Manajemen Waktu Belajar dan Sepertiga Malam

Dok. LPM Edukasi (Risma)


Di saat itu, begitu jelas penjelasan kyai di sela beliau mengajar kitab–perihal waktu terbaik untuk terlelap tidur, sekiat pukul 22.00 WIB menuju hingga 03.00 WIB dan menunggu seruan salat subuh setelahnya.

Biarpun kisaran waktu tersebut agaknya berbeda dengan survei akademis ataupun kesehatan. Setidaknya saya juga merasakan ketenangan lebih untuk bangun sedini itu.

Kendati demikian apakah mereka para santri akan merasa tidak enak badan setelah itu?, kenyataanya tidak. 

Mereka masih sehat seperti biasanya walau menurut tinjauan kesehatan  melenceng dari aturan. 

Mungkin atas izin Allah mereka di jaga kesehatanya, selain itu ketika seseorang bangun di sepertiga malam mereka dianjurkan beribadah dan dzikir lalu menggunakan sebagian waktunya untuk belajar baik ilmu agama maupun pengetahuan umum, alasan demikian terdapat rahasia besar yang tersembunyi dalam waktu tersebut. 

Pertama, jika dilihat dari aspek umum, diwaktu tersebut tubuh seseorang sedang dalam kondisi terbaiknya, hal tersebut dikarenakan energi yang tersimpan selama dia tidur dapat keluar setelah melalui proses pembakaran sebelumnya di dalam tubuh, di mana bisa kita asumsikan seperti buah yang kita petik tepat setelah matang, rasanya pasti berbeda dengan yang sudah didiamkan dalam beberapa waktu. 

Dengan kondisi tersebut akan menjadikan tubuh mampu memberi energi dan menjalankan sistem stimulus kepada otak secara maksimal. 

Alasan kedua, pada waktu tersebut tubuh dalam keadaan fit, di mana tubuh merasa nyaman dan otak yang kondusif karena suasana di saat sepertiga malam yang tenang, dingin dan sejuk. 

Ketiga, peningkatan kinerja hormon: saat bangun tidur hormon seseorang cenderung lebih stabil karena suhu tubuh sedikit rendah dan terjaga dari terjadinya stressed system sehingga akan menjadikan daya ingat otak 2 kali lebih cepat dibanding waktu lainnya. 

Sehingga pada waktu ini sangat cocok digunakan untuk muthala’ah (menghafal atau mengingat kembali pelajaran.)

Terakhir, sepertiga malam juga memiliki suasana yang begitu menenangkan, karena jarang yang menjalankan aktivitas yang agak bising, sehingga fokus kita akan terjaga saat belajar di waktu ini, kalian pasti juga merasakannya terdapat energi positif yang terdapat pada waktu ini. 

Pada jam ini juga dianjurkan untuk mandi agar badan menjadi lebih fresh. Menurut para ahli mandi saat fajar akan membuat seseorang terjaga dari penyakit baik penyakit dari dalam maupun penyakit dari luar. 

Manajemen Waktu Belajar

Selain itu terdapat referensi lain yang dapat digunakan sebagai patokan waktu belajar yang tepat, dari buku Ta’lim Almuta’alim karangan imam Az-Zarnuji di mana beliau mengatakan bahwa ketika waktu sahur adalah waktu yang tepat  digunakan untuk belajar, karena pada waktu tersebut adalah turunnya malaikat rahmat yang akan mendoakan setiap hamba Allah yang sedang melakukan kebaikan, selain itu pada waktu tersebut adalah waktu terbukanya ilmu untuk pelajar apalagi jika ditambah dengan ibadah sunah sholat tahajjud dan hajat lalu meminta dimudahkan dalam belajar, sehingga secara umum hal-hal tersebut akan menjadi serangkaian kiat mencapai cita-cita. 

Manajemen waktu semacam ini harus direncanakan dengan baik. Seperti para ulama salaf yang memiliki manajemen waktu dalam belajar, seperti fatwa Imam Badruddin, yang mengatakan bahwa waktu belajar yang tepat yaitu ketika saat masih di suatu majelis atau ruang belajar, indikasi ini menjelaskan bahwa selain memiliki keutamaan tersendiri belajar di majelis ketika pelajaran baru selesai atau sedang berjalan (ketika guru tidak menerangkan) memungkinkan bisa bertanya kepada teman atau guru ketika menemukan suatu kendala dalam memahaminya.

Ulama salaf lain juga berpendapat belajar pelajaran yang akan datang atau apun mempelajari ulang pelajaran yang telah berlalu dimalam hari adalah sebaik-baiknya waktu kisaran waktu tersebut yaitu saat setelah waktu sholat isya’ sampai waktu adzan subuh

Mungkin jika mengalami kelelahan, dapat istirahat sejenak dan merefresh pikiran lalu bangun lagi untuk melanjtkan belajar kembali.

Keuntungan dan Kerugian Belajar Sepertiga Malam

Jika seseorang ingin mendapatkan ilmu dan kebaikan dunia akhirat, maka hendaklah ia membiasakan diri melaksanakan salat malam (tahajud dan witir). 

Seorang ulama bernama  Mbah Kyai Ahmad Nashoha Sumur pernah memberi amalan  dengan membaca Al-qur’an secara rutin dan berdoa agar apa yang di cita-citakan kita dapat tercapai.

Dari perspektif lain terdapat juga tentang teori keuntungan maupun kerugian belajar di sepertiga malam. 

Kelebihan belajar pada sepertiga malam karena suasana yang lebih tenang dan kondusif sehingga tingkat konsentrasi pikiran siswa dapat terjaga, minimnya gangguan dari lingkungan sekitar, gawai, televisi dan alat elektronik lainnya yang berpotensi memecah konsentrasi. 

Materi yang dipelajari lebih mudah diingat dan tidak cepat terlupakan karena selepas belajar tidak akan tidur kembali. 

Sementara itu, kekurangan belajar pada sepertiga malam yaitu minimnya waktu belajar, yang man ahanya berselang beberapa jam hingga menuju pagi hari.
 
Kesulitan bangun pada dini hari juga menjadi kekurangan dari pembelajaran di sepertiga malam karena sebelumnya telah tertidur dengan pulas. 

Kemudian kesulitan mengontrol rasa kantuk pada keesokan harinya tidak bisa dihindarkan. 

Dan yang terakhir apabila terdapat materi yang sulit dipahami tidak bisa menanyakannya kepada teman atau guru untuk teman berdiskusi. 

Pada akhirnya semua kembali pada diri sendiri, dalam memilih waktu belajar yang sesuai pada minat dan kemampuan diri masing-masing orang, tidak perlu memaksakan diri, hanya saja kita perlu lebih berusaha dalam  menuntut ilmu.

Dalam konteks pembahasan artikel ini saya sendiri menyimpulkan bahwa mestinya belajar perlu perjuangan secara ikhtiyar seperti belajar dalam waktu yang afdal disertai ibadah dan doa lalu bertawakal kepada Allah SWT.

Penulis: Arju Naja (Kru Magang)
Editor: Udin

Referensi:
www.websitependidikan.com
Kitab Muroqil Ubudiyyah, Syeikh Muhammad Nawawi al-Bantani ‘alaa matan Kitab Bidayatul Hidayah, Hujjatul Islam, Imam Al-ghazali RA, hal. 45). Dan ta’lim muta’alim
Tazkiratus Sami’I:117 dan Al-Khatib

 

Posting Komentar

0 Komentar