![]() |
| (Ilustrasi oleh Penulis) |
Tahun ini, duka
sering datang, seperti tamu yang tak diundang tapi tahu betul alamat rumahku.
Ia masuk tanpa mengetuk, duduk di ruang tamu, lalu menetap. Aku tak sempat
menyiapkan apa-apa selain kelelahan yang sudah lebih dulu berserakan memenuhi
sudut-sudut rumah.
Aku sempat
bertanya-tanya, bagaimana ia bisa sampai ke sini. Alamat ini tak pernah
kusebarkan, pintu pun rasanya selalu kujaga. Namun duka datang juga, seolah
pernah kuberi izin masuk pada waktu yang tak kuingat.
Baru setelah ia
duduk cukup lama, aku menyadari apa saja yang hilang dariku. Kehilangan yang
tak bisa ditawar, tak bisa ditunda, dan tak bisa diprotes. Lingkar pertemanan
menyusut. Yang tersisa hanya kebiasaan lama tanpa orang-orangnya.
Lalu satu kehilangan datang dengan cara yang jauh lebih senyap. Rumah serasa terlalu luas untuk satu nama yang tak lagi bisa kupanggil. Sejak itu, apa pun yang hilang setelahnya terasa seperti pengulangan.
Sejak saat itu,
hari-hari berjalan dengan ukuran yang berbeda, aku berhenti menghitung
kehilangan. Angkanya terlalu banyak dan bertambah. Aku hanya tahu, rumah ini
tak lagi menyambut pagi dengan cara yang sama.
Ada jam-jam
tertentu yang terasa tidak punya fungsi. Terlalu awal untuk tidur, terlalu
siang untuk berharap apa-apa. Di jam seperti itu, aku sering berpindah tempat
tanpa tujuan. Dari kursi ke lantai, dari lantai ke ambang jendela, sampai
pandanganku tersangkut pada sesuatu yang seharusnya biasa saja.
Sebuah buku.
Ia tidak
bersuara, hanya dia yang diam diantara pikiranku yang berisik. Aku membuka
halaman demi halaman, membiarkan kata-kata lewat seperti lalu lintas tanpa
lampu merah.
Hingga menjelang
akhir, satu kalimat membuatku berhenti lebih lama dari yang lain
"menikmati duka".
Aku
mengulanginya dalam hati, perlahan.
Menikmati. Duka.
Menikmati?
Duka?
Dua kata yang terdengar salah dan aneh jika disandingkan, tapi entah kenapa diletakkan bersebelahan. Sejak kapan kehilangan perlu dinikmati? Dan bagaimana caranya menikmati sesuatu yang bahkan tak pernah kupilih?
Beberapa hari
berikutnya, aku mencoba cara-cara instan dengan menggulir buku-buku lain yang
sekiranya terdapat cara untuk menghapus duka dalam satu atau dua langkah. Aku
membolak-balik halaman, menandai kalimat, berharap ada trik sederhana, mantra
cepat, atau kata kunci yang bisa langsung dijalankan. Tapi nihil.
Tak satu pun
menawarkan jalan keluar. Beberapa buku malah menyinggung hal yang aneh tentang
menikmati duka. Memang tidak sejelas buku pertama yang kubaca karya Dr.
Andreas, tapi cukup untuk membuatku mengernyit. Seolah semua kata-kata itu
memaksaku untuk menikmatinya.
Aku putus asa,
menyerah. Teringat ponselku, sosial mediaku, aku belum membukannya sama sekali.
Tak ada salahnya jika aku mencari cara cepat menghilangkan dukaku di sosial
media.
Ponselku justru
penuh dengan ucapan belasungkawa, pesan semangat, komentar yang manis, semua
tampak seperti mantra yang harus kupatuhi. Sial!
Jari-jariku bergerak sendiri, scroll tanpa arah, sampai tersangkut pada satu reels dengan tajuk “Satu Indonesia Pergi ke Jogja”. Potongan gambar Malioboro, Tugu Jogja, Kopi Klotok, variasi pantai Gunung kidul. Mungkin aku memang perlu mengunjunginya kembali.
Desember
keempat, aku pergi lagi. Kali ini tidak membawa rencana, hanya kaki dan kepala
yang lelah. Jalan kaki tanpa tujuan, duduk di bangku yang dulu pernah
kusinggahi. Aku hanya duduk, diam, ikut bernapas bersama kota itu.
Tak lupa
kusempatkan mendatangi satu toko buku di salah satu sudut jalan di Jogja. Masih
dengan ambisi yang sama “mencari cara untuk menghilangkan duka”. Setiap lorong
rak yang penuh dengan buku sengaja kusambangi. Aku memilih beberapa buku,
berharap ada yang kucari.
Lalu bagaimana
usahaku itu?
Nihil lagi, benar-benar tidak ada yang memberiku cara menghilangkan duka.
Aku kembali ke
penginapan, kantuk dan lelah berusaha menyelimutiku. Tapi apa ini? Menetes dari
atas memenuhi pipi bulatku. Aliran transparan ini lagi? Dari mana asalnya?
Mataku? Pikiranku? Hatiku? Rasa lelahku? Dari mana?
Dukaku kembali
datang,tentu saja… aku tidak mengundangnya. Ia duduk di samping kasur berukuran
120x100 yang sudah penuh dengan boneka dan badanku. Tanganku marah, mengepal,
ingin menjambak dan melenyapkan si duka.
Tengil!. Dukaku
tersenyum, menyeka air mata di pipi bulatku, dan pamit dengan santai.
“Nikmatilah aku!
Gudeg, bakpia, atau apa pun yang kau inginkan. Kita tidak akan saling cari
lagi”.
Aku terdiam. Mungkin, pikirku, menikmati duka bukan berarti memaksakan diri untuk menghilangkannya. Bukan juga berpura-pura kuat. Mungkin itu hanya soal memberi ruang. Membiarkan duka duduk di sebelah, bukan mengusirnya, tapi juga tidak membiarkannya mengambil alih seluruh ruangan.
Pagi ini,
matahari menembus jendela, lebih cerah sedikit dari biasanya. Aku berjalan lagi
di Jogja menggandeng diriku yang lebih tenang.
Aku membayangkan
datang bukan untuk melarikan diri, tapi untuk tinggal sebentar bersama dukaku.
Mengajaknya berjalan, makan, dan diam.
Tak ada janji
akan sembuh. Tak ada target harus pulih kapan. Hanya keinginan sederhana untuk
hadir sepenuhnya pada apa yang kurasakan.
Dan jika kelak
aku pulang masih dengan duka yang sama, setidaknya aku sudah belajar satu hal:
bahwa tidak semua yang menyakitkan harus dilawan. Beberapa cukup diterima,
dinikmati perlahan, sampai ia lelah sendiri.
Seperti
perjalanan.
Seperti
kehilangan.
Seperti aku, yang sedang belajar hidup dengan cara baru.
Penulis: Shihatud Diniyah An Nabilah
Editor: Fajar Fahrozi Kurniawan
