Selalu itu yang kupesan,
teh tawar, hangat
Seolah hidup tak perlu gula
Membosankan.
Satu meja tersisa, nomor 22 berwarna jingga
Duh, aku tak menyukainya
Tapi kursi tak pernah menawar pilihan,
terpaksa akan kutempati
ramai menusia dengan percakapan seperti uap
terdengar,
lalu lenyap
Kuhirup… uap tehku,
kusruput…
perlahan…
bersamaan dengan uap uap percakapan
pelanggan yang merasa paling perlu didengar
Seseorang sempat duduk di seberang ingatanku,
menatap gelasku seperti baru pertama kali melihat.
Ia menebak-nebak rasa,
seperti tak pernah tahu kebiasaan ini
pernah diulang bertahun-tahun
Lidahku sudah mahir berdansa dengan panas teh
faringku sigap mengikuti iramanya, tapi
otakku lebih sigap bertanya,
mengapa manis?
Apa aku salah memesan?
Atau gelas ini yang keliru mengerti lidahku?
Aku diam.
Walau alisku mengerucut,
keputusan ini kupeluk seperti kebiasaan lama:
tidak dibela,
tidak disangkal,
dibiarkan mendingin di tengah meja.
Penulis: Shihatud Diniyah
