Dok. Zam/Edukasi

Semarang, EdukasiOnline —Pelantikan dan Sarasehan Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (DEMA-F), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ)  dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di tingkat Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) berlangsung cukup meriah. Mengenakan jas almamater kampus, para peserta pelantikan berikrar bersama untuk mengemban amanah demi memajukan FITK di tahun 2019.

Seusai pelantikan, diadakan sarasehan. Mengusung tema “Rekonstruksi Spirit Keorganisasian Mahasiswa Guna Menyongsong Lembaga Eksekutif yang Lebih Baik”, Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) kota Semarang, Djati Prijono dan Wakil Ketua ISNU Semarang, Ahmad Rouf didapuk sebagai narasumber.

Melihat perkembangan dunia teknologi yang semakin canggih, Djati Prijono memaparkan apa saja yang mampu para pemuda dan mahasiswa lakukan untuk menghadapi era modernitas saat ini. Contoh salah satunya adalah menggunakan teknologi sebaik mungkin. 

Lelaki yang sering disapa Pak Djati tersebut juga mengungkapkan bahwa pemuda mempunyai peran penting dalam negara ini. Karena pemuda merupakan tonggak yang kuat dalam memimpin negara. "Negeri ini tergantung pada pundak para pemuda, dan kalian juga sebagai tonggak pemimpin yang paling kuat," ujar Djati dengan suara keras tanpa menghilangkan sikap wibawa. 

Ia pun menuturkan bahwa negara Indonesia dapat maju jika pemudanya “menguasai ilmu teknologi dan  menguasai bahasa Inggris. Dan juga pemuda mampu mengendalikan teknologi yang yang telah berkembang pesat serta selalu membangun character building," tambah Djati dengan suara lantang. Sebelum menutup materinya, ia berpesan bahwa pemuda harus selalu mawas diri dan selektif dalam segala hal. 

Sedangkan narasumber lain, Ahmad Rouf dalam kesempatan ini lebih menyoroti bagaimana pengurus baru lembaga mahasiswa menjalankan roda keorganisasian. Rouf, sapaan akrabnya, menyarankan kepada kepengurusan baru untuk menjalankan apapun yang bisa dilakukan. “Jalankanlah apa yang kamu bisa lakukan, jalankanlah kewajibanmu sebisa-bisanya,” ujarnya.

Pelantikan dan sarasehan ini bertempat di Auditorium 1 kampus I UIN Walisongo Semarang, pada Senin (11/02) yang dihadiri sekitar 300 mahasiswa. (EduOn/Zam)

Dok. Ida/Edukasi

Semarang, EdukasiOnline —Senin, (11/02/19) setelah Pemilihan Mahasiswa (PEMILWA) (12/18) dan reorganisasi diadakan oleh beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fakuktas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Dewan Mahasiswa FITK (DEMA FITK) mengadakan pelantikan bersama. Pelantikan ini merupakan satu tahap awal bagi kepengurusan yang sudah terpilih sebelum menjalankan roda keorganisasian. 

Wahyudi, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FITK UIN Walisongo secara langsung melantik kepengurusan baru. Di dalam prosesi pelantikan, ada ikrar bagi pengurus lembaga.

Pelantikan ini diikuti oleh 6 Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yaitu HMJ Pendidikan Agama Islam (PAI), HMJ Manajemen Pendidikan Islam (MPI), HMJ Pendidikan Bahasa Arab (PBA), HMJ Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), HMJ Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan HMJ Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Juga oleh 4 UKM, antara lain UKM BITA, UKM KPT BETA, UKM TSC, dan UKM LSB.

Mengusung tema "Rekonstruksi Spirit Keorganisasian Mahasiswa guna Menyongsong Lembaga Eksekutif yang lebih baik" diharapkan lembaga eksekutif mahasiswa dan UKM mampu membangkitkan semangat keorganisasian mahasiswa. Hal tersebut disampaikan oleh Hanifudin, Presiden DEMA FITK. 

"Dengan tema yang kami ambil, saya berharap mampu membangkitkan semangat keorganisasian mahasiswa," ujarnya saat sambutan.

Selain pelantikan, juga diadakan sarasehan untuk membangkitkan semangat keorganisasian mahasiswa. Dalam sarasehan ini, dihadirkan dua narasumber, yaitu Drs. R. Djati Prijono, M.Si (Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Semarang) dan Ahmad Rouf, S.Pd.I (Wakil Ketua ISNU Semarang).

Pelantikan dan sarasehan ini diadakan di Auditorium 1 kampus 1 UIN Walisongo Semarang. Berdasarkan presensi kehadiran dari panitia, ada sekitar 300 mahasiswa datang dalam acara ini. (EduOn/Ida)

 
Dok. Google

David berpikir bahwa, setelah 12 tahun bersama, istrinya tak lagi mencintainya. Dan ia tak menangis atau apapun. Sebab itu ia pergi ke sebuah hotel, memperoleh 45 hari untuk mendapat seorang pasangan dengan ditemani oleh Bob— seekor anjing ‘jelmaan’ kakaknya. Di hadapan manajer hotel, ia berkata:

“Aku ingin jadi lobster. Hidup lebih dari seratus tahun, dan subur seumur hidup. Dan karena aku suka laut.”

Saya mengetahui film ini setelah menonton The Killing of A Sacred Deer (2017). Ulasan-ulasan tanpa nada ketidaksukaan atas film itu mengarahkanku pada film lain arahan Yorgos Lanthimos, The Lobster (2015). Film ini merupakan film keempat arahan Yorgos Lanthimos— setelah Kinetta (2005), Dogtooth (2009), dan Alps (2011). Sebuah film distopia absurd tentang seorang David yang hidup di tengah otoritas yang mengatur kehidupan asmara. Mereka— David dan manusia lain—musti mendapat pasangan jika tak memilikinya, dengan menginap di sebuah ‘hotel’ dan diberi waktu selama 45 hari. Jika tak mendapat, mereka akan diubah ‘secara sukarela’ menjadi hewan pilihannya. Mereka juga diminta berburu manusia lain di hutan. Satu manusia diperoleh oleh penghuni hotel, satu hari tambahan menginap juga diperoleh. Manusia lain ini adalah mereka yang tak ingin berpasangan dan ingin menghabiskan hidup sendirian. Film akan memperlihatkan bagaimana sang tokoh utama, David (Colin Farrell) berusaha hidup di tengah masyarakat dan otoritas yang absurd dan menekan.
Kehidupan yang ada pada The Lobster mengingatkan pada pembagian-pembagian atau klasifikasi identitas terhadap masyarakat yang terjadi saat ini. Hitam-putih, Jawa-sunda, Bertuhan-tak bertuhan. Ada dua pembagian yang dipakai: berpasangan atau tidak berpasangan. Kaum berpasangan berkuasa dan menjadi otoritas dengan kendali di kota, sebaliknya dengan kaum tidak berpasangan yang terasing dan hidup di hutan.

Kaum berpasangan dan yang ingin memiliki pasangan, setidaknya pernah menginap di hotel. Aturan yang ada sangat menekankan pentingnya memiliki pasangan. Bahkan peragaan panggung dibuat untuk itu. Para penghuni pun ‘diharuskan’ mencari pasangan yang persis satu sama lain dalam sifat, fitur tubuh, dan lainnya. Perbedaan tak diterima dalam kehidupan ‘cinta’ yang ada. Namun sangat berlainan dengan kaum tak berpasangan— atau lazim disebut jomlo—yang secara penuh menolak kehidupan ‘cinta’ seperti bercumbu, bersetubuh, dan sebagainya. Kehidupan mereka hanya soal bertahan hidup. Kuburan pun harus digali sendiri oleh si calon penghuni. Ada satu hiburan konyol yang dimiliki oleh kaum ini dan membuat terpingkal-pingkal: berpesta dan menari. Anda harus menontonnya sendiri.

Film ini sungguh apik secara narasi maupun sinematografi. Narasi yang ciamik dan aktor yang mampu memerankannya dengan baik dikemas dengan pengambilan gambar yang sederhana namun memiliki ketajaman yang memperkuat narasi. Hal ini pula yang saya dapatkan dalam film terakhir Yorgos Lanthimos. The Lobster memenangkan Jury Prize di Festival Film Cannes 2015 dan mendapat nominasi Best Original Screenplay pada Academy Awards. Dan ditayangkan dalam sesi Special Presentations di Festival Film Toronto 2015.

The Lobster memberikan suatu kritik terhadap tatanan masyarakat saat ini yang cenderung melihat satu sama lain dalam kacamata afiliasi tunggal, seperti apa yang ditulis Amartya Sen dalam Kekerasan dan Identitas. Dalam masyarakat dan film, terdapat persamaan soal ini. Bedanya, The Lobster memberikan gambaran lebih yang menggelikan. Berpasangan-tak berpasangan. Jadi, Anda ingin hidup di kota atau hutan?

Judul               : The Lobster
Tanggal rilis     : 15 Mei, 16, 22, 28 Oktober 2015 (Berurutan: Cannes; UK & Irlandia; Yunani & Belanda; Perancis)
Sutradara         : Yorgos Lanthimos
Durasi              : 118 menit
Produser          : Element Pictures, Scarlet Films, Faliro House Productions, Haut et Court, Lemming Film, Film4 Productions
Pemeran          : Colin Farrell, Rachel Weisz, Jessica Barden, Olivia Colman, Ashley Jensen, Ariane Labed, Angeliki Papoulia, John C. Relly, Lea Seydoux, Michael Smiley, Ben Wishaw, Roger Ashton-Griffiths, Ewen MacIntosh
Peresensi         : A. A. Prayoga
Dok. Google



Tak Ku Kenal 

Mendung pekat kian menghitam
Angin berisik mulai mengusik
Tangisan langit kian menjadi
Mengglegar tiada henti

Jalanku kian berat
Tergenang oleh sesat
Akibat asa yang ku perbuat

Aku tak kenal, apa itu mendung?
Apa itu angin?
Dan apa itu langit?

Aku terjebak dan terjerumus dalam
Terhenti dan terkunci mati
Tanpa ku sadari
Semua yang tak ku kenal
Kini mentertawakan ku seorang

2018


Pengembaraanku

Terlalu jauh aku mengembara
Mencari apa yang tersisa
Ku kira ada bahagia
Ternyata cuma lara
Bahkan hina

Sejenak aku tersentak
Di tengah pekat malam
Aku tak lagi bisa berbuat
Mungkin malaikat melaknat

Aku tersadar
Aku hanya sebutir debu hina
Yang tak kuasa apa
Yang bergelimang dosa

Aku bersimpuh tak berdaya
Berharap ampunan-Mu
Berharap pelukan-Mu
Jangan biarkan aku Ya Rabb

2018


*)Imam Ulin Nuha, mahasiswa Pendidikan Agama Islam UIN Walisongo. Aktif sebagai kru LPM  
Edukasi
Dok. Edu

Bunyi merupakan unsur penting dalam musik. Melalui bunyilah musik terkotak dalam sebuah genre tertentu. Namun dijagatnya panggung, musik tidak melulu konvensional.

Semarang, 12/12/18-- Para pemusik yang memulai debutnya pada awal tahun 2018 lalu, mencoba mewujudkan itu. Mereka menerima siapa saja dipanggung guna mengumpulkan segala bunyi, sebab itu para pemusik ini tidak memiliki nama. Kebetulan malam itu pada harlah Teater Beta ke-33 (12/12/18), empat orang, yaitu Sueb, Latif, Aris, dan Sopeng mencoba memerdekakan musik dari kotaknya.

Berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, saben individu menyumbang bunyi. Memadukannya antara bunyi satu dengan yang lain melalui alat musik. “Butuh kepekaan dalam memahami musik ini. Karena kalau tidak bisa menghayati, mendengar merupakan hal yang menyakitkan. Suara-suara yang dihasilkan sangat berisik di telinga. Tinggal bagaimana penonton menerjemahkan dari bunyi-bunyi yang didengar,” ujar Aris.

Menurut mereka masing-masing personil, sangat mempengaruhi keras atau pelannya bunyi yang dihasilkan. Bahkan sampai pada tataran makna dari bunyi yang dihasilkan adalah tentang kedalaman diri masing-masing personil. Berbeda dengan musik yang sudah dikonsepkan baku dan terbagi menjadi genre, musik ini memasukkan semua unsur bunyi. “Seperti suara tawaan, teriakan, bahkan suara angin itu juga bagian dari kolaborasi.  Tidak lagi membatasi musik pada batasan-batasannya,” tambah Sopeng.

Inilah yang dicerminkan Sueb melalui alat musik yang dinamakan layur. Nama layur sendiri adalah nama yang diberikan oleh Sueb yang menurutnya tidak mempunyai arti khusus. Namun dalam memaikannya alat ini mewakili semua cara menghasilkan bunyi dan bermusik mereka. Mulai dari dipetik, digesik dan dipukul. Tetap saja alat tersebut juga masih didukung oleh alat musik lainnya seperti suling, serunai dan lain sebagainya.

Melalui gesekan, petikan, tiupan, dan pukulan dari alat musik, mereka mencoba untuk berkomunikai dengan penonton. Dengan tujuan menyampaikan pesan tersirat melalui rasa yang tercipta dan melalui nuansa emosional. “ Musik adalah bebas merdeka, sesuai dengan diri masing-masing yang menampilkan atau penonton,” tutup Latif. (EduOn/NH) 
Doc. Internet
"Dinamakan wayang beber karena berupa lembaran- lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh-tokoh dalam cerita wayang baik Mahabharata maupun Ramayana."

Sebagai orang Indonesia tentu kita mengenal seni wayang, baik itu wayang kulit, wayang golek maupun wayang wong. Tak hanya itu, wayang juga sudah tercatat di UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Namun jauh sebelum wayang kulit ada di Bumi Nusantara, Indonesia sudah memiliki jenis wayang lain yang unik dan memiliki ciri khas tersendiri, yaitu Wayang Beber.

Wayang Beber merupakan kesenian wayang tertua di Indonesia. Seni wayang ni muncul dan berkembang di Jawa pada masa pra Islam dan masih berkembang di daerah tertentu di Pulau Jawa. Dinamakan wayang beber karena berupa lembaran- lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh tokoh dalam cerita wayang baik Mahabharata maupun Ramayana.

Wayang beber muncul dan berkembang di Pulau Jawa pada masa kerajaan Majapahit. Gambar-gambar tokoh pewayangan dilukiskan pada selembar kain atau kertas, kemudian disusun adegan demi adegan berurutan sesuai dengan urutan cerita. Gambar-gambar ini dimainkan dengan cara dibeber. Saat ini hanya beberapa kalangan di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Karangmojo Gunung Kidul, yang masih menyimpan dan memainkan Wayang Beber ini.

Konon oleh para Wali di antaranya adalah Sunan Kalijaga memodifikasi Wayang Beber menjadi wayang kulit dengan bentuk yang bersifat ornamen. Sekarang lebih dikenal karena ajaran Islam mengharamkan bentuk gambar makhluk hidup (manusia, hewan) maupun patung serta menambahkan Pusaka Hyang Kalimusada. Wayang hasil modifikasi para wali inilah yang digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam dan yang kita kenal sekarang.

Wayang Beber berbeda dengan wayang – wayang lainnya. Pemetasannya tidak melalui bayangan melainkan gambar. Saat ini, wayang beber hanya dapat ditemukan di dua tempat yaitu di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan dusun Karangtalun Pacitan, Jawa Timur. Namun saat ini Wayang Beber mengalami kelangkaan. Banyak masyarakat yang kurang begitu menyukai pertunjukan wayang.

Melihat wayang Beber hanya ada di dua tempat sudah cukup memberi tahu kita bahwa keberadaan wayang tertua ini menjadi sangat langka. Namun seperti yang kita ketahui, generasi saat ini kurang begitu mengetahui bahkan tidak tau sama sekali tentang Wayang Beber. Kita akan menemukan berbagai hal yang menjadi penyebabnya.

Memasuki revolusi industri keempat teknologi  semakin menjadi canggih. Menurut Tony Seno Hartono, National Officer dari Microsoft Indonesia mengatakan revolusi industri 4.0 menjadikan konvergensi teknologi informasi ke dalam dunia industrian. Lewat Internet of Things (IoT) dan Big Data, teknologi yang mampu mengumpulkan data – data sebelumnya untuk kemudian memprediksi ke depan apa yang harus dilakukan yang kita sebut machine learning. Efek dari revolusi 4.0 ini  bukan mengganti pekerjanya tetapi pekerjaannya. Hal itu yang menyebabkan manusia menjadi individualis. Mereka menjadi tergantung dengan teknologi khususnya gadget.

Hal inilah yang menjadi salah satu penyebabnya, manusia menjadi semakin kecanduan dengan teknologi. Namun anehnya, teknologi justru dimanfaatkan dengan hal yang salah. Reaksi sosial yang harusnya diperbanyak, justru semakin berkurang. Pengetahuan yang harusnya bisa lebih diexplore, malah disalah gunakan.

Mereka yang terlalu sibuk dengan diri mereka dan tidak peduli sekitar menjadi salah satu faktor mengapa mereka kurang begitu mengetahui tentang Wayang Beber. Gadget dan budaya zaman sekarang yang telah merubah mereka menjadi seperti itu. Bagi mereka gadget seperti bagian dari hidup mereka. Lebih menyukai budaya luar membuat mereka enggan mempelajari budaya sendiri.

Di daerah tempat wayang Beber pun, warganya tak ada niatan untuk mempelajari wayang ini. Minimnya pementasan dan kurangnya sosialisasi kepada generasi muda semakin memperburuk kebutaan  para generasi muda akan Wayang Beber. Hal ini menjadi kekhawatiran baru bila mana  suatu hari nanti Wayang Beber akan diklaim negara lain.

Seharusnya para generasi muda menyadari bahwa kita perlu menjaga dan melestarikan budaya yang ada apalagi budaya tersebut mulai punah.

Mulailah sesekali gunakan gadget untuk mencari informasi mengenai kebudayaaan yang ada di Indonesia, salah satunya Wayang Beber. Jangan sampai kita kalah duel dengan orang – orang luar,  yang  malah lebih tertarik dengan kebudayaan lokal kita. Saat ini  PR kita hanya perlu melestarikan. Sekarang pun teknologi sudah maju, jadi kita lebih enak untuk mencari informasi melalu internet atau sumber-sumber lainnya.

Ditulis oleh : Catur  ( Kru Magang LPM Edukasi 2018 )

Doc. Edukasi

Semarang, EdukasiOnline -- Sejumlah 964 Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo gunakan hak suaranya pada Pemilwa  Rabu (19/12) di Taman Revolusi Kampus 2. Pelaksanaan pemungutan suara dilakukan sejak pukul 08.00 WIB dan ditutup pukul 16.00 WIB.

Dari 1500 surat suara yang disiapkan panitia, angka tersebut dianggap standar.  M. Lutfi selaku anggota Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) menyatakan antusiasme mahasiswa dalam memilih belum optimal. "Surat suara yang disiapkan panitia sejumlah 65% dari total mahasiswa aktif, namun ini saja masih tersisa cukup banyak" ungkap Lutfi saat kami wawancara langsung di TPS.

Lutfi menambahkan kendala pemilwa tahun ini sama seperti tahun sebelumnya. Banyaknya mahasiswa yang tidak segera mendatangi TPS setelah dipanggil sehingga membuat panitia kerja dua kali. "Mungkin karena berbarengan dengan kuliah, jadinya banyak yang ngga langsung datang" , terang mahasiswa semester 7 tersebut.

 Fuad selaku kandidat calon menyayangkan antusiasme mahasiswa yang belum optimal. Menurutnya hal yang mendasari karena sikap apatis mahasiswa terhadap pemilwa. "Saya harap mahasiswa antusias dalam pemilwa tahun depan, karena golput bukan pilihan yang bijak" , tuturnya.

Fuad juga berharap KPM dapat melakukan lobi dengan dosen terkait pelaksanaan pemilwa sehingga mahasiswa dapat berpartisipasi penuh.

Rincian suara yang  didapatkan dari data Panitia Pelaksana Pemilihan Mahasiswa (PPPM) FITK :  Pendidikan Bahasa Arab 138 suara; Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) 134 suara; Manajemen Pendidikan Islam (MPI) 143 suara; Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) 234 suara; Pendidikan Anak Usia Dini (PIAUD) 112  suara, Pendidikan Agama Islam (PAI) 201 suara.

Reporter: Nurul (Kru Magang Edukasi)
Editor :  Sitisa


Doc. Edukasi

Semarang, EdukasiOnline -- Puncak acara Dies Natalis ke-11 CSSMoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN Walisongo adakan seminar nasional  dengan tema “Implementasi Nilai-Nilai Literasi untuk Generasi Milenial” pada Sabtu (14/12).  Bertempat di Gedung Serba Guna kampus III seminar kali ini  menghadirkan Boy Candra sebagai pembicara utama. CSSMoRA merupakan organisasi mahasiswa yang menerima beasiswa dari Kementrian Agama.

Syikma Riyadlil Jannah selaku ketua panitia  mengatakan tujuan seminar kali ini ialah agar mahasiswa turut  berpartisipasi dalam dunia literasi. “Dengan didakannya acara ini, diharapkan mahasiswa aktif dalam berliterasi”,ungkap Syikma.

Tiwikrama  salah satu peserta dari IAIN Pekalongan mengaku senang dengan diadakannya seminar kali ini. “Acara ini sangat menarik, karena disini kita diajarkan bagaimana cara menulis, tips-tips agar bisa menerbitkan buku", tuturnya dengan wajah ceria.

Dalam sesi diskusi  Boy Candra  menyampaikan bahwa literasi tidak hanya tentang menulis dan membaca buku tetapi, juga memahami apa yang ada di lingkungannya. Cara penerapanya cukup dengan melakukan apa yang mereka sukai.

Penulis : Hanis (Kru Magang Edukasi 2018)



Dok. Internet 
Moksa

Tanpa peti mati
Kita pulas di kematian
Dan moksa di jarak langit yang jauh
Kata orang bijak “Kau di dalamku
Dan aku di luarmu”
Kita jagat yang saling membentuk lingkaran yang tak putus
Hayat yang mati
Dan mati yang hidup
Kita timbul sebab-akibat
“siapa aku?”
“siapa yang satu?”

2017

Mural

Tulislah tentang rentang jalan kota:
Ruang yang mengembalikan semua keramaian ingatan
Di gemilang mata lampu
Aku sakit: batuk dan asma
Ada kemacetan yang merapat di lengan
Menaksir tajam pisau-pisau kehilangan di kepala
Aku ada, ingin reda;
Aku ingin kembali ke musim segar
Aku ingin pulang tanpa kemacetan
Aku mau ibu, aku mau rindu atau mau mati di tanahku.
Bukan di kota yang tak menyimpan ari-ariku

Aku ingin mencuri warna krayon hijaumu
Menggambar gemunung dan pantai yang utuh.
2017


Hantu

Langit sepia dan orang-orang murung adalah keserasian November
Hantu-hantu muncul di kepala mereka
Menunggu kopi sedia membantu terjaga seharian
Dalam hitungan menit pertama, kedua dan ....kesepuluh
Hantu gerimis bergentayangan
Memenuhi udara
Bukankah cinta membantu terjaga...

Aku mencoba tidur
Melupakanmu di luar kedai
Menghitung domba kembali
Mencoba tidur lagi
Satu, dua, tiga....

Domba-domba tidak menolong ketika hujan turun.
Hantumu tetap menyerbu, menerjang dan merayu.

2018



Dok. Edukasi/ Alma


Semarang, EdukasiOnline – Sebelum mengakhiri masa bhaktinya, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Kabinet Sinergi Karya UIN Walisongo  adakan serangkaian acara “Tadarus Kebangsaan” yang dimulai pada hari Senin (10/12). Acara pertama yang diselenggarakan yakni Seminar Nasional dengan tema "Menjaga Stabilitas Pertumbuhan Ekonomi Bangsa" yang bertempat di Auditorium 2 kampus III. Acara yang diikuti oleh ratusan mahasiswa ini tepat dimulai pada pukul 09.00 WIB.

Arifuzaki Ulil Absor, selaku Ketua Panitia mengatakan bahwa Seminar Nasiobal ini merupakan  salah satu rangkaian acara yang diselenggarakan oleh DEMA UIN Walisongo, Semarang. "Acara ini merupakan salah satu  persembahan terakhir kita dari DEMA Kabinet Sinergi Karya. Ada kurang lebih 5 event yaitu Seminar Nasional, Mimbar Bebas 1&2, Bedah buku, dan Dialog Publik", terangya.

Ia pun menambahkan bahwa ada beberapa pembicara yang terlibat dalam seminar kali ini, antara lain; Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia, Bank Indonesia Republik Indonesia, Ahmad Rofiq –Guru besar UIN Walisongo, dan Imam Yahya selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang. Sri Mulyani yang merupakan Menteri Keuangan Republik Indonesia dan digadang sebagai pembicara dalam acara seminar ini berhalangan hadir karena suatu hal.

Hani Pramono yang merupakan salah satu peserta seminar ini mengatakan bahwa seminar ini penting untuk diadakan, "Acara seminar ini penting, terutama untuk mengetahui bagaimana pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Indonesia saat ini", ujar mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan semester 3 tersebut. (Edu_On/AL)