Pegadaian

(baby-sleeping-on-stomach illustration, sumber: istockphoto.com)
 
Panggil saja aku kencur, itu panggilan akrab pemberian keluarga bundaku, Sari.

Sore itu bundaku menerima sebuah paket, berisi amplop berwarna cokelat muda.

Isinya sepucuk surat dan beberapa lembar ringgit. Tangannya sempat ragu, bukan karena kurang, tetapi sungkan.

Amplop itu dari seseorang, aku memanggilnya Sigit. Entah siapa nama aslinya.

Aku hanya mengenalnya lewat satu huruf yang selalu sama, sebuah S yang ditulis rapi di ujung surat.

Bundaku lanjut merogoh paket dari sigit, ada mainan kecil untuk saudaraku, tentunya uang dan surat tadi untuk bundaku.

Tidak ada apa-apa untukku. Tidak masalah, karena aku dan Sigit memang belum pernah bertemu.

Hari berikutnya, tak kulihat ringgit di dompet bundaku. Kemana perginya?

Barangkali telah berubah rupa menjadi rupiah, beras, atau baju baruku. Entahlah, aku tak menanyakannya. Ada banyak hal yang belum kupahami, dan aku belajar tidak mempermasalahkannya.

September datang bersama kedatangan Sigit. Ia masuk ke rumah nenekku, memeluk bundaku, menyapa saudaraku.

Tinggi, kurus, mata sipit, rambut keriting, dengan suara ramah. Itu sosok Sigit yang kulihat dari balik badan bundaku.

Aku sudah senyam senyum melihat ketampanan Sigit, namun Sigit tetap tak mengenalku. Seolah aku memang tidak ada.

Mungkin dia lelah, jadi belum fokus melihatku. Pikirku.

Aku bangun paling akhir, mencari bundaku. Kukelilingi rumah hingga ujung barat, sampai bertemu Sigit dan bundaku beribadah bersama. Mereka membuka kitab bersampul emas dan membaca ayat-ayat dengan suara pelan.

Ada ketenangan yang aneh di pagi itu, seperti waktu sengaja diperlambat. Seolah dunia tahu akan ada sesuatu yang segera hilang.

Tapi apa peduliku, aku hanya anak kecil kesayangan bundaku.

Setelahnya, Sigit berpamitan. Katanya hanya sebentar. Motor hitamnya dinyalakan, lalu suaranya menghilang di ujung gang, menyisakan udara pagi.

Bundaku tak terlihat curiga.

Eyang putri datang, menjemput bundaku hanya untuk jalan-jalan. Awalnya tanpa tujuan yang jelas, hanya mengisi pagi seperti biasa.

Tidak ada keluhan. Tidak ada tanda.

Di tengah perjalanan, eyang putri tiba-tiba menyebut bidan.

Imei namanya, kulit putih, dan mata coklat. Ia menyambut kami dengan ramah.

Aku tak tahu apa yang direncanakan bundaku dan eyang putri, tapi Imei tersenyum dari balik tirai hijau. 

"Selamat," katanya.

Bundaku hamil.

Bundaku? Hamil?

Apa aku akan menjadi seorang kakak?

Padahal Sigit belum mengenalku.

Aku mencoba memahaminya dengan caraku sendiri. Mungkin akan ada anggota baru dalam keluarga. Seseorang yang kelak akan dikenalkan pada Sigit.

Aku membayangkannya seperti orang lain, bukan aku. Aku tetap merasa berada di luar cerita itu.

Tak ada telepon. Tak ada merpati untuk mengirim surat. Bundaku ingin menyampaikan kabar ini sendiri.

Ia ingin mengenalkan anggota baru itu pada Sigit. Ia ingin menunggu, dan bercerita.

Aku ikut menunggu. Dengan perasaan yang sulit kusebutkan, antara ingin terlihat dan takut jika ternyata memang tidak termasuk.

Kami menunggu Sigit pulang.

Ketika bel berbunyi, bundaku bangkit dengan wajah sumringah. Namun yang berdiri di balik pintu bukan Sigit. Tapi eyang putri dan mbah kung.

Tidak ada senyum, tidak ada sapaan panjang. Hanya mata yang basah dan kata sabar yang diucapkan berulang kali memenuhi ruang tamu.

Sigit meninggal dunia.

Bundaku jatuh.

Kata itu tidak langsung sampai padaku. Ia berputar-putar di ruangan, menabrak dinding, lalu jatuh.

Aku belum mengerti apa artinya kehilangan. Aku hanya tahu sesuatu yang kutunggu tak akan datang.

Eyang putri mendekat dan mengelus perut bundaku. Sentuhan itu kurasakan seperti usapan di kepalaku, hangat, lama, dan penuh belas kasih. 

"Baru dua minggu", katanya lirih. "Sudah kehilangan Ayah. Ayahmu belum sempat mengenalmu."

Ayah?

Kata itu menghentikan semuanya. Untuk pertama kalinya, aku menyadari tidak ada anggota baru. Yang selama ini kutunggu untuk dikenalkan ternyata memang tinggal aku sendiri.

Berarti aku masih di dalam perut bunda?

Namun kesadaran itu tidak sepenuhnya kuterima. Sebagian diriku masih ingin percaya bahwa aku hanya penonton, bukan yang ditinggalkan. Bahwa kehilangan ini bukan milikku sepenuhnya.

Sejak hari itu, sebuah pertanyaan terus berlarian di kepalaku: apakah Tuhan menukar umur ayahku dengan waktuku?

Atau aku hanya lahir sebagai tempat pegadaian sunyi, tempat duka dititipkan tanpa pernah ditebus kembali.

 

Penulis: Shihatud Diniyah

Editor: Zidni Rosyidah

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak