Sketsa Hujan di Kedai Temaram

Ilustrasi kopi di kala hujan. Sumber: pinterest.com  

Aroma arabika bercampur dengan aroma tanah basah, selalu punya cara sendiri untuk memanggil ingatan. Bagiku, kedai kopi mini di sudut jalan ini bukan sekadar tempat berteduh, melainkan sebuah galeri hidup. Tempat di mana waktu melambat, langit mulai menumpahkan bebannya.

Sore itu, hujan turun tanpa peringatan. Deras dan tiba-tiba, dalam hitungan menit, kaca besar Kedai Temaram dipenuhi bulir-bulir air yang meluncur ke bawah, memburamkan pemandangan jalan di luar. Di dalam, suasana justru terasa kontras—begitu hangat. Suara mesin espresso beradu ritme dengan denting sendok dan petikan gitar dari lagu Sheila on 7 yang liriknya mengalun dari pengeras suara, membawa nostalgia yang akrab ke dalam ruangan.

Aku duduk di pojok dekat jendela, menyesap hazelnut latte hangatku. Di depanku, sebuah buku sketsa dan sebatang pensil 2B tergeletak. Menghadapi hujan, aku punya kebiasaan kecil, yaitu menggambar manusia dan cerita yang mereka bawa.

"Satu Hazelnut Latte, Mas?" tanya Nayra, barista ramah yang sudah hafal tabiatku.

"Nanti, Nay. Ini masih penuh," jawabku sambil tersenyum, lalu pandanganku beralih pada objek pertamaku sore ini.

Di meja nomor tiga, dekat pintu masuk, duduk seorang perempuan dengan sweter rajut berwarna marun. Rambutnya agak basah di bagian ujung. Sejak masuk sepuluh menit lalu, ia hanya menatap cangkir macchiatonya yang mulai mendingin. Jarinya sesekali mengetuk meja, tidak beraturan. Ada kecemasan yang menggantung di matanya, tipe kecemasan milik seseorang yang sedang menunggu sebuah keputusan besar.

Goresan pensilku dimulai. Aku menggambar siluet wajahnya, lekuk cangkir yang dipegangnya, dan pantulan lampu kuning kedai yang jatuh di atas meja kayu. Dia adalah sketsa pertama dari sebuah penantian yang menggelisahkan.

Belum selesai sketsa itu kubuat, perhatianku teralih oleh tawa renyah dari meja di tengah ruangan. Sepasang lansia, mungkin berusia tujuh puluhan, sedang berbagi sepotong croissant. Sang kakek dengan telaten membersihkan remah kue di sudut bibir istrinya menggunakan tisu, sementara sang nenek membalasnya dengan senyuman yang membuat kerutan di matanya tampak begitu indah. Di dunia yang bergerak begitu cepat dan penuh kepura-puraan, melihat mereka seperti melihat jangkar yang kokoh.

Aku membalik halaman buku sketsaku. Tanganku bergerak lebih cepat, menangkap garis-garis keriput yang penuh kehangatan, genggaman tangan kanan di atas meja, dan aura kedamaian yang mereka pancarkan.

Hujan di luar justru semakin lebat, menciptakan tirai air yang memutus kedai ini dari hiruk-pikuk dunia luar. Seolah-olah, untuk beberapa jam ini, kami semua yang ada di dalam sini terperangkap dalam sebuah ruang waktu yang aman.

Lalu, mataku tertuju pada seorang laki-laki di dekat meja bar. Dia mengenakan kemeja kantor putih, kerah dasinya sudah dilonggarkan. Di depannya ada laptop yang menyala dan tumpukan berkas. Namun, dia tidak sedang bekerja. Pandangannya kosong, menatap lurus ke kaca jendela yang basah.

Pria tersebut kelihatan sangat lelah. Sang barista pun datang mengantarkan pesanan secangkir americano panas, lalu bertanya,

"Ada apa, Tuan? Apakah Tuan sedang sakit?"

Aku mulai menggoreskan pensil lagi, menangkap bahunya yang sedikit merosot dan cangkir americano hitam pekat di samping laptopnya.

Satu jam berlalu, hujan perlahan mereda, menyisakan rintik-rintik kecil dan aroma udara yang bersih. Kehidupan di luar kedai mulai bergerak kembali. Kendaraan mulai memadati jalanan yang basah.

Perempuan bersweter marun tiba-tiba tersenyum lebar melihat ponselnya, lalu bergegas pergi dengan langkah ringan.

Sepasang lansia tadi pulang sambil bergandengan tangan di bawah satu payung hitam yang sama. Dan lelaki berkemeja kantor putih itu akhirnya menutup laptopnya, menarik napas dalam-dalam, lalu meminum habis kopinya seolah baru saja menemukan energi baru untuk menghadapi esok hari.

Aku melihat buku sketsaku: tiga cerita berbeda, diikat oleh latar yang sama—hujan dan aroma kopi.

"Bagus banget, Mas. Apakah boleh saya lihat?"

Suara Nayra sangat mengejutkanku. Dia berdiri di samping mejaku sambil meletakkan segelas air putih hangat gratis.

"Cuman sketsa iseng, Nay. Mengabadikan yang lewat," kataku sambil menggeser buku itu.

Nayra memperhatikan lembar demi lembar, lalu tersenyum manis. "Hebat ya, Mas. Di mata orang lain, mereka cuma orang asing yang neduh. Tapi di sini, mereka kelihatan punya cerita masing-masing."

Aku menutup buku sketsaku dan membalas senyumannya, menatap sisa rintik hujan di luar. "Semua orang punya cerita, Nay. Kadang, mereka cuman butuh hujan dan secangkir kopi untuk menjeda ceritanya sebentar, sebelum melanjutkan lagi di luar sana."

Penulis: Dena Nurus Salamah
Editor: Zidni Rosyidah

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak