Diskusi publik bertemakan "Mereka yang Dieksploitasi di Ruang Redaksi" digelar oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang di Auditorium Kampus 1 UIN Walisongo Semarang pada Rabu (29/4/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh aliansi wartawan, pers mahasiswa Semarang, serta akademisi dari Fakultas Syariah dan Hukum (FSH).
Acara tersebut dilatarbelakangi oleh aduan lima pekerja media dari Suara Merdeka yang melaporkan tidak menerima gaji selama satu tahun kepada Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Semarang. Kasus ini membuka kembali persoalan lama terkait kesejahteraan pekerja media yang dinilai masih jauh dari layak.
Perwakilan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang, Iwan, menyampaikan bahwa persoalan ketenagakerjaan di sektor media telah berlangsung bertahun-tahun. Ia menyoroti kondisi sejak 2023, di mana banyak pekerja terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) pascapandemi COVID-19. Selain itu, ia mengungkapkan bahwa mayoritas pekerja media di Semarang menerima upah di bawah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), bahkan ada yang hanya digaji sekitar Rp1.000.000 hingga Rp1.500.000 per bulan.
"Yang menerima gaji di atas UMK jumlahnya sangat sedikit, bisa dihitung dengan jari," ujarnya.
Salah satu korban, Sumarlan, yang telah bekerja sejak 2003, mengungkapkan bahwa kondisi perusahaan mulai tidak stabil sejak 2013. Ia menyebut selama lebih dari satu dekade, kenaikan gaji hanya terjadi lima kali. Kondisi semakin memburuk setelah 2019, ketika perusahaan mengalami guncangan finansial, termasuk pemotongan tunjangan hari raya (THR) hingga hanya sekitar 50—55 persen.
Korban lainnya, Aris Mulyawan, menilai bahwa negara belum hadir secara optimal dalam melindungi pekerja media. Ia juga mengkritik lemahnya solidaritas antarmedia dalam menyikapi persoalan internal industri.
"Masalahnya bukan pada medianya, tetapi pada manajemen yang tidak mampu mengelola perusahaan dengan baik," tegasnya.
Ia juga menyoroti lemahnya advokasi di sektor jurnalistik dibandingkan dengan advokasi untuk masyarakat umum.
Sementara itu, akademisi dari FSH UIN Walisongo Semarang, Syafruddin Rifa'ie, mengingatkan bahwa perkembangan teknologi turut memengaruhi kualitas informasi. Ia menilai maraknya buzzer membuat publik semakin sulit membedakan kebenaran dari disinformasi.
"Teknologi hari ini tidak selalu berpihak pada kebenaran, sehingga kita semakin jauh dari substansi informasi yang akurat," katanya.
Meski demikian, ia mendorong mahasiswa pers untuk tidak kehilangan semangat menjadi jurnalis. Menurutnya, profesi wartawan kerap diposisikan sebagai bentuk perjuangan, namun dalam praktiknya justru rentan dimanfaatkan oleh perusahaan.
