Memoar 24 September

Doc. Edukasi-Agung/ Mahasiswa sedang mengepalkan tangan saat melakukan aksi pada tanggal 24 September 2019 di depan Gedung DPRD Jawa Tengah


Pada 24 September 2019, pukul 08.50, saya memarkir motor di pelataran parkir Masjid Baiturrahman lalu berjalan kaki menuju lokasi demonstrasi di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah. Ketika mulai mendekati lokasi, rombongan massa dari UNNES datang dari arah Taman Indonesia Kaya. Saya menghubungi seorang kawan LPM Edukasi.

"Posisi?"
"Belum berangkat."

Saya mengambil beberapa gambar dan video, menyebrang jalan menuju gedung Telkom, dan mengambil gambar lagi. Ketika hampir sampai, saya melihat beberapa orang, mungkin jurnalis, mengambil gambar dengan kamera bagus. Saat itulah saya menyesali ketergesaan saya dengan tidak mencari kamera lain selain kamera gawai. Meski gawai saya kiwari, jangkauannya terbatas.

Saya memotret beberapa mahasiswa dengan poster. Beberapa memposisikan diri, saling tertawa, lalu mengangkat posternya tinggi-tinggi. Galeri saya penuh dengan foto-foto massa dari UNNES. Setelah bertemu seorang kawan jurnalis dari LPM Justisia, bertanya soal massa dari UIN Walisongo yang tak kunjung terlihat, seorang kawan menelepon dari jauh.

"Kau ikut aksi?"
"Tidak. Aku cuma lihat."
"Kami di kampus. Kukira kau juga."

Massa mulai memposisikan diri ketika telepon usai. Mereka berjalan ke arah kampus Universitas Diponegoro. Saya mendahului dan berhenti di median depan gedung Bank Indonesia. Di sana massa dari Universitas PGRI telah menunggu bersama massa dari UNDIP. Massa beratribut serba hitam mendekat dari kantor pos. Setelah beberapa gambar terambil, saya bertemu Abu. Seorang kawan dari BP2M. Butuh beberapa saat sampai ia mengaku lupa dan saya memberikan nama lagi.

"Mewakili apa?"

Mahasiswa, juga pers. Kami mengikuti arah gerak massa demonstrasi yang memutari bundaran Simpang Lima. Sepanjang jalan kami berbincang-bincang ringan. Ia mengaku, bahwa ini pertama kalinya ia meliput demonstrasi. Begitu pula aku, saya ungkap padanya. Ia ingin menulis reportase seperti reportase yang ditulis Dea Anugrah. Seperti Budiman Sudjatmiko, saya juga punya mimpi revolusioner saya sendiri sebelum menginjak umur 30 tahun: menulis dengan baik meski tak seperti Dea Anugrah. Ini akan jadi pengalaman menarik.

Ketika kami mendekati Masjid Baiturrahman, massa dari UIN Walisongo datang dari jalan Pandanaran. Saya melihat jam gawai, menunjukkan 09.30. Tidak terlalu buruk.
Saya mengecek beberapa foto yang saya ambil dan bersyukur hasilnya tak terlalu buruk. Massa mulai memenuhi jalan Pahlawan, tempat orasi akan dilakukan. Massa dari masyarakat umum, LBH, mahasiswa UNNES, UNDIP, UPGRIS, UNISBANK, UNISSULA, UIN Walisongo, dan IAIN Salatiga—hampir seluruh mahasiswa dari Semarang Raya bertemu menjadi satu. Mereka seperti peserta Car Free Day, namun dengan jas almamater masing-masing, poster-poster penolakan terhadap RKUHP, militerisme di Papua, dan jasa penerjemahan serta teriakan dan kemarahan.

Seorang polisi menyurungkan gawainya dan meminta saya mengambil fotonya membelakangi massa UNISBANK.

“Mau membelah?”

Kami, saya dan Abu, berjalan di antara kerumunan. Sepanjang hari itu, kami berdua mengitari jalan Pemuda. Kami sempat bertemu Humam dan Donny, kawan lain dari BP2M. “Ada polisi menilang pengendara motor,” ungkap Donny yang mengaku melihat momen lucu itu. “Itu teman yang menitip STNK buat perpanjangan, katanya.” Lalu ia mulai bercerita, tentang si pengendara yang dituntun untuk menepi dan wajahnya yang terlihat tidak baik-baik saja, dan foto yang terpaksa dihapus.

Selang beberapa lama, massa dari UIN Walisongo mulai mendekat. Saya menelepon kawan LPM Edukasi, lalu mengirim pesan singkat. Namun ia mendahului saya. Setelah berbalas singkat, saya melambai kepadanya yang berjalan menjauh. Saya putuskan untuk bersama Abu saja.

Sekitar pukul 10, massa mulai berkerumun di depan gedung DPRD. Kelak di mana tujuh tuntutan akan dibacakan. Mobil komando memposisikan diri di samping gerbang gedung DPRD. Beberapa saat kemudian, orasi-orasi disampaikan. Kami berada di garis belakang, lalu berusaha maju agar bisa memotret dengan lebih baik. Meski Abu mengenakan kartu pers-nya, bersesakan dengan massa tak bisa dihindari. Klaim dari berita yang kelak muncul bahwa massa mencapai 7000 orang. Ada pula yang menulis 3000 orang. Yang jelas, kedua klaim berasal dari sumber yang sama.

Setelah cukup lama di sana, kami menarik diri untuk beristirahat. Saya sempat memeriksa hasil foto dan memuji kamera gawai saya yang tak terlalu buruk. Saya berkata pada diri sendiri: kalau tak keluar satu tulisan pun, sungguh impoten diri ini. Abu menawarkan untuk membeli es teh namun saya bilang tidak. Kami bersila di depan gedung Telkom. Ia menulis sesuatu di gawainya, mungkin beberapa poin untuk ditulis. Saya hanya menoleh-noleh, menebar pandangan pada massa demonstrasi yang bertebaran.

Seperti si Tukang Giling dalam dongeng Oscar Wilde, sejauh mana keluguan mereka? Dan seperti Hans Kecil dalam dongeng yang sama, seberapa tulus mereka?

Teriakan-teriakan terdengar dari arah gedung DPRD. Sesuatu akan terjadi. Kami bangkit dan memutuskan untuk kembali. Pukul setengah 11, keadaan Semarang yang sudah dari dulu panas diperparah oleh massa yang ikut memanas. Gerbang digoyang-goyang. Tepat pada 11.42, gerbang rubuh.

Mobil komando memerintahkan agar massa tak memasuki halaman gedung. Water Cannon telah bersiaga. Sungguh, saya berharap agar isinya muncrat supaya suasana bisa sedikit adem. Namun harapan hanya membuat orang-orang menjadi gila. Alat itu tak digunakan hingga demonstrasi selesai. Setelah berbincang dengan salah satu kawan yang mengikuti demonstrasi, saya mengetahui bahwa jumlah polisi yang tak sebanding dengan klaim jumlah 3000/7000 massa demonstrasi yang ada. Tapi toh, saya tak bisa memastikan. Sebab ketika demonstrasi berlangsung saya tak bisa merangsek lebih jauh ke garis depan sehingga tak dapat melihat jumlah polisi yang berjaga di halaman gedung.

Tuhan telah menjaga kami dari pertempuran.

Situasi terjaga pada tingkat yang tinggi. Massa diperintahkan untuk mundur beberapa langkah, namun massa di garis belakang mengutuknya. Ada banyak perempuan beresiko terdorong, jatuh, dan terinjak jika itu dilakukan. Massa hanya bergeming.

Mereka menuntut supaya Ganjar Pranowo keluar dan menandatangani rilis. Sebelum massa bertindak lebih jauh, dari mobil komando, perwakilan polisi keluar dan meminta agar massa tetap tenang dan menunggu sedikit lebih lama lagi. Seorang demonstran di sisi kiri saya berteriak agar menahannya sebagai sandera.

Selang, tepat pada 12.00 Ganjar Pranowo keluar menemui massa. Komando meminta massa tenang dan mengambil posisi duduk. Ganjar mengatakan: bahwa ia pernah berada di posisi para demonstran di sekitara tahun 90-an, sedari pagi telah menyiapkan tempat untuk dialog bersama perwakilan mahasiswa, keengganannya mengeluarkan anggaran untuk memperbaiki pagar, dan rasa salutnya atas aksi yang berlangsung aman dan dialogis dengan mengacungkan jempol kanan dan berkata: anda top.

Setelah ia selesai, Cornel, koordinator aksi membacakan rilis berisi tujuh tuntutan terhadap pemerintah, yaitu: 1) mencabut revisi RUU KUHP, 2) dikeluarkannya PERPUU pencabutan UU KPK dan UU sumber daya air, 3) memberi sanksi tegas kepada korporasi pembakar hutan, 4) membebaskan aktivis Papua, pejuang HAM, dan memulihkan nama baik para aktivis serta penghentian intimidasi di Papua, 5) menjamin masyaraakat mendapat pelayanan BPJS dengan skema yang sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah, 6) mengusut tuntas kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu, dan 7) mewujudkan pendidikan yang demokratis, trasnparan dalam keuangan, menghentikan komersialisasi pendidikan, dan meningkatkan kesejahteraan guru honorer.

Ganjar melakukan penandatanganan rilis, juga perwakilan dari DPRD. Massa bersorak-sorai. Ganjar berjanji akan menyampaikan tuntutan kepada pemerintah pusat.

Setelah ia turun, tensi juga mulai menurun. Massa mulai menurunkan poster, lalu mundur perlahan. Saya dan Abu juga memutuskan untuk mundur. Saya melepas jaket. Saya melakukannya beberapa kali selama hari itu sebab kegerahan yang hampir tak tertanggungkan.

Kami menjauh dari massa aksi yang mulai membubarkan diri, menuju titik kumpul semula. Sebelum berpisah, Abu mentraktirku segelas es Nutrisari, berjabat tangan dan “Semoga jumpa lagi.”

Penulis : AA. Prayoga
Editor : Ahmad Amirudin

Posting Komentar

0 Komentar