Pewarisan Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan Akhir Zaman

Sumber Ilustrasi : Internet


Ajaran Islam dari awal telah mempelopori umat manusia untuk memajukan ilmu pengetahuan sebagai sumber peradaban dan kebudayaan Islam. Sehingga Islam dikenal agama ilmu peradaban dan kebudayaan.

Sosok pribadi yang agung, Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT sebagai pribadi yang menjadi suri teladan sepanjang masa yang tak lekang oleh perubahan zaman dan waktu. Akhlak mulia yang dimilikinya senantiasa diajarkan untuk kebaikan kehidupan umat manusia. 

Nabi Muhammad SAW adalah teladan kebaikan yang disebut dengan istilah uswatun hasanah. Seperti mata air, teladan kebaikan terus mengalir dari dirinya yang tiada habis. Mulai dari tutur kata, tingkah laku, ketetapan, maupun karakter yang yang menyiratkan kebaikan. Beliau menjadi sumber inspirasi kehidupan bagi manusia dipenjuru dunia.

Pengakuan teladan kebaikan Nabi Muhammad SAW, secara tersurat dinyatakan oleh Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 33 yang artinya "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah SWT dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah".

Ayat tersebut menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah suri teladan yang baik atau dikenal dengan istilah uswatun hasanah. Tak bisa dipungkiri jika dunia juga diciptakan untuk kepentingan manusia. Namun tak bisa dilupakan bahwa manusia diciptakan untuk kepentingan Allah SWT dan kehidupan setelah mati atau akhirat.

Nabi Muhammad SAW adalah seagung-agung dan semulia-mulianya akhlak. Beliau manusia terbaik sepanjang peradaban dengan teladan yang paling agung yang diberi mandat agung oleh Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak. Sebab manusia tanpa akhlak adalah seperti binatang.

Dalam diri Nabi Muhammad SAW juga tercermin sifat-sifat kesempurnaan. Seperti sifat kejujurannya sudah nampak sejak dini. Keadilannya juga demikian. Ketika diberi amanah beliau menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Nabi Muhammad SAW gemar menggembala kambing sejak kecil, sehingga ketika diberi amanah menggembalakan kambing milik keluarga atau penduduk Mekkah, beliau menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Berkat kejujuran dan amanahnya, tak heran jika penduduk Makkah menggelarinya dengan Al-Amin (orang yang terpercaya dan dapat dipercaya).

Julukan Al-Amin ini tidak main-main, karena menyangkut kredibilitas seorang Muhammad SAW yang kala itu masih sangat muda. Penduduk Makkah kagum dengan kepribadian putra Abdullah dan Aminah itu. Pada usia 25 tahun, beliau mendapat kepercayaan menjadi pemimpin kafilah dagang Khadijah binti Khuwalid, dam tak sekalipun beliau melakukan kedustaan atau kecurangan yang bisa merugikan. Serta sifat amanahnya justru menghadirkan keuntungan yang berlipat ganda. Semua tak lain berkat kejujuran dan amanahnya.

Di usia 40 tahun, Nabi Muhammad SAW mengaku menerima wahyud Allah melalui malaikat Jibril pada 17 Ramadhan. Ketika itu Muhammad SAW sedang melakukan Al-khala' (penyendirian) di Gua Hira untuk melakukan ta'abbud (munajat pada Allah SWT). Ini dilakukan hingga beberapa malam dengan membawa perbekalan. Dan suatu ketika di Gua Hira, Muhammad SAW kedatangan Malaikat Jibril membawa wahyu pertama, Q.S.Al-Alaq ayat 1-5.

Diikuti wahyu lain yang diturunkan dalam bentuk mimpi-mimpi. Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, wahyu-wahyu yang diterima Muhammad SAW berupa mimpi yang benar, dimaksudkan sebagai persiapan atau permulaan baginya untuk menerima wahyu berikutnya yang lebih berat dan akan diturunkan dalam keadaan terjaga (tidak tidur). Seperti melalui cahaya gemerlap yang terang benderang, mendengar suara tanpa diketahui asal sumbernya.

Rasulullah SAW adalah manusia dengan merasakan kesenangan dan kesedihan yang juga menghampirinya. Dilihat saat kewafatan istri tercinta yaitu Khadijah, kemudian disusul kewafatan pamannya Abu Thalib, menyebabkan Muhammad SAW didera kesedihan. 

Istri yang setia yang mendampingi dalam suka dan duka dalam berdakwah lebih dulu meninggalkannya. Disela kesedihan mendalam ini, Allah SWT memberi pengalaman spiritual, melalui isra' mi'raj ke Sidratul Muntaha bersama Malaikat Jibril. 

Menurut sejarawan Syeikh Muhammad al-Ghazali, al-isra' adalah perjalanan menakjubkan yang dimulai dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Al-Aqhsa di Quds (Palestina). Sedangkan mi'raj adalah perjalanan naik atau menembus langit hingga Sidratul Muntaha. Perjalanan ini tidak bisa dipahami oleh keilmuan makhluk dan tidak dimengerti prosesnya. 

Dalam drama sejarah kerosulan Muhammad SAW inilah, beliau menerima penegasan kewajiban shalat. Dan poin yang terpenting dari perjalanan ini adalah ketetapan shalat bagi umat Islam. Nabi Muhammad SAW kala itu menerima penegasan kewajiban shalat 50 kali sehari.

Namun dalam perjalanan turun dari Sidratul Muntaha, beliau berdialog dengan Nabi Musa yang mengusulkan untuk meminta dispensasi pada Allah SWT karena melihat jika umat Nabi akhir zaman ini tidak akan sanggup menjalankan kebijakan itu. Dan akhirnya setelah setuju dengan anjuran Nabi Musa as dan juga berkonsultasi dengan Jibril beliau kembali menemui Allah SWT dan mendapat keringanan jika umat Islam hanya wajib shalat 5 waktu dalam sehari.

Dengan demikian, Nabi Muhammad SAW sebagai nabi akhir zaman utusan Allah SWT yang memulai dan melancarkan misinya dalam menyebarkan agama Islam, agama Allah yang paling sempurna. Semua aspek kehidupan merujuk pada kitab suci yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW yaitu Al-quran.

Nabi Muhammad SAW adalah suri teladan bagi sebaik-baik umat dengan sifat yang bisa dijadikan contoh dalam peradaban dan kehidupan umat manusia. Islam diturunkan melalui Muhammad SAW sebagai rahmatan lil 'alamin, mengentaskan manusia dari zaman jahiliyah sampai menjadi kehidupan yang lebih terarah. 


Penulis : Dwi Zaratunisah

Posting Komentar

0 Komentar