Pengentasan Pendidikan di Daerah Pedalaman

 



Saur Marlina Manurung atau lebih dikenal dengan nama Butet Manurung merupakan lulusan Jurusan Antropologi dan Jurusan Sastra Indonesia di Universitas Padjadjaran yang juga menyandang gelar master di bidang Applied Anthropology and Participatory Development pada tahun 2011. Ia merupakan pengarang buku The Junggle School yang dalam Bahasa Indonesia dierjemahkan menjadi Sekolah Rimba. Buku ini berhasil diangkat menjadi film dan diputar di berbagai festival internasional dan mendapatkan berbagai penghargaan.

Dalam buku yang ditulis, Butet Manurung menceritakan perjalanannya ketika bekerja di sebuah LSM konservasi hutan di Sumatra yang bernama WARSI sebagai fasilitator pendidikan. Di sana hidup orang-orang rimba yang tinggal di sekitar Taman Nasional Bukit DuaBelas (TNBD) yang ada di Jambi. Orang-orang rimba tersebar di berbagai wilayah hutan dan berbeda-beda kelompok. Ia ditugaskan untuk memperkenalkan pendidikan kepada orang rimba yang belum pernah mendapat pendidikan. Bahkan membaca, menulis, dan menghitung mereka belum bisa. Pakaian yang mereka kenakan pun sederhana hanya dari kain seadanya berwarna putih yang disebut cawat, badan mereka terlihat lusuh, dan sangat jauh dengan gaya hidup orang kota. Hal inilah yang membuat mereka mudah dibohongi dan dianggap remeh oleh orang kota.

Butet Manurung memulai tugasnya dengan mendekati orang rimba, dari rombong satu ke rombong yang lain. Ada yang secara terang-terangan menolak mentah-mentah ketika dikatakan maksud tujuannya, ada juga yang menjaga jarak dan mengusir karena mereka mengira dia sebagai pembawa penyakit atau perusak adat dan lain sebagainya. Hampir semua orang tua tidak menyetujui bila orang rimba mendapatkan pendidikan. Namun, hal ini tak menyurutkan semangatnya. Waktu terus berjalan, akhirnya beberapa anak mulai tertarik untuk belajar dan menjalankannya tanpa sepengetahuan orang tua mereka. Selama belajar, anak-anak merasa lebih bebas karena tidak ada aturan jadwal mata pelajaran dan waktu seperti di sekolah biasa. Butet menyadari bahwa anak-anak rimba ini orang-orang yang cerdas karena mereka dapat menguasai baca tulis dalam waktu yang cepat. Bahkan lebih cepat dibandingkan anak-anak desa yang bersekolah. Kurikulum yang Butet terapkan pun disesuaikan dengan keadaan orang-orang rimba dan disusun seiring berjalannya waktu sehingga mereka lebih mudah menerima materi yang diberikan. 

Bertahun-tahun memperjuangkan pendidikan dengan sabar, akhirnya banyak yang tertarik untuk belajar membaca dan menulis. Ia mulai mendapatkan tawaran untuk mengajar di wilayah lain. Karena jumlah murid yang ingin belajar tidak sedikit, maka ia mengajak dua muridnya yang merupakan orang rimba yang dirasa kompeten untuk membantunya mengajar. Kemampuan orang rimba yang bisa membaca, menulis, dan menghitung memberikan manfaat bagi mereka dalam hal membuat perjanjian, menjual getah karet dan lain sebagainya. Kemampuan yang telah mereka miliki ini menjadikan mereka bisa mengikuti arus modernisasi yang terjadi. Melihat perkembagan ini, akhirnya pada tahun 2003 Butet bersama empat rekan pendidiknya berhasil mendirikan tempat yang diberi nama sokola yang fungsinya sama seperti sekolah yaitu sebagai tempat untuk belajar dan dikhususkan bagi komunitas adat di wilayah terpencil di Indonesia. Dan sampai saat ini sudah ada 15 komunitas yang berhasil didirikan. Kini, orang-orang rimba yang dulu merupakan muridnya ikut turun tangan menjadi kader untuk membantu menjalankan program ini bahkan beberapa diantara mereka berhasil menjadi ketua organisasi dan sudah diundang di berbagai acara televisi.

Keunggulan dari buku ini adalah adanya keterangan waktu yang jelas kapan hal yang diceritakan dalam buku ini terjadi karena cerita dalam buku ini diangkat dari kisah nyata Butet sendiri. Selain itu, bahasa yang digunakan juga mudah untuk dipahami dan tidak berbelit-belit, Beberapa kalimat menggunakan Bahasa Rimba lengkap dengan terjemahan dalam Bahasa Indonesia membuat pembaca mengenal kosa kata baru dalam Bahasa Rimba. Dalam buku ini juga terdapat foto-foto ketika berkegiatan di rimba lengkap dengan keterangannya dan beberapa bab diberikan gambar sketsa sehingga pembaca tidak begitu jenuh saat membaca. Butet juga kerap mencantumkan pendapatnya yang begitu memukau mengenai masalah yang terjadi dan adanya ringkasan cerita di bagian epilog menjadi daya tarik tersendiri.

Di samping itu, kekurangan buku ini diantaranya adanya kosa kata Bahasa Rimba yang terjemahannya terletak di halaman terakhir buku sehingga sedikit menyulitkan pembaca karena harus melihat kosa kata rimba yang ada di awal atau tengah buku tapi melihat terjemahannya di akhir buku. Sebaiknya, terjemahan kosa kata ini diletakkan di halaman buku yang terdapat kosa kata rimba. Selanjutnya, banyaknya rombong orang rimba dan daerah-daerah yang mereka diami membuat pembaca sedikit kebingungan untuk membayangkan cerita yang terjadi walaupun di bagian awal buku sudah disertakan peta mengenai daerah-daerah tersebut.

Secara keseluruhan, buku ini sangat bagus untuk dibaca karena di dalamnya kita dapat menemukan motivasi, inspirasi, dan pengetahuan baru. Dengan membaca buku ini, akan terbuka pikiran kita karena di dalamnya terdapat pendapat-pendapat penulis yang sangat bagus mengenai masalah-masalah yang terjadi. Oleh karena itu, buku ini baik untuk dibaca dari berbagai kalangan dan pembaca tidak akan menyesal setelah membaca buku ini.


Judul Buku : Sokola Rimba

Pengarang : Butet Manurung

Penerbit : Kompas

Tahun Terbit : 2013

Jumlah Halaman : 348

Resensator : Lailatul Maghfiroh

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak