Siti Rofi'ah Ajak Mahasiswa mempertanyakan Kerelevanan Proker

Doc. DEMA FITK

Semarang, lpmedukasi.com - Bertempat di Aula 1 kampus 1 UIN Walisongo Semarang. Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (DEMA-FITK) dan seluruh jajarannya, meliputi Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dilantik pada Senin (29/03) oleh Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan FITK, Dr. H. Muslih M.A.


Esok harinya (30/03) diadakan Serasehan bertemakan, “Formulasi Kepemimpinan di Era Pandemi Menuju Gerakan yang Bersinergi” bersama Ahmad Umam Aufi, S.Pd.i, M.Ag dan Siti Rofiah, M.H, M.si di tempat yang sama.


Umam Aufi selaku pembicara pertama mengatakan bahwa sejarah gerakan mahasiswa itu didasarkan pada pembacaan realitas yang terjadi, maka dari masa ke masa polanya akan selalu berbeda tergantung situasi dan kondisi yang terjadi pada setiap masa. Ia juga mengatakan ada beberapa kemunduran dari Lembaga Eksekutif Mahasiswa sejak 3 tahun terakhir.

“Sepengamatan saya terhadap beberapa konten-konten sosial media dari beberapa Lembaga Eksekutif Mahasiswa di lingkungan FITK, semenjak 3 tahun terakhir terjadi beberapa kemunduran yaitu; Nihilnya agenda perjuangan dalam setiap periode pengurusan, hilangnya identitas gerakan mahasiswa, agenda yang dijalankan cendrung sporadis serta terlalu terjebak pada agenda-agenda bersifat seremonial.”


Ia juga mengatakan bahwa keberhasilan gerakan mahasiswa itu tidak bisa dilepaskan dari sinerginya dengan elemen gerakan lainnya seperti petani, buruh, kaum miskin kota dan lain sebagainya. Sebab tanpa adanya sinergi dengan elemen yang lain, maka gerakan akan mudah dipadamkan.


Siti Rofiah sebagai pembicara kedua menyambung pembicaraan ke arah hal-hal yang perlu dilakukan oleh Lembaga Eksekutif Mahasiswa di tengah Pandemi Covid-19 ini.

“Setidaknya kawan-kawan yang menjadi bagian dalam Lembaga Eksekutif Mahasiswa bisa melakukan beberapa hal, yaitu; Memperbanyak referensi, menggali berbagai sudut pandang lewat diskusi dan berelasi dengan orang-orang yang berbeda latar belakang. Kawan-kawan juga harus mulai mempertanyakan apakah proker yang dirancang masih relevan atau tidak untuk dijalankan? bila tidak relevan, jangan ragu untuk membuat gebrakan baru, serta mulai menafaatkan tekhnologi dengan sebaik mungkin.”


Ia juga berharap untuk kedepannya Ormawa tidak hanya sebatas formalitas belaka, orang-orang yang tergabung di dalamnya harus mempertahankan nilai-nilai kebaikan yang lama serta mendukung nilai-nilai kebaikan yang baru dengan semangat untuk terus mengembangkan diri.

“Selain itu, kawan-kawan yang tergabung dalam Ormawa juga harus mulai mempelajari tentang isu-isu di sekitar seperti kekerasan seksual, pengrusakan lingkungan, ketimpangan sosial, pemiskinan, perampasan ruang hidup dan lain sebagainya.” Tuntasnya.


Saat closing statement, Umam Aufi mengatakan bahwa Organisasi Mahasiswa bisa dijadikan ruang belajar mahasiswa untuk menjadi the future man, ruang perebutan pengaruh ideologi dan  politik, serta wadah bagi mahasiswa sebagai agen control sosial.


Penulis : Syafiq

Editor : Catur

Posting Komentar

1 Komentar