![]() |
| (Movie Illustration, sumber: rri.co.id) |
|
Judul Film |
: |
Agak Laen 2: Menyala Pantiku |
|
Pemeran utama |
: |
Boris Bokir, Indra Jegel, Oki Rengga, Bene Dion |
|
Genre |
: |
Komedi |
|
Tahun Rilis |
: |
2025 |
|
Durasi Film |
: |
1 Jam 59 Menit |
|
Oleh |
: |
Shihatud Diniyah An Nabilah |
Empat polisi itu
kembali melakukan kesalahan. Bukan kesalahan kecil, melainkan salah tangkap
yang berujung fatal, orang yang mereka ringkus dan hajar ternyata bukan pelaku
pembunuhan, melainkan anggota intel. Kasus ini membuat mereka dipanggil atasan
dan diberi peringatan terakhir dan jabatan mereka terancam dicopot.
Masalahnya,
masing-masing dari mereka sedang berada di titik hidup yang serba terjepit.
Bene membutuhkan biaya untuk kuliah adiknya. Indra Jegel harus mengirim uang ke
kampung demi kebutuhan mamaknya. Boris tengah menghadapi perceraian, sementara
Oki menanti kelahiran anak pertamanya. Tekanan pekerjaan datang bersamaan
dengan beban personal yang tak kalah berat.
Di tengah
situasi itu, muncul kecurigaan bahwa pelaku pembunuhan keponakan kepala
kepolisian bersembunyi di sebuah panti. Beberapa polisi lain sudah lebih dulu
mencoba menyamar untuk melamar kerja ke sana, namun selalu gagal. Kepala panti
terasa enggan dan kurang cocok, seolah ada jarak yang tak bisa ditembus hanya
dengan memenuhi syarat administratif.
Di titik inilah
ide seperti biasa datang dari Indra Jegel. Ia mengajukan kemungkinan bahwa
mereka justru memiliki peluang lebih besar, bukan karena kemampuan khusus,
melainkan karena latar kultural yang sama. Kepala panti adalah orang Batak.
Begitu pula mereka. Terutama Bene, yang memiliki marga Rajaguguk, sama seperti
kepala panti. Saat wawancara, kesamaan itu menjadi pintu masuk, obrolan
mengalir lebih cair ketika marga disebutkan. Bene dan Jegel diterima bekerja,
sementara Boris dan Oki absen karena urusan pengadilan perceraian.
Namun penyamaran tidak berhenti di situ. Dikarenakan pihak panti hanya sanggup menggaji 2 karyawan saja, dengan ide ceplosan khasnya, Jegel kembali mengatur skenario untuk Boris dan Oki menyusul sebagai pasangan lansia yang tinggal di panti. Semakin lama situasi yang semestinya tegang malah berkembang menjadi ruang komedi, tempat kebohongan kecil dan ide-ide spontan saling menambal satu sama lain.
Lewat rangkaian
situasi inilah Agak Laen 2: Menyala Pantiku! memperlihatkan cara kerjanya. Film
ini tidak mendorong cerita lewat konflik besar atau rencana yang rapi,
melainkan lewat respons tokoh-tokohnya yang impulsif dan sering kali ceroboh.
Kekacauan bukan datang dari satu kejadian besar, melainkan dari
keputusan-keputusan kecil yang dibiarkan menumpuk.
Salah satu
kekuatan utama film ini terletak pada kekompakan empat pemainnya. Boris Bokir,
Indra Jegel, Oki Rengga, dan Bene Dion tampil sebagai satu kesatuan. Lucunya
muncul dari cara mereka bereaksi satu sama lain saat situasi makin berantakan.
Dialognya gampang ditangkap, dan di beberapa scene berhasil memecahkan tawa
penonton satu studio.
Meski efektif
memancing tawa, kesetiaan film ini pada komedi juga menyisakan catatan. Alurnya
cenderung berjalan lurus dan mudah ditebak di beberapa bagian. Menjelang bagian
akhir, penyelesaian cerita terasa dipercepat, yang membuat kesan akhir film ini
terasa kurang memuaskan.
Pada akhirnya,
Agak Laen 2: Menyala Pantiku! adalah komedi yang tahu persis siapa dirinya dan
untuk siapa ia dibuat. Film ini tidak menawarkan cerita yang kompleks, tetapi
menghadirkan hiburan ringan dengan tawa yang lahir dari kekacauan hidup
sehari-hari. Sebuah tontonan yang mengajak penonton tertawa lebih dulu,
sementara urusan cerita menyusul belakangan.
Penulis: Shihatud Diniyah An Nabilah
Editor: Muhammad Rangga Noor Sabila
