Semarang, lpmedukasi.com — Banyak mahasiswa mengaku kesulitan lulus tes WEPT (Walisongo English Proficiency Test) dan IMKA (Ikhtibar Miyar Kafaah Al-Arabiyyah). Berbagai isu pun beredar luas di kalangan mereka, mulai dari anggapan bahwa lulus tes mengharuskan peserta mengikuti kursus, tes hanya bisa lulus setelah tiga kali percobaan, hingga biaya tes yang disebut-sebut mencapai ratusan ribu rupiah. Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) pun angkat bicara dan membantah seluruh klaim tersebut.
Terkait isu kursus wajib, Kepala PPB David
Rizal menegaskan bahwa kebijakan semacam itu tidak pernah ada. Kursus yang
diselenggarakan PPB sepenuhnya bersifat sukarela dan diperuntukkan bagi
mahasiswa yang ingin mempersiapkan diri secara lebih serius, sekaligus sebagai
bekal untuk bersaing di dunia kerja.
"Tanpa mengikuti kursus pun banyak yang
lulus tes. Memang tidak pernah ada kebijakan wajib kursus, baik dari pimpinan
maupun dari kepala PPB," ujar David Rizal.
Ia menambahkan, bagi mahasiswa yang memilih
mengikuti kursus, kelulusan dapat diraih dengan memenuhi dua syarat, yakni
kehadiran minimal 75 persen dan menjawab soal dengan benar minimal 75 persen.
Isu lain yang tak kalah ramai
diperbincangkan adalah anggapan bahwa mahasiswa yang telah mengikuti tes
sebanyak tiga kali akan otomatis dinyatakan lulus. PPB menegaskan bahwa klaim
tersebut sama sekali tidak benar. Kelulusan tes hanya ditentukan oleh
pencapaian skor minimum yang telah ditetapkan, bukan oleh frekuensi
keikutsertaan dalam tes.
Nabila, salah satu mahasiswi yang baru lulus
pada percobaan ketiga, membenarkan hal tersebut. Ia mengaku sering mendengar
pernyataan "tiga kali tes pasti lulus" dari sesama mahasiswa, bahkan
dari kakak tingkat, hingga informasi itu seolah sudah menjadi hal yang lumrah.
Padahal, PPB tidak pernah mengeluarkan pernyataan demikian. Bahkan, seorang
teman Nabila baru berhasil lulus pada percobaan keempat.
"Pernyataan 'tiga kali tes pasti lulus'
itu tidak benar, hanya informasi yang beredar dari mulut ke mulut
antarmahasiswa. PPB tidak pernah membenarkan hal itu. Teman saya saja baru
lulus di tes yang keempat," ucapnya.
Soal biaya, beredar informasi yang
menyebutkan bahwa biaya tes WEPT dan IMKA mencapai Rp275.000. PPB meluruskan
bahwa biaya resmi tes hanya sebesar Rp75.000 per sesi. Kendati demikian, Nabila
berpendapat biaya tersebut masih cukup memberatkan bagi sebagian mahasiswa,
mengingat setiap mahasiswa memiliki latar belakang ekonomi yang berbeda-beda.
"Bagi sebagian mahasiswa, Rp75.000 per
sesi tes itu tergolong mahal. Mungkin bisa dipertimbangkan untuk diturunkan
lagi, karena kondisi ekonomi setiap mahasiswa berbeda-beda—ada yang langsung
mampu membayar, ada pula yang tidak," ucap Nabila.
Selain berbagai isu yang beredar, sejumlah
mahasiswa juga mengeluhkan kendala teknis saat pelaksanaan tes, terutama pada
sesi listening. Suci, salah satu peserta tes yang belum berhasil
lulus, mengaku kesulitan menjawab soal karena kualitas audio yang kurang jelas.
"Kesulitan saya saat mengikuti tes
adalah kurang jelasnya audio pada sesi listening. Suara terdengar
tidak jernih dan seperti tenggelam, sehingga saya merasa bingung dan kesulitan
menjawab soal," ucap Suci.
Keluhan serupa disampaikan oleh Putri, yang
juga merasa terganggu dengan audio yang hanya diputar satu kali. Ia berharap ke
depannya sesi listening dapat diputar minimal dua kali, dan mahasiswa
diberikan gambaran atau simulasi soal sebelum hari pelaksanaan tes.
Di sisi lain, beberapa mahasiswa yang telah
berhasil lulus berbagi kiat untuk membantu rekan-rekannya. Rahmat, menyarankan agar calon peserta memahami
penggunaan kata kerja bentuk pertama, kedua, dan ketiga untuk tes WEPT, serta
menguasai kosakata dan struktur dasar bahasa Arab—seperti fi'il madhi,
fi'il mudhori', fa'il, dan maf'ul bih—untuk tes
IMKA.
"Untuk WEPT, kamu harus bisa memahami verb
1, 2, dan 3. Adapun untuk IMKA, yang terpenting adalah memahami artinya karena
mengetahui arti sudah menjawab setengah dari soal," ujar Rahmat.
Sementara itu, Maely, menekankan pentingnya memahami format dan struktur soal secara
menyeluruh. Untuk WEPT, mahasiswa perlu menguasai komponen listening, structure,
dan reading comprehension. Sedangkan untuk IMKA, fokus utama terletak
pada penguasaan qawaid, qira'ah, dan istima'. Maely
yang memiliki latar belakang pendidikan di Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK)
dengan sistem pembelajaran bilingual yang ketat mengaku pengalaman tersebut
sangat membantunya dalam menghadapi tes.
Merespons berbagai keluhan tersebut, PPB
menyatakan tengah mengembangkan sistem tes berbasis digital menggunakan ponsel
agar pelaksanaan tes lebih efektif dan hasil skor dapat diperoleh lebih cepat.
Sertifikat pun nantinya akan diterbitkan secara digital.
Kepala PPB juga mengingatkan bahwa nama
resmi tes bahasa Inggris yang diselenggarakan PPB bukanlah TOEFL, melainkan
WEPT (Walisongo English Proficiency Test). Ia menganjurkan mahasiswa
untuk memanfaatkan latihan soal yang tersedia di e-learning PPB
sebagai sarana persiapan mandiri.
"Kita sudah bikin latihan soal di e-learning
PPB itu sudah dua tahun lalu. Mahasiswa tinggal daftar, nanti diregistrasi.
Mahasiswa belum banyak yang tahu soal ini," ujar David Rizal.
Dari sisi mahasiswa, harapan untuk perbaikan
pelaksanaan tes ke depan terus disuarakan. Peningkatan kualitas audio, pemutaran
sesi listening lebih dari satu kali, serta penyediaan simulasi soal
sebelum hari tes menjadi tuntutan yang paling banyak disampaikan. Tak hanya
itu, penyesuaian biaya tes juga diharapkan dapat menjadi perhatian PPB,
mengingat kondisi ekonomi mahasiswa yang beragam.
"Harapan untuk tes selanjutnya, mungkin
bisa diberikan gambaran materi atau adanya uji coba, jadi mahasiswa memiliki
gambaran bagaimana tes tersebut—tidak serta-merta tiba-tiba langsung tes. Dan
sesi listening setidaknya diputar dua kali," tutur Putri.
