Sering kali kita menyaksikan sebuah paradoks yang mencolok di ruang publik: mereka yang dulu paling lantang menyuarakan kritik justru bungkam ketika telah berada di dalam sistem yang pernah mereka gugat. Sosok-sosok yang dulu berdiri paling depan—menantang otoritas, menggugat kebijakan, dan mengatasnamakan suara rakyat—kerap menjelma menjadi bayangan dari apa yang dulu mereka lawan.
Semasa menjadi mahasiswa, kritik terasa mudah dilontarkan dan lantang bergema. Mereka bebas menilai, bebas menuntut, dan bebas menyuarakan aspirasi tanpa beban tanggung jawab struktural. Dunia tampak sederhana: yang benar harus diperjuangkan, dan yang salah harus dilawan. Pemerintah dicitrakan sebagai institusi yang kaku, lamban, bahkan abai terhadap kebutuhan rakyat. Solusi pun terasa mudah dirumuskan—ubah kebijakan yang timpang, dengarkan suara yang tertindas, dan bertindak tegas tanpa kompromi.
Namun, ketika kesempatan datang dan mereka melangkah masuk ke dalam sistem, kenyataan yang dihadapi jauh lebih pelik. Sistem memiliki daya tekan yang tidak dapat diabaikan. Ia menuntut kompromi, menata ulang skala prioritas, dan dalam banyak kasus, memaksa individu memilih antara mempertahankan idealisme atau mempertahankan posisi. Di titik inilah idealisme sesungguhnya diuji. Sebagian memilih bertahan dengan nilai-nilai yang mereka emban, tetapi tidak sedikit pula yang perlahan menyesuaikan diri hingga akhirnya menjadi bagian dari pola yang dulu mereka kritik habis-habisan.
Pola ini bahkan dapat kita amati secara lebih luas. Tidak sedikit mantan Ketua BEM atau aktivis kampus yang setelah lulus langsung bergabung dengan partai politik atau lembaga pemerintah, lalu berhenti menyuarakan kritik yang dulu mereka gaungkan di jalanan. Yang lebih mengejutkan, beberapa di antaranya justru menjadi juru bicara kebijakan yang dulu dengan lantang mereka tentang. Sebuah ironi yang tidak lagi mengejutkan, tetapi tetap menyisakan pertanyaan yang tidak mudah dijawab.
Di sinilah pertanyaan mendasar itu muncul: apakah mereka sungguh berubah karena tekanan sistem, atau sejak awal kritik hanya mereka gunakan sebagai tangga menuju kekuasaan?
Tidak semua perubahan dapat serta-merta disebut sebagai pengkhianatan. Ada yang memilih menyesuaikan diri agar tetap dapat bertahan dan berupaya membawa perubahan dari dalam. Namun, ketika penyesuaian itu mengikis keberanian untuk bersuara, wajar apabila publik mulai mempertanyakan integritas mereka. Kritik yang dulu terasa tajam perlahan menjadi tumpul, dan janji-janji yang dulu diucapkan dengan penuh semangat kini menguap tanpa kejelasan.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa idealisme sejati bukan sekadar wacana yang mudah diucapkan ketika belum memiliki kekuasaan, melainkan tentang nilai-nilai apa yang tetap dijaga dan diperjuangkan justru ketika kekuasaan itu sudah berada di tangan. Pada akhirnya, kekuasaan bukan hanya menguji kapasitas seseorang—ia juga telanjang memperlihatkan siapa dirinya yang sesungguhnya.
Maka, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya mengapa mereka berubah, tetapi seberapa kokoh sesungguhnya nilai-nilai yang mereka perjuangkan sejak semula.
