Ilustrasi guru mengajar di kelas sebagai ujung tombak pendidikan Indonesia. Doc. Pinterest
Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Berbagai sekolah menggelar upacara, ucapan selamat bertebaran di media sosial, dan nama Ki Hajar Dewantara kembali disebut sebagai pelopor pendidikan yang telah memperjuangkan hak belajar bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun di balik semua perayaan itu, ada persoalan mendasar yang kerap luput dari perhatian: kesejahteraan guru.
Guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa sekaligus pilar utama pendidikan yang berperan membentuk karakter siswa. Julukan itu memang terdengar mulia, tetapi ironisnya justru di situlah masalahnya, sekadar julukan tanpa diikuti perhatian nyata terhadap kehidupan mereka. Hingga kini, persoalan guru honorer yang belum mendapatkan kepastian status maupun penghasilan yang layak masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan Indonesia. Mereka mengabdi penuh, tetapi negara belum hadir sepenuhnya untuk mereka.
Kesejahteraan guru pun tidak melulu soal gaji. Ada dimensi sosial yang sama pentingnya, seperti penghargaan, rasa aman, dan dukungan dalam lingkungan kerja. Tidak jarang guru kurang dihargai di lingkungan sekolah. Ketika seorang guru memberikan tindakan disiplin kepada siswa, tindakan tersebut kerap disalahartikan sebagai bentuk kekerasan oleh wali murid. Padahal, tindakan itu dilakukan semata-mata sebagai bentuk perhatian dan tanggung jawab dalam mendidik. Kondisi seperti ini membuat guru semakin rentan secara psikologis, dan pada akhirnya berdampak pada kualitas pengajaran di kelas.
Dampak dari kesejahteraan guru yang terabaikan sesungguhnya jauh lebih luas dari yang dibayangkan. Guru yang sejahtera akan lebih fokus, lebih sabar, dan lebih bersemangat dalam mendidik. Sebaliknya, guru yang dibayangi kekhawatiran finansial maupun tekanan sosial sulit diharapkan untuk hadir seutuhnya di ruang kelas. Lebih jauh, guru yang sejahtera terbukti mampu menumbuhkan kemampuan kognitif sekaligus afektif siswa — dua aspek yang sama-sama krusial dalam membentuk generasi unggul. Ketika siswa berkembang dengan baik, mereka akan menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas di masa depan.
Oleh karena itu, peningkatan kesejahteraan guru perlu menjadi perhatian bersama — pemerintah, sekolah, maupun masyarakat. Dari sisi pemerintah, percepatan pengangkatan guru honorer menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) harus terus didorong dan diperluas jangkauannya. Dari sisi sekolah dan masyarakat, perlu dibangun budaya menghargai profesi guru, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi juga dalam sikap dan tindakan nyata.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan sekadar seremonial tahunan. Ia harus menjadi momentum refleksi sekaligus dorongan nyata untuk bergerak. Karena pendidikan yang maju tidak akan pernah terwujud jika para penggeraknya masih berjuang untuk sekadar bertahan hidup.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Sudah saatnya kita tidak hanya merayakan, tetapi juga bergerak.
Penulis: Anida Mauniyah
Editor: Zidni Rosyidah
Tags
Opini
