NARA : Suara Dari Kala

Dok. Google

Namaku Kala. Rerangga Sangkala Geni. Nama yang terdengar cukup klasik dan legendaris, tapi sebenarnya tidak ada yang spesial.  Ini bukan tentang kisahku, bukan cerita tentang bagaimana perjalananku saat merantau dari Jogja ke Bandung untuk berkuliah, bukan juga soal kisah benci jadi cinta. Hanya sedikit cerita tentang seorang gadis sepantaranku, yang tidak terlalu tinggi, tidak terlalu cantik, dan biasa saja. Hanya saja dia gadis yang paling dekat denganku setelah ibuku.

Biar kuceritakan sedikit tentangnya, tentang bagaimana cara dia memandang dunia, tentang dia yang selalu tersenyum meski aku yakin aku satu satunya orang yang tahu tentang rasa sedihnya. Dan tentang bagaimana cara sederhananya membuat aku jatuh cinta.

Dimulai dari sini, dari sudut taman kampus yang sejuk dan rimbun oleh pohon Pinus. Seperti yang kalian tahu, Bandung selalu begini tidak pernah berubah, dingin dan ramai.

Aku mendapati seorang gadis berjilbab pashmina hitam berjalan menuju arahku setengah berlari, dibahu kirinya tergantung totebag hitam bergambar kolase menara Pisa yang sudah bisa kutebak isinya tidak lebih dari notebook putih dan satu bolpoin hitam. Dilain sisi tangan kirinya merangkul satu buku berjudul  Think  and Grow Rich karya Napoleon Hill. Sambil mengatur napasnya yang tak beraturan dia menepuk bahuku dengan kasar.

“ Kal. Jam 10 aku ada job mengisi acara seminar tahunan organisasi jurnalistik, dilanjut jadi moderator di pembukaan Workshop karya sastra sekitar jam setengah 4 sore, Mungkin selesai malem. Kamu ada kelas gak hari ini?”. Katanya dengan intonasi jelas.

Aku menggeleng sambil menyunggingkan senyum tipis.

“ Oke. Ontime ya. Aku Tunggu di depan Lab. bahasa” balasnya seolah memutuskan sepihak.

Aku mengacungkan jempol tanda menyanggupi. Tanpa ba-bi-bu dia kemudian pergi menuju kelasnya yang terletak di ujung koridor tempat kami mengobrol barusan.

Ya. Dia selalu begitu, sibuk dan selalu sibuk. Aku sering menyebutnya ‘sipaling orang penting’ dan dia hanya mengamini, menganggap bahwa sindiranku adalah doa buatnya.

Dan salah satu dialog yang paling aku ingat, dia pernah bilang “ Untuk berada di titik seperti ini butuh proses yang panjang ya, kal. Banyak sekali sedihnya, bahkan kadang susah senang bisa datang berbarengan.” Ujarnya dengan air mata yang membasahi pipinya waktu itu. Sungguh, aku benci air matanya.  

“ Kata orang gadis jelek, berkulit hitam dan bodoh seperti aku gak akan  dapat panggung. Bener juga sih kata mereka, aku sudah buktikan sendiri. Meskipun kedengaran agak miris ya, kal. Harus jadi cantik dan sempurna menurut mereka dulu baru bisa di ekspos.” Lanjutnya dengan bibir yang gemetar oleh tangis. 

Kau tahu, mendengarnya saja aku bisa ikut merasakan kesedihan yang amat dalam. Aku senang menjadi tempatnya berbagi cerita. Dari sana aku mulai mengenal sosok gadis yang biasa saja Dimata banyak orang, tapi begitu berbeda dan istimewa dimataku. 

Aku berusaha mencari jawaban dari setiap pertanyaannya, menjadi  teman disetiap perjalanan hidupnya dalam 10 tahun terakhir, menjadi pendengar untuk setiap ceritanya, bahkan jika bisa aku ingin selalu memainkan peranku bersamanya. Biar aku selalu menjadi tokoh yang selalu ada di setiap episode dalam hidupnya.

Terdengar berlebihan.  Sungguh, jika bagi orang lain dia hanya gadis berkulit setengah sawo matang yang kurang menarik, gadis berhijab yang hanya pandai bergaya, atau bahkan sekedar gadis yatim piatu yang seadanya. Bagiku, Nara adalah gadis yang Tuhan ciptakan indahnya hanya untukku. Dia sempurna dimataku.

“ Izinkan saya sebagai moderator memberikan sepatah dua kata untuk closing statement acara pada malam hari ini.

 ‘Menjadi berbeda bukan suatu dosa, dan  membuat sebuah karya yang tak ada orang punya itu istimewa’

Saya Nara Dya Ghifari selaku moderator, pamit undur diri “. Suara lantang Nara disusul dengan gemuruh tepuk tangan audensi dalam acara workshop memeriahkan suasana. Sekali lagi aku berdecak kagum.

Sepersekian menit setelah itu, dia menghampiri tempat aku duduk. Terlihat jelas raut letih wajah Nara yang tersamarkan oleh senyum lebar dibibirnya. Aku menatapnya bangga. Ini bukan pertama kali dia membuatku bangga melihatnya. 

“ Gimana tadi? Hebat kan aku! “ Bisiknya saat sudah duduk bersanding denganku.

Aku mendecak sambil melirik kearahnya “ Ah, acara kaya gini mah belum ada apa-apanya. Besok harus lebih dari ini sih “ ucapku seolah meremehkan.

Dia terkekeh. “ Siapp deh bapak Kala ‘si paling perfeksionis’ tidak ada tanding.” Ucapnya meledek.

Kami tertawa kecil bersama. Aku menatap wajahnya sepersekian detik. Kalian harus tau, tawanya salah satu hal termanis yang paling aku suka darinya.

Tepat pukul 22.16 WIB malam itu, trotoar kota lama Bandung masih ramai. Kami berdua memutuskan untuk makan soto Ayam khas Lamongan Cak Mad, warung tepi jalan andalan kami.

“ Besok plan nya apalagi, Nar?” Dialog yang kubuka saat menunggu pesanan diproses.

Nara memandangku, mengingat-ingat sampai akhirnya menjawab.

“ Besok aku cuman jadi pemateri aja si di acara webinar kampus, mungkin lusa baru full jobdesc lagi.”  Aku terkekeh mendengar jawabannya, pasalnya bukan itu maksud pertanyaanku barusan. Dia kembali menatapku sambil mengerutkan kedua alisnya ke dahi.

“ Lah, kenapa?”

“ Maksudku, plan kamu setelah bisa mewujudkan mimpimu menjadi ‘ si paling orang penting’ sekarang apa? Masih ada? Atau tetep mau melanjutkan di jurnalistik saja? “ Jelasku.

“ So far, belum kepikiran soal mimpi diluar bidangku sih,kal. Masih pengen di Jurnalistik aja, tho belum semua bisa aku kuasai.” 

Aku mengangguk memahami. 

“ Yaa, paling lagi kepengin punya pacar aja sih. Biar nggak terus-terusan merepotkan kamu, Hehe “.

Menurutnya kalimat itu terdengar lucu. Tapi tidak bagiku.

‘Maksudmu apa? Bicara seenaknya’ gumamku dalam hati. Rasanya tenggorokan ku tercekat tiba-tiba.

“ Tapi mana mungkin ada yang mau sama gadis seperti ku, sudah hitam, berhijab, dan tidak menyenangkan, yang ada mereka malah menghinaku dan bilang ‘ kulitmu seperti tanah kuburan bapakmu, sama-sama gelap’ hahaha “ lanjutnya diakhiri tawa yang terdengar lepas.

Aku ikut tertawa. Bukan karena pernyataannya benar, tapi karena caranya menirukan kalimat ‘kulitmu seperti tanah kuburan bapakmu, sama-sama gelap’  intonasi yang dia buat mirip dengan intonasi orang yang menghinanya delapan tahun lalu, aku ingat saat itu beberapa kakak kelas laki-laki menghinanya karena dia mencoba membelaku saat sekawanan kakak kelas sok jagoan itu merundungku. Saat itulah awal mula kita saling kenal. Dan tentu saja, itu awal aku kagum padanya.

“ Mungkin memang lebih baik, kamu fokus sama mimpi-mimpi mu dulu, Nar. Soal laki-laki pasti ada yang mau sama kamu” Aku. tentu aku mau. Tambahku dalam hati.

“ tentu saja lah, Aku juga tidak seburuk itu. Setidaknya lebih baik penampilanku sekarang daripada delapan tahun lalu, hehehe “. Tukasnya sambil diikuti tawa kecil diakhir.

Nara. Andai kamu membaca ceritaku. Kamu sudah pasti tahu, bagiku kamu sempurna.

(Selesai)

Penulis : Isna Rahmah Sabila


Posting Komentar

0 Komentar