Bertemu di Titik Tak Terduga


(Ilustrasi "Bertemu di Titik Tak Terduga" sumber: Canva.com)

Beberapa bulan terakhir, hidupku berjalan dalam rutinitas yang tidak memuaskan. Aku merasa terjebak dalam dunia yang hanya berputar di sekitar kesibukan dan tugas - tugas yang tak ada habisnya. Namun, ada satu hal yang selalu menghantuiku yaitu kehilangan. Kehilangan yang datang tanpa peringatan yang akhirnya membawa perasaan kesepian yang tak bisa lagi kuelakkan.

Hari itu, langit senja menyimpan rona keemasan yang perlahan memudar menjadi kelabu. Awan - awan yang menggantung rendah seolah menjadi saksi bisu perjalanan hidupku yang penuh liku. Di ujung jalan setapak yang sering kulalui, aku berdiri menunggu sesuatu yang tak pernah kuharapkan. Waktu yang berjalan begitu cepat dan aku merasa berada di ujungnya, di ujung yang entah mengapa terasa familiar. Aku selalu percaya bahwa hidup adalah rangkaian kebetulan yang saling terhubung, tetapi kebetulan yang satu ini benar - benar melampaui dugaanku.

Ketika aku sedang berdiri di ujung jalan, tiba - tiba seorang pria muncul di depan mataku. Wajahnya tampak samar, namun ada sesuatu yang membuatku merasa seolah aku mengenalnya. Dia berdiri tepat di ujung jalan, di tempat yang seharusnya hanya aku yang ada di sana. Mungkin ini hanya imajinasiku, kataku dalam hati. Namun, dia tersenyum. Senyuman yang begitu familiar, seperti senyuman yang selalu Ia berikan untukku.

“Rena?” suaranya menggetarkan pikiranku, seolah aku mendengar suara masa lalu yang sudah lama terkubur.

Aku terpana. Suara itu.. suara yang sudah lama tidak ku dengar. Suara yang begitu khas yang membuatku teringat semua kenangan ketika bersamanya. Aku menatapnya, mencoba meyakinkan diri bahwa ini bukan sekedar bayangan.

“Iya, aku….. aku Rena,” jawabku dengan suara bergetar.

Pria itu melangkah lebih dekat. Wajahnya tampak lebih dewasa, namun ada sesuatu yang tetap sama yaitu tatapan matanya. Mata yang teduh yang dulu sering ku pandang setiap hari. Dia adalah Devan, pria yang sangat berarti dalam hidupku, sebelum akhirnya kami terpisah karena jarak dan waktu yang semakin menjauhkan kami.

Rasa canggung tiba - tiba muncul. Kami saling menatap beberapa detik, tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Aku merasa ada jarak yang tercipta dalam diam kami.

“Aku tahu kamu tidak mengharapkan bertemu dengan ku lagi,” kata Devan dengan suara penuh penyesalan. “Tapi aku ingin tahu, apakah kamu bahagia sekarang?” tanya Devan yang membuatku tidak bisa berkata - kata.

Aku terdiam, kata - kata itu seakan menjeratku dalam ketidakpastian. Bagaimana aku bisa menjawabnya? Hidupku memang berjalan, namun kebahagiaan yang sesungguhnya tidak pernah kembali sejak kami berpisah. Devan adalah bagian dari hidupku kami berpisah karena pendidikan dan tinggal di kota yang berbeda.

“Aku… aku tidak tahu,” jawabku akhirnya, mencoba jujur pada perasaan yang mulai membingungkan. “Aku berusaha melanjutkan hidup, tapi aku merasa kehilangan sesuatu yang tidak bisa kutemukan lagi.”

Devan mengangguk, matanya penuh pengertian. “Aku juga begitu, Ren. Aku meninggalkanmu dulu karena aku pikir itu yang terbaik. Tapi aku tahu sekarang, aku keliru. Aku datang bukan untuk mengubah apa-apa melainkan hanya untuk melihatmu bahagia, meskipun dari jauh.”

Mulutku seakan tidak bisa berucap, jantungku berdetak kencang, semua kenangan terlintas dalam ingatanku. Sungguh aku ingin mengatakan “RINDU” padamu.

Namun, aku sadar semua tidak bisa kembali seperti dulu, kita sudah berbeda dan aku sedikit lega setelah mendengar penjelasan darimu.

“Kamu sudah banyak berubah, Devan”, kataku pelan. Meski aku tahu itu hanya kalimat pengisi hampa. Kamu tertawa, tawa yang tidak sepenuhnya ceria.

“Ya beginilah, waktu memang mengubah segalanya”, jawabmu.

Percakapan singkat kami mengalir begitu saja, meskipun ada rasa aneh yang menyelinap di antara kami.

Tak terasa waktu seakan terhenti, tidak ada kata - kata lebih yang perlu diucapkan lagi di antara kami. Tanpa ada janji untuk kembali bersama, tanpa ada harapan untuk mengulang kisah seperti dulu, kami hanya berbagi sedikit cerita. Cerita yang penuh makna yang mungkin menjadi cerita terakhir untuk kita berdua.

“Terimakasih Devan, kamu masih mengingatku dan datang padaku meskipun aku tahu kita tak bisa kembali.”

Devan hanya tersenyum, seperti senyuman pahit. “Aku senang bisa berjumpa denganmu, di ujung waktu yang tak terduga ini. Bahagia selalu”. Kata - kata Devan untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkanku.

Dengan langkah perlahan, dia pergi meninggalkan aku dengan perasaan yang sudah lama terkubur. Namun, kali ini aku merasa lebih ringan, karena perjumpaan itu memberiku sedikit kedamaian, meski di ujung waktu yang tak pasti.

Amanat dari cerita “Bertemu di Titik Tak Terduga” adalah pentingnya menerima dan mengikhlaskan masa lalu sebagai bagian dari perjalanan hidup. Dalam hidup, tidak semua hal bisa kembali seperti semula. Namun, setiap pertemuan meskipun itu singkat tetap akan bermakna dan dapat memberi pelajaran untuk mendapatkan sebuah kedamaian. 

Penulis:  Arneza Anjaneta (Kru Magang 25)

Editor: Faizul Ma'ali

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak