Bejo

Dok. Google


Mata itu, indah. Menyembunyikan kenangan yang teramat manis namun sulit diartikan. Mata itu, terkenang. Namun sulit untuk diterka dimana pertama kali singgah menjadi kenangan. Mata itu ..

Ruang kelas yang indah dengan bermacam kreasi siswa yang sengaja ditempelkan di sudut tembok, di sebelah papan tulis yang berkilau, dan dimana saja. Bahkan pada tempat sampah sekalipun. Namun itu hanya mimpi yang berbanding terbalik bagi anak-anak Desa Ketrik, Desa pinggiran kota dengan kepulan asap industri. Bising sekali, motor dan mobil melaju dengan keunikan suaranya. Ada yang seperti rombeng, terompet tak jadi, bahkan lebih buruk dari itu semua.

Biarpun begitu, belajar adalah kewajiban. Semua siswa mendengar, dan menulis apa yang telah dituliskan guru di papan tulis yang bermotif berbagai macam pulau dibagian pojok, atas, dan sedikit kecil ditengah. Mereka mulai meliuk-liukkan pensil di atas buku masing-masing.
Namun ada yang berbeda pagi itu, seorang anak tak mau menulis. Bu Ida naik darah melihatnya, karena bukan hanya pagi itu ia tak mau menulis. Namun sudah menjadi kebiasaannya. Depan kelas, mungkin itu tempat yang cocok untuk anak senakal itu. Tanpa mau tahu, dikeluarkanlah anak itu dari kelas.
Dengan menunduk menyeret langkahnya, ia keluar kelas tanpa sebersit kata terucap. Ia tercenung bersandar rak sepatu keropos pinggirnya. Sesekali ia berdiri, memerhatikan materi pelajaran yang disampaikan. Dan juga melihat teman-temannya yang asyik belajar. Namun, ia kembali terduduk dengan setumpuk perdebatan batinnya.

"Ini dek es krimnya .."

"Yeaaay ..., Hem ... Enak ... Makasih mah udah dibeliin es krim"

Seorang anak bersama ibunya menyambar matanya. Pandangan Bejo masih menggelayuti kejadian saat itu. Ia terus melamun tentang dirinya sendiri. Berpacu dalam pengelanaan panjang dalam kegundahannya.
"Bahagia sekali dia, tersenyum dengan lepasnya", batinnya.

Ia mengingat lebih jauh lagi. Kala itu, saat hari pertama ia berangkat ke SD ini diantar oleh Bapaknya, Parjo. Setelah menyusuri jalan setapak dengan batu yang berceceran tak memenuhi jalan. Butuh satu jam dari Desa Ketrik untuk bisa sampai ke pagar sekolah dengan berjalan kaki. Dan ia ditinggalkan sendiri untuk menapaki dunia barunya di sekolah. Tepat, di pagar itu.

Kepal tangannya mulai membuka ketika Parjo berbalik meninggalkannya. Terdapat seribuan bekas yang lusuh. Uang saku pertama Bejo. Tangan Parjo yang kasar, bercampur letih dan perih kehidupan masih membekas dibibir Bejo waktu itu, dan mungkin sekarangpun juga. Karena memang, keluarga Bejo butuh seribu tahun untuk miskin. Tanpa pemerintah mengetahuinya.

Sudah lama Bejo tak mengenal Ibu. Pernah sekali ia menanyakan hal itu kepada Parjo, dan ibunya diriwatkan telah tiada sejak ia bayi. Ia tak habis fikir, ia harus lahir dengan membunuh ibunya. Namun, ia masih dapat merasakan kehadirannya. Acap kali ia merasakan keanehan pada penglihatannya.

Pada hari pertama ia sekolah, semua peralatan disekitar Bejo terlihat baru. Suara sepatu yang alasnya masih mengecit, suaranya penuh ditelinga Bejo. Aroma-aroma buku tulis baru dan apapun serba baru. Ia putar kepalanya mengelilingi teman-temannya yang begitu riang mengawali hari pertama bersekolah. Namun seusainya, ia hanya tertunduk bercermin diseragam lusuh dari tetangganya. Dan jempol kaki yang menerobos sepatunya mengubah arah mata Bejo sekali lagi.

"Anak-anak, ayo kita belajar menulis. Siapa yang hari ini membawa buku tulis?", tanya Bu Ida dengan riangnya.

"Aku bu.."

"Saya, bu.."

"Bagus punyaku weeek"

"Di mana buku kamu Bejo?"

"Em ... Belum, e.."

"Sudah Bejo, tidak apa-apa, besok beli ya Bejo"

"I.. iya bu", dengan tetap menundukkan kepalanya.
Ia merogoh saku bajunya, ia lihat  ada uang seribuan bergambar muka Parjo, bukannya Kapiten Patimura.

"Aku butuh empat ribu lagi untuk beli buku di Pak Kirman", batinnya dalam hati.

***

Derap kaki agak berlari mengejar tenggat waktu. Koran itu satu persatu dilemparkan ditiap pintu rumah-rumah minimalis yang megah. Remaja lusuh itu semakin cepat saja menyusuri tiap perempatan dan pertigaan tanpa merasa lelah sekalipun.

"Huh, akhirnya ...", hembusan lega dari si pemuda.
Setelah ia berkejaran sana-sini, tinggal 1 koran itu yang harus diantarkannya. Dirumah yang berwarna merah dipojokan perempatan sana.

"Ngeeeeeek...", suara pintu gerbang dibuka. Tanpa sengaja si pemilik rumah keluar dengan pakaian tidur yang masih menempel ditubuhnya. Muda dan cantik parasnya, mungkin seumuran lah atau bahkan lebih muda dari si pemuda.

Mata bejo terpelotot keheranan. Dengan hati dan arus darah berkecamuk yang dirasakannya.
"Mata itu ..., mirip mata yang biasa aku temukan di pandanganku. Dia...".

"Mas, ini koran pagi rumah saya kan ?", ungkapan itu membuyarkan kecuk batin Bejo.

"Oh, iya non...", dengan agak kaget.

Sudah empat tahun ini Bejo putus sekolah dari yang dulunya berhenti di kelas 5 SD. Ekonomi keluarga Bejo semakin menurun seiring dengan kesehatan Parjo yang mulai memburuk. Badan Parjo semakin kering, penyakitnya makin bertambah banyak. Dan parkiran pasar sudah tak terurus seperti dulunya.

Bejo mau tak mau harus putus sekolah dan menggantikan posisi ayahnya mencari nafkah. Biaya pengobatan Parjo tak bisa terjangkau kantong Bejo yang bekerja sebagai tukang antar koran dan tukang parkir pasar, walaupun sering tak markir. Sering ia mendapat saran untuk menggunakan kartu bantuan kesehatan, namun sampai kini tak satupun kartu yang mangkir di rumahnya dari pemerintah.

***

"Pak ini obatnya".

"Bapak nggak usah kamu belikan obat di apotek lagi Jo", dengan mata yang melayu.

"Enggak pak, ini kewajiban Bejo".

"Kamu perlu tahu, kamu disini tidak sendiri. Cobalah cari, dan temukan ketenangan".

"Bapak ngomong apa sih, pak ?, Bejo nggak faham".
Pandangannya buyar dan tak sampai menyentuh raut bapaknya. Ia seperti mendapat puzzle yang masih teracak sulit yang tercecer dikepalanya.

Perbincangan bapak dan anak itu terhenti, disambut dengan angin malam yang berhembus disela tubuh Bejo. Malam ini pikirannya kacau dengan teka-teki yang ia temukan.

"Siapakah dia ?, matanya mirip dengan mata itu. Namun, seperti bukan itu. Masih ada perbedaan serat matanya agak renggang dari yang biasa muncul di penglihatku. Omongan bapak. Enggak sendiri ?, kan aku memang bersamanya saat ini. Mengapa sendiri ?". Ia masih disibukkan dengan uraian pertanyaan yang enggan terjawab. Ia sepi dan hanya memandangi langit-langit rumah kecilnya yang berlubang sana-sini.

Angin malam itu, mengantarkan fajar yang sendu dan penuh dengan keberkahan, sehabis hujan petir tafi malam. Ayam, burung-burung, kucing, mulai berteriak dan mengibaskan sisa hujan tadi malam.

Sinar mentari yang lembut mulai menerobos celah-celah awan. Angin berhembus dengan cepat, menyebarkan suara toa masjid yang membawa kabar.

"Innalilahi wainna ilaihi rojiuun, telah berpulang ke Rahmatulloh. Bapak Parjo, Desa Ketrik, Rt.12 Rw.03. Pemakaman akan dilangsungkan pagi ini jam 9".
Benar, Bapak Bejo wafat pagi itu. Setelah mengidap komplikasi selama 6 tahun belakangan. Tak usah dibayangkan, Bejo seperti ditimpa rumah roboh saat mendengar pengumuman itu. Ia kini sendiri, sendiri tanpa siapapun di sampingnya.

Bejo terlihat linglung dengan terus ia mencoba membangunkan bapaknya. "Bapakk ... bapak ... jangan tinggalkan Bejo, bapak ...", air matanya membanjiri kafan yang sebentar lagi tak mungkin ia lihat lagi.

Pemberangkatan keranda Parjo membuat Bejo tak bisa menopang badannya lagi, ia lemas tak berdaya. Namun, tetap ia paksakan untuk menguburkan bapaknya sebagai penghormatan terakhir. Biarpun akhirnya ia pingsan setelah menyelesaikan secangkul tanah terakhir yang menutupi kubur bapaknya. Ia tertidur dengan hatinya yang sebegitu berantakan, hancur tanpa ketenangan.

Penulis: Udin

Posting Komentar

0 Komentar