Sepucuk Surat Juang

Ilustrasi. deen

        Di sore yang kelam, pada sebuah negeri antah-berantah yang dikelilingi kabut hitam. Joni sendiri meminta jalan Setapak yang tak pernah ia kenal. Dari wajah Joni terlihat sangat kebingungan seraya membawa sepucuk surat bersampul coklat. Dengan mengenakan sarung dan kaos hitam panjang dengan sandal walet berwarna putih bersih. Ia terus menyediakan jalan itu hingga ke wilayah di sekelilingnya terdapat bangunan-bangunan tua. Semua rumah terbuat dari anyaman bambu yang sudah sangat usang, seperti tak terurus.

Senja semakin menghilang. Joni memberanikan diri untuk mendekati tempat-tempat tersebut meski terlihat seram, karena tanpa ada fitur lampu yang menyala. Joni beruntung membawa ponsel pintar-nya, dengan sedikit penerangan ia memasuki perkampungan yang sangat sepi seolah tak berpenghuni. Ia mencoba mengetuk satu rumah untuk bertanya. Namun tak ada jawaban meski terdapat lentera menyala di dalamnya. 

Joni tak menyerah, ia terus mengetuk pintu demi pintu, sampai pada rumah yang ke Sembilan barulah pintu terbuka. Terlihat seorang bapak yang mengenakan pakaian dengan bahan yang sangat kasar, terdapat banyak sobekan di sana-sini. Raut ketakutan setelah memperhatikan pakaian yang Joni kenakan. Tiba-tiba ia bersujud kepada Joni.

“Ampuni, Tuan. Jangan sakiti kami, hasil panen kami gagal bulan ini….”

“Saya bukan mau melukai Bapak,” Joni langsung mengucapannya seraya membangkitkan bapak tersebut dari sujudnya. “Saya hanya ingin menanyakan alamat ini.”

Joni memberikan surat bersampul coklat yang di bagian akhirnya terdapat nama pengirim beserta alamatnya. 

“Tuan datang dari mana? Pribumi atau totok?” 

Joni bingung harus menjawab apa. Bahkan tidak tau asal mula bisa sampai ke tempat itu. Pertanyaan kedua lebih membuat Joni bungkam, ia hanya bisa menggerakkan kepala.

“Bila tuan mencari rumah Raden Minke, tuan tinggal jalan lurus terus, ada pertigaan belok kiri, rumah paling ujung, itulah rumah Raden Mas. Tapi tuan harus cepat, sebentar lagi memasuki waktu patroli kompeni.” 

Setelah itu, tanpa berpikir panjang. Joni melangkahkan kaki ke arah yang ditunjukkan. Sekitar lima berjalan menit, ia di sebuah rumah yang besar, dan tidak terbuat dari anyaman bambu. Rumah tersebut sangat mirip dengan rumah tua yang ada di pabrik gula Belanda, di kota Joni. 

Ia mengetuk pintu rumah tersebut dengan perlahan. Belum sampai tiga ketukan, pintu tersebut dibuka oleh petugas petugas kebersihan, berkumis lebar lengkap dengan blangkon khas Jawa. 

“Silakan masuk, Joni.”

Joni masuk ke rumah tersebut tanpa curiga, ia duduk di tempat yang telah disediakan. 

“Siapakah nama, Tuan? tampilan wajah tuan tidak asing. Dan kenapa tuan mengundangku ke sini?” 

“Orang-orang memanggilku dengan nama Minke, mungkin kau ingat dengan nama itu, Jon?” sambil duduk di kursi tua dan menuangkan teh ke cangkir klasik yang ada di meja.“Silahkan diminum dulu.”

Dugaan Joni benar, orang yang ada di sana adalah seorang yang sangat berjasa pada zamannya. Dijuluki Sang Pemula, Joni sering melihat gambarnya di kantor LPM yang tergabung di dalamnya. Kini otaknya berpikir dengan cepat, menyiapkan pertanyaan demi pertanyaan yang selama ini Joni berusaha mencari jawaban.

“Tuan, bolehkah aku bertanya? Bagaimana Tuan bisa memulai banyak hal yang bahkan tuan sendiri tau, di masa depan tuan tak akan menikmati hasilnya,” 

“Tanah-tanah terpenjara, Orang-orang terpenjara, Orang-orang dan suara senapan membuat mayat-mayat berjatuhan, para pemuda diperas keringat sampai darahnya, banyak perempuan dijamah kehormatannya, kita seolah menjadi budak di tanah air itu sendiri. Tau kau Jon apa yang lebih buruk dari semua itu?” Ucapkan Minke sambila cerutunya.“Yang lebih buruk dari semua itu adalah ketika ada seorang pribumi terpelajar namun enggan berjuang untuk bangsanya.”

“Apa sebegitu beratkah tugas seorang terpelajar, Tuan?”

“Tak harus menjadi terpelajar untuk ikut dalam barisan juang, Jon. Namun setidaknya kaum terpelajar harus lebih mengetahui tentang kondisi bangsanya, dan memberikan jalan keluar dari permasalahan yang ada, bila tidak demikian, apa guna menjadi terpelajar?” 

“Mengapa tuan menulis dan terus menjahit? Bahkan sampai tuan harus dibuang, dan diasingkan hingga kembali pada”, tanya Joni sambil meminum teh yang telah disediakan.

“Aku hanya berusaha berjuang dengan cara yang bisa aku lakukan, Jon. Sukses aku menulis sejak masih di HBS, dan saat itu rangkaian kata salah satu senjata yang bisa menembus jutaan kepala. Maka aku berusaha untuk menyebarluaskan setiap tulisan-tulisan dari pribumi yang berkontribusi untuk sebuah kemerdekaan yang hakiki.”Kini Minke memandang lekat mata Joni.

“Perihal menjahit, pakaian kau juga melakukan hal yang sama, Joni? Dalam gelap malam, kau melangkah sendiri dari angkringan ke angkringan untuk menyebarkan gagasan, tentang bagaimana caranya melawan jenis baru yang ada di masamu. Tak beda jauh dengan yang aku lakukan dulu, maka aku berharap, di masa depan, semoga kau bisa menghadapi segala cobaan.”

“Apa yang saya lakukan, tak sebanding dengan yang Tuan lakukan. Aku ingin menjadi seperti tuan, Tuhan itu tak mungkin terjadi,” kata Joni sambil memandangi lukisan muda jelita yang berada di bawahnya perempuan cantik akhir abad.

“Tepat sekali Joni, kau tak mungkin menjadi sepertiku. Karena aku hanya ada satu orang di bumi ini, begitupun kau, Jon. Kau hanya ada satu orang. Maka buatlah jejakmu sendiri. Sudah kau tahu siapa dirimu dan untuk apa kau ada?”

Joni berusaha mencerna setiap kalimat yang ia dengar dari Minke.

“Benar Tuan. Akan tetapi belum sepenuhnya matang. Aku harus terus mencari bagian-bagian yang diperlukan.” Joni terlihat begitu pesimis. “Mengapa Tuan terus melangkah walau di tengah marabahaya dan bagaimana bisa Tuan mampu mempertahankan idealisme sampai nafas terakhir?”

“Karena aku punya sesuatu yang harus diperjuangkan, Jon. Aku ingin melihat bangsaku bisa tersenyum bahagia seraya meneriakkan kata merdeka. Dan yang perlu kau ingat bahwa dalam perjuangan dulu, aku memilih sendiri. Aku punya kawan juang, yang terus ada dan melanjutkan perjuangan saat aku tiada, walau aku mati dalam kesunyian. Namun karena mereka, semangatku masih hidup bahkan bisa menyentuh zamanmu.”Jawab Minke sambila mengisi kembali cangkir Joni yang sudah kosong.

“Satu pertanyaan lagi, Tuan, apa yang tuan temui di ujung jalan sunyi itu?”

“Sayang sekali, Jon. aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Kau sendiri yang harus menjawabnya. Teruslah berada di jalur juang, bahkan bilamana kau harus berjuang, jangan berpikir untuk menyerah, dan ingatlah bahwa kau tidak sendirian. Yakinlah bahwa semua yang kau lakukan tak akan sia-sia. Bahkan jika kelak kau akan dibungkam, perlawananmu akan terus ada dan berlipat ganda. Menjelma dalam setiap kata dan tindakan nyata yang terus berkobar sampai pada kemerdekaan yang sesungguhnya.Tetaplah melawan, Jon.” 

Suara alarm terdengar sangat nyaring di telinga Joni. Ia kaget dan terbangun dari tidurnya yang sebentar lagi karena asyik membaca buku Jejak Langkah karya Pramudya Ananta Toer. Masih terbayang mimpi yang baru saja Joni alami, terutama dari sepucuk surat yang sama dengan tulisan besar di dalam kamar. Hanya terdiri dari beberapa kata yaitu “PANJANG UMUR PERJUANGAN”.

Saat membuka ponsel, banyak sekali pesan masuk dan laporan biaya kuliah dan laporan tentang kuliah mahalnya bagi calon mahasiswa baru di kampus tercinta. Tidak hanya sebatas itu, semua calon mahasiswa baru juga dipaksa untuk membuat surat pernyataan bahwa mereka menyanggupi dan tidak akan mengajukan banding untuk kedepannya, disertai dengan materi 10.000. Joni berpikir bahwa itu adalah satu langkah untuk membungkam demokrasi di kampusnya, hijau merdeka. Saking merdekanya, mahasiswa di kampus Joni tidak pernah tau uang kuliah yang mereka bayarkan untuk apa karena tidak ada transparansi dana. Saking merdekanya, pihak pegawai tidak perlu merepot-repot memperbaiki sistem TOEFL-IMKA yang setiap tanggal 26 selalu dikeluhkan mahasiswa.  

Tapi setidaknya, mimpi kali ini menyadarkan Joni tentang pentingnya menghargai untuk berjuang di jalan yang seharusnya. Joni kini sadar bahwa sebaik-baik perjuangan adalah perlawanan terhadap apa-apa yang menindas kemanusiaan.


Penulis : M. Syafiq Yunensa

Posting Komentar

1 Komentar