Dominasi Kandidat Tunggal, Dinilai Kurang Kompetitif


Dok. Nurul Kru Magang 21

Semarang, lpmedukasi.com – Universitas Islam Negeri Walisongo telah sukses menggelar pesta demokrasi Pemilihan Umum Mahasiswa (PEMILWA) pada Senin, 10 Januari 2022. 

PEMILWA tahun 2022 dilaksanakan untuk memilih para calon ketua lembaga legislatif dan lembaga eksekutif mahasiswa. Senat Mahasiswa (SEMA) merupakan bagian dari lembaga legislatif. Sedangkan lembaga eksekutif mahasiswa terdiri dari Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ).

Pemungutan suara dilakukan secara E-Voting melalui website voting.walisongo.co.id yang dapat diakses dengan cara login menggunakan username dan password sistem akademik. Namun durasi pemungutan suara oleh Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) cukup terbatas, mulai pada pukul 10.00 – 15.00 WIB.

Setelah durasi pemungutan suara berakhir, hasil pemungutan suara dapat dilihat melalui infografis yang ditampilkan pada website tersebut. 

Fenomena Kandidat Tunggal

Menurut infografis yang ditampilkan, terdapat banyak kandidat tunggal di dalam PEMILWA tahun 2022 yang berjumlah 32 kandidat. Semuanya hanya melawan kotak kosong. Sedangkan infografis yang menampilkan 2 kandidat berjumlah 20 pasangan calon. Hal ini menunjukkan bahwa PEMILWA tahun ini didominasi oleh kandidat tunggal.

Fenomena tersebut tentunya tanggapan atas tanggapan di kalangan mahasiswa. Salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Firhan Septiawan, mengatakan bahwa pemilihan calon tunggal dinilai kurang kompetitif. 

“Banyaknya calon tunggal menurut saya menunjukkan bahwa PEMILWA 2022 kurang kompetitif. Hal ini dikarenakan menguntungkan salah satu pihak. Jadi, ketika ada debat calon tunggal seperti tidak menantang sama sekali. Padahal SDM di UIN Walisongo sangat banyak, tetapi mengapa banyak yang tidak mencalonkan diri mereka dalam PEMILWA?” jelasnya. 

dengan Anjani, salah satu mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) juga menyampaikan pendapatnya mengenai dominasi tunggal pada PEMILWA tahun ini. Menurutnya, fenomena ini sangat mempengaruhi kualitas perpolitikan di kampus. 

“Dominasi calon tunggal menjadikan perpolitikan kampus kurang berwarna. Penjaringan calon juga dinilai masih kurang. Menurut saya, hal ini tak lepas dari kurangnya pemahaman mahasiswa terhadap perpolitikan kampus. Oleh karena itu, sangat perlu perhatian lebih dari pihak terkait terhadap profesionalitas dalam penjaringan calon yang akan dicalonkan sebagai ketua DEMA, HMJ, atau sejenisnya,” imbuhnya. 

selain mahasiswa umum, para calon tunggal juga memiliki beban mental tersendiri di atas posisi dalam kontestasi PEMILWA tahun ini. 

Reineta, salah satu kandidat tunggal yang dipilih sebagai Ketua HMJ PAI Periode 2022, mengatakan, “sebagai calon tunggal Ketua Umum HMJ PAI 2021 tentunya sangat gugup dan terdiam karena tidak ada lawan.” 

Ia juga menambahkan tantangan yang harus ia hadapi sebagai kandidat tunggal dalam PEMILWA. 

“Tentunya sebagai calon tunggal Ketua HMJ itu lebih berat karena harus mempersiapkan perencanaan ke depan sejak dini. Selain itu, tanggung jawab yang diemban juga lebih besar,” tambahnya ketika dihubungi melalui WhatsApp.

Fenomena banyaknya calon tunggal dalam PEMILWA 2022 yang jelas mempengaruhi kualitas perpolitikan di kampus, dan terkesan sebagai anomali demokrasi.


Penulis: Nurul (Kru Magang 21)

Editor: Udin

Posting Komentar

0 Komentar