Pro dan Kontra Mewarnai Sidang Lanjutan Mediasi dalam Demonstrasi Terkait UKT


  Dok. LPM Edukasi

Semarang, lpm edukasi: Rabu (7/7/21) lalu, Aliansi Mahasiswa Walisongo (AMW) mengadakan unjuk rasa secara langsung maupun virtual, tagar "uinwsmahal" menjadi trending topik di twitter karena tweet mencapai angka 15 ribu. 

Audensi yang dilakukan AMW dengan pimpinan kampus, mengasilkan 4 poin dari 8 sidang. Rapat lanjutan hasil audiensi digelar pada siang ini (9/7/21) di Lantai 4 Gedung Rekotrat UIN Walisongo Semarang. Berlangsung pukul 10:20 hingga pukul 11:30 WIB. 

Perwakilan mahasiswa yang hadir adalah M Azmi Ali selaku Ketua DEMA U, Fathul Munif Menteri Sospol DEMA U, dan M Syafiq Yunensa Menteri Sospol DEMA FITK. Sedangkan pimpinan yang hadir, dihadiri oleh Dr. Arief Budiman selaku Wakil Rektor III, Dr. Syaifudin Zuhri Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerjasama (AAKK), dan Pak Margono dari biro AAKK.

Arief Budiman mengatakan bahwa penyampaian aspirasi mahasiswa harus dilakukan dengan baik dan memperhatikan beberapa hal sebelum bertindak.

“Setiap masalah yang muncul selama ini juga tidak dibiarkan begitu saja, melainkan bisa kita selesaikan. Itu yang kemudian kamipun harus mengkoordinir permasalahan mahasiswa kan hanya itu. Tapi juga terkait dengan bidan akademik, prestasi dan bidang yang lain. Boleh kalian menyampaikan aspirasi, tapi perlu disadari juga jejak digital itu sangat luar biasa dampaknya. Efeknya bisa bertahun-tahun.” Ujarannya.

Syafiq membantah pernyataan tersebut dengan mengatakan, bahwa demo yang dilakukan mahasiswa bukan tanpa alasan.

“Saya kira cukup logis ketika terjadi aksi secara langsung maupun virtual, kami juga punya alasan mengapa melakukan itu. Bisa bapak ingat, berapa banyak hal yang harus kita evaluasi? Tentang transparansi dana, Subsidi Kuota tak merata, dan setiap tanggal 26 kami selalu ceritakan di akun media sosial terkait layanan TOEFL-IMKA yang sangat meresahkan dan banyak hal lainnya. Takkan ada perkara, tanpa penyebabnya.” Tuturnya.

Azmi selaku Ketua DEMA Universitas juga mengatakan bahwa tugas Ormawa (Ormas Mahasiswa) adalah sebagai penyampai aspirasi.

“Perihal aksi kemarin, saya kira wajar bila sikap DEMA U dan DEMA di setiap Fakultas mendukung mereka, karena DEMA dan setiap Ormawa itu digunakan sebagai ruang aspirasi mahasiswa. Ketika kebanyakan mahasiswa mengusulkan untuk melakukan aksi, maka kami akan mengawal mereka. Selama keputusan yang diambil juga tidak melibatkan mahasiswa, tiba-tiba keluar pengumuman atau surat edaran,” ungkapnya.

Ia juga berharap, kedepannya setiap kebijakan yang diambil harus melibatkan mahasiswa. Agar terjadi kesepakatan antar pihak yang terkait.




Reporter : Catur
Editor      : Risma

Posting Komentar

0 Komentar