![]() |
| (Ilustrasi "Makhluk tak Berakal" sumber: Canva.com) |
Dipertengahan siang menuju petang, Nampak kawanan burung terbang berbanjar kearah selatan, mereka terlihat begitu kompak mengepakan sayapnya dengan lengkap, sedang kawanan gajah tengah berkerumun di permukaan tanah yang dikelilingi pepohonan rindang disamping kanan kirinya.
Dibagian utara juga terdapat banyak flora dan fauna yang sedang bercengkrama dengan riang gembira, salah satunya ada kera yang sedang bergelantungan dari dahan satu ke dahan lainnya, ada pula kawanan hewan lainnya yang hidup saling berdampingan di bagian barat dan timurnya.
Setelah puluhan tahun mereka disana tanpa merasa terganggu, kini mereka tak lagi dapat bercengkrama seperti dahulu, ada saja tingkah laku makhluk hidup lainnya yang mencederai lingkungan hidup mereka, mulai dari memburu kawanan kami yang bisa dimanfaatkan kulitnya, hingga memburu pepohonan yang di mutilasi secara ugal ugalan.
Tepatnya dipenghujung petang, datanglah segerombol makhluk tak berakal yang dengan serampangan menghajar halaman rumah kami disaat kami semua hendak merebahkan badan, mereka semua datang dengan alat alat canggih yang tak kami ketahui kegunaannya, namun dengan alat itu mereka dapat merobohkan kekokohan rumah kami yang telah berdiri puluhan tahun yang lalu.
Seketika juga, ayahku, selaku ketua regu, menyerukan kepada seluruh masyarakatnya untuk segera berlindung menjauh dari makhluk bengis tersebut, kami pun berlarian kalang kabut tak tahu arah, tetanggaku ada yang bergelantungan pada sisa sisa rumahnya yang belum tertebas dengan menggendong anaknya, ada pula yang menggiring anak anaknya menuju tempat yang lebih aman dan lain sebagainya.
Pada hari itu adalah kali pertama kami tertidur dengan perasaan yang amat sangat khawatir, namun ayahku berusaha menenangkan kami semua dan dia berjaga di keheningan malam di temani oleh saudara saudaranya yang laki laki, dengan hati iba sekaligus takut kami menutup mata di hari itu.
Keesokan paginya kami membuka mata dengan perasaan yang masih sama antara waspada dan khawatir, bilamana musuh tiba tiba datang menyerang kembali, kami hanya melihat ayah yang masih terjaga hingga pagi tiba, rupanya dia merelakan untuk tidak tidur semalaman dan mempersilahkan saudaranya yang ikut berjaga untuk tidur bergantian, akhirnya aku memberanikan diri untuk menawarkan kepada ayah untuk berganti menjaga Kawasan tersebut, dan ayahku berkata: “tak apalah nak, ini urusan kami tetuamu disini, biar ayah bangunkan salah satu saudaramu saja”.
Kami pun menjalani kehidupan kami seperti biasa, dan mencoba untuk merapihkan beberapa tempat untuk kami tiduri nanti, kami saling bergotong royong didalam membangun dan membersihkan lingkungan sekitar, kami mulai mencari makan dengan cara kami masing masing, ada yang pergi mengembara ke bagian utara, ada pula yang mangarungi Samudra untuk Mancari mangsa.
Berpuluh puluh hari kemudian, sekitar 40 hari setelah penggusuran paksa yang di lakukan oleh makhluk yang serakah itu, terjadilah bencana yang meluluhlantahkan semua yang berdiri kokoh, air mengalir bak kereta yang dibangun dengan mesin canggih, menerjang menenggelamkan seluruh Kawasan kami, kali ini aku harus rela kehilangan seluruh anggota keluarga kecuali ibundaku yang ku cinta dengan cara berlari sekuat tenaga, bahkan ayah dan seluruh saudaranya hanyut terbawa oleh ganasnya air disaat mereka berusaha menolong satu sama lainnya.
Air itu mengalir tidak sendirian, dengan berpasukan kayu kayu dengan mayoritas ukuran menengah hingga besar mereka seakan sedang berpatroli, menyantroni seluruh area sampai tak ada lagi area yang tak tergenang oleh air, air itu sekarang setinggi atap dari rumah rumah si makhluk serakah, seakan ingin membalaskan dendam kami kepada mereka.
Akhirnya para makhluk serakah pun sama mengalami kehilangan tempat tinggalnya seperti kami, namun bedanya mereka yang mendapat keuntungan lebih besar dari menggunduli rumah kami justru hidup tenang di seberang tanah sana dan seakan tak merasa bersalah atas semua perbuatannya.
Kini, setelah mentari terbit dua kali di ufuk kiri, air itu mulai kembali pada habitatnya sendiri, hanya menyisakan bertumpuk tumpuk lumpur yang hampir menyerupai gunung di dataran rendah, sedang dari spesies mamalia bergading tersisa aku dan ibuku sahaja di tanah ini, selebihnya telah lenyap ditelan ganasnya gelombang kemarin lusa.
Kami benar benar mengutuk semua kegiatan pengrusakan lingkungan hidup, karena itu sangat merugikan kepada seluruh makhluk hidup dan hanya menguntungkan segelintir makhluk hidup yang tidak berakal ”Si Manusia Serakah”.
Penulis: Muqtafa Deka Yunensa
