April 2018

Bulan April mengisahkan banyak cerita, terutama bagi perempuan. Kumpulan foto ini menceritakan usaha dan perjuangan perempuan di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo



Tim futsal putri dari Pekalongan sedang menggiring bola pada Minggu (8/4). 



Pertarungan dalam lapangan pun bisa tercipta, terbukti tim futsal putri dari Batang melawan Tegal. Mereka berusaha dengan keras saling memperebutkan bola. Minggu (8/4)



Salah satu karikatur karya dari Nafisah, Mahasiswi dari Fakultas Ilmu Tarbiyah Keguruan pada Senin (9/4). Karikatur tersebut sengaja di pamerkan dalam acara Literasi Media



Tari Saman yang di persembahkan oleh Mahasiswi jurusan Pendidikan Guru 
Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) pada Jum’at (20/4) dalam acara Ngaji Kebangsaan “Mengasah Jati diri Indonesia” 



Bunga dan boneka untuk memikul perekonomian keluarga. Terlihat kedua penjual tersebut sedang melayani pembeli. 


*Photo by : Fatimatur R. dan Zamrud Naura Orchida
Dok. Internet

Judul                                                     : Land of Mine
Tanggal rilis                                         : 7 April 2016 (Jerman)
Penulis naskah dan sutradara         : Martin Pieter Zandvliet
Bahasa                                                  : Inggris, Denmark, Jerman
Durasi                                                   : 1 jam 41 menit

Sesuatu yang klise jika film mengangkat kisah tentara atau lebih tepatnya heroisme. Adegan tembak-menembak akan berjalan sampai akhir. Tentu saja ending dapat dibayangkan, yakni sebuah kemenangan. Sebab itu tujuan film perang dibuat, menciptakan konsep pahlawan dan menunjukkan pada penonton siapa yang berkuasa. Lantas perkiraan saya mungkin ada benarnya, bahwa film peperangan minim amanat. Meskipun ada itu-pun hanya sekilas. Tak terkecuali film peperangan yang berangkat dari sejarah. Banyak ketimpangan dan seolah digenapi melalui satu frame saja.

Mungkin kita tak akan pernah lengkap menyusun frame sejarah. Ia adalah mozaik yang dibangun melalui beberapa perspektif. Perspektif yang disusun dari orang-orang yang menjadi saksi dan lain sebagainya. Tetapi tetap saja, selalu ada pengakuan mengejutkan dalam rentang waktu tertentu terhadap apa yang belum pernah dipandang. Bisa jadi bertentangan atau memperkuat. Itu lah kebenaran objektif.

Dalam setiap film perang, selama ini, kita selalu disuguhi bahwa korban adalah tentara blok barat. Sedangkan, pihak lainnya yakni tentara Nazi adalah simbol kejahatan dan kaum yang aniaya. Apalagi jika dikaitkan dengan tragedi pembunuhan warga Yahudi.

Perspektif itu yang harus digenapi dan disusun mendekati kebenaran. Serta mengatakan jika perang selalu menghasilkan korban di kedua belah pihak. Ini lah yang diangkat dalam film Land of Mine. Film ini seolah membunyikan kembali pepatah lama “menang jadi abu kalah jadi arang”. Film yang meletakkan tentara Nazi menjadi korban dari sebuah peperangan.

Garis Jalan

Latar belakang film Land of Mine mengambil saat perang dunia II yaitu pada tahun 1945. Tahun yang menurut sejarawan Jepang sebagai tahun keberuntungan untuk para negara jajahan. Mulai dari sekutu meluluhlantahkan Jepang yang berimbas pada kemerdekaan Indonesia. Hingga tahun yang juga membawa keberuntungan bagi Denmark, tempat dimana setting tempat dan alasan film dibuat.

Denmark lolos dari invasi Jerman. Hal ini ditunjukkan pada pembukaan film, penulis skenario menonjolkan betapa emosional tokoh utama. Ia memukuli para tentara Jerman yang membawa bendera Denmark saat meninggalkan daerah tersebut. Tokoh utama kita sebut saja sebagai Sersan Kepala (baca: serka) dengan bentakan ia menegaskan bahwa Denmark adalah negaranya.

Gambaran ini seperti tentara pada umumnya. Tentara yang menggambarkan kecintaan pada negara melalui simbol bendera. Kita juga mendapat gambaran bahwa tentara hidup di garis kedisiplinan, bahwa garis jalannya melalui perintah atasan. Alih-alih menjadi alat pertahanan, pada kenyataannya, mereka sering menjadi robot. Mereka sering terjebak pada kekeruhan perintah atasan yang tak jauh dari kepentingan politik praktis.

Hal berbeda ingin ditunjukkan di film ini. Film yang memberi porsi bahwa tentara harus menjadi manusia yang tak gampang disetir.

Kisah pun Dimulai

Kisah dimulai melalui misi pembersihan ranjau di sepanjang pantai tepi barat Denmark. Misi ini merupakan misi balas dendam Denmark atas Jerman. Naasnya, bukan tentara generasi tua, melainkan para anak muda Jerman yang menjalani wajib militer dan tejebak dalam masa kekalahan.

Kita akan melihat 12 prajurit Jerman muda yang tertawan bergulat pada tokoh sentral yakni Serka. Mereka harus menghadapi Serka yang keras. Selama tiga hari, mereka tak mendapat makan dan jatuh sakit, bahkan mereka harus membersihkan ranjau dengan tangan kosong. Sampai – sampai ada yang meledak akibat muntahan yang dikeluarkan terkena pemicu ranjau.

Kejadian itu mendorong salah satu prajurit Jerman berbicara pada Serka dengan aksen serius. “Mungkin boleh saja patuh, tapi bukankah kejadian ini seharusnya menyentuh hatimu?” ujarnya. Sementara korban terus berjatuhan. Kawan-kawannya meledak dan hanya diiming-imingi pulang ke Jerman setelah misi selesai.

Film ini menunjukkan pergulatan secara psikologis sang Serka. Ia harus mematuhi negara, membiarkan mereka kelaparan tanpa pernah menepati janjinya pada mereka. Di sisi lain si Serka menghadapi hati kecilnya. Di mana ia merasa gelisah pada setiap kematian yang terjadi dan harus melakukan misinya dengan benar.

Serka memilih sesuatu yang sulit. Ia memilih yang kedua. Memulangkan mereka secara diam-diam dan melawan perintah atasan. Ia menolak menjadi batu. Karena begitulah manusia seharusnya, terusik akan kemanusiaan yang dijajah.

*)Penulis adalah Abdul Aziz Afifi, kru LPM Edukasi tahun 2014
Dok. Edukasi


Semarang, EdukasiOnline–Taman Revolusi terlihat sedikit berbeda dengan beberapa easel sebagai tempat penyangga kanvas, yang kali ini digunakan untuk menyangga hasil fotografi. Komunitas Copy Lens yang menjadi motor penggerak acara tersebut nampak sibuk mempersiapkan pameran fotografi pada Rabu, (25/4) yang dimulai dari jam sepuluh sampai lima sore. 

Dari beberapa penyelenggaraan sebelumnya yang terkesan meluas dengan mengambil tema kebudayaan, maka kali ini komunitas Copy Lens mengambil tema “Activities In Traditional Mart” dimana terkesan lebih sempit cakupannya agar lebih fokus dalam pengambilan gambar yang akan dipamerkan “Sebab anggota kami hanya sedikit. Jika mengambil tema kebudayaan yang cakupannya lebih luas, objek gambar yang harus dipenuhi semakin banyak,” tanggapnya.

Menurut Najih, sebagai ketua panitia kegiatan, ini menjadi salah satu agenda sebagai syarat menjadi anggota tetap Copy lens. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan Copy Lens kepada seluruh mahaiswa Universitas Islam Negeri Walisongo . “Ini merupakan agenda pensyaratan menjadi anggota tetap setelah acara makrab,” tuturnya sambil sibuk menyiapkan acara.

Lebih lanjut, Najih menceritakan bahwa di setiap penyelenggaraan pameran fotografi dari hasil-hasil karya anggotanya tidak untuk diperjual belikan. Akan tetapi, hasil fotografi ini hanya menjadi koleksi dari komunitas Copy Lens. “Untuk hasil dari fotografi ini hanya akan digunakan untuk koleksi sendiri,” ujarnya.

Berhubung panitia mengemas pameran ini dengan begitu apik, maka antusiasme mahasiswa terbilang tinggi. Menurut Ulfa, seorang mahasiswa Saintek, ia jarang sekali menemukan acara semacam ini di kampus  “Acara ini sangat menarik dan lumayan suka karena jarang diadakan yang seperti ini.”

Disetiap sudut pameran, panitia berusaha mengajak para mahasiswa yang berkunjung untuk turut serta memeriahkan acara selanjutnya yang terbingkai dalam nuansa seminar. Tujuannya, agar para pecinta fotografi dapat belajar secara mendalam di ruang seminar tersebut. (Edu_On/Ris)



Dok. Google

Semarang, EdukasiOnline—Salah satu dampak Peraturan Presiden No. 20 Tahun 2018 tentang penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) adalah semakin mudahnya warga asing menjadi tenaga pengajar universitas alias dosen di Indonesia. Melansir Tribunnews.com, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) berencana mendatangkan sekitar 200 dosen asing, hal tersebut menimbulkan banyak respon dari civitas academica.

Menanggapi hal tersebut, Fatah Syukur selaku Guru Besar Manajemen Pendidikan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo memberikan sikap positif. “Dengan adanya dosen asing harapannya mampu memberikan atmofser baru dalam bidang akademik,” ujarnya saat ditemui di kantor, Senin (24/4).

Adapun tujuan dari didatangkannya dosen asing adalah untuk memperkuat dosen lokal dalam hal penelitiannya. Dengan demikian, diharapkan kualitas dosen lokal dan pendidikan tinggi Indonesia mampu bersaing dengan tingkat internasional.

Mengenai terancamnya keberadaan dosen lokal, Fatah mengatakan bahwa itu bukan suatu masalah. “Saya kira, 200 dosen asing dibandingkan dengan dosen di Indonesia yang mencapai 277 ribu itu tidak masalah,” tanggapnya. Keberadaan dosen asing tidak akan mengancam dosen lokal, justru mereka mampu menciptakan atmosfer tinggi dan saling bekerja sama dalam penelitian khususnya dalam bidang riset dan teknologi.

Terkait dengan anggaran yang akan diberikan pemerintah untuk membayar dosen asing, menurut Fatah hal tersebut adalah sebuah kewajaran. “Isu tentang gaji untuk dosen asing yang mencapai 52 juta adalah wajar, bahkan angka itu masih terhitung kecil jika dibandingkan dengan negara lain,” tandasnya. (Edu_On/Tim)

*Reporter : Iftahfia dan Tim



Dok. Zam
Pemilihan Kangmas Denok 2018 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo berlangsung meriah. Acara yang digelar pada Senin, (23/04) ini juga diadakan dalam rangka memperingati Hari Kartini.
Dalam puncak acara, yang berhasil dinobatkan sebagai Kangmas UIN Walisongo 2018 adalah Handhita Timur Adliima dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Sedangkan posisi runner up diraih Syarifudin Hidayat dari Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK), dan Fajrur Rahman Hamid Fakulltas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK).

Sedangkan Adetya Pramandira, mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), meraih gelar Denok UIN Walisongo 2018. Posisi runner up diduduki oleh Indah Feni Rejeki dari FISIP dan Thoyyibatun Khofifah dari FITK.

“Perasaan saya campur aduk, antara bahagia, tidak percaya, dan heran bisa meraih gelar denok,” tutur Dira, sapaan akrab Adetya Pramandira.

Ketika ditanyakan pesan yang ingin disampaikan terhadap perempuan saat ini, dia mengatakan, “Jadilah wanita yang cerdas intelektualnya, lembut hatinya, serta tajam pemikirannya. Menjadi wanita yang hebat, sekaligus menghebatkan.” kata mahasiswi angkatan 2017 itu.

Dia juga berpendapat bahwa sebenarnya, perjuangan wanita di era Kartini dengan era sekarang adalah sama saja, yang membedakan hanyalah bentuk dan semangat perjuangannya. Sudah selayaknya muda-mudi masa kini tidak hanya sebatas merayakan Hari Kartini dengan kata-kata maupun acara saja, akan tetapi juga turut melanjutkan perjuangan R.A. Kartini dengan meneladani karakter dan semangatnya.

Acara yang diselenggarakan oleh UKMU An-Niswa ini dilaksanakan di Auditorium II Kampus 3 UIN Walisongo. Ada beberapa sesi yang harus dilewati oleh kontestan Denok dan Kangmas untuk menjadi juara, yaitu sesi debat, pertanyaan dan unjuk bakat. Peserta harus bersaing secara ketat untuk menampilkan penampilan yang maksimal. Sesi debat dan pertanyaan dalam acara tersebut adalah seputar kesetaraan gender. Sedangkan unjuk bakat diperkenankan sesuai bakat masing-masing kontestan. (Edu_On/Nia)


Dok. Edukasi

Semarang, EdukasiOnline—Pada Selasa (24/4) beberapa mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Walisongo (UIN) Semarang sibuk menata buku-buku dan menggelar tikar di salah satu sudut Taman Revolusi, Kampus 2, UIN Walisongo Semarang.

Kegiatan ini digelar guna memperingati hari buku dunia yang jatuh pada tanggal 23 April 2018. “Kami tidak mengatasnamakan lembaga apa pun. Ini murni atas inisiatif beberapa teman mahasiswa,” ujar Fuad selaku salah satu penggagas digelarnya lapak membaca.

Namun, lokasi terlihat sepi. Hanya terlihat satu-dua mahasiswa yang datang dan membaca. “Mungkin karena kurangnya kepedulian sosial mahasiswa,” duganya. “Setidaknya sudah ada mahasiswa yang melihat dan ingat dengan hari buku.”

Ia juga mengatakan bahwa lapak membaca dibuat untuk mengingatkan mahasiswa akan pentingnya membaca. Ia berharap dengan digelarnya lapak ini dapat meningkatkan budaya literasi khusunya pada mahasiswa FITK UIN Walisongo Semarang. (Edu_On/AAP)
Doc : Edukasi



Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka

Apa yang diingat kembali dari perayaan Hari Kartini? Mungkin tidak ada, selain perayaan tentang busana, masakan, tata rias, kecantikan dan hal-hal lain yang ‘dianggap’ sangat identik dengan jati diri perempuan. Jati diri perempuan digambarkan hanya persoalan wajah dan busana saja. Tidak ada yang lain. Selain hal itu, kita seperti melupakan. Padahal, pada masa Kartini hidup, cita-cita yang diingkannya bukan hal tersebut. Tapi semakin hari perayaan Hari Kartini adalah soal wajah dan busana saja.

Bahkan ada yang merayakannya dengan mengadakan kontes kecantikan. Bukankah itu sama saja dengan melakukan tindakan eksploitatif terhadap perempuan? Perempuan secara tidak langsung ditelanjangi oleh mata. Meskipun tidak dalam keadaan telanjang. Perempuan hanya dipandang persoalan kecantikan tanpa memedulikan kehidupannya.

Parahnya di lembaga-lembaga pendidikan—wadah yang diidam-idamkan oleh Kartini-- perayaan Hari Kartini juga dirayakan dengan tetek bengek kecantikan, tradisi dan sesekali mengutip dengan surat-surat yang telah ditulisnya. Sama juga, memakai pakaian kebaya dan berdandan. Yang sejak jauh-jauh hari sebelumnya sudah diributkan dengan gincu merek apa yang akan digunakan, di manakah salon yang akan dijadikan sebagai penata rias dan hal-hal lain yang bisa mempercantik diri. Perayaan Kartini seolah-olah adalah tentang budaya konsumtif perempuan masa kini saja.

Sementara para gadis-gadis di sekolah sibuk menyiapkan hal tersebut. Ibu-ibu muda yang baru saja menikah dan terpaksa harus keluar dari sekolah, menekuri nasibnya. Di rumah harus masak dan mencuci pakaian suaminya. Dan cita-citany a terpaksa harus padam.

Padahal sejarah sudah menunjukkan, bagaimana Kartini dipadamkan cita-citanya. Kawinkanlah. Pada masa Kartini, Belandalah yang mendesak orang tuanya untuk segera menikahkan. Dan strategi Belanda ampuh memadamkan cita-cita perempuan itu.

Akan tetapi sekarang ini, Belanda berubah menjadi orang tua-orang tua kita. Yang  terlalu kolot terhadap tradisi. Bahwa perempuan harus menurut dengan orang tua. Bahwa perempuan harus menikah sejak usia dini. Bahwa tugas perempuan hanya mengurusi soal macak, manak, masak. Lalu untuk apa sekolah tinggi-tinggi. Kalau akhirnya juga tugasnya hanya soal itu-itu saja.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016, angka pernikahan perempuan usia dini di Indonesia masih tinggi. Penyebabnya adalah faktor budaya dan ekonomi. Faktor budaya disebabkan oleh adanya paksaan dari orang tua untuk segera menikah, karena tradisi dalam keluarga. Sedangkan ekonomi disebabkan oleh kemiskinan.

Sementara perempuan yang lain dihadapkan dengan masalah budaya dan ekonomi, perempuan yang lain disibukan dengan budaya konsumtif. Barangkali benar dengan apa yang dituliskan oleh Soe Hok Gie, perempuan akan tertinggal jauh dengan laki-laki kalau persoalan yang diurusi adalah hanya gincu saja.  

Lagi-lagi, kita harus kehilangan Kartini. Yang mati lagi, Karena dibunuh oleh kaumnya sendiri. Di pendidikan yang diidam-idamkan, Kartini dibunuh dengan budaya konsumtif dan gincu. Sedang di sosial masyarakat, Kartini dipadamkan melalui pernikahan perempuan anak usia dini.

Lalu di manakah sekarang cita-cita Kartini bisa hidup kembali? Cita-cita itu bisa hidup di hati perempuan yang berpikir lebih dari zamannya. Tidak hanya sibuk mengurusi gincu saja. Karena bagi Kartini, “dari semenjak dahulu kemajuan perempuan itu menjadi pasal yang amat penting dalam usaha memajukan bangsa. Kecerdasan pikiran penduduk pribumi tiada akan maju dengan pesatnya, bila perempuan itu ketinggalan dalam usaha itu. Perempuan jadi pembawa peradaban”.   

Oleh : Ahmad Amirudin


Doc. Edukasi



Semarang,EdukasiOnline-- Asumsi yang berkembang dalam masyarakat mengenai ilmu laduni selama ini adalah mereka mempercayai bahwa ilmu laduni ada pada diri seseorang yang berdarah biru dan dimiliki tanpa melalui proses. Komunitas pondok pesantren dan Islam santri, ilmu laduni cukup populer dan menjadi fenomena sosial di bidang pengetahuan Islam. Kehadirannya tidak saja membuat mereka terpesona, mereka meyakini dengan memiliki ilmu laduni seolah mereka menjadi figur yang serba bisa. 
Untuk meluruskan kembali asumsi tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (BEM FITK) mengadakan diskusi publik terkait bedah tesis “Konsep Pendidikan Islam Menurut Al-Ghozali”. Diskusi ini diisi  oleh Dr. Agus Sutiyono, M.Ag, M.Pd di Taman Revolusi Kampus II UIN Walisongo Semarang.

Ilmu Perlu Proses
Dalam kitab Ta'lim Muta’allim dijelaskan bahwa dalam menuntut ilmu dibutuhkan kesabaran dan juga waktu yang panjang. John Dewey pun memiliki teori bahwa pendidikan adalah sebuah proses tanpa akhir, "Education is a process without end". “Salah satu hadist nabi menyatakan bahwa  mencari ilmu dimulai dari ayunan sampai liang lahat, uthlubu al ilma minal maghdi ila al lahdi. Maka sebagai calon pendidik kita perlu waktu yang panjang untuk memaksimalkan ilmu kita.”, tutur Agus pada hari Kamis, (19/04).

Dosen tersebut juga mengingatkan kepada mahasiswa FITK bahwa sebagai calon pendidik, nantinya tanggung jawab pendidik bukan hanya melakukan “transfer of knowledge”, tetapi juga “transfer of value”, yaitu memberikan nilai-nilai karakter kepada peserta didiknya. “Pendidik harus paham bagaimana metode yang tepat untuk  menyampaikannya.”, tegas dosen itu.

Konsep-konsep pendidikan tersebut ternyata dalam realitanya tidak diterapkan hingga memunculkan istilah ilmu laduni (ilmu yang tanpa proses). Orang meyakini bahwa ilmu laduni adalah ilmu yang didapatkan tanpa harus melalui proses panjang di atas. “Kita harus meluruskan hal tersebut. Dalam kacamata Imam Al-Ghazali, ilmu ialah sebuah penggambaran tentang jiwa. Sehingga orang akan melakukan perbuatan baik secara reflek ,dikarenakan ilmu tersebut sudah mendarah daging”, katanya.

Proses Mencapai Ilmu Laduni              
Agus  Sutiyono juga menegaskan bahwa dalam perspektif Al-Ghozali, terbukanya jalan menuju kebahagiaan akhirat itu dengan melakukan mujahadah dan muraqabah. Muraqabah berarti mendekatkan diri dan yakin bahwa allah itu mengawasi kita. Maka, kita harus menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, sebab kita percaya bahwa Allah itu selalu mengawasi kita. mujahadah dan muraqabah menghantarkan kepada musyahadah (menyaksikan gerak gerik hati) sehingga mendatangkan ilmu-ilmu hati yang pelik-pelik dan tinggi. Inilah sesungguhnya kunci pintu ilham dan mata air yang memancarkan kasyaf (terbukanya ilmu pengetahuan).

Ilmu laduni itu bukan haknya orang yang berdarah biru saja, tetapi semua orang asalkan mampu melewati proses-proses seperti tazkiyatun nafs (menyucikan jiwa), belajar (menuntut ilmu), dan mau berusaha sungguh-sungguh. “Tentu saja dalam melalui proses tersebut tidak mudah, tidak semua orang mampu melaluinya.”, tutur Agus. Ilmu laduni dapat dipahami sebagai ilmu yang dapat diterima dengan mudah dan nyaman. Ada pancaran hikmah yang terselip dalam diri mereka, apabila tiga hal tersebut sudah dilalui. (Edu/On_Nia)



Doc. Edukasi


Bukan hanya sekedar sistem yang ditawarkan, namun kelayakan dalam pelayanan harus terbayarkan. Semua lini harus bekerja sama, demi mewujudkan kampus kemanusiaan dan peradaban

Keamanan menjadi nilai tawar penting yang harus didapatkan mahasiswa,  utamanya di kampus. Apalagi dengan kisaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang sudah dibayarkan, tak layak jika pelayanan kepada mahasiswa diabaikan.

Namun berbagai masalahmulai bermunculan.Berawal dari sebuah kasus kecil, terjadi pencurian helm.Hal tersebut dianggap hal yang biasa, cuman helm saja kok.Toh nanti juga bisa beli lagi, walaupun bekas.Namun lucunya kasus kehilangan helm ini semakin marak, ditambah lagi muncul kasus pencurian sepeda motor.

Terbukti kasus pencurian helm yang terjadi pada bulan Desember tahun 2016, namun satpam berhasil menangkap pelakunya.Pelakunya mengaku masih menyandang status mahasiswa. Tak berhenti sampai pada kasus tersebut, dalam berita lpmidea.com pada bulan Agustus 2017, telah terjadi pencurian sepeda motor dalam sehari dengan memakan dua korban sekaligus. Dua motor yakni Honda Vario merah dengan nomor H 6388 dan Jupiter Z warna hitam dengan nomor H 5015 RM. Namun sayangnya pelaku tak mampu ditemukan dan kejadian tersebut memakan kerugian puluhan juta. 

Kasus pencurian sepeda motor dari tahun 2016 sampai 2018 di UIN Walisongo  ini menjadikan perhatian khusus, utamanya pihak birokrasi kampus. Sebenarnya kampus sudah memasang cctvdi tempat- tempat tertentu. Namun sayangnya ia tidak menjamin keamanan yang ada di kampus.Selain itu mahasiswa mampu mengeluhkan kepada birokrasi, karena dirasa area parkir yang kurang.Lahan parkir memang sudah disediakan.Namun memang beberapa parkir ada yang terlihat kosong, dan mahasiswa lebih memilih memarkirkan kendaraannya di sembarang tempat.Kesalahan tak sepenuhnya di pihak kampus, karena tak sedikit dari mahasiswa yang mempunyai kesadaran untuk parkir kendaraan sesuai pada tempatnya.Ujung- ujungnya pun kampus rentan mengalami curanmor.

Upaya Sistem Keamanan Kampus

Sistem keamanan yang jelas belum terjamin, akhirnya tim keamanan pun mulai mengusut tindakan. Beberapa kamera cctv sudah dipasang dibeberapa tempat, namun hal tersebut ternyata tak membuat jera pelaku curanmor. Berbagai sistem diberlakukan untuk memperketat keamanan kampus.
Pertama, sistem pengecekan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK)  setiap pemilik kendaraan bermotor. Sistem ini sempat mengejutkan beberapa pihak, utamanya mahasiswa.Setelah memasuki gerbang kampus, terlihat tulisan yang menyatakan bahwa setiap mahasiswa yang masuk dengan kendaraan harus dilengkapi surat-surat penting, seperti halnya STNK ataupun SIM. Kemudian saat mereka keluar dari kampus, satpam pun mengecek satu per satu. Awalnya memang berjalan dengan lancar, namun ada beberapa masalah disana. Sistem ini membuat antrian yang begitu lama, padahal setiap warga kampus ( mahasiswa, dosen dan pegawai ) mempunyai kesibukan yang berbeda- beda. Selain itu personil dari satuan keamanan kampus (satpam)mengalamikekurangan.Sehingga sistem ini memang dirasa kurang efektif.

Memang benar sistem itu berjalan, namun hanya bisa bertahan selama kurang lebih satu bulan kurang.Akhirnya kampus mulai menetapkan kebijakan sistem pembagian kartu parkir, tepatnya Rabu, 13 September 2017.Sistem yang kedua ini mendapatkan dukungan penuh dari pihak birokrasi. Berdasarkan data yang didapatkan dari lpminvest.com , sejumlah kartu telah dibagikan di tiga kampus. Kampus satu mendapatkan 350 kartu, kemudian kampus dua mendapatkan 550 kartu dan penghuni wilayah paling banyak yakni kampus 3 dengan mendapatkan kartu 1250 kartu. Ada dua jenis warna yaitu merah jambu dan putih, selain itu diberi laminating. Sama dengan sistem pertama, setiap kendaraan yang masuk ia akan mendapatkan kartu tersebut, yang nantinya akan menjadi karcis pintu keluar. Resikonya jika kartu itu hilang, warga kampus harus mampu menunjukan surat- surat penting kendaraan.

Menilik kebijakan kampus lain, Universitas Diponegoro (UNDIP) pun menerapkan kebijakan yang sama dengan menerapkan sistem pembagian kartu parkirnamun berbayar. Walaupun belum semua fakultas menerapkan sistem yang sama.

Sistem ketiga  berjalan dengan harapan, cara ini  menjadi cara terakhir untuk menjaga keamanan di kampus. Namun harapan tak semulus dengan kenyataan, lagi-lagi segala tindakan kecurangan pun tetap terjadi.Dari segi kuantitas satpam yang mengalami kekurangan, sistem kedua ini memberikan peluang bagi mahasiswa untuk melakukan tindakan penuh kecerdikan.Mahasiswa mampu mendapatkan kartu lebih dari satu, karena ada suatu masa tidak dilakukan pengecekan saat keluar dari gerbang.Hal tersebut memang diakui oleh pihak keamanan yang masih kekurangan personil.Selain itu tingkat keistiqomahan satpam untuk terus berjaga juga berpengaruh.Pada akhirnya sistem ini perlu dipertanyakan kembali.Sistem kedua pun ikut-ikutan bobrok karena terjadi kelemahan disana.Pada akhirnya vacum sampai muncul adanya wacana penggunaan portal otomatis atau barrier gate tahun 2018.

Wacana tersebut nyata adanya, pada hari Senin, 12 Maret 2018 secara resmi telah dilakukan uji palang pintu otomatis atau barrier gate di kampus satu.Pembangunan palang ini sudah dilakukan semenjak liburan semester genap. Barrier gate merupakan mesin untuk acces control kendaraan baik itu motor maupun mobil. Mesin ini mampu difungsikan dengan cara menekan tombol hijau untuk membuka palang dan menekan tombol merah untuk menutup palang. Namun barrier gate ini mampu diakses menggunakan kartu Radio Frequency Identification (RFID) baik itu mifare, proxy ataupun Ultra High Frequency (UHF).

Dalam sistem tersebut banyak perangkat tambahan yang diperlukan, mulai dari box manless sebagai pengganti operator.Dia bertugas mencetak tiket parkir bagi pengendara yang mau memarkirkan kendaraan di area parkir tersebut. Kemudian ada fitur cctv yang berfungsi mengcapture plat no kendaraan saat pengemudi menekan tombol hijau pada box manless. Palang akan terbuka secara otomatis dan menutup otomatis sesaat pengendara melewati palang karena dibawah palang terdapat Variable Length Array (vld). Selanjutnya di pintu keluar pengendara menyerahkan tiket parkir ke petugas parkir kemudian di scan. Jika data yang masuk dan keluar cocok, maka akan muncul biaya yang harus dibayar dan setelah transaksi selesai portal akan terbuka secara otomatis.

Akan tetapi kebijakan sistem yang ketiga ini tak hentinya memunculkan keluhan, walaupun baru dilakukan uji coba sampai tanggal 19 Maret 2018 di kampus satu, dan akan berlaku akhir maret atau awal april di kampus dua dan tiga. Dalam kebijakan tersebut dinyatakan bahwa kendaraan beroda empat harus membayar tiga ribu rupiah dan kendaraan beroda dua membayar seribu rupiah.Namun tarif tersebut akan diberlakukan untuk masyarakat umum saja, sedangkan untuk mahasiswa, dosen dan pegawai akan disediakan kartu yang digunakan secara gratis.

Namun nampaknya sistem barrier gate belum terealisasi sampai sekarang.Terbukti sudah hampir memasuki minggu kedua bulan April 2018 kini, belum telihat perihal realisasi sistem tersebut di kampus dua dan tiga.Justru mulai diberlakukan lagi sistem yang pertama yakni pengecekan surat penting kendaraan bermotor. Terjadi arus perputaran dalam sistem ini, dan harapannya semoga tidak terjadi kesalahan yang sama. 

Membangun Kesadaran Bersama

Birokrasi kampus memang mempunyai upaya lebih untuk meningkatkan keamanan di kampus.Kebijakan  terakhir pun mau tidak mau harus diterima oleh warga kampus. Namun tidak mengelak kampus  mempunyaikewajiban untuk memberikan pelayanan terbaik, karena mahasiswa mempunyai kewajiban untuk membayar UKT, tentunya hak yang harus diperoleh pun harus imbang  . Yang salah adalah jika sistem tersebut di campur adukkan dengan niat ajang komersil.Sehingga mampu menambah penghasilan rumah tangga, apalagi jika kartu parkir barrier gate dikenakan tarif untuk mahasiswa, dosen dan pegawai. Tentunya akan menjadi hal yang dikeluhan sekali oleh mahasiswa.

Kasus kehilangan dan pencurian memang tak bisa dihindarkan.Kesadaran baik warga kampus harus mulai terbangun.Dimulai dari hal terkecil masalah peletakan helm sampai parkir motor.Satpam pun juga harus siaga untuk menjaga keamanan.Tentunya semuanya itu di dukung dengan sistem keamanan yang sudah ditawarkan dari kampus, pihak satpam bertugas secara konsisten dan semoga saja harapannya birokrasi mampu memberikan pelayanan terbaik untuk warga kampus.Bukan hanya sekedar sistem yang ditawarkan, namun kelayakan dalam pelayanan pun harus terbayarkan.Semua lini harus bekerja sama, demi mewujudkan kampus kemanusiaan dan peradaban.

Oleh : Fatimatur Rohmah







Malam di Kotamu

-bagian satu-

23:00
Di kotamu, malam adalah batang-batang waktu
Yang melepuh dipapar makian seharian
Dalam eros, dalam kutuk relasional
Sebagaimana Psikhe telah sangat tersiksa

22:30
Di kotamu, malam adalah puisi yang panjang
Dari kedalaman lorong-lorong gang sempit
Kata-kata begitu saja terdampar di rumah-rumah kayu
Menjemput kebahagiaan sebagai satu-satunya tiruan bulan di panci yang matang

21:00
Di kotamu, malam adalah mesin fotokopi
Gema suaranya menjebol pintu-pintu
Yang dihuni tubuh cengkar berdada rata dengan mata cekung dan luka lebam di mana-mana

20:30
Di kotamu, malam ini
Kau kalang kabut mengatur jeda dan tanda koma
Sedang kita cuma butuh titik


-bagian dua-

Kau menunggu terlalu lama
Terlalu asik
Terlalu menggugu
Sampai-sampai tidak sadar
Senja dalam kedua bola matamu sudah ditendang tandusnya malam di Semarang


Ardyon Steville, 2018

*) Sumber ilustrasi: lukisan Van Gogh di Google Images


Buku ini bercerita kisah nyata kehidupan Merry Riana, perjuangan hidup yang tidak mudah dan penuh tantangan mampu dihadapi dan pantang untuk menyerah. Perjalanan hidup yang sangat menginspirasi bagi pembacanya untuk terus meraih kesuksesan. Merry Riana memiliki mimpi besar dalam hidupnya yaitu “sukses”, bahkan dia mentarget sukses di usia muda sebelum umur 30. Namun berkat kegigihan serta kerja kerasnya dalam mewujudkan mimpi dengan mengambil peluang yang sangat baik, pada usia 26 tahun Merry Riana sudah menjadi wanita sukses dengan penghasilan 1 juta dollar.



Hidup adalah sesuatu yang bergerak. Kekuatan manusia bukanlah sesuatu yang statis. Tuhan menganugerahkan segala fitur pembangkit keberhasilan di dalam tubuh dan pikiran kita. Aku bersyukur karena itu sejak muda untuk meraih sukses” petikan kalimat Merry Riana itu menjadi prolog buku karya Albherthine Endah.

Merry Riana terlahir dari keluarga sederhana, ayah Merry yang seorang pebisnis dan ibunya yang hanya sebagai ibu rumah tangga. Perjalanan hidup Merry di Singapura terjadi ketika ada kerusuhan di Jakarta, Merry yang baru lulus dari SMA dan bercita-cita ingin kuliah di Universitas Trisakti harus diurungkan. Kemudian ayah Merry membulatkan tekad untuk mengirim Merry kuliah ke Singapura di Nanyang Technological University (NTU). Alasan mengapa Marry dikirim ke Singapura, karena dirasa Singapura aman dan  pendidikan yang bagus. Dengan berat hati Merry mengiyakan perkataan ayah nya untuk meneruskan pendidikanya di UNY. Bukan suatu hal yang mudah harus meninggalkan keluarganya ketika di Indonesia sendiri sedang ada kericuhan. Belum juga beban mental yang akah dihadapi dengan keterbatasan ekonomi, karena pada saat itu krisis moneter dan kerusuhan membuat perekonomian keluarganya juga hancur. Ketekadan  kuat ayah Merry, dengan biaya utang salah satu dari Bank Singapura yang memang waktu itu menyediakan peminjaman bagi mahasiswa.

Keprihatinan hidup di Singapura menjadikan marry berusaha keras untuk bangkit dan terbebas dari keadaan finanisal, namun menurutku Merry terlalu ambisi terhadap harta tapi dibalik itu ada motivasi yang luar biasa yaitu tentang kedisiplinan. Bahwa dengan disiplin dengan perlahan akan mencapai target yang sudah direncanakan. Disiplin tidak membuat orang sukses tapi orang sukses selalu menerapkan hidup disiplin.

Perjalanan untuk meraih sukses, dia bertemu dengan Alva orang Indonesia yang juga menempuh pendidikan dikampus yang sama. Berawal dari sebuah kegiatan Kampus yang menyelenggarakan kegiatan tentang keagamaan, dia merasa butuh kedamaian dari agama karena menurutnya tidak ada yang lebih tepat dari pencarian ketentraman kecuali hanya dengan pendalaman Agama.

Pertemuanya dengan Alva, telah membuktikan bahwa dalam diri manusia membutuhkan partner atau rekan yang bisa diajak untuk berdiskusi serta menyemangati. Banyak orang merancang sukses sendiri, karena memang sudah mempunyai jurus sukses yang telah dikuasai. Tapi kehadiran partner memberikan suntikan energi yang lebih dahsyat lagi. Alva yang selalu menyaksikan langkah Merry dan menyuntikkan semangat ketika keputusasaan mulai muncul. Bahkan pada saat menajdi sales keuangan Alva menanamkan kedisiplinan pada Merry yaitu sehari harus 20 presentasi kepada calon nasabah. Dan benar saja berkat kedidisiplinan yang dia tanam menjadi sukses finansial pada usia 26 tahun. Berkat kegigihan dalam menjalankan bisnis dalam 6 bulan Merry mampu melunasi hutang biaya pendidikan dan menjadi manajer muda, kemudian menjadi President Star Club.
Sekarang Merry menjadi pebisnis sukses muda dalam Merry Riana Organization “MRO” dan menjadi motivator luar negeri dan dalam negeri. Hal yang selalu diucpakan Merry dalam seminanya bahwa untuk sukses harus berani bermimpi besar.

Buku ini baik dibaca oleh kalangan mahsiswa, masyarakat dan orang-orang yang ingin terjun ke dalam bisnis. Motivasi dalam buku ini yang luar biasa, kata-kata motivasi yang mampu menginspirasi dan memotivasi para pembacanya untuk terus berjuang mempertahankan hidup walau dalam keadaan serba keterbatasan. Pengarang disini juga menggunakan tokoh "aku" sebagai cerita ini malah memudahkan pembaca karena yang dibaca itu seolah-olah dirinya si pembaca. Bahasa yang begitu puitis, menarik tapi penggunaan penulisan puitis ini menimbulkan kesulitan penggambaran latar cerita yang detail. Juga dalam buku ini ada suguhan beberapa tema yang hamper sama, membuat pembaca mudah bosan. Berikut ini adalah identitas buku:



Judul                           : Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar


Pengarang                   : Albhertiene Endah

Jumlah Halaman         : 362 halaman

Tahun terbit                 : 2011

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama

ISBN                           : 9789792274813



*) Penulis adalah Diah Novi Karisma, kru LPM Edukasi tahun 2017


*) Sumber gambar: Google Images



Suatu hari, Budi pergi ke kantin salah satu kampus negeri di kota Semarang. Kantinnya tidak cukup besar, hanya berukuran 5x7 meter saja tidak termasuk dapur. Ia langsung menghadap Ibu kantin untuk memesan makan dan minum. Setelah mendapat pesanannya, alangkah terkejut ia mendapati meja kantin penuh dengan piring dan gelas kotor.

Sebetulnya, ia biasa – biasa saja dengan pemandangan piring dan gelas kotor di meja rumah makan atau kantin, mengingat kewajiban Ibu kantin dan anak buahnya tidak hanya membersihkan meja. Yang membuat Budi terkejut yaitu sisa makanan yang tidak biasa: dua piring nasi bersisa setengah penuh lengkap dengan lauk, tiga gelas es teh tersisa setengah, satu gelas penuh es kopi, dan satu piring bersih tanpa sisa makanan dengan setengah gelas kopi disampingnya. Semua itu sudah ditinggal pembeli (mahasiswa, red) saat Budi sampai di meja.

Lantas, tangan Budi yang cekatan segera menyingkirkan piring – piring itu ke sisi meja yang lain. Sebetulnya, ia tidak ingin makan dengan keadaan semacam ini. Kegiatan makannya pun terganggu dengan pertanyaan – pertanyaan yang timbul seketika.

Faktor Manusia Penyebab Utama

Ada beberapa penjelasan – penjelasan yang masuk akal, meskipun beberapa tidak memiliki data dan fakta yang akurat alias berdasar pada pengalaman semata. Yang pertama ialah sebab mengapa orang, tidak hanya mahasiswa,  meninggalkan sisa makanan di piring dikarenakan ia sudah kenyang di tengah jalan.

Sebenarnya, banyak hal yang menyebabkan munculnya sisa – sisa makanan ini. Salah satunya adalah orang yang meninggalkan makanannya setelah mengetahui rasanya yang ‘tidak enak’. Perilaku semacam ini tidaklah baik. Seorang yang berakal, jika dari awal memang tidak berniat makan, pastilah ia memilih untuk tidak makan. Mengapa? Tentu karena resiko besar yang akan ia lakukan: menyisakan makanan.

Ada juga satu data menarik. Menyisakan makanan rupanya sudah menjadi budaya. Menurut Sitta Manurung, seorang praktisi kuliner yang berkutat pada bidang sosiologi makanan menyatakan bahwa beberapa suku di Indonesia menganggap bahwa tindakan membersihkan piring hingga menjilatinya merupakan perilaku tidak sopan dan rakus.

Selain itu, orang – orang ini sepertinya tidak memiliki kesadaran beragama yang baik. Perbuatan menyia – nyiakan rahmat merupakan suatu dosa di agama manapun. Di dalam ajaran islam, diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah membenci kalian dikarenakan 3 hal: kata – katanya (berita dusta), menyia – nyiakan harta dan banyak meminta,”.

Dampak Buruk Untuk Lingkungan

Makanan – makanan sisa tersebut akan menumpuk, semakin lama semakin banyak. Lalu, lambat laun akan menghasilkan gas metana. Gas ini 23 kali lebih kuat daripada gas CO2, menjadi salah satu yang menyebabkan efek rumah kaca. Efek rumah kaca ini yang menyebabkan lapisan ozon berlubang – lubang. Efeknya sungguh fatal. Sinar matahari menyinari bumi tanpa adanya filter sehingga sinar UV langsung mengenai tumbuh – tumbuhan dan manusia, tentu saja menyebabkan kerusakan meskipun tidak langsung terlihat.

Ada beberapa fakta menarik. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menemukan, setidaknya ada 1,3 miliar ton makanan yang terbuang dalam satu tahun. World Research Institute menambahkan, dibalik angka tersebut terdapat 45 triliun galon air yang juga terbuang. Seolah – olah mereka—atau kita yang melakukan tidak ingat dengan orang – orang di Afrika dan daerah – daerah konflik yang lain seperti di Timur Tengah. Jangankan makan, mereka saja jarang lihat makanan.
Tentu saja membuang – buang makanan juga berarti telah menyia – nyiakan lahan, air dan keanekaragaman hayati. Ada sekitar 1,4 miliar hektar lahan yang hasilnya terbuang sia – sia pada tahun 2007. Potensi pertanian dan peternakan yang besar dan berusaha dimanfaatkan oleh para petani diseluruh dunia menjadi sia – sia.

Budi juga merasa kasihan dengan Ibu kantin dan para anak buahnya. Sebelum mencuci piring dan gelas kotor, mereka harus membuang sisa – sisa makanan ke tempat sampah. Mungkin yang satu ini tidak begitu mengganggu. Bagaimana saat akan dibuang ke tempat pembuangan atau saat akan diangkat ke kontainer sampah? Jika yang mengangkut langsung adalah petugas sampah, itu wajar. Jika tidak, Ibu kantin dan anak buahnya harus menahan bau busuk dan mungkin juga menyingkirkan ulat – ulat yang bisa jadi sudah menelusup di balik pakaian mereka.


Dari fakta diatas, limbah makanan tersebut menjadi salah satu kontributor perusakan lingkungan. Tentu, para pembeli (termasuk kita) harus segera sadar akan tindakan yang merusak lingkungan. Seketika itu juga, Budi merenung dihadapan piringnya. Ia bingung, harus ia apakan sepotong lengkuas dihadapannya.


*)Penulis adalah Achmad Agung Prayoga, kru LPM Edukasi tahun 2017

*)Sumber ilustrasi: Google Images


Sajak Gelisahku:
Arteria Dahlan, Seruanmu Itu Berkata Bangsat
: Ubaidillah Achmad

Hai, Arteria, kau itu siapa, berkata bangsat, kursimu yang kau hiasi kata bangsat, bahkan kau tidak mengira apa itu arti kata bangsat! Partaimu PDIP tidak mengira, kau itu berkehendak apa kok berkata bangsat. Kau kotori rakyat yang memilihmu dengan suaramu suara bangsat. Kau serukan di tengah Rapat Komisi III DPR RI bersama Jaksa Agung, Rabu, 28/03/2018, dengan kumandang bangsat. Suaramu ada kata bangsat menandai ruang komisi III DPR RI, adalah peristiwa gemuruh bangsat hingga terdengar telinga rakyat negeri ini,

Siapa yang menjadi korban kotoran mulut suara bangsat? Wajahmu yang bermulut suara bangsat? Sidang komisi yang agung yang mengundangmu untuk bersuara bangsat? Ingat, suara bangsat itu dari lisanmu, yang terdengar suara bangsat! Lisanmu itu, telah menyematkan kata bangsat sebagai wujud energi negatif yang keluar dari dirimu.

Hai, Arteria, haruskah seorang politikus itu biar berwibawa harus bersuara bangsat? Haruskah untuk bisa mengatakan bangsat musti harus menjadi DPR RI? haruskah untuk bersuara bangsat itu, harus menginap di perumahan Rakyat yang dibangun megah untuk kata penting yang engkau serukan dengan seru kata bangsat?

Hai, Arteria, tidakkah engkau melihat rakyatmu, yang membanting tulang dan memeras keringat, namun kau kotori dengan suara bangsat. Partaimu yang menjadi harapan rakyat, kau kotori dengan harapan dan kehendak bersuara bangsat. Bahkan, bangsa kita, Indonesia, kau perdengarkan dengan contoh pendidikan untuk berkata kotor: katamu itu berkata bangsat atau bangsat itu berkata katamu!!

Hai, Arteria, ingatlah, negeri kita, Indonesia telah diperjuangkan oleh para pahlawan yang gugur di medan perang untuk mempertahankan karakter bangsa, etika bangsa, nilai luhur bangsa dan adat serta tradisi yang mulia, namun apa katamu, yang kini mewakili hati rakyat, ternyata kau isi dengan kata kata, yang bukan kata kata seorang bangsawan dan negarawan atau yang bukan didikan dari suara suci ibu pertiwi.

Jika katamu berkata bangsat, kau suarakan sendiri di tengah sepi dan kesunyian, tentu tidak berarti bagi bangsa ini, namun karena kau katakan pada sidang suci, di tengah kau harus berkata baik, berkata jujur, dan berkata untuk rakyatmu. Ternyata, sebaliknya, hanya satau kata katamu berkata bangsat, telah menghapus ketulusan rakyat yang baik hati dan mulia.

Hai, Arteria, katamu berkata kata bangsat atau bangsat itu kata katamu berkata? Ingat kata bangsat itu bukan kata kata yang luhur dan mulia, tidak sikap, perilaku dan kata kata seorang anggota DPR RI. Katamu itu berkata bangsat, adalah tidak teladan bagi rakyat.

Hai, Arteria, Katamu itu menodai Majelis Kehormatan DPR RI, karena kau bagian dari keanggotaan DPR RI. Badan legislatif itu mulia bagi rakyat, namun menjadi ruang mengecewakan berdasar kata katamu dari kata bangsat.

Rakyat Sudah Tidak Peduli

Hai, Arteria, kini rakyat tidak peduli, apakah kau akan minta maaf atau tidak, minta maaf dengan mengaku salah atau tidak, mengaku salah tanpa minta maaf atau tidak, adalah sudah tidak menjadi adegan yang ditunggu tunggu, karena apa arti kata bangsat sudah dilupakan rakyat dan masyarakat. Katamu dengan kata bangsat itu sudah tidak bernilai bagi rakyat, meski ibarat kata berkata bangsat bernilai bagimu, tetap saja rakyat lebih memilih seseka air dan sesuap nasi untuk anak anak mereka yang sehari belum makan atau makan dengan penuh keterbatasan.

Hai, Arteria, kini rakyat sudah tidak peduli, apakah kamu malu atau tidak dengan kata katamu berkata bangsat? rakyat tidak peduli, apakah kamu malu atau tidak punya malu dihadapan anak, istri, orang tua, tetangga, masyarakat dan partaimu? rakyat sudah tidak peduli, apakah kamu itu akan memasang fotomu dengan katamu yang berkata bangsat menjadi berubah, "jangan berkata kata bangsat". Apa sajalah yang akan kau perbuat, kau punya hak membiarkan katamu berkata bangsat atau mencabut katamu berkata bangsat.

Hai, Arteria, rakyat juga sudah tidak mau tahu, apakah ada penyesalan hingga sedih menggoncang akibat kata katamu berkata bangsat, atau kau berjalan dan berhias senyum yang pernah berkata bangsat. Rakyat juga sudah tidak akan memperdulikan perkembangan kedewasaan dan upaya kamu belajar dari pengalaman berkata kata bangsat.

Hai, Arteria, ingatlah, kata katamu bangsat akan menetaskan buah, karena seringkali kita dengarkan,"siapa yang menanam biji akan memetik buahnya". Jika biji itu baik, maka buahnya akan baik. Jika biji itu jelek, maka buahnya akan jelek. Pintaku, anak negerimu, tanamlah biji bijian yang baik di negeri ini, jangan engkau tanami tanah negeri ini, dengan biji dari kata katamu berkata bangsat.


Ubaidillah Achmad, Penulis Buku Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek, tinggal di desa Njumput-Sidorejo Pamotan Rembang

Sumber ilustrasi: dokumen LPM Edukasi