Tentu aku sepakat ini dapat menggangu keharmonisan pandangan mata jika hendak bertandang ke gedung perkuliahan FITK.

Namun, seharusnya bukan keputusan larangan berjualan itu yang dipilih. Aku kira masih banyak solusi-solusi lain yang bisa dipilih birokrasi bagi mahasiswa. Terutama bagi mereka para penjaja kantin kejujuran. Jika masalahnya adalah kesemrawutan, seharusnya ditata bukan dilarang. Dibuatkan etalase di masing-masing gedung perkuliahan misalnya. Mereka para penjual bisa meletakan dagangan mereka di sana. Jadi, dagangan mereka tidak berserak dimana-mana melainkan di satu tempat. Jelas rapi dan tertata bukan?

Dan untuk masalah kebersihan. Aku kira mahasiswa perlu disadarkan perlunya menjaga kebersihan. Toh, kalau kata orang, mahasiswa itu manusia yang terdidik, sebut saja akademisi. Bukan lagi siswa loh, bukan siswa lagi yang harus dituntun. Masa iya tidak punya akal, otaknya itu loh di mana?

Aku kira pembuat keputusan pelarangan perlu melihat ke bawah sebelum memutuskan sesuatu. Sesekali tengoklah fakultas tetangga. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) misalnya. Coba tengoklah Gedung H FEBI. Di sana juga ada kantin kejujuran, tapi tertata rapi di etalase kaca. Terlihat rapi dan dan bagus, tanpa harus ada larangan berjualan. Itu salah satu contoh yang perlu ditiru FITK. Tak apa kan kita meniru selagi itu baik? Memang rumput tetangga lebih hijau.

Demi Apa?
Satu hal lagi yang membuat aku tidak sepakat dengan aturan pelarangan itu. Aku pernah mendapatkan Mata Kuliah (MK) Kewirausahaan. Padahal jurusanku yang aku tempuh sekarang tidak menggeluti bidang ekonomi. Mungkin, karena begitu pentingnya sehingga jurusan membuat MK ini. Pun di FITK hampir seluruh jurusannya menjadikan MK Kewirausahaan bagian dari MK yang harus diambil mahasiswanya, meskipun hanya sebuah Mata Kuliah Pilihan. Bahkan, ada salah satu jurusan yang menjadikan MK Kewirausahaan bagian dari MK program studi, yakni jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Tentu semua mahasiswanya wajib mengambil MK ini tanpa terkecuali, berbeda dengan MK pilihan yang boleh tidak diambil. Tetapi, karena jurusanku modelnya paketan, sedangkan tak ada MK lain yang yang dapat aku ambil, maka,  mau tidak mau aku harus mengambil MK ini. Hal ini menunjukan betapa pentingnya MK ini di akademik. Aku menerka, jurusan ingin menjadikan mahasiswanya disamping mahir mengajar juga mampu berwirausaha. Begitu.

Menurutku, berwirausaha bukan hanya teori, melainkan praktiknya itu sendiri. Pihak birokrasi pun tahu akan itu. Untuk itu, di FITK, praktik mengajar tak hanya sekali diberikan, ada praktik kelas –micro teaching kami menyebutnya dan di lapangan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan). Jelas birokrasi lebih tahu tentang pentingnya praktik dalam sebuah pembelajaran. Aku kira begitu pula pada MK Kewirausahaan. Perlu adanya praktik bagi mahasiswa. Nah, dengan adanya kantin kejujuran, mahasiswa sudah melaksanakan praktik meskipun kecil-kecilan. Padahal, mereka para pelapak sudah berinisiatif melaksanakan sendiri pembelajaran dengan cara berjualan di kantin kejujuran, Lha kok tiba-tiba dilarang karena alasan ini itu. Lalu, adanya MK Kewirausahaan demi apa? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.


Oleh: M. Khoirul Umam G.H.

Seorang mahasiswa Pendidikan Agama Islam Semester 7 FITK. Juga pernah menjadi pelapak kantin kejujuran. Berhenti karena dagangan ludes beserta uangnya.

Doc. Edukasi




SemarangEdukasiOnline American Corner bekerjasama dengan IOM (International Organization for Migration) adakan Global Migration Film Festival, Kamis (29/11) bertempat di Perpustakaan lantai 2, UIN Walisongo Semarang. Acara ini merupakan serangkaian kegiatan yang diadakan dalam rangka perayaan hari migran internasional yang diperingati setiap tanggal 18 Desember. Diana selaku Head office IOM Semarang memaparkan tujuan dari acara ini guna memperkenalkan kepada masyarakat tentang isu Migran di Indonesia.

Dalam sambutan Diana juga menyampaikan  tugas IOM  sebagai organisasi yang membantu para imigran luar yang membutuhkan suaka (perlindungan) akibat adanya konflik internal di negaranya. Bantuan yang diberikan berupa sandang, pangan, papan, layanan kesehatan serta pendidikan.

Global Migration Film Festival dimeriahkan dengan nonton bareng empat film yang dilanjutkan dengan sesi diskusi. Dalam keempat film tersebut  memperlihatkan kepada masyarakat Indonesia gambaran kehidupan nyata yang dialami oleh para migran.

Selain itu, Hartini salah satu Staff  IOM cabang Semarang berharap masyarakat bisa sadar terkait isu-isu migran sehingga bisa lebih tahu dan paham apa itu migran dan keberadaan migran di indonesia. “Saya harap masyarakat akan lebih mengapresiasi terhadap isu-isu migran,” tutur Hartini dalam sesi diskusi.

Oleh: Novi Kurniati

Penulis ialah Kru Magang Edukasi 2018

                 



Doc. Internet

Sebentar lagi, Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) akan berlangsung. Itu berarti periode kepengurusan lembaga legislatif dan eksekutif di lingkungan jurusan, fakultas dan Universitas akan berakhir. Dengan berakhirnya masa kepengurusan ini, tentu perlu ada peninjauan ulang kembali, apa yang sudah dilakukan lembaga tersebut untuk mahasiswa.

Tentu kita kemudian menanyakan, apa yang sudah dilakukan lembaga tersebut untuk mahasiswa? Mungkin pertanyaan tersebut akan dijawab oleh lembaga terkait dengan jawaban: kami sudah melaksanakan program-program yang sudah kami rancang. Sampai di sini, kita kemudian bertanya kembali, sebenarnya program-program itu untuk siapa? Pasti jawabannya adalah untuk mahasiswa. Hanya saja, mahasiswa yang mana kah maksudnya? Barangkali maksudnya adalah mahasiswa yang memiliki uang untuk membeli tiket konser Sheila on7, atau mahasiswa yang berburu sertifikat untuk kelulusan, atau mahasiswa baru; karena menjadi kepanitian PBAK, atau jangan-jangan untuk mahasiswa beberapa golongan saja.

Kemudian, pertanyaan kita berlanjut dengan, mengapa lembaga perwakilan mahasiswa ketika menjabat selama ini terkesan seperti orang yang terluka dan setelah periode berakhir akan sembuh? Atau analoginya terbalik, lembaga mahasiswa sekarang ini, sembuh ketika menjabat dan sakit ketika lengser dari jabatanya. Jadi analogi pertama, lembaga perwakilan mahasiswa seperti terseok-seok dan keberatan ketika memperjuangkan hak-hak mahasiswa. Tapi ketika sudah lengser seperti sembuh dari sakitnya, tidak peduli apapun. Sedangkan analogi sebaliknya, lembaga perwakilan mahasiswa sehat dengan berkobar-kobar mengatakan; ini demi kepentingan mahasiswa. Tapi setelah mereka lengser; sudah tidak peduli lagi dengan apa yang dialami oleh mahasiswa atau sakit—karena kebingungan mau melakukan apa, sudah terbiasa menjadi lembaga event organizer yang selalu mengadakan acara-acara.

Mungkin kita bisa menyandarkan itu pada permasalahan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang besarannya dari tahun ke tahun semakin menanjak tajam, banyak yang tidak tepat sasaran dan fasilitas-fasilitas kampus yang sangat kurang memadai. Nyatanya permasalahan tersebut abai diperhatikan oleh lembaga terkait. Ataukah permasalahan mahasiswa bukan menjadi prioritas utama? Karena itu tidak masuk dalam program kerja yang telah dirancang oleh para perwakilan mahasiswa. Jawabannya hanya Tuhan dan perwakilan mahasiswa saja yang tahu. 

Dari sini, kemudian kita menduga, jangan-jangan yang dilakukan lembaga perwakilan mahasiswa hanya sekadar formalitas saja, hanya melaksanakan program-program kerja, tanpa menyentuh akar rumput permasalahan yang dihadapi mahasiswa. Atau bahkan, itu hanya untuk kepentingan segolongan orang saja.

Sebenarnya, apa masalahnya? Apakah tuduhan permasalahan ini secara semena-mena kita alamatkan kepada mahasiswa yang dianggap apatis; karena tidak ikut mencoblos di Pemilwa, tidak mengikuti konser, tidak ikut seminar-seminar yang diadakan, tidak mendukung lembaga perwakilan mahasiswa dengan menghadiri dan melakukan apapun yang sudah diagendakan. Jika masih memandang seperti itu, itu merupakan pandangan yang sangat picik. Membebankan semuanya kepada mahasiswa yang tidak mengerti apapun dan lelah dengan siklus yang membosankan. Alangkah lebih baiknya, kalau para perwakilan mahasiswa itu memandang kembali dirinya sendiri. Daripada menyalahkan orang lain yang menjadi apatis—karena tanpa disadari keapatisan mahasiswa adalah akibat ulah mereka sendiri.

Memandang ini, perlu adanya peninjaun ulang, apakah sistem demokrasi kita sudah mewujudkan yang dicita-citakan? Dengan slogan basi “dari mahasiswa, untuk mahasiswa dan oleh mahasiswa”. Atau, jangan-jangan sistem demokrasi yang kita anut sudah cacat sejak dalam konsepnya. Atau mungkin, kita saja, yang tidak becus menjalankan konsep demokrasi yang suci itu.

Secara sadar, mari kita berharap lagi kepada perwakilan mahasiswa yang baru, dan melupakan perwakilan mahasiswa yang lama. Sebab, sebentar lagi perwakilan yang lama akan purna, dan perwakilan yang baru meminta untuk dipilih. Anggap saja, film sudah berakhir, dan kita harus membeli tiket lagi untuk menonton film yang lain lagi. Mari kita tonton lagi.

_Redaksi_





Doc. Internet


Sekaramg ini, gadget sudah menjadi salah satu barang sakral yang tidak lepas dari tangan. Tidak peduli  berapa usianya, mulai dari balita hingga manula semuanya menggunakan gadget. Perkembangan teknologi yang pesat mendorong seseorang untuk turut serta mengikuti arus zaman agar tidak dianggap kuper. Gadget telah menjelma menjadi suatu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Tidak dipungkiri lagi bahwa gadget telah membuat para penggunanya kecanduan.

Ada beberapa fungsi gadget, mulai dari alat komunikasi permainan, mencari informasi dan bersosialisasi. Hal itu memudahkan seseorang walau hanya untuk bertegur sapa melalui media sosial seperti facebook, twitter, instagram, whatsapp dan lain sebagainya. dengan segala kegunaan gadget, seseorang dapat mengetahui aktivitas orang lain lewat story yang diunggah. Tanpa harus berkomuniaksi secara langsung  dan bahkan kita bisa mengetahui perasaan seseorang tanpa harus berkomunikasi secara langsung. 

Tidak hanya melihat story, kita pun dapat mengomentari unggahan tersebut sesuai keinginan kita. sebaliknya, kita juga bisa mengunggah foto, status atau aktivitas kita dalam bentuk video ke media sosial. 

Gadget telah membutakan kita dengan segala fungsinya dan menjadikan kita lupa akan kehidupan yang sebenarnya. Saat kita sedang berkumpul dengan keluarga, namun malah asyik bermain gadget sendiri.

Seperti ketika seorang anak dibawah umur asyik bermain game online, dan begitupun orang tua yang asyik men-scroll gadget dengan semuanya. Inilah salah satu faktor yang akan membuat generasi selanjutnya bermasalah dengan norma dan perilaku. Karena kurangnya pengawasan dan kasih sayang dari orang tua. Tidak seharusnya orang tua memberikan kebebasan untuk anaknya dalam menggunakan gadget. Gadget membuat kita seolah hidup di dunia maya. Seorang bisa sangat mengabaikan orang yang disebelahnya karena adanya gadget.

Sebenarnya manusia itu adalah makhluk sosial. Seharusnya mereka mampu bersosialisasi dengan lingkungan nyata. Ada berbagai hal yang bisa dilakukan seperti meluangkan waktu untuk megobrol dengan teman, bercengkrama dengan orangtua ke saudara, dan lain sebagainya. 

Itulah kehidupan sebenarnya, bukan hanya untuk gadget melulu. Kita sebagai pengguna gadget, tidak semestinya melupakan hakikat kita sebagai makhluk sosial, karena kita adalah makhluk yang saling membutuhkan satu sama lain.

Ditulis oleh : Siti Robiah ( Kru Magang LPM Edukasi 2018 )