Aku dan Insecurity

Dok. Google

Sejenak aku bercermin
Menatap tajam pada hembusan angin
Berperang dengan pikiran sendiri
Akibat celotehan mulut-mulut berduri

Lidah memang tak bertulang
Namun, hati tak sekeras tiang
Kurasa, Aku sudah kenyang
Melahap ocehan yang kerap melayang

Ingin rasanya aku tenggelam
Lelah tertusuk paku berwujud kalam
Dikomentarinya segala kekurangan
Tanpa mereka sadari bahwa aku ciptaan Tuhan

Sebagian lain pun ikut mencaci
Bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga prestasi
Padahal, coba sejenak kau renungkan
Apakah bisa kucing berenang seperti ikan?
 
Begitu juga sebaliknya,
Apakah bisa ikan berlari seperti kucing?
Semua hal sudah ada porsinya
Memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing

Lantas, masihkah berhak kita untuk menghina?
Tuhan yang maha esa penciptanya
Tak ada ciptaan yang tidak sempurna
Hanya rasa syukur pembedanya

Kuharap ini menjadi pesan
Terhadap semua lontaran dan cacian
Dimanakah aku bisa merasa aman?
Jika semua kawan berasa lawan

Namun aku tak sepenuhnya menyalahkan
Sekiranya aku juga bersalah atas hal ini
Karena terlalu mendengar celotehan
Dan kurang mencintai diri sendiri

Aku harus belajar pada rembulan
Ia tak pernah cemburu pada mentari
Yang raganya selalu diunggul-unggulkan
Meski hanya terbit di siang hari 

Harusnya aku lebih bersyukur
Atas pemberian Tuhan yang tak bisa diukur
Atas nafas, jiwa, dan raga
Dan segala kenikmatan nan tiada tara


Oleh : Natasha Shafa Salsabila
 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak