Ruang itu Bernama Sejarah

Doc. Internet


Banyak yang tidak tahu tentang sejarah perjuangan di Indonesia. Tepat 74 tahun yang lalu, pada 15 Desember 1945 para pejuang RI  berjuang mati-matian dalam mempertahankan kemerdekaan. Saat penjajah kembali ingin merebut tahan air, mereka tak tinggal diam. Penyusunan strategi dilakukan dengan matang. Di tanah yang kita injak sekarang ini, telah terjadi sebuah pertempuran hebat dengan para sekutu.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 bukan merupakan akhir dari perjuangan bangsa Indonesia. Pembacaan proklamasi tersebut menjadi penetap akan amanah besar warga negara Indonesia. Sebagai negara yang baru saja merdeka, Indonesia tidak lantas lepas dari belenggu kolonialisme.

Kedatangan Belanda 

Belanda datang lagi dengan membonceng pasukan sekutu. Melihat kekayaan Sumber Daya Indonesia yang melimpah.  Negara serakah itu kembali ingin menduduki Indonesia. Belanda mulai mendatangi kota-kota besar, salah satunya adalah Ambarawa. Pertempuran tak dapat dicegah.  Disitulah  TKR (Tentara Keamanan Rakyat) sebagai pasukan pertahanan RI berperan besar dalam mempertahankan kedaulatan rakyat.

Pasukan TKR yang pada saat itu dipimpin oleh Jendral Soedirman bergerak cepat. Dengan semboyang “Rawe-rawe rantas malang-malang putung, patah tumbuh hilang berganti”, pasukan TKR membulatkan tekad untuk membebaskan Ambarawa dari penjajah. Mereka berjuang  dengan pilihan, hidup tanpa penjajah atau gugur di pangkuan ibu pertiwi.

Pertempuran Empat Hari Empat Malam

Dimulai tanggal 12 Desember 1945 hingga 15 Desember 1945 serangan pembebasan Ambarawa dilancarkan dengan penuh semangat pantang mundur. Tepat pukul 04:30 WIB tanggal 12 Desember 1945 terdengar letusan tembakan yang mengisyaratkan dimulainya pertempuran.

Para pejuang mulai merayap mendekati sasaran yang telah ditentukan dari seluruh penjuru Ambarawa. Desingan peluru, dentuman bom dan meriam terdengar sangat riuh. Mereka melakukan serangan pengepungan ketat di segala penjuru kota Ambarawa. Taktik ini oleh Jendral Soedirman disebut sebagai taktik Supit Urang atau taktik mengurung lawan.

Walaupun dihadang dengan peralatan modern dari pasukan sekutu, para pejuang RI tak kenal menyerah. Mereka tetap melancarkan taktik dan serangan  dengan gigih  tanpa takut gugur di medan perang. Hingga akhirnya para pejuang RI berhasil memukul mundur pasukan sekutu dari Ambarawa menuju Semarang.

Kemudian terjadilah pertempuran jarak dekat. Jalan Raya Ambarawa-Semarang sudah dikepung oleh pasukan TKR yang kemudian membuat musuh mundur. Benteng pertahanan sekutu yang tangguh juga berhasil dikuasai oleh pasukan TKR.

Monumen Palagan Ambarawa Semarang

Kemenangan pasukan TKR dan para pejuang Indonesia itu diabadikan dalam bentuk monumen Palagan Ambarawa di Semarang. Monument ini dibangun pada tahun 1973 dan diresmikan pada tanggal 15 Desember 1974 oleh presiden kedua RI yaitu Presiden Soeharto. Dalam monumen itu terdapat relief pada dinding monumen yang menjadi gambarang singkat mengenai peristiwa bersejarah tersebut.  Selain itu juga terdapat peninggalan-peninggalan Jepang dan Belanda seperti seragam, senjata perang dan masih banyak lagi.

Hari Juang Kartika

Untuk mengenang Pertempuran Ambarawa empat hari empat malam itu, maka pada tanggal 15 Desember diperingati sebagai Hari Infanteri atau Hari Juang Kartika TNI Angkatan Darat. Biasanya setiap tahun TNI selalu memperingati hari besar ini. Mereka mengadakan upacara-upacara atau tradisi gerak jalan Peleton Wastu Pramukha Jaya.

Kita sebagai generasi bangsa, sepatutnya tidak lupa terhadap perjuangan para pahlawan yang telah mendahului kita. Namun mirisnya, generasi bangsa sekarang ini sudah terlena dengan majunya teknologi. Banyak hari-hari peringatan perjuangan pahlawan yang mereka lewatkan dan lupakan. Alasannya, karena fokus terhadap akademik yang hanya berujung nilai.

Ini yang membedakan penjajahan di era dulu dengan sekarang. Jika dahulu negara terjajah dengan dipekerjakan rodi ataupun diambil hasil alamnya. Kini kita terjajah melalui kemewahan hidup dan kemajuan teknologi yang merusak moral rakyat, bahkan para generasi penerusnya.

Maka kita sebagai agent of change dan agent of control  sudah selayaknya jika bergerak lebih cepat. Dengan menghargai jasa para pendahulu, menggunakan kemudahan teknologi dengan baik, dan mempunyai intelektual yang tinggi untuk dapat bermanfaat bagi bangsanya kembali.


Ditulis oleh Fiqya, Perempuan yang memakai kacamata asal Nganjuk. Saat ini tengah menempuh proses menjadi Kru Magang LPM Edukasi 2019

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Mantap mantap uwuwuwu🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰

    BalasHapus