Tingkatkan Wawasan Pendidikan, 176 Mahasiswa PAI Bersilaturahmi ke Pesantren KHAS Cirebon

Doc. Penulis

Semarang, EdukasiOnline.com --Selasa (23/4/2019) Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) FITK UIN Walisongo mengadakan silaturrahim Kuliah Lapangan ke Pesantren Kyai Haji Aqiel Siroj (KHAS) Kempek Cirebon. Sejumlah 176 mahasiswa PAI semester empat mengikuti kegiatan ini.
Tidak hanya itu mahasiswa dari Pattani Thailand juga turut serta dalam rihlah yang diinisiasi jurusan PAI ini. Rombongan yang dipimpin ketua jurusan PAI, Drs. Mustopa, M.Ag. disambut hangat pengasuh dan keluarga besar pesantren KHAS.

Drs. Mustopa, M.Ag. menyampaikan tujuan silaturrohim ini adalah untuk mengembangkan wawasan dan pengetahuan mahasiswa tentang pelaksanaan pendidikan agama Islam di pesantren. Tidak bisa dipungkiri selama ini pesantren memiliki sumbangsih yang besar dalam penyebaran dan pendidikan Islam. Walaupun sudah ratusan tahun, pesantren tetap eksis dan mampu bertahan di tengah tantangan zaman dan kemajuan teknologi.

Pesantren KHAS menjadi tujuan silaturrohim dikarenakan pesantren ini tergolong pesantren tua  dan masih eksis yang tentunya memiliki peran penting dalam pendidikan Islam di Cirebon dan sekitarnya. “Keberadaan pesantren KHAS yang masih ada samapai sekarang menjadi bukti bahwa pesantren ini mampu menghadapi tantangan zaman dan memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat,” tambah Drs. Mustopa, M.Ag.

Pengasuh Pesantren KHAS, KH. Mushtofa Aqiel Siroj sangat berbahagia sekali mendapatkan kunjungan dari jurusan PAI UIN Walisongo Semarang. Kunjungan ini merupakan hal yang langka karena jarang sekali dunia perguruan tinggi menyambangi pesantren.

Dalam sambutannya  KH. Musthofa menyampaikan bahwa keberhasilan pesantren tidak terlepas dari adopsi model pendidikan Rasulallah dalam mendidik para sahabat.  “Rasulallah adalah pendidik  yang paling sukses, karena beliau telah mencetak generasi sahabat yang luar biasa,” tutur putra ketiga KH. Aqiel Siroj ini.

Model pendidikan yang digunakan Rasulallah adalah metode “Ma’iyyah” (kebersamaan). Maksudnya adalah para sahabat sering menyertai Rasul dalam segala kegiatannya. Dan sebaliknya Nabi tidak jarang berkumpul dan berinteraksi dengan para sahabat. Rumah nabi yang dekat dengan Masjid yang disaat bersamaan menjadi tempat tinggal sahabat ahli shuffah menjadi faktor pendukung metode keberhasilan metode ma’iyyah ini.

Melalui metode ini, para sahabat tidak sekedar belajar pengetahuan agama dari Rasul tetapi mereka juga meniru dan meneladani tutur kata, prilaku dan sikap Rasulallah. Sehingga pada saat bersamaan Rasullalah menjadi guru dan uswah bagi para sahabat. Dengan metode ma’iyyah ini, ketika sahabat melakukan kesalahan, maka dengan mudah Rasulallah mampu menegur dan menasehati sehingga sahabat tidak terjerumus lebih jauh ke dalam jurang kesalahan.

Metode inilah yang ditiru dan dikembangkan pesantren dalam melakukan pendidikan ilmu keislaman. Kyai selalu berada di tengah-tengah santri dan sebaliknya santri setiap saat bisa menyertai kyai. Metode ma’iyyah inilah yang mampu menciptakan hubungan tidak hanya dhahir namun juga hubungan batin (spiritual) antara kyai dan santri.
Hubungan batin ini (kyai-santri) justru lebih kuat dibanding dengan hubungan dosen-mahasiswa. Buktinya kalau ada khaul wafatnya kyai para alumni dan santri yang jumlahnya ribuan rela berdatangan untuk mendoakan berbeda jika khaul wafatnya dosen, tambahnya.

“Oleh karena itu sebagai calon guru agama, saat nanti menjadi guru doakanlah murid-muridmu untuk menjadi anak yang pandai dan shalih.”, pesan KH. Musthofa kepada Mahasiswa PAI UIN Walisongo Semarang.

Oleh : Kasan Bisri M. Pd.*

*Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang

Posting Komentar

0 Komentar