Top News

Dok. Google



Tak Ku Kenal 

Mendung pekat kian menghitam
Angin berisik mulai mengusik
Tangisan langit kian menjadi
Mengglegar tiada henti

Jalanku kian berat
Tergenang oleh sesat
Akibat asa yang ku perbuat

Aku tak kenal, apa itu mendung?
Apa itu angin?
Dan apa itu langit?

Aku terjebak dan terjerumus dalam
Terhenti dan terkunci mati
Tanpa ku sadari
Semua yang tak ku kenal
Kini mentertawakan ku seorang

2018


Pengembaraanku

Terlalu jauh aku mengembara
Mencari apa yang tersisa
Ku kira ada bahagia
Ternyata cuma lara
Bahkan hina

Sejenak aku tersentak
Di tengah pekat malam
Aku tak lagi bisa berbuat
Mungkin malaikat melaknat

Aku tersadar
Aku hanya sebutir debu hina
Yang tak kuasa apa
Yang bergelimang dosa

Aku bersimpuh tak berdaya
Berharap ampunan-Mu
Berharap pelukan-Mu
Jangan biarkan aku Ya Rabb

2018


*)Imam Ulin Nuha, mahasiswa Pendidikan Agama Islam UIN Walisongo. Aktif sebagai kru LPM  
Edukasi
Dok. Edu

Bunyi merupakan unsur penting dalam musik. Melalui bunyilah musik terkotak dalam sebuah genre tertentu. Namun dijagatnya panggung, musik tidak melulu konvensional.

Semarang, 12/12/18-- Para pemusik yang memulai debutnya pada awal tahun 2018 lalu, mencoba mewujudkan itu. Mereka menerima siapa saja dipanggung guna mengumpulkan segala bunyi, sebab itu para pemusik ini tidak memiliki nama. Kebetulan malam itu pada harlah Teater Beta ke-33 (12/12/18), empat orang, yaitu Sueb, Latif, Aris, dan Sopeng mencoba memerdekakan musik dari kotaknya.

Berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, saben individu menyumbang bunyi. Memadukannya antara bunyi satu dengan yang lain melalui alat musik. “Butuh kepekaan dalam memahami musik ini. Karena kalau tidak bisa menghayati, mendengar merupakan hal yang menyakitkan. Suara-suara yang dihasilkan sangat berisik di telinga. Tinggal bagaimana penonton menerjemahkan dari bunyi-bunyi yang didengar,” ujar Aris.

Menurut mereka masing-masing personil, sangat mempengaruhi keras atau pelannya bunyi yang dihasilkan. Bahkan sampai pada tataran makna dari bunyi yang dihasilkan adalah tentang kedalaman diri masing-masing personil. Berbeda dengan musik yang sudah dikonsepkan baku dan terbagi menjadi genre, musik ini memasukkan semua unsur bunyi. “Seperti suara tawaan, teriakan, bahkan suara angin itu juga bagian dari kolaborasi.  Tidak lagi membatasi musik pada batasan-batasannya,” tambah Sopeng.

Inilah yang dicerminkan Sueb melalui alat musik yang dinamakan layur. Nama layur sendiri adalah nama yang diberikan oleh Sueb yang menurutnya tidak mempunyai arti khusus. Namun dalam memaikannya alat ini mewakili semua cara menghasilkan bunyi dan bermusik mereka. Mulai dari dipetik, digesik dan dipukul. Tetap saja alat tersebut juga masih didukung oleh alat musik lainnya seperti suling, serunai dan lain sebagainya.

Melalui gesekan, petikan, tiupan, dan pukulan dari alat musik, mereka mencoba untuk berkomunikai dengan penonton. Dengan tujuan menyampaikan pesan tersirat melalui rasa yang tercipta dan melalui nuansa emosional. “ Musik adalah bebas merdeka, sesuai dengan diri masing-masing yang menampilkan atau penonton,” tutup Latif. (EduOn/NH) 
Doc. Internet
"Dinamakan wayang beber karena berupa lembaran- lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh-tokoh dalam cerita wayang baik Mahabharata maupun Ramayana."

Sebagai orang Indonesia tentu kita mengenal seni wayang, baik itu wayang kulit, wayang golek maupun wayang wong. Tak hanya itu, wayang juga sudah tercatat di UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Namun jauh sebelum wayang kulit ada di Bumi Nusantara, Indonesia sudah memiliki jenis wayang lain yang unik dan memiliki ciri khas tersendiri, yaitu Wayang Beber.

Wayang Beber merupakan kesenian wayang tertua di Indonesia. Seni wayang ni muncul dan berkembang di Jawa pada masa pra Islam dan masih berkembang di daerah tertentu di Pulau Jawa. Dinamakan wayang beber karena berupa lembaran- lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh tokoh dalam cerita wayang baik Mahabharata maupun Ramayana.

Wayang beber muncul dan berkembang di Pulau Jawa pada masa kerajaan Majapahit. Gambar-gambar tokoh pewayangan dilukiskan pada selembar kain atau kertas, kemudian disusun adegan demi adegan berurutan sesuai dengan urutan cerita. Gambar-gambar ini dimainkan dengan cara dibeber. Saat ini hanya beberapa kalangan di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Karangmojo Gunung Kidul, yang masih menyimpan dan memainkan Wayang Beber ini.

Konon oleh para Wali di antaranya adalah Sunan Kalijaga memodifikasi Wayang Beber menjadi wayang kulit dengan bentuk yang bersifat ornamen. Sekarang lebih dikenal karena ajaran Islam mengharamkan bentuk gambar makhluk hidup (manusia, hewan) maupun patung serta menambahkan Pusaka Hyang Kalimusada. Wayang hasil modifikasi para wali inilah yang digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam dan yang kita kenal sekarang.

Wayang Beber berbeda dengan wayang – wayang lainnya. Pemetasannya tidak melalui bayangan melainkan gambar. Saat ini, wayang beber hanya dapat ditemukan di dua tempat yaitu di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan dusun Karangtalun Pacitan, Jawa Timur. Namun saat ini Wayang Beber mengalami kelangkaan. Banyak masyarakat yang kurang begitu menyukai pertunjukan wayang.

Melihat wayang Beber hanya ada di dua tempat sudah cukup memberi tahu kita bahwa keberadaan wayang tertua ini menjadi sangat langka. Namun seperti yang kita ketahui, generasi saat ini kurang begitu mengetahui bahkan tidak tau sama sekali tentang Wayang Beber. Kita akan menemukan berbagai hal yang menjadi penyebabnya.

Memasuki revolusi industri keempat teknologi  semakin menjadi canggih. Menurut Tony Seno Hartono, National Officer dari Microsoft Indonesia mengatakan revolusi industri 4.0 menjadikan konvergensi teknologi informasi ke dalam dunia industrian. Lewat Internet of Things (IoT) dan Big Data, teknologi yang mampu mengumpulkan data – data sebelumnya untuk kemudian memprediksi ke depan apa yang harus dilakukan yang kita sebut machine learning. Efek dari revolusi 4.0 ini  bukan mengganti pekerjanya tetapi pekerjaannya. Hal itu yang menyebabkan manusia menjadi individualis. Mereka menjadi tergantung dengan teknologi khususnya gadget.

Hal inilah yang menjadi salah satu penyebabnya, manusia menjadi semakin kecanduan dengan teknologi. Namun anehnya, teknologi justru dimanfaatkan dengan hal yang salah. Reaksi sosial yang harusnya diperbanyak, justru semakin berkurang. Pengetahuan yang harusnya bisa lebih diexplore, malah disalah gunakan.

Mereka yang terlalu sibuk dengan diri mereka dan tidak peduli sekitar menjadi salah satu faktor mengapa mereka kurang begitu mengetahui tentang Wayang Beber. Gadget dan budaya zaman sekarang yang telah merubah mereka menjadi seperti itu. Bagi mereka gadget seperti bagian dari hidup mereka. Lebih menyukai budaya luar membuat mereka enggan mempelajari budaya sendiri.

Di daerah tempat wayang Beber pun, warganya tak ada niatan untuk mempelajari wayang ini. Minimnya pementasan dan kurangnya sosialisasi kepada generasi muda semakin memperburuk kebutaan  para generasi muda akan Wayang Beber. Hal ini menjadi kekhawatiran baru bila mana  suatu hari nanti Wayang Beber akan diklaim negara lain.

Seharusnya para generasi muda menyadari bahwa kita perlu menjaga dan melestarikan budaya yang ada apalagi budaya tersebut mulai punah.

Mulailah sesekali gunakan gadget untuk mencari informasi mengenai kebudayaaan yang ada di Indonesia, salah satunya Wayang Beber. Jangan sampai kita kalah duel dengan orang – orang luar,  yang  malah lebih tertarik dengan kebudayaan lokal kita. Saat ini  PR kita hanya perlu melestarikan. Sekarang pun teknologi sudah maju, jadi kita lebih enak untuk mencari informasi melalu internet atau sumber-sumber lainnya.

Ditulis oleh : Catur  ( Kru Magang LPM Edukasi 2018 )

Doc. Edukasi

Semarang, EdukasiOnline -- Sejumlah 964 Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo gunakan hak suaranya pada Pemilwa  Rabu (19/12) di Taman Revolusi Kampus 2. Pelaksanaan pemungutan suara dilakukan sejak pukul 08.00 WIB dan ditutup pukul 16.00 WIB.

Dari 1500 surat suara yang disiapkan panitia, angka tersebut dianggap standar.  M. Lutfi selaku anggota Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) menyatakan antusiasme mahasiswa dalam memilih belum optimal. "Surat suara yang disiapkan panitia sejumlah 65% dari total mahasiswa aktif, namun ini saja masih tersisa cukup banyak" ungkap Lutfi saat kami wawancara langsung di TPS.

Lutfi menambahkan kendala pemilwa tahun ini sama seperti tahun sebelumnya. Banyaknya mahasiswa yang tidak segera mendatangi TPS setelah dipanggil sehingga membuat panitia kerja dua kali. "Mungkin karena berbarengan dengan kuliah, jadinya banyak yang ngga langsung datang" , terang mahasiswa semester 7 tersebut.

 Fuad selaku kandidat calon menyayangkan antusiasme mahasiswa yang belum optimal. Menurutnya hal yang mendasari karena sikap apatis mahasiswa terhadap pemilwa. "Saya harap mahasiswa antusias dalam pemilwa tahun depan, karena golput bukan pilihan yang bijak" , tuturnya.

Fuad juga berharap KPM dapat melakukan lobi dengan dosen terkait pelaksanaan pemilwa sehingga mahasiswa dapat berpartisipasi penuh.

Rincian suara yang  didapatkan dari data Panitia Pelaksana Pemilihan Mahasiswa (PPPM) FITK :  Pendidikan Bahasa Arab 138 suara; Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) 134 suara; Manajemen Pendidikan Islam (MPI) 143 suara; Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) 234 suara; Pendidikan Anak Usia Dini (PIAUD) 112  suara, Pendidikan Agama Islam (PAI) 201 suara.

Reporter: Nurul (Kru Magang Edukasi)
Editor :  Sitisa


Doc. Edukasi

Semarang, EdukasiOnline -- Puncak acara Dies Natalis ke-11 CSSMoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN Walisongo adakan seminar nasional  dengan tema “Implementasi Nilai-Nilai Literasi untuk Generasi Milenial” pada Sabtu (14/12).  Bertempat di Gedung Serba Guna kampus III seminar kali ini  menghadirkan Boy Candra sebagai pembicara utama. CSSMoRA merupakan organisasi mahasiswa yang menerima beasiswa dari Kementrian Agama.

Syikma Riyadlil Jannah selaku ketua panitia  mengatakan tujuan seminar kali ini ialah agar mahasiswa turut  berpartisipasi dalam dunia literasi. “Dengan didakannya acara ini, diharapkan mahasiswa aktif dalam berliterasi”,ungkap Syikma.

Tiwikrama  salah satu peserta dari IAIN Pekalongan mengaku senang dengan diadakannya seminar kali ini. “Acara ini sangat menarik, karena disini kita diajarkan bagaimana cara menulis, tips-tips agar bisa menerbitkan buku", tuturnya dengan wajah ceria.

Dalam sesi diskusi  Boy Candra  menyampaikan bahwa literasi tidak hanya tentang menulis dan membaca buku tetapi, juga memahami apa yang ada di lingkungannya. Cara penerapanya cukup dengan melakukan apa yang mereka sukai.

Penulis : Hanis (Kru Magang Edukasi 2018)



Dok. Internet 
Moksa

Tanpa peti mati
Kita pulas di kematian
Dan moksa di jarak langit yang jauh
Kata orang bijak “Kau di dalamku
Dan aku di luarmu”
Kita jagat yang saling membentuk lingkaran yang tak putus
Hayat yang mati
Dan mati yang hidup
Kita timbul sebab-akibat
“siapa aku?”
“siapa yang satu?”

2017

Mural

Tulislah tentang rentang jalan kota:
Ruang yang mengembalikan semua keramaian ingatan
Di gemilang mata lampu
Aku sakit: batuk dan asma
Ada kemacetan yang merapat di lengan
Menaksir tajam pisau-pisau kehilangan di kepala
Aku ada, ingin reda;
Aku ingin kembali ke musim segar
Aku ingin pulang tanpa kemacetan
Aku mau ibu, aku mau rindu atau mau mati di tanahku.
Bukan di kota yang tak menyimpan ari-ariku

Aku ingin mencuri warna krayon hijaumu
Menggambar gemunung dan pantai yang utuh.
2017


Hantu

Langit sepia dan orang-orang murung adalah keserasian November
Hantu-hantu muncul di kepala mereka
Menunggu kopi sedia membantu terjaga seharian
Dalam hitungan menit pertama, kedua dan ....kesepuluh
Hantu gerimis bergentayangan
Memenuhi udara
Bukankah cinta membantu terjaga...

Aku mencoba tidur
Melupakanmu di luar kedai
Menghitung domba kembali
Mencoba tidur lagi
Satu, dua, tiga....

Domba-domba tidak menolong ketika hujan turun.
Hantumu tetap menyerbu, menerjang dan merayu.

2018



Dok. Edukasi/ Alma


Semarang, EdukasiOnline – Sebelum mengakhiri masa bhaktinya, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Kabinet Sinergi Karya UIN Walisongo  adakan serangkaian acara “Tadarus Kebangsaan” yang dimulai pada hari Senin (10/12). Acara pertama yang diselenggarakan yakni Seminar Nasional dengan tema "Menjaga Stabilitas Pertumbuhan Ekonomi Bangsa" yang bertempat di Auditorium 2 kampus III. Acara yang diikuti oleh ratusan mahasiswa ini tepat dimulai pada pukul 09.00 WIB.

Arifuzaki Ulil Absor, selaku Ketua Panitia mengatakan bahwa Seminar Nasiobal ini merupakan  salah satu rangkaian acara yang diselenggarakan oleh DEMA UIN Walisongo, Semarang. "Acara ini merupakan salah satu  persembahan terakhir kita dari DEMA Kabinet Sinergi Karya. Ada kurang lebih 5 event yaitu Seminar Nasional, Mimbar Bebas 1&2, Bedah buku, dan Dialog Publik", terangya.

Ia pun menambahkan bahwa ada beberapa pembicara yang terlibat dalam seminar kali ini, antara lain; Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia, Bank Indonesia Republik Indonesia, Ahmad Rofiq –Guru besar UIN Walisongo, dan Imam Yahya selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang. Sri Mulyani yang merupakan Menteri Keuangan Republik Indonesia dan digadang sebagai pembicara dalam acara seminar ini berhalangan hadir karena suatu hal.

Hani Pramono yang merupakan salah satu peserta seminar ini mengatakan bahwa seminar ini penting untuk diadakan, "Acara seminar ini penting, terutama untuk mengetahui bagaimana pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Indonesia saat ini", ujar mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan semester 3 tersebut. (Edu_On/AL)




Dok. Internet


“Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang sesat karena semua perempuan korban penipuan dan ketidakadilan”


Saat itu saya merasa bosan dengan kuliah dan tugas yang menumpuk, hingga perpustakaan menjadi tempat pelampiasan. Awalnya saya hanya sekedar mencari buku tanpa niat untuk meminjam. Sampai saya ke rak bagian novel dan menemukan salah satu buku kecil yang menyedot perhatian saya. Warna merah yang kental bagai darah dan ilustrasi perempuan yang sedang memeluk lutut membuat saya penasaran apa isi novel tersebut, dan akhirnya saya meminjam walapaun terkena denda sekian ribu.

Novel itu berjudul Perempuan Di Titik Nol, ditulis oleh seorang dokter bernama Nawal El Sadawi paska mengunjungi seorang tahanan perempuan di Mesir. Novel ini bercerita tentang bagaimana peliknya kehidupan perempuan di Mesir yang masih kental dengan sistem patriarki. Perempuan di sana tak ubahnya perempuan di Indonesia. Mereka hidup di dalam aturan yang ketat dan dibawah bayang-bayang laki-laki. Perempuan menjadi target kekerasan baik secara fisik maupun psikis oleh kaum laki-laki.

Potret itulah yang digambarkan melalui Firdaus, tokoh utama dalam novel ini. Sejak kecil Firdaus hidup dalam tekanan dan sudah mendapatkan pelecehan seksual dari teman dan pamannya. Bahkan ketika sudah menikah Firdaus acap kali dipukuli oleh suaminya sendiri.
Selain itu Nawal juga memaparkan tentang masalah kaum perempuan, yakni berupa pendidikan. Perempuan dalam novel ini hanya boleh mengenyam pendidikan setingkat SMA. Karena tokoh utama Firdaus, tidak diizinkan oleh pamannya melanjutkan sekolah lantaran biaya sekolah yang cukup tinggi.

Lalu kisah pun berlanjut. Paman serta bibinya menikahkan ia dengan seorang pria tua. Pria tua itu memang kaya raya, namun pelit dan memiliki penyakit bisul bernanah di wajahnya. Karena tidak tahan dengan perlakuan suaminya yang keras dan sering memukul, Firdaus akhirnya kabur dari rumah.

Di tengah perjalanan, ia bertemu Bayoumi, seorang laki-laki  yang awalnya baik hati ternyata memperkenalkannya pada profesi pelacur. Ia  merasa dijajah oleh banyak laki-laki karena Bayoumi selalu mengajak teman-temannya. Ia tidak tahan dan kabur meninggalkan rumah Bayoumi. Di perjalanan, ia bertemu seorang perempuan yang ternyata seorang germo, berkat perempuan itulah ia mengetahui bahwa dirinya memiliki harga tinggi.

Sampai pada suatu hari, ia dipaksa oleh seorang germo laki-laki  untuk menikahinya. Firdaus tidak mau. Dan timbullah  percekcokan antara mereka, hingga laki-laki itu mengambil pisau dari kantongnya.Tapi dengan cepat Firdaus dapat menangkis dan menancapkannya ke leher, dada dan perut si germo. Lalu Firdaus kabur. Polisi menangkap dan memutuskan hukuman gantung. Sebenarnya Firdaus bisa bebas dengan meminta pengampunan ke presiden namun Firdaus menolak tawaran tersebut.

Kebebasan

Setiap manusia adalah pelacur demi memenuhi hasrat masing-masing. Begitulah jalan pikiran Firdaus seorang sosok perempuan yang terlahir dari ketidakadilan budaya saat itu, di mana laki-laki berkuasa di atas perempuan. Novel ini juga menyajikan pergolakan batin dan perasaan. Bagaimana bisa seorang perempuan diperlakukan semena-mena oleh kaum laki-laki meskipun itu saudara maupun suami sendiri.

Dalam novel ini, kita disajikan potret patriarki yang begitu kejam dan mengekang. Tapi begitulah adanya, budaya patriarki menurut Soe Tjen Marching selalu menuntut kepasrahan dari kaum wanita. Firdauslah sketsa dari cerita itu. Namun Nawal seolah tak pernah mengiklaskan akan padangan itu. Nawal melalui tokoh Firdausnya ingin berbicara lebih lantang terkait kedudukan wanita. Bukankah semua manusia berhak bebas dan memilih pendidikan dan jalan hidupnya masing-masing, tak terkecuali kaum perempuan. Sebab itulah kenapa Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci, karena ia mempunyai kebebasan dan menjadi penguasa untuk dirinya sendiri. 


Judul Buku                  : Perempuan di Titik Nol
Penulis                         : Nawal el – Saadawi
Tahun terbit                 : Juni 2010
Penerbit                       : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Jumlah halaman           : 155 halaman
ISBN                           : 978-979-461-040-4
Peresensi                     : Zamrud Naura Orchida 


.

doc. Edukasi
 Semarang, Edukasi Online – Bertempat di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo, Mahasiswa Kelas Seni Budaya dan Keterampilan Pendidikan Guru Madrah Ibdita’yah (PGMI) adakan Seminar Nasional Wayang Beber, Rabu (06/12). Acara ini merupakan kerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Penerbitan Masyarakat (LP2M ) dan Pusat Pengembangan Islam dan Bahasa Jawa (PPIBJ) .  Seminar ini dibuka oleh ketua LP2M, Solihan ditandai dengan melukis di kanvas. Dalam acara ini panitia mengundang Wisto Utomo seorang pelestari Wayang Beber dari Gunung Kidul, Yogyakarta, dan Nony Tia atmawati seorang dalang remaja Wayang Beber.

“Awalnya kita hanya ingin mengadakan kunjungan wayang beber di Gunung Kidul. Tetapi setelah dipertimbangkan lebih bermanfaat jika mendatangkannya langsung dari Gunung Kidul.” ujar Shofa, ketua panitia seminar.

 Menurut Muhammad Rikza Chamami  selaku perwakilan PPIBJ mengaku mendukung acara ini. Ia juga menambahkan adanya kegiatan ini dapat mendorong mahasiswa dan akademisi  memiliki kepribadian untuk melestarikan peninggalan terkait dengan Walisongo.

Dalam kesempatan kali ini, Rikza sapaan akrabnya berharap untuk kedepannya  acara ini menjadi kegitan rutin sebagai wujud   kecintaan dengan budaya jawa. “Saya harap terdapat acara ini bukan hanya ceremonial belaka tetapi sebagai follow up. Sehingga nanti jika ada mahasiswa yang ingin menjadi dalang maka bisa kita dorong.” ujarnya.

Ditulis oleh : Catur Krisna (Kru Magang LPM Edukasi 2018)
Doc. Edukasi/ Fatim

Semarang, EdukasiOnline—Seminar Nasional dengan tema “Wayang Beber; Pelestarian dan Transformasi Bagi Pendidikan Karakter Bangsa”, pada (5/12) berjalan lancar. Acara tersebut berlangsung di Auditorium II Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, dihadiri oleh tiga pembicara, yakni Wisto Utomo sebagai Pelestari Wayang Beber, Nony Tia Fatmawati sebagai dalang remaja Wayang Beber, dan Rikza Chamami sebagai perwakilan dari Pusat Pengembangan Islam dan Budaya Jawa.

Sebelum pementasan Wayang Beber dimulai, Wisto Utomo bercerita tentang sejarah Wayang Beber. Ia menyatakan bahwa Wayang Beber datang ke Gunung Kidul dan Pacitan pada kisaran tahun 1742 Masehi. “Wayang Beber datang dari Kartosuro dimana saat itu Kerajaan Kartosuro dan China berperang, beruntung ada orang yang menyelamatkannya,” papar lelaki berumur 48 tahun tersebut.

Usai bercerita soal sejarah Wayang Beber, Wisto, panggilan akrabnya menjelaskan terkait dengan perawatan Wayang Beber. Perawatan tersebut berupa pemberian sesajen setiap malam Jum’at Kliwon, lalu pemberian kemenyan setiap pentas Wayang Beber akan digelar.

Terakhir, penyimpanan Wayang Beber juga merupakan ritual yang penting dilakukan. Seperti penempatan di ruang khusus,  yang di dalamnya terdapat burung merak sebagai bahan pengawet alami untuk Wayang Beber. “Karena benda ini sangat keramat, maka perawatan dan penyimpanannya harus menggunakan cara sakral dan hati-hati,” pungkasnya. (Edu_On/Ris)