Aku Lupa Menikmati Keberengsekan Hidup

 

(ilustrasi cover buku bagian depan)

Judul Buku

:

Hidup Ini Brengsek, dan Aku Dipaksa Menikmatinya

Penulis Buku

:

Puthut EA dan Gindring Wasted

Penerbit

:

Shira Media

Tahun Terbit

:

2025

Cetakan

:

Kesembilan

Tebal Buku

:

112 halaman



Gambaran Umum Buku

    Hal pertama yang terasa saat membuka buku ini bukan teksnya, tapi gambarnya. Hampir setiap bagian diawali atau diakhiri ilustrasi dengan gaya visual yang sama. Gambarnya sederhana, warnanya mencolok, dan muncul berulang sebagai jeda sebelum masuk ke tulisan berikutnya. Jeda-jeda ini membuat proses membaca terasa pelan, seperti disuruh berhenti sebentar sebelum lanjut ke halaman berikutnya.

    Tulisan di dalam buku ini tidak panjang-panjang. Sebagian berupa paragraf pendek, sebagian lagi hanya beberapa baris. Tidak ada dorongan untuk membaca cepat atau menuntaskan satu bab sekaligus. Justru buku ini terasa lebih pas dibaca sedikit demi sedikit, karena tiap bagiannya berdiri sebagai potongan pemikiran yang bisa dipahami tanpa harus tahu bagian sebelumnya.

Isi Buku

    Isi buku ini banyak berkisar pada pengalaman personal, terutama yang berkaitan dengan perasaan, hubungan, dan cara seseorang berdamai dengan dirinya sendiri. Penulis tidak menceritakan peristiwa secara detail, tapi langsung menyorot bagian yang paling terasa: perasaan tidak nyaman, marah, capek, atau bingung yang sering muncul dalam keseharian.

    Beberapa tulisan terasa seperti pengakuan singkat, sementara yang lain seperti celetukan yang sengaja dibiarkan menggantung. Tidak ada penjelasan panjang atau latar yang lengkap, sehingga pembaca tidak “disuapi” cerita. Buku ini lebih seperti mengajak pembaca mengangguk pelan karena merasa pernah ada di situasi yang sama, tanpa perlu tahu ceritanya secara utuh.

Bahasa dan Ilustrasi

    Bahasa yang digunakan cenderung langsung dan apa adanya. Di beberapa bagian, penulis memakai kata-kata yang cukup kasar dan frontal. Meski penulis sudah memberi peringatan di awal buku, penggunaan bahasa seperti ini tetap layak dicatat karena bisa jadi tidak nyaman bagi sebagian pembaca. Namun di sisi lain, gaya bahasa ini juga memberi kesan jujur dan tidak dibuat-buat.

    Ilustrasi dalam buku ini bukan sekadar pemanis. Gambar-gambar tersebut mengikuti suasana tulisan, baik lewat ekspresi, simbol, maupun potongan adegan sederhana. Karena gaya ilustrasinya konsisten, pembaca perlahan mengenali ritmenya: baca teks, berhenti di gambar, lalu lanjut lagi. Ilustrasi berfungsi sebagai jeda emosional, bukan penjelas isi.

Kelebihan dan Kekurangan

    Kelebihan buku ini ada pada keberaniannya menjaga kesederhanaan. Tulisan-tulisannya singkat, tidak bertele-tele, dan dekat dengan pengalaman sehari-hari. Ilustrasi yang hampir selalu hadir juga membuat pengalaman membaca terasa lebih utuh dan tidak melelahkan.

    Namun bentuk seperti ini juga punya risiko, seperti bentuk tulisan yang singkat memang memberi ruang tafsir, tetapi tidak semua bagian terasa sama kuatnya. Ada tulisan yang mengena dan mudah diingat, tetapi ada pula yang terasa berlalu begitu saja. Beberapa bagian selesai terlalu cepat, sebelum pembaca sempat benar-benar tenggelam di gagasan yang disajikan. Selain itu, meski tampil menarik secara visual, kehadiran ilustrasi yang hampir selalu muncul di setiap bagian kadang terasa terlalu sering, sehingga bisa jadi memutus alur membaca.

    Buku ini tidak cocok dibaca dengan ekspektasi mencari cerita utuh atau pembahasan yang detail. Nilainya justru ada pada potongan-potongan kecil yang mengajak pembaca berhenti sejenak. Dengan teks singkat, bahasa yang blak-blakan, dan ilustrasi yang konsisten, buku ini terasa seperti teman duduk diam yang tidak banyak bicara, tapi sesekali menyentil pengalaman pembaca dengan kalimat yang terasa familiar.

Penulis: Shihatud Diniyah An Nabilah

Editor: Fajar Fahrozi Kurniawan

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak