Menyelami Dunia Jurnalisme: Ani Bicara tentang Media Cetak dan Digital

Redaktur metropolis saat menyampaikan materi (Tim Redaksi)

Semarang, lpmedukasi. com - Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edukasi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengadakan Kunjungan Media di Graha Pena Jawa Pos, Surabaya pada Selasa (28/05/2024).  

Ani, Redaktur Metropolis di Jawa Pos, menjelaskan bahwa di Jawa Pos ada tiga jenis media: TV, cetak, dan online.

"Di Jawa Pos, tidak hanya produk cetak berbentuk koran, tetapi ada juga produk online seperti Jawapos.com, Instagram @jawapos, dan Jawa Pos TV," ujarnya.

Ani juga menjelaskan ciri-ciri dari beberapa tulisan.

"Tugas jurnalistiknya hampir sama. Di dalam berita ada soft news dan hard news. Untuk features lebih mengedepankan humanis. Hard news biasanya menggunakan 5W + 1H atau standar jurnalisme, sedangkan soft news bisa mengangkat cerita seperti misalnya bagaimana seseorang belajar dengan dukungan keluarga dan lainnya," jelasnya.

Ani menekankan pentingnya berita yang masuk memiliki sifat unik, mempengaruhi hajat hidup orang banyak, dan spesifik.

"Soft news tidak selalu humanis, tetapi bisa juga berupa cerita lucu-lucuan untuk penyeimbang agar bisa fresh," ujarnya.

Menurut Ani, media online memiliki kelebihan dalam mengembangkan banyak cerita dari sebuah peristiwa, sementara media cetak seperti koran memiliki keterbatasan ruang sehingga harus benar-benar memilih mana yang lebih layak diberitakan. 

"Dalam media cetak, tampilan perlu diatur agar tidak membosankan, misalnya dengan menggunakan grafik dan ilustrasi. Redaktur dan layouter perlu bekerja sama untuk membuat pembaca tidak bosan," tambahnya.

Ani juga menjelaskan bahwa untuk menghasilkan koran diperlukan kerjasama beberapa pihak, termasuk wartawan, fotografer, reporter, redaktur, editor, dan layouter. 

"Wartawan dan fotografer bertugas di lapangan, sementara redaktur mengolah laporan dari wartawan, mengatur akurasi, mengembangkan logika berpikir, dan mengembangkan sebuah kisah. Redaktur juga menentukan highlight berita agar menarik. Kemudian, editor memeriksa apakah diksi yang digunakan sudah benar atau belum dan apakah sesuai EYD. Terakhir, layouter meletakkan tulisan dan foto agar pembaca tertarik," katanya.

Ia juga memberikan saran kepada wartawan untuk menilai apakah berita menarik atau tidak dengan memposisikan diri sebagai pembaca.

"Wartawan perlu mengenali narasumber, mencari tempat di mana bisa berpapasan dengan narasumber, dan mengejar sampai dapat. Sebagai wartawan, tidak ada jam kerja. Jika ada konflik berita, maka diarahkan ke Dewan Pers untuk diberikan hak jawab atau mediasi," katanya.

Ani menyoroti tantangan dari media digital yang mengutamakan kecepatan. 

"Terkait hal itu, koran beradaptasi dengan memuat berita yang bikin orang kenyang atau memuat banyak informasi dalam satu berita sehingga orang mampu memahami berita itu tanpa harus klik-klik. Koran harus lebih kompleks," ungkapnya.

Lanjut, Ia yakin bahwa semua jenis media memiliki pasarnya masing-masing. 

"Kita yakin akan bertahan dan pasti ada audiens-nya masing-masing, misalnya koran di warung kopi. Wartawan harus mempunyai logika dan critical thinking yang harus diasah," pungkasnya.


Redaktur: Agustin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak