Sajak Bayang-bayang


Ilustrasi Deen

 Oleh:   Muhammad Najwa Maulana
Bayangan

Bayanganku menggigil memeluk lutut

Kudekap ia, kami berdekapan

Rembulan menatap dengan iba

Cahayanya pucat pasi, sepucat wajahku

 

Tak ada tikus yang menawari kami makan

Tak ada kelelawar yang menawari pakaian

Tak ada malam yang tak sepi

Tak ada di hati kami

 

Kami menapaki waktu tanpa alas kaki

Melakukan sesuatu tanpa kata tapi

Ditemani rembulan bercadar awan

Bayanganku termenung di bawah lampu jalan

 

Kami risih terus-terusan ditatap rembulan

Bersembunyi di balik pohonan

Kami menyelinap ke sela kegelapan

Bayanganku hilang, aku sendirian


Anak-anak di Halaman Rindu

 

Masa ini penuh batasan, penuh sekat dan penuh harap

Kerinduan anak-anak bermain sepakbola semakin berderap

 

Berapa lama lagi anak-anak harus bermain di rumah

Hatinya sudah lelah dan matanya semakin memerah

Mereka rindu berlari-lari di halaman sekolah

Dan menggantungkan sepatu di leher saat pulang sekolah

 

Mereka rindu pelajaran olah raga, serindu mereka pada upacara bendera

Kapan lagi mereka dapat mewarnai langit dan membantu hujan menyirami tanaman?

Meringankan pekerjaan traktor membajak sawah

Meninabobokan matahari yang koprol di ujung barat sebelum pulang ke rumah

 

Mereka rindu melantunkan Alif Lam Mim di surau

Berebut mengisi bak air dengan menimba dari sumur

Menangkap laron-laron yang mengerumuni cahaya lampu

Menyentil bola gantung kucing jantan yang lelap tertidur

 

Mereka tidak tahu kapan kerinduan ini sembuh dari sakit

Tidak pula aku dan kamu yang tertidur dibawah bulan sabit



Posting Komentar

1 Komentar