Ku sebut ia
perempuan
yang penuh kekuatan.
Bukan layaknya
bunga
yang cukup
dipajang di vas kaca
melainkan sebuah
akar
yang menghidupi pohon.
Ia bekerja di bawah
tanah,
jauh dari tepuk
tangan dan cahaya
mencengkeram
gempuran tanah
menahan hembusan
angin
agar tak mudah
goyah
meski badai
mengguncang.
Lalu-lalang
manusia
hanya memuji
dahannya,
memotret buahnya,
mengukir nama di
batang yang tegak,
namun tak ada
yang menunduk
menengok pada penyokong
utama.
Dan akar tak
pernah mengeluh.
Bukan karena ia
tak lelah
tapi karena ia
tahu
menghidupi adalah
caranya bersuara
meski tak tampak
terang
ia tetap kuat
menopang.
Maka kepadamu
yang tak terlihat,
kepada perempuan-perempuan
hebat
yang namanya tak
disebut dalam pidato,
ketahuilah:
pohon berdiri
karenamu.
Biarkan mereka
memuji elok bunganya.
Kamu dan aku,
kita sudah lama
tahu
akar tak butuh
dipuji
untuk tetap
hidup.
Selamat Hari Kartini, 21 April 2026
Hari Kartini
bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah momen untuk kembali mengingat bahwa
perjuangan R.A Kartini tidak berhenti pada zamannya, ia terus mengalir, hadir dalam
setiap jiwa perempuan untuk terus berjuang.
Kartini tidak
berjuang agar perempuan dipuji. Ia berjuang agar perempuan diakui hak-haknya,
suaranya, dan keberadaannya sebagai manusia yang utuh. Hari ini, semangat itu
masih hidup dalam diri setiap ibu yang mengorbankan tidurnya, setiap perempuan
yang bekerja keras tanpa sorak, dan setiap tangan yang menopang orang-orang di
sekitarnya tanpa pernah meminta balasan.
Sebagaimana akar
yang tidak butuh terlihat untuk terus memberi kehidupan, perempuan Indonesia
telah dan akan selalu menjadi kekuatan yang menggerakkan dunia, meski dunia
tidak selalu menyadarinya.
Kepada seluruh perempuan, yang terlihat maupun yang tidak, yang dipuji maupun yang terlupakan, kalian adalah alasan mengapa pohon ini masih berdiri. Terima kasih telah memilih untuk tetap kuat.
Penulis: Zidni Rosyidah
