Lawakan Garing di Awal Tahun

Suasana pusat perdagangan dekat makam waliyullah Syekh Mutamakkin Kajen, Pati, Jawa Tengah. Foto Edukasi/Udin.



Pati, lpmedukasi.com - Didorong rasa gabut berlama-lama, hanya rebahan dan chatting dengan orang-orang yang mengisolasi dirinya masing-masing. Dan kebosanan saya, karena kekalahan saat menangkap ayam ataupun cacing, di status whatsapp teman-teman. Menjadikan keinginan menulisku tiba-tiba muncul, mak jeglek.

Hasil beberapa berita yang saya baca. Di Semarang tercatat Orang Dalam Pemantauan (ODP) (700), Pasien Dalam Pengawasan (PDP) (78), Positif Covid-19 (16), (CNBC Indonesia,  25/3), sehingga menjadikannya masuk sebagai zona merah (red zone). Maka saya dengan legowo beralih ke kampung halaman di Pati, untuk sekedar menjauhi zona merah dan menetap di zona nyaman.

Keseharian kembali berjalan dengan santai seperti biasanya, seringkali saya menyempatkan menonton berita di televisi, semuanya membahas sama, "Bersatu Melawan Corona". Bahkan diluar dugaan, beberapa daerah sudah menerapkan kebijakan Lockdown atau disopankan sedikit dengan istilah Karantina Wilayah atau Local Lockdown dan seterusnya.

Berbeda dengan pernyataan Presiden Jokowi, bahwa kebijakan Lockdown, yang mana menjadi wewenang pemerintah pusat, tak diambil karena tiap negara memiliki  karakter, budaya, dan kedisiplinan yang berbeda-beda, dan memilih kebijakan Physical Distancing (menjaga jarak aman). pernyataanya yang saya lihat dalam channel youtube KOMPASTV.

Begitulah gambaran Carut-marut kebijakan yang berbeda antara pemerintahan pusat dan daerah. Dan dari beberapa kebijakan tadi juga masih membingungkan, objeknya untuk seluruh masyarakat di wilayah tersebut atau orang-orang yang memang sudah terpapar, entahlah.

Di Pati sendiri, saat ini sedang dalam kondisi waspada, pasca wafatnya anggota DPR RI Komisi IX, Imam Suroso karena positif terkena Covid-19. Sehingga berdampak pula pada sektor perekonomian; pasar-pasar mulai ditutup, warung-warung kopi dan orang-orang jualan disterilkan (jika melewati batas waktu). Pembeli juga mulai menghilang. Pedagang mulai was-was karena dagangan tidak laku, pekerja serabutan mulai susah mencari  peluang. Ya begitulah, keresahan-keresahan kelas rumput di pedesaan. Jelas saja, animo masyarakat secara umum terbatas saat-saat ini. Imbasnya kemana ? Tentu saja ke Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Objek terdampak Physical Distancing bukan hanya untuk orang-orang yang terpapar Covid-19 sesuai hasil tracking, namun semua orang. Sehingga tak terelakkan, jika hal ini menyebabkan kebingungan berfikir bagi masyarakat luas. Serba was-was, serba takut. Untuk bekerja, keluar rumah, dan lainnya. Pantas saja, jika jalan lengang, pemasukan amblas menyedihkan.

Penutupan sementara pasar mulai berlaku. Sebut saja, Pasar Puri Baru, yang kemarin usai digunakan lokasi pembagian masker, hand sinitizer, dan pengedukasian covid-19 oleh almarhum Imam Suroso. Maka, Pemerintah kabupaten metapkan penutupan sementara Pasar Puri Baru selama sepekan dari tanggal 28 Maret - 4 April (mitrapost.com). Entah memang nanti tepat waktu, atau bertambah lagi dan lagi tanpa kejelasan.

Saya jadi ingat dengan Surat Edaran Nomor : 697/03/2020, yang mengganti kuliah online dua pekan di civitas akademika Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, menjadi 1 semester genap ditahun 2019/2020. Ya alasannya jelas, karena kondisional, seperti tak ada solusi yang konkret.

Oh iya, hampir saja kelupaan. Sebenarnya, covid-19 ini di prediksi tidak bisa menembus negeri Indonesa ini. Ya, itu ungkapan Menteri Kesehatan kita Pak Terawan jauh sebelum pak presiden mengumumkan WNI pertama yang teepapar virus corona. Katanya sih, ketika di acara Mata Najwa "virusnya ringan" dan menurutnya masyarakat Indonesa bisa kebal dari covid-19 sebab doa.

Melihat negara lain sibuk-sibukan dengan penelitian sana-sini, marilah kita berdoa, agar hujan cepat reda. Setidaknya di sini ungkapan "sediakan hujan, sebelum payung" sudah terbukti di negeri ini. Ya karena menunggu kasusnya dulu baru kelimpungan cari solusi.

Kalau saya baca-baca di corona.jatengprov.go.id, hingga saat ini, vaksin dan obat untuk covid-19 masih dalam tahap penelitian. Pengobatan masih berupa pengobatan suportif. Nah, mungkin suportif itu yang menjadikan jalanan lengang, pembatasan waktu untuk berdagang, peliburan massal, karantina wilayah, bekerja di rumah, dan seterusnya.

Terus ?, nantinya kalau pembatasan dimana-mana dan untuk siapa saja, keluarga makan apa ?, Akankah sebuah kisah ibu yang menanak batu terulang kembali ?. Itulah lawakan-lawakan garing diawal tahun 2020. Sungguh lucu, Negeri Haha Hihi ini, cocok sekali dengan sempalan bait kedua dari puisi itu. Ngakak.

Terus ? Kalau sudah panik begini, sumbunya dari masyarakat yang masih belum sadar akan covid-19 atau memang siaga pemerintahan yang kurang dini ? Atau memang keduanya yang salah ?

Entahlah, semoga hujannya cepat reda.
Cepatlah pulih negeriku. Untuk kamu yang sudah sudi membaca, jaga kesehatan, dan jangan lupa, cuci tangan pakai sabun.

Penulis : Udin
Editor : Fadlul

Posting Komentar

0 Komentar