HMJ PBA Adakan Serangkaian Milad ke 28

Dok. Pribadi


lpmedukasi.com- Semarang, Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (HMJ PBA) menggelar serangkaian acara milad ke 28. Acara tersebut dilaksanakan pada tanggal 12-17 Oktober 2020 yang meliputi acara akhi ukhti, festival padang pasir, tasyakuran dan temu alumni. Acara tersebut merupakan event nasional yang tidak hanya diikuti oleh mahasiswa kampus uin walisongo saja, tetapi semua mahasiswa luar kampus dapat ikut serta. 

Acara yang diawali dengan pembukaan yang dilaksanakan dikediaman Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Ahmad Maghfurin itu berlangsung khidmat dan lancar. 

“Alhamdulillah, acara berjalan dengan lancar. Pembukaan acara ditandai dengan dipukulnya gong oleh Bapak Maghfurin selaku ketua jurusan pendidikan bahasa arab uin walisongo Semarang.” tutur Ketua Panitia Khusnul Khotimah, pada (19/10).

Acara pembukaan yang dilaksanakan secara sederhana tersebut mendapat antusias dari peserta dan juga beberapa dosen yang turut ikut serta dalam acara pembukaan tersebut. 

“Meskipun digelar sederhana peserta sangat antusias pun banyak dosen-dosen UIN yang ikut serta dalam acara pembukaan.” tambahnya.  

Semua peserta di luar lingkup kampus UIN Walisongo dapat ikut serta. Siti Alifah yang merupakan mahasiswi UIN Malang asal Kalbar yang mengungkapkan bahwa ia senang dapat mengikuti salah satu rangkaian Milad PBA yaitu Festival Padang Pasir (FPP) dalam cabang lomba Ghina Araby. 

“Walaupun digelar secara online lombanya, FPP ini sangat menyenangkan, banyak sekali hikmah yang bisa diambil, seperti memperkuat silaturahmi, dan juga lomba ini membuka kesempatan untuk semua peserta menjadi yang terbaik. Bersaing dengan baik, dan saling mendukung pastinya” ungkapnya pada (16/10).

Untuk pertama kali acara milad pendidikan bahasa arab digelar secara online, tentunya banyak kekurangan baik dari acara dan panitia sendiri. Seperti hal yang dikeluhkan salah satu pemenang akhi-ukhti sekaligus perwakilan dari kelas PBA 3B ini. 

“Berjalannya acara akhi ukhti ini tidak lepas dari banyak kekurangan terlebih miss komunikasi" keluh Ahmad Ziaulhaq.

Pihaknya juga memberikan saran kepada panitia agar lebih objektif dalam melakukan penilaian karena ia merasa bahwa terpilihnya pemenang, baik juara akhi ukhti maupun peserta favorit sangatlah subjektif. 

“Sekali lagi tanpa merendahkan, bagaimana seseorang bisa menilai cabang penampilan yang berbeda-beda? Terlebih semua masuk ke ranah seni, dimana seni membutuhkan sebuah intuisi yang tidak setiap orang memiliki.” tambahnya. 

Meskipun begitu, Milad PBA ini tetap mengesankan. Hal ini dapat dilihat dari salah satu alumni yang sekarang menjadi dosen disalah satu universitas islam negeri di Salatiga. Burhan Yusuf Habibi, yang menjadi pembicara dalam penutupan event nasional tersebut dalam acara tasyakuran dan temu alumni Sabtu pagi itu. Pihaknya bangga pernah mengenyam pendidikan di UIN Walisongo terlebih kepada jurusannya. 

“Selain kuliah di kelas, dulu saya senang berkolaborasi untuk menambah pengalaman di luar kelas dengan berorganisasi dan berkompetisi dalam kebaikan, mengasah bakat dan menemukan jati diri.” ungkapnya.

Alumni sekaligus dosen IAIN Salatiga itu juga memberikan harapan dan doa pada Milad PBA yang ke -28 tersebut. 

“Semoga PBA semakin maju dan berkualitas dalam segala aspeknya. Semakin banyak inovasi-inovasi dalam pengembangan prodi. Selain itu saya juga berharap akan segera dibuka S2 PBA di UIN Walisongo untuk menampung alumni-alumni yang ingin melanjutkan studi, karena SDM-nya sudah sangat mencukupi untuk membuka prodi S2 PBA” harapnya. 


Kontributor: Khusnul Khotimah dan Alinfia (HMJ PBA)





Posting Komentar

0 Komentar