Ketertarikan Musdalifah pada kaligrafi berawal dari hobi menggambar sejak kecil. Setelah lulus SD, ia melanjutkan pendidikan di sebuah pesantren Al-Qur'an di Kalabahi, NTT, tempat ia pertama kali mengenal dasar-dasar kaligrafi. Setelah lulus SMA, ia memperdalam kemampuannya dengan belajar langsung di Lemka (Lembaga Kaligrafi) di Jawa Barat, pusat pelatihan yang menjadi tempat belajar banyak maestro kaligrafi Indonesia.
Untuk mempersiapkan diri menghadapi MTQ kali ini, Musdalifah mengikuti program Training Center (TC) yang di dalamnya terdapat sesi try out (TO), yakni simulasi lomba dari awal hingga karya kaligrafi selesai dibuat, dan dilakukan berulang kali meski waktu persiapannya hanya sekitar satu bulan.
Ini bukan kali pertama Musdalifah mengikuti MTQ di luar wilayah asalnya. Sebelumnya, ia sudah dua kali tampil di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, namun baru kali ini berkesempatan berlomba di Pulau Jawa.
"Senang sebenarnya, senang. Baru kali ini di Pulau Jawa, dan saya sangat mencintai Jawa," ujarnya.
Dalam menekuni kaligrafi, Musdalifah mengaku terinspirasi oleh sosok Ustad Teguh Prasetyo, master kaligrafi yang kini menyabet berbagai gelar juara di tingkat nasional maupun internasional. Menurutnya, kaligrafi bukan bidang yang mengharuskan seseorang punya bakat atau dasar kemampuan sejak awal.
"Kaligrafi enggak harus punya basic, enggak harus punya bakat. Yang penting punya niat, keinginan. Kalau kita yakin, pasti bisa," ujarnya. "Cobalah apa yang kalian mau, jangan takut gagal sebelum mencoba."
Ke depan, Musdalifah berharap dapat terus mengasah kemampuannya hingga bisa meraih gelar juara di MTQ tingkat nasional.
"Semoga saya berkesempatan bisa menjadi salah satu juara di MTQ Nasional," tutupnya.
