Balon Impian

Dok. Google

Di malam yang sunyi, terdengar suara yang menggebu-gebu dalam hati. Suara itu adalah suara mimpi-mimpi seorang gadis remaja yang sedang terjaga dalam tidur nyenyaknya. 

Dingin kala itu menyeruak masuk melalui fentilasi jendela yang membuat suhu di kamar berubah. Gadis remaja itu sangat suka dengan belajar juga suka hal-hal baru. Tumpukan buku-buku berserakan belum tertata. Gadis itu tertidur menopang kepala dengan kedua tangan menyilang di atas meja impian. Hingga akhirnya seorang pria paruh baya masuk membuka pintu kamar dan terdengar suara khas pintu terbuka. Klek. Ia melihat anak perempuan satu-satunya sedang terlelap. 

Gadis remaja itu bernama Bunga memiliki mata yang indah dengan sejuta mimpinya. Ayahnya pun tersenyum dan mengelus rambut anaknya itu dengan senyuman tulusnya. Gadis remaja itu tetap tenang dalam mimpi. 
“Kamu harus jadi anak hebat nak,” ucap sang Ayah kemudian membopong tubuh anak gadisnya agar tidur di atas ranjang. Ayah pun mengecup puncak kepala gadis perempuannya singkat. Rasa sayangnya begitu besar pada anak gadisnya itu.

Bunga sekarang berada di dalam kelasnya, dan saat ini adalah jam istirahat. 
“Hei enstein!” 
terdengar seseorang memanggil. Tak ada jawaban, Bunga mengacuhkannya. 
“Bunga!” panggilnya lagi. Bunga pun menoleh karena merasa namanya disebut. “Apa?!” jawab Bunga malas. Sebenarnya ia malas meladeni sahabatnya ini yang menurutnya membuang waktu saja membahas hal yang tidak penting.
”Ketus banget jawabnya, tadi dipanggil einsten gak noleh,” ucapnya sedikit kesal. 
“Ya namaku kan Bunga, wajarlah.” jawab Bunga lagi. 
“Tapi kan itu julukan, Bung.” Ucap Agra. 
“Udahlah Agra, terserah kamu, aku mau ngerjain soal ini.” ucap Bunga. 
“Kenapa kamu suka banget belajar? padahal kan bosen kalo belajar terus, aku jadi heran ternyata ada manusia semacam kamu.” ucap Agra. 
“Ya karena itu kesukaanku,” jawab Bunga. 
“Selalu jawabnya itu.” Ucap Agra lagi. “Karena semua itu didasari atas rasa suka, kalo kamu suka pasti semua akan terasa mudah sebab kamu akan melakukan cara apapun untuk itu, seperti halnya kalo kamu suka sama seseorang.” ucap Bunga panjang. 
“Gitu ya?” ucap Agra sedikit mengeles. 
“Hmmm.” gumam Bunga. 
“Sekarang aku mau Tanya sama kamu kesukaan kamu apa?” tanya Bunga. 
“Aku suka musik dan seni semua yang berbau itu aku suka,” jawab Agra. 
“Nah, kamu pasti lakuin itu setiap hari kan? Tanpa rasa bosan?” tanya Bunga lagi. 
Agra mengangguk. “Ya sama kayak aku,” Agra pun hanya manggut-manggut tanda mengerti. 
“Sana belajar! kamu harus berubah dan harus mau belajar.” ucap Bunga. 
“Iya sebenernya aku juga pengen rajin belajar kayak kamu, tapi rasanya susah banget.” jawabnya. 
“Ya mumpung masih banyak waktu belajar dari sekarang.. Biar sukses sama-sama.” ucap Bunga. 

Kemudian saat mereka sedang berbincang terdengar celetuk siswa di bangku belakang. 
“Ada anak orang miskin yang punya mimpi kuliah di PTN nih,” ucap cewek bernama Sinta. 
“Udah miskin nggak usah sok-sokan deh, buat makan aja susah.” Temannya menanggapi. 

Sabar Bunga jangan dengerin kata orang yang membuat sayapmu patah, buktikan bahwa anggapan mereka itu salah. Hatinya menyemangati. 
“Jangan masukin hati Bung,” ucap Agra. 
“Hmmm,” ucap Bunga. 
“Ya udah ayo belajar bareng, kita kan udah kelas 12 nantinya bakal ngadepin ujian-ujian, memangnya kamu gak mau masuk kuliah?” tanya Bunga. 
“Iya, bantu aku ya?” jawab Agra. 
“Oke siap.” ucap Bunga. 

Bunga sudah mendaftar SNMPTN dari satu Minggu yang lalu. Saat pendaftran dibuka, ia langsung mendaftarkan dirinya. Ia lolos tahap pertama saat penyeleksian di sekolahnya. Nilainya juga meningkat tiap semester. 

Hari ini adalah hari pengumuman SNMPTN secara online. Hatinya deg-degan luar biasa, takut jika nantinya akan gagal. Ia membuka leptop lamanya dan mulai mengetikan nama dan tanggal lahirnya. 

Saat layar leptop menampilkan pengumuman, ia terkejut bukan main di sana tertera warna biru yang artinya ia di terima di Universitas impiannya dengan jurusan yang diinginkan. Ia pun memanggil Ayah tercintanya 
“Ayah sini sebentar lihat ini.” ucap Bunga. 
“Ada apa Bunga?” jawab Ayah. 
“Aku diterima di universitas negeri yah, impianku.” ucap Bunga antusias. 

Mata ayah berkaca-kaca sampai tak terasa air mata hampir jatuh ia sangat terharu pada anak gadisnya yang telah membanggakannya. 
“Ayah sangat bangga padamu nak,” ucap Ayah. 
“Ayah harus tahu, aku juga dapet beasiswa yah.” ucap Bunga lagi. 
“Alhamdulillah, sungguh baik nasibmu nak, Allah memang baik kepada hambanya tidak sia-sia selama ini belajarmu.” ujar Ayah. 
“Terima kasih sudah membanggakan Ayah,” ucap Ayah. Bunga mengangguk dan memeluk Ayahnya.

Ponselnya berdering tanda ada notifikasi yang masuk. Ucapan selamat dari sahabatnya Agra, ia sangat senang hari ini. Dan Bunga pun penasaran dengan kabar tentang Agra, apakah ia lolos juga sepertinya? Bunga pun balik bertanya pada Agra. Dan ternyata ia pun lolos dengan jurusan musik sesuai dengan bakat dan hobbinya.  

Semua teman kelas yang pernah mengata-ngatai Bunga kini terdiam membisu tanpa suara. Kini Bunga telah membuktikan anak dari keluarga biasa bisa meraih mimpinya dengan diterima di Universitas impian. Tidak ada impian yang terwujud kecuali dengan kerja keras dan doa.

Seandainya jika Bunga termakan oleh omongan temannya yang selalu menjatuhkannya maka ia tidak akan seperti sekarang ini. Takdir baik ada pada dirinya, Ia bersyukur ternyata kerja kerasnya selama ini tidak sia-sia.

Akhirnya, ujian nasional sudah selesai. Pengumuman pun akan diadakan hari ini. Bunga menjadi salah satu lulusan terbaik tahun ini. Ayahnya pun sangat bangga padanya. Sekarang 'Balon Impian' Bunga yang selalu didambakannya sudah terbang jauh ke angkasa bersama sejuta mimpinya.

 

Penulis : Sekar Arumning Kahuripan (Kru Magang 21)

Posting Komentar

0 Komentar