Perhatikan Sekelilingmu, Kolonialisme tak Pernah Benar-benar Mati

Cover buku bagian depan, sumber:google.com

Judul               : Max Havelaar 

Penulis             : Multatuli

Penerjemah      : Ingrid Dwijani Nimpoeno

Penerbit           : Qanita

Tahun Terbit    : Edisi Terjemahan Indonesia, 2014

Cetakan           : Kedua puluh dua, 2022

Tebal Buku      : 408 halaman

Siapa yang tak kenal dengan karya sastra Max Havelaar? Sastra klasik karya Multatuli ini sempat mengguncangkan jagat raya, tepatnya di Belanda saat awal penerbitannya pada abad ke-19 silam. Penulis aslinya bernama Eduard Douwes Dekker, mantan Asisten Residen Lebak, Banten Selatan. Ia sengaja menggunakan nama pena Multatuli yang diambil dari bahasa latin “Aku telah banyak menderita” dari pengalamannya menjadi pejabat kolonial.

Dalam karyanya, tokoh Max Havelaar diciptakan oleh penulisnya sebagai pribadi yang sangat santer dalam menegakkan keadilan, melindungi pribumi dari penindasan, perlakuaan buruk, dan pemerasaan. Pemunculan Max Havelaar datang dari kisah yang kembali dituliskan oleh Droogstoppel‒seorang makelar kopi‒dengan dibantu oleh Stern. Mereka mendapatkan kiriman paket dari Sjaalman‒teman sekolah Droogstoppel yang digambarkan selalu memakai selendang kotak-kotak‒yang meminta Droogstoppel untuk menuliskan kisahnya saat berada di Hindia.

Dari kisah yang dituliskan kembali, pengalaman Sjaalman‒setelah ditelisik ternyata kisah Max Havelaar itu sendiri‒menjadi seorang Asisten Residen Lebak menemukan kebenaran yang tidak pernah diketahui di negara asalnya, Belanda. Korupsi, kolusi, nepotisme, hingga memperbudak pribumi yang telah menjangkit kebanyakan pejabat pribumi, terutama Bupati Lebak. Peristiwa ini tak ubahnya sebagai gunung es, tak terlihat di permukaan, tetapi menyimpan kebobrokan sistem yang telah terjadi sejak lama. Sedangkan pejabat kolonial sebagai pemalsu dokumen mengenai kondisi sebenarnya di Hindia.

Dalam membaca kisahnya, pernyataan tentang para pejabat pribumi yang sama kejamnya dengan pejabat kolonial sudah bukan menjadi kabar angin semata. Ia menjelma menjadi “budaya” yang turun-temurun dipelihara oleh pemerintahan di zaman kini. Membacanya lalu membandingkannya dengan kondisi negara saat ini, ibarat membandingkan keburukan satu dengan keburukan lainnya yang lantas tak menjadikannya lebih baik.

Gaya penulisan dalam buku ini tak banyak ditemukan pada tulisan buku saat ini yang laris di pasaran. Gaya epistolari yang menyajikan dokumen antar dokumen memiliki gaya reportase yang kental. Lapisan demi lapisan dalam dokumen milik Sjaalman yang disusun kembali oleh Makelar kopi Droogstoppel‒yang hanya mementingkan keuntungan bagi dirinya sendiri‒perlu dipahami dengan membacanya hingga rampung. Dalam penulisannya, buku ini membentuk konstruksi antara dua bangunan fiksi dan realitas, hal ini tergambar pada bagian akhir yang menyebut penulisnya sendiri‒Multatuli‒mengambil alih Max Havelaar sebagai “pemeran utama”.

Buku ini perlu dibaca tak hanya sekali, isinya yang sarat akan makna, satire, hingga kritik pada zaman kolonial menjadikannya penting dibaca oleh siapapun. Multatuli secara gamblang menyebutnya layak dibaca oleh para negarawan yang wajib memperhatikan tanda-tanda zaman. Sepak terjang buku ini dinilai sangat besar pengaruhnya, salah satunya menjadi cikal bakal Belanda menerapkan politik etik sebagai “balas budi” untuk pribumi dengan memberikan akses pendidikan bagi keturunan bangsawan di Jawa. Meskipun hanya segelintir yang mendapat pendidikan, tetapi kelak kaum muda tersebut melahirkan pergerakan nasional yang akan membunuh kolonialisme. Maka ungkapan Pram mengenai “kisah yang ‘membunuh’ kolonialisme” merupakan gambaran yang tepat.

Walau begitu, pembaca awam mungkin akan kebingungan dan sedikit kesusahan dalam memahami isi dari buku ini. Selain harus memahami konteks penulisan buku ini, pemahaman akan salinan dokumen dari beberapa tokoh membutuhkan waktu untuk dapat dipahami sebagai cerita yang utuh. Kelemahan dalam buku ini lagi-lagi dikonfirmasi langsung oleh penulisnya melalui ungkapan, "Buku ini campur aduk; tidak beraturan, hanya ingin mengejar sensasi. Gayanya buruk; penulisnya tidak berpengalaman; tidak berbakat, tidak punya metode." Mungkin sudah jarang seorang penulis yang tidak memedulikan gaya bahasa ketimbang isinya seperti Multatuli.

Kisah ini menjadi refleksi bersama, ia menunjukkan gambaran perampasan hak yang dialami pribumi. Jika diibaratkan dalam konteks saat ini, pribumi adalah rakyat yang dipaksa sengsara, diperas, lalu diambil haknya oleh kelakuan bejat para pejabat. Ironisnya, kolonialisme tak pernah benar-benar mati, ia hanya berubah subjek, objeknya tetap sama, rakyat yang sengsara. Jika di masa lalu rakyat dijajah oleh bangsa lain, sekarang ia dijajah oleh bangsanya sendiri. Begitu pun dengan feodalistik yang tercermin dalam kelakuan para pejabat pribumi yang merampas hidup kaumnya sendiri. Coba amati sekeliling kita, ia masih bergentayangan dan menghantui di pelosok negeri ini.

Peresensi: Fajar Fahrozi Kurniawan

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak