Doa yang Tertukar

                                                               

Dok. Google


            Saat Ayah berkata bahwa nilai raportku tidak seimbang. Aku sedih, padahal Nilai mata pelajaran umumku seperti ipa, ips dan bahasa inggrisku baik. Namun, tidak dengan nilai agamaku, bahkan guruku berkata kalau nilai agamaku tetap masih buruk aku terancam tidak naik kelas.

            “Ayah akan menyekolahkanmu ke pesantren kilat Rio, kamu harus mau”.

            “Tapi Ayah...”

             Belum selesai aku bicara ayah memotong pembicaraanku.

            “Ayah tidak mau tahu, besok ayah akan mendaftarkanmu ke pak ustaz”.

             Malamnya aku tidak bisa tidur karena memikirkan bagaimana nasibku besok di pesantren kilat. Aku pasti mengantuk mendengar orang mengaji seperti pada umumnya di masjid yang kebanyakan orang malah mengantuk saat pengajian berlangsung.

                                                                        ***     

            Keesokan harinya aku datang ke pesantren kilat diantar kakakku. Sesampai disana aku melihat banyak sekali anak TK.

            “ Kak, masa aku belajar dengan anak TK?” tanyaku dengan kesal.

            “Memangnya kenapa? Kamu malu ya?” ledeknya.

            Saat pelajaran sedang berlangsung, tiba-tiba Ucup dan Dadang melihatku di Pesantren kilat. Dadang bersiul dengan tujuan memanggilku. Aku  membuat alasan sakit perut dan izin untuk pergi ke toilet dan pak ustaz pun membolehkannya. Aku keluar dan segera menemui Ucup dan Dadang.

            “ Aku malas disini, kita ke bermain di lapangan saja.”

Kami pun pergi ke Lapangan untuk bermain layangan.

            “Rio, kamu kok malah disini? Bukannya kamu ikut pesantren kilat ya? Tanya aisyah yang mengejutkanku”.

            “Kamu ganggu saja Aisyah, suka-suka aku. Mending kamu pergi saja”.

            Hari mulai sore, aku dan kawan-kawanku memutuskan kembali. Setelah sampai di rumah. Ternyata, ayah sudah pulang. Padahal ayahku biasa pulang larut malam karena sibuk di kantornya.

            “Kamu darimana Rio?”

            “A..ku dari pesantren ki..lat yah,” jawabku dengan terbata-bata.

            “Kamu jangan bohong, ayah tahu kamu bolos dari pesantren kilat kan?”

            “Rio malu yah, teman teman rio anak TK semua,” aku mulai jujur.

            “Ayah tidak mau tahu alasanmu, kamu ayah hukum. Uang sakumu ayah potong”.

            “Ayah tidak adil, ayah terlalu sibuk bekerja sampai lupa Rio, rio benci ayah,” aku berlari menuju kamar.

            Namun, ayah tidak mengejarku. Entah apa yang dipikirkan ayah. Aku benar-benar kesal dengan ayah.

                                                            ***

            Di sekolah pada jam istirahat, Aisyah menghampiriku yang duduk termenung di bawah pohon dekat kantin.

            “Rio, kamu kenapa?”.

            “Aku sedih ayah menghukumku karena aku bolos di pesantren kilat kemarin”.

            “Memangnya kenapa kamu bolos?”

            “Aku tidak suka, teman temanku anak TK semua”.

            “Yasudah begini saja, sepulang sekolah kamu ke rumahku. Nanti aku ajarkan hafalan doa untuk ujian agama minggu depan.”

            “Terima kasih aisyah”.

               Sepulang sekolah, aku pulang ke rumah untuk makan siang dan ganti baju. Lalu aku izin kepada kakak untuk pergi ke rumah Aisyah.

            “Rio, akhirnya kamu datang juga” sambutnya dengan tersenyum.

            “Iya aku ingin lulus ujian agama. Sekarang ajarkan aku menghafal doa sehari-hari untuk ujian minggu depan”.

            Aisyah menyodorkan sebuah buku kecil yang di covernya bertulis “BACAAN DOA SEHARI-HARI.” 

            “Apa ini”.

            “Kamu hafalkan saja, dibuku ini ada doa mau makan, doa buang hajat, doa hendak tidur dan masih banyak lagi”.

            “Terima kasih aisyah, ini sangat membantu”.

            “Selain menghafal, kamu juga harus mempraktekannya langsung. Kamu harus menghafalkan setiap hari jika kamu ingin cepat hafal”.

            Aku hanya mengangguk.

            Setelah aku pulang dari rumah Aisyah, aku berjanji akan menghafalkannya setiap hari.

                                                            ***

            Saat jam makan malam tiba, dan semua keluargaku berkumpul di ruang makan. Aku teringat pesan aisyah bahwa jangan sekedar menghafalkan tapi mempraktekannya juga.

            “ Bismillahirohmanirohim, bismika Allahummaahya wabismikaawaamutu.” 

            Setelah aku membaca doa itu sontak kakak dan ibuku tertawa terbahak-bahak. Aku jadi bingung.

            “Kamu salah baca doa sayang, itu doa hendak tidur” ibuku.

            “Bukannya doa hendak tidur itu Allahuma bariklana fimmarozaqtana wakina adabannar.”

            Mereka tambah terkekeh-kekeh.

            “Doa yang kamu baca tertukar rio, tadi yang kamu baca pertama itu doa hendak tidur. Sedangkan, yang kamu baca yang terakhir itu doa mau makan.”

             Aku tersipu malu. Namun, ayahku mulai melotot kearahku.

                                                                        ***

            Hari mulai berganti, tanpa sadar hari ini adalah hari ujian agamaku. Tentunya, aku sudah siap.

            Ketika di kelas, banyak teman-teman yang lulus. Aku sempat ragu takut tertukar seperti kemarin-kemarin. Tapi, aisyah menyemangatiku untuk tetap tenang. Saat namaku dipanggil aku tidak ragu-ragu untuk maju di depan guru.

            Saat bu guru menyuruhku membaca doa buang hajat dan doa bercermin. Aku sempat lupa sehingga tidak lancar tapi, aku tetap dapat menyelesaikan doaku sampai akhir dan aku langsung dinyatakan lulus.

            Aku sangat bahagia ketika dinyatakan lulus, ini semua berkat kerja kerasku sendiri dan dukungan dari keluargaku dan aisyah. Sekarang, aku hafal doa sehari-hari dan tidak ada lagi yang mengejekku karena aku tertukar membaca doa.


Penulis    : Rif'ati Ihsan


Posting Komentar

0 Komentar