![]() |
| (Ilustrasi diambil dari pinterest.com) |
Industri budaya Korea
Selatan mengalami perkembangan pesat diseluruh dunia terutama di Indonesia atau
bisa juga disebut Korea Wave. Korea Wave merupakan suatu istilah
yang merujuk pada popularitas budaya korea di luar negeri. Adapun genre yang
terdapat pada Korea Wave itu sendiri terdiri dari film, drama televisi, dan
musik pop (kpop). Budaya-budaya itu sendiri masuk ke Indonesia
dan mempengaruhi budaya yang ada di Indonesia, tetapi para kpopres sebutan bagi
pengemar Kpop di seluruh mancanegara maupun K-drama lover juga
sebutan bagi pengemar drama Korea, mereka semua tidak lupa maupun tidak pernah
sekali-kali meninggalkan budaya Indonesia karena mereka sering kali menggunakan
batik sebagai outfit dalam berpakaian yang mereka gunakan untu bertemu
idol mereka. Keduanya tidak hanya menjadi sumber hiburan semata, tetapi juga
memainkan peran penting dalam kehidupan emosional banyak orang, terutama
generasi muda. Di tengah isu maraknya kesehatan mental seperti halnya stres,
kecemasan, depresi, gangguan bipolar bahkan skizofrenia, banyak
sekali dari kita yang mengalami gangguan masalah kesehatan seperti itu kita
mencari cara untuk menenangkan diri dan menemukan kembali semangat hidup
kita.Dalam situasi seperti ini, hiburan menjadi salah satu sarana pelarian
emosional dan pemulihan psikologis (healing mechanism) yang paling mudah untuk
diakses. Dalam konteks ini, mendengarka lagu-lagu Kpop maupun menonton berbagai
genre K-Drama dapat membatu kita sebagai media hiburan yang juga berfungsi
sebagai bentuk healing dan dukungan emosional kita dan dapat termotivasi untuk
terus menjalani hidup ini. Maka dari itu, menarik untuk kita telah lebih jauh
arti dan peran Kpop serta K-Drama dalam
menjaga kesehatan mental seseorang agar tetap terjaga.
Kpop tidak hanya sekedar
musik saja. Ia merupakan gabungan antara seni pertunjukan, estetika visual, dan
pesan emosional. Banyak sekali lagu Kpop yang memiliki makna perjuangan hidup,
cinta diri sendiri, hingga pelajaran yang ada di masa lalu. Lagu-lagu
seperti “Epiphany” by Kim Seokjin
BTS yang mengajarkan kita betapa pentingnya mencintai diri sendiri terlebih
dahulu sebelum kita mencintai orang lain, atau “Love Myself” dari
kampanye BTS dengan UNICEF, menjadi contoh nyata bagaimana musik bisa menjadi
media penyembuh luka-luka yang pernah ada. Bahkan tidak hanya lagu BTS saja
yang memiliki makna tersebut tetapi banyak sekali salah satunya ada lagu dari
SEVENTEEN “Kidult” yang memiliki makna meskipun sudah dewasa secara
fisik, seseorang mungkin masih merasa rapuh, ingin menangis, atau meras tidak
tau bagaimana menjalani hidup, dan tidak apa-apa merasa seperti itu. Dan masih
banyak lagi, terkadang aku juga sering mendengarkan beberapa lagu yang relate
(hubungan) dengan hidup yang sekarang aku jalani, bahkan diriku juga bisa
menangis karena lagu tersebut dan terkadang juga bisa meluapkan emosiku pada
lagu yang aku dengar. Aku terkadang juga merasa sendirian, berfikir bahawa san nya
dunia ini sedang tidak berpihak pada kita, lagu juga tidak hanya untuk
orang-orang galau tetapi lagu juga bisa membuat kita lebih mengenal jauh diri
kita sendiri ketimbang orang lain. Aku memiliki satu hobi yang mungkin sebagian
orang menganggap ini sebagai hobi yang tidak ada gunanya, tetapi aku sanagat
nyaman sekali ketika aku tiba-tiba terdiam dan hanya mendengarkan berbagai
suara yang berisik bahkan deburan ombak pun tidak bisa menghalangi ku untuk
terdiam. Entah apa yang dalam pikirkanku ketika aku sedang seperti itu, pada
saat itu diriku terdiam bahkan tidak sambil mendengarkan lagu tiba-tiba air
mata ku jatuh begitu saja entah apa yang menyakiti mental ku. Terkadang juga
emosiku keluar berbarengan dengan air mata ku, aku berfikir bagaimana jika aku
tetap lahir dan menjalani kehidupan ku "apakah aku akan baik-baik saja?",
atau bahkan aku tidak kuat menjalaninya. Bahkan orang-orang yang terlihat di
luarnya merasa gembira kita tidak akan tau seperti apa di dalam nya, "sehancur
apa orang itu dan seberapa kuat dia untuk terus menjalani hidupnya untuk masa
depannya dan orangtuanya." Jika kalian menemukan orang yang seperti itu
rangkul lah dia dan peluk dia, aku yakin orang yang seperti itu dia akan
seketika menangis tanpa sebab, karena yang mereka butuhkan bukan uang atau apapun
itu tetapi hanya teman cerita yang bisa mendengarkan berbagai cerita dia bahkan
keluh kesah dia.
Dan satu lagi yang
mau aku bahas dalam hal ini kenapa aku memilih lagu k-pop bukan lagu indonesia
dalam kesehatan mental ini yang sudah sangat jelas mudah dipahami lebih masuk
ke realita kita, karena lagu k-pop tidak hanya sekedar lagu saja tetapi ia juga
menyajikan dalam berbagai aspek seperti perjuangan mereka para idol dari mereka
masa masih trainee hingga sampai mereka suskes dan juga tentang penerimaan
diri. Bahasa yang berbeda bukan menjadikan sebuah halangan, justru sebagaian
pendengar hal tersebut dapat menciptakan jarak emosional yang aman bagi
sebagain orang agar mereka dapat memproses perasaan tanpa merasa terpapar
secara personal maupun individu. Setelah mereka memahami makna dan pesan-pesan
motivasional yang ada pada lagu tersebut dapat memperkuat daya tahan mental dan
rasa harapan. Sementara itu, musik Indonesia khususnya karya musisi seperti
halnya Hindia maupun Feast, misalnya lagu Hindia “Secukupnya”
dan Feast “Evaluasi” menujukkan bahwasannya lagu-lagu lokal juga
memiliki peran yang sangat signifikan dalam membantu individu maupun personal
seseorang dalam memahami dan mengelola emosi mereka sendiri. Menjadikan karya
mereka sering dianggap sebagai suara generasi muda saat ini yang sedang
berhadapan dengan berbagai tekanan pada hidup mereka, kecemasan dan krisis
identitas. Pada akhinya tidak ada musik yang lebih unggul dari yang lain dalam menyembuhkan
kesehatan mental. Yang hanya ada kecocokan emosional, ada orang atau individu
yang lebih memilih lagu k-pop untuk “pulang” dari pada lagu Indonesia begitupun
sebaliknya. Musik menjadi terapi bukan karena dari mana asalnya, tetapi ia bisa
menjadi ruang yang aman dan nyaman untuk menangis, berdamai dengan diri sendiri
maupun untuk meluapkan emosi mereka.
Tidak hanya lagu Kpop
saja yang bisa membuatku mengenal diri sendiri dan menyembuhkan berbagai stres yang
sedang aku alami, tetapi juga ada yang
namanya K-Drama sendiri menawarkan berbagai genre maupun cerita yang menarik
untuk kita tonton. Kadang kan kita hanya menemui drama yang isinya tentang
percintaan saja tetapi, di Drakor ini kita dapat menemui banyak sekali tidak
hanya tentang percintaan ada juga seguk (sejarah Korea), komedi,
misteri, action, horor, medis, dan fantasi (khayalan). Di beberapa genre tersebut terkadang terselip
satu kata yang bermakna seperti halnya satu drama ini yaitu Daily Dose Of
Sunshine “Bukan orang lain, tetapi pastikan kamu menyukai dirimu sendiri.
Sayangi dirimu, jangan sakiti dirimu seperti ini lagi” dan The Heavenly Idol
“Banyak orang melihat foto dan video penyanyi idola favorite mereka untuk
menghibur diri, setelah hari panjang dan menyedihkan itu memberi mereka energi
untuk melanjutkan kehidupan, itu menyebuhkan mereka”. Dan ada serial seperti It’s
Okey to Not Be Okey, Hospital Playlits, dan Hometown Cha-Cha-Cha
berhasil mengangkat isu-isu kesehatan mental, kespian, trauma masa kecil, dan
proses penyembuhan diri dengan cara yang lembut dan manusiawi. Bahkan banyak
sekali dari kita yang merasa menonton drakor dapat menyembuhkan trauma kita
tanpa harus ke psikolog, tetapi jika trauma mu sudah sangat parah
segeralah ke psikolog jangan tunda-tunda, bukankan kamu ingin tetap menjalani
kehidupan ini dan menggapai sebuah cita-cita mu itu ya. Terkadang jika aku
merasa bosan dan kesepian maka aku akan menonton drakor solusinya walaupun
terkadan bisa satu hari saru drama seris, tetapi hanya itu yang aku bisa
lakukan untuk mengisi kekosongan pada hidup ku ini agar aku tetap kuat
menjalani hari-hari ku. Banyak sekali orang-orang yang meremehkan mereka yang
menonton drakor maupun mendengarkan musik kpop, kami yang seperti itu bukan
hanya mengidolkan ketampanan mereka karena mereka relate terhadap drakor dan
kpop tersebut. Melalui drama, penonton dapat menyalurkan emosi yang terpendam,
belajar memahami diri sendiri, dan menyadari bahwa setiap orang memiliki luka
dan proses penyembuhan yang berbeda. Ini menjadikan K-Drama bukan hanya
tontonan, tetapi juga ruang refleksi dan terapi emosional.
Kalian tau tidak di Kpop
ada yang namanya fandom, yaitu suatu komonitas penggemar yang memiliki rasa
kebersamaan yang kuat. Fandom tidak hanya menjadi tempat untuk berbagi
informasi tentang idola, tetapi juga sebagai wadah dukungan sosial dan
emosional. Bagi sebagian pengemar yang mungkin kesulitan menjalani relasi
sosial di dunia nyata, fandom menjadi ruang aman (safe space) untuk
mengkspresikan diri, mendapatkan teman baru, dan merasa diterima tanpa
penilaian. Selain menjadi pelarian dan hiburan, banyak dari mereka yang
mengakui bahwasanya Kpop dan K-Drama menjadi motivasi hidup dari kisah
perjuangan idola mereka maupun karakter dalam drama tersebut. Bahkan para idol
seperti BTS, IU atau Stray Kids sering berbicara secara terbuka tentang pejuangan
mereka dan perjalanan mereka dalam menghadapi tekanan, kegagalan, bahkan
masalah mental. Hal ini, membuat penggemar mereka merasa tidak sendiri dan
belajar untuk tetap berjuang meski dalam keadaan sulit. Demikian pula, K-Drama
banyak menyampaikan pesan moral tentang kejujuran, kerja keras, kesetiaan,
serta pentingnya menjaga kesehatan emosioanal. Nilai-nilai ini dapat menjadi
sumber inspirasi yang mendorong penonton untuk menjadi pribadi yang lebih kuat
dan empatik.
Kpop dan K-Drama bukan
hanya bentuk hiburan, melainkan juga
sarana yang memiliki makna mendalam bagi kesehatan mental pada remaja sekarang.
Melalui musik, cerita, dan komunitas
penggemar, budaya populer korea memberikan ruang untuk mengekspresikan emosi,
mendapatkan dukungan sosial dan memulihkan semangat hidup kembali. Namun
demikian, keseimbangan tetap menjadi kunci. Mengosumsi hiburan Korea secara
sadar dan profesional akan membuatnya berfungsi sebagai media healing dan
inspirasi positif. Akhirnya, fenomena
Kpop dan K-Drama menunjukkan bahwa dunia yang serba cepat dan penuh tekanan
ini, kita selalu membutuhkan ruang untuk merasakan, memahami, dan bahkan
menyembuhkan diri, ruang itu bisa kita
temukan dalam sebuah lagu maupun drama yang kita temukan. Dengan demikian,
fenomena lagu k-pop dalam menjaga kesehatan mental bukan berarti kita
menyingkirkan lagu Indonesia, melainkan menunjukkan bahwa setiap individu
maupun personal memiliki cara tersendiri dan media hiburan yang berbeda-beda, sesuai dengan apa yang sedang mereka
alami dalam kehidupan mereka dan emosional masing-masing. Bagiku kpop dan
K-drama menjadi solusi jika aku sedang terpuruk dan putus asa, tetapi jika bagi
kalian dalam kedua hal tersebut bukan menjadi solusi yang tepat kalian bisa
memilih untuk mendengarkan lagu Indonesia maupun film yang dirilis oleh
beberapa produser Indonesia jadi kalian bisa menjadikan kpop dan K-drama sebuah
pilihan dalam menjaga kesehatan mental kalian.
“Esai: Pengaruh
Masuknya Korean Wave terhadap Indonesia.” Scribd. Diakses 5 November 2025. https://www.scribd.com/document/440386986/ESAI-PENGARUH-MASUKNYA-KOREAN-WAVE-TERHADAP-INDONESIA
Deci, Edward L., dan Richard M. Ryan. Self-Determination
Theory: Basic Psychological Needs in Motivation, Development, and Wellness.
New York: Guilford Press, 2017.
Kim, Min-Su. “Music and Mental Health: The
Role of Pop Culture in Emotional Regulation.” Korean Journal of Psychology
42, no. 1 (2019): 55–72.
Ko, Nari. “K-Pop Fandom as a Supportive
Community: Social Identity and Mental Well-Being.” Asian Journal of Social
Science 48, no. 3 (2020): 347–362.
Park, Hye-Rin, dan So-Young Lee. “K-Drama
and Emotional Healing: The Therapeutic Role of Korean Television Dramas.” Journal of
Media Psychology 15, no. 2 (2021): 101–115.
Editor: Faizul Ma`ali
