| Ilustrasi Penggunaan Chat GPT di lingkungan akademik |
Dalam era digital saat ini, AI telah menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. AI memberikan kemudahan yang luar
biasa kepada mahasiswa dalam mengerjakan tugas. Salah satu penerapan AI yang
paling menonjol adalah penggunaannya untuk bertanya dan menjawab pertanyaan di
lingkungan akademik. Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam interaksi
antara manusia dan teknologi yang mengarahkan pada cara baru dalam belajar dan
berdiskusi.
Tidak bisa dihindari penggunaan AI sudah menjadi kebiasaan
yang tak terhindarkan, terutama di kalangan mahasiswa. AI dimanfaatkan untuk
mempercepat pengerjaan tugas, memunculkan ide, hingga menyusun argumen secara
cepat. Dalam konteks ini, AI berperan sebagai alat bantu yang dapat mendorong
efisiensi dan memberikan inspirasi. AI digunakan berlebihan dalam diskusi
pembelajaran tanpa disertai pemikiran kritis dan pemahaman mendalam. Kondisi
ini membuat mahasiswa kehilangan kemampuan berpikir analitis yang esensial
dalam proses belajar dan pengembangan intelektual.
Fenomena yang sering terjadi dengan penggunaan AI dalam
konteks akademik saat sesi tanya jawab di kelas. Kelas yang seharusnya menjadi
ruang interaksi dan diskusi menjadi pasif karena mahasiswa kurang memahami
dengan materi yang dibahas. Ketika sesi tanya jawab dibuka, ada kecenderungan
muncul pertanyaan yang dihasilkan oleh AI dengan gaya bahasa yang sangat baku.
Pertanyaan-pertanyaan ini sering kali tidak mendalam dan lebih keluar dari
konteks materi yang dibahas.
Fenomena tersebut terjadi karena mahasiswa yang ingin
memperoleh nilai tambahan tanpa benar-benar memahami tujuan dari pertanyaan
yang diajukan. Banyak mahasiswa berpikir “yang penting nanya dan NIM dicatat,”
tanpa menyadari bahwa pertanyaan yang berkualitas dan relevan justru dapat
memperkaya diskusi dan pemahaman. Sikap ini berdampak pada kualitas diskusi,
dan perkembangan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Mereka lebih memilih
untuk mengandalkan AI secara pasif tanpa berusaha mengasah kemampuan intelektual
dan literasi mereka.
Situasi ini
membingungkan bagi presentator. Karena kurangnya penguasaan materi oleh
presentator, presentator sering kali hanya membaca dari slide PowerPoint tanpa
memahami esensi dan isi materi yang sebenarnya. Ketika menghadapi pertanyaan
yang bersifat mendalam atau keluar dari konteks. Mereka juga mengandalkan AI
untuk memberikan jawaban instan tanpa melalui proses analisis atau refleksi
terlebih dahulu. Hal ini mengakibatkan pembelajaran menjadi pasif tidak selayaknya
diskusi mahasiswa yang beradu argumen satu sama lain dengan pengetahuan dan
wawasan yang luas, dimana proses refleksi intelektual yang seharusnya terjadi
dalam diskusi akademik justru tergantikan oleh jawaban instan dari teknologi.
Penyalahgunaan AI dapat merusak kualitas pendidikan, membuat
mahasiswa malas berpikir, lebih memilih proses yang instan. Mahasiswa harus
menyadari bahwa AI hanyalah sebagai pemantik ide dari pembahasan. AI digunakan
untuk memudahkan akses informasi, mempercepat pemrosesan data, dan membantu
memunculkan ide-ide baru, bukan digunakan sebagai pengganti proses berpikir
kritis dan analitis yang menjadi fondasi utama dalam pendidikan.
literasi digital mengenai penggunaan AI perlu ditingkatkan
agar mahasiswa tidak terjebak dalam ketergantungan yang berlebihan. Dosen
harus berperan lebih tegas terhadap
mahasiswa yang menggunakan AI pada saat kelas berlangsung agar mahasiswa ada
usaha untuk memahami materi sebelum diskusi berlangsung, supaya menciptakan
metode pembelajaran yang kritis dan interaktif, sehingga mahasiswa terdorong
untuk aktif berpikir dan berdiskusi.
Metode pembelajaran yang menuntut aktif mahasiswa, seperti
diskusi kelompok, studi kasus, dan presentasi berbasis analisis akan membangun
suasana yang lebih hidup dan untuk memperluas pemahaman. Dengan itu mahasiswa
tidak hanya mengandalkan AI sebagai sumber jawaban instan, melainkan
memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu dalam proses pemikiran dan
pengembangan ide.
Pengembangan budaya akademik yang sehat dan responsif
terhadap kemajuan teknologi adalah kunci agar AI dapat memperkuat kemampuan
berpikir kritis dan intelektual mahasiswa, bukan justru melemahkannya.
Mahasiswa yang mampu mengintegrasikan hasil bantuan AI dengan penalaran dan
analisis mandiri akan lebih siap menghadapi tantangan dunia yang semakin
kompleks dan berubah cepat.
Penulis: Rizqi Harsa Dafari (Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta)
Editor: Faizul Ma`ali