Percakapan

Dok. Pinterest

Ketika saya baru mau membuka sebuah buku yang hendak saya baca, hp saya bergetar. Dalam hati saya mengutuk diri sendiri tidak mengubah ke mode diam terlebih dulu sebelum membaca buku—kebiasaan saya memang demikian. Saya meletakan buku di meja kamar dan meraih hp. Saya buka WA.

Karima menghubungi saya. Ada apa menghubungi saya? Saya membatin. Sudah lima hari kami tidak saling berkirim pesan. Waktu yang terasa begitu lama. Lima hari tidak berkirim pesan tentunya menambah rasa penasaran tersendiri di benak saya terkait dengan isi pesannya yang ia kirim kali ini. Saya mewajarkan hal itu, masing-masing dari kami mempunyai kesibukan. Saya sebagai jurnalis. Karima sementara ini sibuk dengan penelitian.

Dan isi pesannya membuat saya seketika mengumpat sambil tertawa. Lima hari tidak saling memberi kabar dan tiba-tiba menghubungi saya mengingatkan saya akan sesuatu! Sukanya saya dengan Karima memang begitu, sering tidak terduga.

“Saya lagi menata hati,” balas saya disertai emotikon ketawa.

Ya, menata hati. Saya harus menata hati. Ia mengingatkan sesuatu. Kami telah membuat kesepakatan bahwa akan lanjut studi magister bersama. Kami sudah cukup khatam mempelajari berkas syarat-syaratnya. Meski begitu kadang ada hal yang harus saya tanyakan padanya. Dan salah satu berkas persyaratan adalah ujian bahasa Inggris. Saya harus menata hati untuk itu. Ya.

Benar-benar di luar dugaan saya, Karima mengingatkan saya untuk ujian bahasa Inggris. Saya masih trauma. Bahasa Inggris menjadi kelemahan saya. Saya sudah ujian bahasa Inggris, tapi skornya tidak memenuhi syarat minimal yang ditentukan oleh kampus tujuan. Dan Karima? Saya mengumpat begitu tahu hasilnya dan lantas memuji. Nilai skornya dua kali lipat dari skor yang ditetapkan oleh kampus. Sementara saya minimal pun tak sampai.

Trauma, bayangan saya tes lagi dan skornya tidak memenuhi tergambar di benak. Namun, Karima seolah-olah seperti anak kecil yang merengek meminta sesuatu. Seolah-olah ia yang membutuhkan. Ia mengejar-ngejar terus lewat WA. Saya menyuruhnya untuk sabar berkali-kali. Hingga akhirnya ia berhenti dan saya sedikit lega. Pesan terakhir saya tidak dibalas. Mungkin ia kesal kepada saya. Saya menjadi kepikiran dengan ujian bahasa Inggris. Niat membaca buku menguap begitu saja—saya tinggalkan. Dua jam kemudian atau pukul 00.05, Karima membalas pesan saya.

Namun, pesannya bukan menanggapi pesan terakhir saya yang masih berinti menyuruhnya untuk bersabar. Saya benar-benar terkejut. Antara percaya dan tidak. Tidak ada hujan tidak ada badai. Karima menyuruh saya untuk membuka instagramnya, membuka postingan cerita tangkapan layar hasil karyanya. Maksudnya cerita yang ditulisnya. Baru saja ia menulis cerita. Untuk wattpad katanya.

“Untuk ukuran wattpad menurut Mas bagaimana?” tanyanya.

Saya membaca berulangkali kalimat tanyanya, setelah membuka instagramnya dan melihat postingan ceritanya. Kalau dihitung, mungkin tiga menit ada. Kemudian timbul pertanyaan di benak saya, ada apa gerangan ia menulis cerita? Untuk wattpad lagi! Benar-benar sebuah kejutan untuk saya. Saya mengenalnya sebagai orang yang suka bergelut dengan jurnal-jurnal. Dulu ia pernah mengaku kalau ia sudah menyerah menuliskan sebuah cerita—maksudnya adalah karya sastra. Saya memutuskan untuk tidak langsung menanggapi.

“Kamu ini benar-benar tidak pernah bisa diduga. Aneh,” ucap saya. Saya mengirimkan. Kemudian saya melanjutkan mengetik pesan.

“Tadi tiba-tiba mengingatkan saya untuk ujian bahasa Inggris, sekarang tiba-tiba bertanya tentang tulisan ceritamu. Tapi tiba-tiba yang kedua ini yang bikin saya surprise!”

Karima seperti saya. Sama-sama lulusan sastra. Aneh ketika ia tiba-tiba menulis cerita. Saya penasaran. Sungguh penasaran. Namun, dengan pertanyaan Karima membuat pikiran ujian bahasa Inggris sedikit berkurang.

“Saya lagi suka wattpad. Cerita-ceritanya mengharu-biru. Saya dibikin nangis. Sepertinya mudah membuat cerita yang begitu, maksudnya yang ada di wattpad. Makanya saya tertarik menulis. Tolong, Mas. Kurang apa tulisan saya?”

Saya tertawa terbahak-bahak. Cukup lucu saya kira dengan keadaan yang begitu tiba-tiba ini. Saya menjadi teringat perbincangan dengannya beberapa hari yang lalu. Ia mempertanyakan jurusan sastra yang kemudian berinti bahwa menurutnya jurusan sastra itu ruang lingkup kerjanya kecil setelah lulus dari perkuliahan.

“Magister sastra pol-mentok cuma jadi dosen. Selain itu mau jadi apa? Tidak ada? Makanya Mas ayo mengambil jurusan lain yang masih berhubungan dengan sastra,” ucapnya.

Karima menguatkan argumennya dengan mengambil contoh bahwa dosen-dosen sastra banyak yang konsentrasinya studinya tidak di sastra murni. “Yang penting penelitiannya relevan dan sesuai, sudah itu.”

Saya sekilas terusik juga dengan argumen itu. Namun ketika saya datang ke kawan saya, saya seperti disadarkan akan tujuan studi lanjut saya. Sesungguhnya saya lanjut studi untuk menebus dosa-dosa semasa di sarjana. Saya kuliah sastra, tapi tidak banyak membaca buku sastra. Sangat ironis. Saya ingin menebus itu. Saya ingin membaca. Toh, Karima bisa berkata demikian menggunakan data mana? Maksudnya seorang yang lulus magister sastra pol-mentok hanya jadi dosen. Apa jurusan lain ada jaminan akan mudah memperoleh pekerjaan, sekalipun mungkin prospeknya lebih luas?

Dari sana, saya dengan ngawur menyimpulkan bahwa sebenarnya Karima tidak minat di sastra. Karena sudah terlanjur pernah kuliah di jurusan sastra, maka agar sedikit masih tetap berhubungan dengan bidang ilmunya, ia mencari jurusan lain yang sekiranya masih relevan untuk lanjut S-2. Maka wajar ketika saya terkejut, Karima mau menulis cerita. Lucu! Di tengah tertawa saya bertanya, apakah ia menulis cerita benar-benar karena cerita wattpad yang mengharu-biru?

***

Saya meletakkan hp setelah membalas pesan Abdul. Tanpa menunggu waktu lama ia membalas pesan saya. Saya sengaja tidak membalas. Saya sedikit jengkel, keseriusan saya seperti tidak digubris. Saya menyuruhnya untuk segera ujian bahasa Inggris, supaya segera mendapatkan sertifikat sebagai salah satu berkas yang harus dipenuhi untuk pendaftaran magister—supaya kami bisa sama-sama mempersiapkan berkas secara berbarengan meskipun mengambil beda jurusan. Abdul malah membalas pesan saya dengan gurauan dan menyertakan emotikon ketawa. Saya disuruhnya untuk bersabar. Tapi balas-balasan pesan Abdul seperti mengindikasikan bahwa ia tidak serius dalam menanggapi saya.

Saya buka laptop dan membaca cerita wattpad yang kemarin saya baca. Saya terngiang-ngiang. Mengapa dunia fiksi bisa menyentuh hati pembacanya? Saya bertanya demikian bukan tanpa alasan. Saya menangis menikmati cerita yang saya baca. Kekaguman pada cerita wattpad menggiring saya pada keinginan untuk menulis cerita. Dan kemarin saya menuliskannya. Saya sungguh tertarik.

Setelah membaca cerita di wattpad, saya membuka tulisan saya di hp dan membacanya ulang. Menurut saya bagus dan sudah seperti di wattpad-wattpad. Saya posting di cerita Instagram. Hanya saja kemudian muncul pertanyaan, “Apakah benar-benar bagus?”

Saya tidak yakin. Saya mengirim pesan kepada Abdul untuk menyuruhnya melihat postingan cerita Instagram saya. Pesan saya tidak dibalas. Mungkin ia langsung membuka postingan cerita saya, pikir saya. Namun saya tidak sabar. Belum lima menit saya mengirim pesan lagi.

“Untuk ukuran wattpad menurut Mas bagaimana?” tanya saya.

Tidak langsung dijawab oleh Abdul. Saya menunggu kembali. Lalu…

“Kamu ini benar-benar tidak pernah bisa diduga. Aneh,” ucapnya. Jawaban yang sama sekali tidak saya harapkan. Apalagi di kalimat ada kata “aneh”. Aneh apanya, pikir saya. Abdul kembali mengirim pesan.

“Tadi tiba-tiba mengingatkan saya untuk ujian bahasa Inggris, sekarang tiba-tiba bertanya tentang tulisan ceritamu. Tapi tiba-tiba yang kedua ini yang bikin saya surprise!” tulisnya. Saya ingin mempertanyakan keanehan semacam apa yang ada dalam diri saya. Hampir saja mau mengirim, saya menghapus. Kalimatnya saya ganti.

“Saya lagi suka wattpad. Cerita-ceritanya mengharu-biru. Saya dibikin nangis. Sepertinya mudah membuat cerita yang begitu, maksudnya yang ada di wattpad. Makanya saya tertarik menulis. Tolong, Mas. Kurang apa tulisan saya?”

Ada kata “tolong” dalam kalimat yang saya susun. Maksud saya sedikit memaksa agar ia segera menjawab. Saya ingin segera mengetahui seberapa jauh kualitas tulisan saya. Saya bertanya kepadanya bukan tanpa alasan. Ia lebih mengerti teks cerita daripada saya. Ia sudah pengalaman publikasi cerita di mana-mana. Maka saya bertanya.

“Saya masih menghabiskan tawa. Saya terkejut dengan kamu. Mau menulis cerita. Terlepas dari itu, ceritamu ringan. Sudah seperti di wattpad, tinggal dikembangkan saja. Masalah susunan kalimat itu bisa diedit nanti,” ucapnya.

Entah kenapa saya langsung lega membaca pesannya. Saya seperti baru saja melepaskan beban yang begitu berat.

“Imajinasi pembaca itu jahat ya, Mas? Sampai bisa membuat orang menangis. Terima kasih, Mas atas penilaiannya,” ucap saya, menyertakan emotikon ketawa.

***

Sembari ketawa, saya mengirimkan pesan ke Karima.

“Saya masih menghabiskan tawa. Saya terkejut dengan kamu. Mau menulis cerita. Terlepas dari itu, ceritamu ringan. Sudah seperti di wattpad, tinggal dikembangkan saja. Masalah susunan kalimat itu bisa diedit nanti,” balas saya.

Malam ini malam yang terasa menggembirakan bagi saya. Seorang gadis cantik yang selama ini saya kenal bergerak menulis cerita. Saya tidak menyangka. Demi apapun. Yang menjadi pertanyaan sekarang, “Apakah ia bisa konsisten?”

Pertanyaan-pertanyaan itu biasanya muncul ketika ada orang yang datang ke saya, mengutarakan keinginannya untuk belajar menulis. Dulu ketika awal-awal saya antusias dan menggebu-gebu berceramah tentang kepenulisan. Setelah beberapa kali terjadi, saya menyadari sesuatu. Hampir tidak ada yang bertahan konsisten menulis. Rata-rata orang yang mengaku kepada saya ingin belajar menulis, hilang di tengah jalan. Kalau boleh saya bilang, mereka tidak pernah mempunyai niat benar-benar ingin menulis. Tidak mau menikmati proses.

Maka sekarang saya selalu ragu dengan orang yang mengaku ingin menulis kepada saya—dalam konteks menulis cerita atau karya sastra. Paling-paling hanya sekadar di mulut saja. 

Karima. Ia membikin saya ketawa. Saya sudah menyimpulkan Karima secara ngawur tidak minat di sastra. Ehh, sekarang malah nulis. Saya menghabiskan tawa. Lucu.

“Imajinasi pembaca itu jahat ya, Mas? Sampai bisa membuat orang menangis. Terima kasih, Mas atas penilaiannya.” Di akhir kalimat ada emotikon ketawa.

Membaca respon Karima, tawa saya hilang. Betul-betul hilang. Dengan cepat jari-jemari bergerak di atas layar hp. Terkadang saya berhenti, memikirkan kalimat yang tepat.

“Di situlah kekuatan sastra! Dahsyat! Mampu menggerakan pikiran orang. Kegunaan sastra itu tidak main-main. Hanya karena sekilas tidak terlihat, dianggap tidak ada kegunaannya. Kalau tidak ada sastra, tidak ada peradaban.”

Saya mengamati kalimat itu. Mengirim.

“Kalau tidak ada sastra, bagaimana kita bisa belajar tentang masa lalu? Sekarang coba bayangkan, darimana kita bisa tahu sebuah kebudayaan masa lampu jika tidak lewat sastra? Sastra itu tidak lekang oleh waktu. Tidak seperti candi yang bisa roboh. Jadi, masih mau mengatakan kalau sastra tidak ada gunanya hanya karena tidak ada duitnya? Hahaha,” saya menambahkan.

***

Awalnya saya tidak terlalu peduli dengan jawaban Abdul. Tapi kemudian saya kembali teringat dengan ujian bahasa Inggrisnya. Bayangan itu berkembangbiak ke lain hal. Saya kuliah sendiri karena Abdul masih memutuskan mengambil sastra. Tidak goyah dengan argumen saya.

Kuliah sendiri? Bagaimana jika saya tidak mempunyai teman? Dulu ketika sarjana saya ada teman ambis menyelesaikan skripsi cepat-cepatan, besok kalau tidak sejurusan dengan Abdul? Siapa teman ambis saya?

Saya menjadi overthinking. Saya kembali membaca pesan Abdul terkait kegunaan sastra.

“Di situlah kekuatan sastra! Dahsyat! Mampu menggerakan pikiran orang. Kegunaan sastra itu tidak main-main. Hanya karena sekilas tidak terlihat, dianggap tidak ada kegunaannya. Kalau tidak ada sastra, tidak ada peradaban.”

“Kalau tidak ada sastra, bagaimana kita bisa belajar tentang masa lalu? Sekarang coba bayangkan, darimana kita bisa tahu sebuah kebudayaan masa lampu jika tidak lewat sastra? Sastra itu tidak lekang oleh waktu. Tidak seperti candi yang bisa roboh. Jadi, masih mau mengatakan kalau sastra tidak ada gunanya hanya karena tidak ada duitnya? Hahaha,” saya menambahkan.

Kalau dipikir-pikir benar juga. Saya bertanya setelah membenarkan pesan Abdul. Apakah fakultas sastra didirikan begitu saja, tanpa memikirkan kegunaannya? Rasa-rasanya terlalu konyol jika itu benar terjadi. Yang dikatakan orang-orang selama ini kalau begitu tidak benar, kalau jurusan sastra itu tidak jelas arahnya mau ke mana!

Saya gelisah. Saya kembali mencari-cari prospek kerja jurusan yang saya ambil. Memang kelihatannya lebih luas prospek kerjanya, apakah ada jaminan akan lebih mudah memperolehnya? Saya menjadi ingat fenomena sarjana-sarjana yang bekerja tidak sesuai dengan bidangnya. Saya menjadi pusing dan takut. Saya menyerah, membuka WA.

“Mas, besok aku ambil magister sastra. Mager sendirian, tidak ada teman ambis!”

Saya mengirim dan membayangkan Abdul mengirimkan balasan dengan emotikon ketawa, seolah baru saja merayakan kemenangan.

Saya melihat jam. Pukul 01.29. Lima menit pun berlalu. Abdul tidak juga membalas. Rasa gelisah membuat saya tidak sabar menunggu balasan. Saya menyerah menunggu, tanpa pikir panjang, gambar gagang telepon di kontak Abdul saya sentuh! Namun, Abdul tidak kunjung mengangkatnya!


Penulis : Risen Dhawuh Abdullah (Alumnus Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tahun 2021. Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen.)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak