Menyambut Hari Kemerdekaan


Dok. Google

Beberapa hari menjelang kemerdekaan, Raharjo dan beberapa orang di desa Gambuh terlihat sibuk membersihkan selokan. Kaum pemuda memasang spanduk dan anak-anak memasang spanduk kecil di sepanjang jalan. Ibu-ibu menyediakan singkong rebus dan pisang goreng dengan es teh manis. Mereka sangat mendukung hari kemerdekaan, semangat ke-Indonesiaan mereka sangat terlihat, bahkan dalam hal hidangan.

Setelah semua pekerjaan selesai, mereka berkumpul di tepi jalan sambil menikmati hidangan yang ada. Kaswan dengan lahap menikmati singkong rebus, sementara Hamdan sudah lima kali mengisi ulang gelasnya. Raharjo menegur Parwi yang dari tadi hanya memperhatikan spanduk yang bertuliskan “Dirgahayu Indonesiaku”.

Kang, sampean dari tadi saya perhatikan kok diam saja, lagi mikirin apa?.”

 “Itu mas Harjo, tulisan di spanduk itu.” Jawab Parwi sambil menunjuk ke arah spanduk.

“Memangnya ada yang salah dengan tulisan di spanduk itu kang? Mungkin tidak sesuai dengan KBBI gitu? Hehe."

“Bukan hal itu yang aku inginkan Har.”

“Lantas apa yang begitu mengganggu pikiran kakangku ini?”

“Tidak terasa sudah 76 tahun negara tercinta ini merdeka. Kemerdekaan yang kita rayakan saat ini adalah hasil dari perjuangan panjang para pahlawan, para pendahulu kita. Semua lapisan masyarakat ikut berjuang sepenuh jiwa dan nyawanya. Aku ini hanya sedang memikirkan apa yang sudah aku lakukan untuk negeri ini? Dan bagaimana cara kita memaknai serta mempertahankan kemerdekaan negara ini?.”

“Jadi itu yang dari tadi berlarian di pikiran sampean. Ya...saya sendiri juga merasa belum bisa melakukan hal besar bagi negeri ini, saya mampu terus berupaya menanamkan rasa cinta tanah air kepada generasi kita dan hanya menghidupkan nilai ke-Indonesiaan dalam kehidupan bermasyarakat.”

Parwi diam memandang, ia memandang bendera yang berkibar di sepanjang jalan.

“Mungkin itu yang bisa kita lakukan Har. Kita memang belum mampu melakukan hal besar bagi negeri ini, tapi paling tidak kita bisa ikut berperan dengan melakukan hal-hal kecil seperti itu. Lagi pula, kalau aku lihat sekarang ini generasi kita banyak yang melupakan nilai-nilai ke-Indonesiaan. Misalnya sikap toleransi yang belakangan ini mulai digaungkan lagi karena adanya beberapa masalah yang bersumber dari sikap intoleran. Gotong royong yang mulai ditinggalkan di beberapa wilayah karena mereka sudah memiliki paham individualisme dan materialisme. Ada juga orang-orang yang mulai budaya kebudayaan dengan menggunakan topeng agama, hal ini terjadi karena mereka buta sejarah dan baru memahami Islam pada permukaannya saja. Aku rasa ada banyak hal yang bisa kita lakukan dengan langkah-langkah kecil ini Har.”

“Iya kang, mungkin kita bisa ikut berperan dengan menanamkan nilai-nilai luhur yang warisan leluhur kita. Saya juga setuju dengan kutipan sampean, sebenarnya orang-orang yang mabuk agama itu bisa saja ikut-ikutan, karena mereka seperti buih di lautan. Mereka mudah terprovokasi, mudah ditipu, mudah mengkafir-kafirkan, itu semua karena minimnya ilmu dan akhlak.”

“Betul Har, tugas kita sekarang ini adalah memupuk rasa kesatuan dan persatuan, sikap sikap, kemanusiaan dan semangat untuk semangat di dalam generasi. Kita hanya bisa berdo'a, semoga semangat mereka tumbuh dan berbuah seiring berjalannya waktu.”

“Aamiin. Sudah mikirnya, sekarang kita gabung sama yang lain, perut sampean belum kemasukan apa-apa dari tadi.”

“Kata siapa perutku belum kemasukan apa-apa? Perutku penuh dengan semangat, soalnya dadaku sudah tidak muat.”

Tawa keduanya pecah, Raharjo merangkul Parwi dan mengajak berkumpul bersama masyarakat lainnya. Kehangatan dan kerukunan masyarakat di desa Gambuh adalah pengejawantahan dari RT (Rukun Tetangga) dan RW (Rukun Warga).  


Penulis: Muhammad Najwa Maulana


Posting Komentar

0 Komentar