Hujan turun sejak senja, mula-mula seperti bisikan doa, lalu berubah menjadi ratapan panjang yang tak kunjung usai. Langit seolah mengirimkan seluruh kesedihannya sekaligus, dan kota kelahiranku menerimanya dengan jalan-jalan yang perlahan tenggelam. Sungai yang selama ini jinak mulai meninggi, menggulung air keruh dengan kemarahan yang tertahan. Tak ada sirene, hanya teriakan yang bersahutan, memecah malam yang basah.
Dalam gelap, air datang tanpa permisi. Ia menyeret potongan kayu, perabot rumah, dan kenangan yang belum siap dilepaskan. Pintu-pintu rumah terhempas, halaman berubah menjadi arus. Orang-orang berlarian sambil menggenggam apa saja yang sempat diraih anak, tas, doa. Kota kelahiranku malam itu kehilangan bentuknya, ia hanyut bersama ketakutan yang tak sempat diberi nama.
Pagi datang dengan matahari yang malu-malu. Cahaya menyentuh genangan, memperlihatkan luka yang tersisa. Lumpur menempel di dinding hingga setinggi dada, meninggalkan garis kenangan yang tak mudah terhapus. Kasur basah teronggok di tepi jalan, lemari terbalik, buku-buku sekolah mengerut dan membisu. Foto keluarga menatap kosong dari bingkai yang pecah, seakan bertanya mengapa air begitu kejam.
Aku melangkah menyusuri gang yang pernah ramai oleh suara pagi. Kini hanya tersisa sunyi dan bau tanah basah yang menusuk. Setiap langkah terasa berat, bukan oleh lumpur di kaki, melainkan oleh cerita-cerita kehilangan yang berdiam di sekeliling. Di sebuah rumah, seorang ibu duduk memeluk pakaian yang baru diperas, matanya kosong, bibirnya komat-kamit menyebut nama Tuhan. Di rumah lain, seorang bapak membersihkan lantai dengan sabar yang rapuh, seolah dengan itu ia bisa membersihkan luka di dadanya.
Anak-anak berdiri di tepi jalan, menatap sisa banjir dengan mata yang terlalu dewasa untuk usia mereka. Sepatu mereka hilang, seragam sekolah basah dan kusam. Namun di tangan kecil itu masih ada keberanian mereka bertanya kapan bisa bermain lagi, kapan bisa belajar lagi. Pertanyaan sederhana yang membuat dada orang dewasa terasa sesak.
Siang hari, kota mulai bergerak. Air surut, meninggalkan lumpur sebagai saksi. Dari berbagai arah orang-orang datang, tetangga, relawan, dan mereka yang kemarin tak saling kenal. Sekop dan cangkul berpindah tangan, karung dibuka, makanan dibagi. Tidak ada yang bertanya siapa paling rugi, karena di hadapan bencana, semua sama-sama kehilangan. Lelah tak dipamerkan; ia disembunyikan di balik senyum kecil dan saling menyapa.
Hari berganti hari. Kota kelahiranku berubah menjadi ruang gotong royong yang tak pernah diajarkan di buku pelajaran. Dapur umum mengepul sejak subuh, tenda-tenda darurat menjadi rumah sementara. Di sana, cerita-cerita lama diulang agar malam terasa lebih pendek. Ada tangis yang pecah tanpa aba-aba, namun selalu ada tangan yang cepat merangkul. Ada duka yang berat, namun tak dibiarkan jatuh sendirian.
Malam-malam tanpa listrik menjadi waktu paling jujur. Di bawah cahaya lampu seadanya, doa-doa mengalir lirih. Orang-orang mengingat apa yang hilang, lalu belajar menerima apa yang masih ada. Sungai yang kini kembali tenang dipandangi dengan perasaan campur aduk, marah, takut, rindu, dan harap. Kota ini mulai belajar bahwa alam bukan musuh, tetapi amanah yang selama ini lalai dijaga.
Perlahan kehidupan menumbuhkan dirinya kembali. Lumpur mengering, tembok dibersihkan, sekolah dibuka meski dengan fasilitas seadanya. Anak-anak kembali tertawa, meski lapangan masih menyimpan bekas air. Kota kelahiranku belum sepenuhnya pulih, namun ia telah menemukan irama-irama bertahan, irama saling menguatkan.
Pada suatu pagi yang cerah, angin berembus lembut membawa bau tanah yang baru. Matahari menulis ulang cahaya di wajah kota. Aku berdiri dan menyadari banjir telah mengubah banyak hal, tetapi tidak mematahkan harapan. Dari air yang pernah mengamuk, kota ini belajar rendah hati. Dari lumpur yang melekat, ia belajar bersabar.
Cepat pulih, kota kelahiranku. Jika suatu hari air kembali datang, kami telah belajar cara bertahan, dengan tangan yang saling menggenggam, dengan hati yang tak mudah hanyut, dan dengan keyakinan bahwa harapan selalu menemukan jalannya pulang.
Penulis: Rintan Febriyanti
Editor: Zidni Rosyidah
