Kenangan Mengejutkan di Balik Jeruji Besi



"Aku tidak pernah bilang bahwa aku pasrah berpuas diri dengan kehidupan di balik jeruji. Lagi pula, Tuhan para beruang tidak mencipta kami untuk itu,  melainkan untuk menikmati kebebasan tak terbatas es arktik."

Aku dalam novel yang ditulis oleh Claudio Orrego Vicuna ini digambarkan oleh seekor beruang. Besar, kuat dan memiliki bulu yang amat tebal, Baltazar namanya. Ia ditangkap oleh para pemburu, dirumahkan di kebun binatang Cile. Sejak saat itu kebebasannya dirampas, kehidupannya terusik oleh ulah para penjaga.

Baltazar digambarkan sebagai beruang yang tak biasa. Ia memiliki pemikiran yang arif, selera humornya yang manusiawi, serta sudut pandangnya yang unik. Dari balik jeruji besi itu,  ia merenungi situasinya untuk melucuti masalah-masalah kemanusiaan. Seperti halnya kekuasaan, penghambaan dan kebebasan. Penulis memberikan ruang beruang untuk bisa berfikir, layaknya manusia.

Kelihaian penulis dalam menggambarkan perasaan Baltazar yang hidup di bawah tekanan, menerima sikap superioritas pengurung atas korbannya mulai terlihat. Penjaga masuk ke dalam kandang Baltazar. Beruang malang itu dipukul, dihadrik, dan dicaci maki. Sontak teriakan keras itu muncul dari diri Baltazar.

"......si penjaga memasuki kandangku dengan ember, sapu dan cambuk yang menggelantung dari ikat pinggangnya. Teriakan yang sama, pukulan yang sama, hadrikan yang sama, caci maki yang sama, sikap superioritas bawaan yang sama dari seorang pengurung atas korbannya."

Dalam dunia nyata, kejadian ini sering dilakukan oleh kelompok manusia yang memiliki relasi kuasa lebih tinggi. Selalu merendahkan manusia, yang memiliki kedudukan yang lebih rendah. Kurasa, ini tidak jauh dari kehidupan si penulis. Dimana Claudiao yang hidup pasca kudeta militer 1973 di Cile. Sebuah alegori politik tentang hidup dibawah tekanan kekuasaan.

Selain itu, penggambaran Baltazar yang merasakan kesepian sangat terlihat di enam halaman pada lembar yang sudah memasuki sub bab ketiga.

"Aku berubah selamanya, menjadi makhluk yang kesepian, dikutuk untuk hidup hanya dengan ditemani pikiran dan nostalgia"

Pikiran itu muncul karena usaha Baltazar untuk berteman dengan seorang manusia telah gagal. Penggambaran usahanya terlihat saat dia ingin meraih tangan seorang anak kecil yang sedang memandangi dirinya. Lalu didapati anak itu sangat terkejut, matanya melotot dengan penuh ketakutan. Lalu beberapa hari kemudian, Baltazar kebih memilih untuk mengurung diri, menjauh dari batas jeruji besi itu.

Hal lain yang dapat kita ambil hikmahnya, penulis ingin menyampaikan pesan moral bahwa manusia tidak hanya memiliki sifat kejam saja. Nyatanya, masih ada manusia yang memiliki kebaikan. Terlihat saat Baltazar sakit, penjaga baru yang menggantikan penjaga keji itu mengurus si beruang dengan sangat sabar. Ia juga bisa memiliki sahabat, pada orang-orang yang memiliki jiwa kebaikan.

Baltazar  secara sadar dirinya tak bisa keluar dari jeruji besi, ia tak akan pernah benar-benar bebas. Namun dengan segala pemikirannya yang arif, ia meyakini telah menaklukan dunia di sekelilingnya. Keyakinan yang begitu kuat, tertanam dalam dirinya. Dan keyakinan itulah satu-satunya yang tidak bisa diambil oleh makhluk lain.

Claudio dan Baltazar berhasil mengantarkan pembaca sampai pada titik rasa penasaran dan terkejut. Pada saat aku membaca lembar terakhir buku ini, terjadi penembakan pada beruang yang berada di taman Valle Central. Peristiwa penembakan ini dilakukan oleh penjaga kandangnya sendiri, bernama Lisandro Espinoza. Ia merasa dilecehkan, sebagai seorang manusia.

Beruang akhirnya mati, bersamaan membawa kemenangan dan kebebasannya.

Judul Buku : Kenang-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub
Penulis : Claudio Orrego Vicuna
Penerjemah : Ronny Agustinus
Penerbit : CV Marjin Kiri
Tahun terbit : November 2018
Keterangan fisik : x + 68 hlm,  12 x 19 cm
Resentator : Fatimatur Rohmah



Posting Komentar

0 Komentar