Kapai-Kapai: Penggambaran Kehidupan Abu yang Termarjinalkan


Doc. Instagram ksk Wadas/Abu dan Iyem sedang meratapi kehidupan

Di era postmodern ini, apa yang akan kita lakukan dengan kebebasan?  Derrida sendiri sengaja menafsirkan teks dengan cara yang berbeda. Tanpa hegemoni kelompok tertentu,  juga tanpa klaim kebenaran yang sengaja diciptakan dengan narasi-narasi pihak tertentu yang superior.

Pada malam itu aku merasakan hal yang sama. Aku mampu menciptakan kebebasanku sendiri, meninggalkan sejenak pikiran dan membungkus kesenangan untuk menyaksikan pementasan. Lalu aku menuliskan sedikit catatan. Namun, aku ragu untuk menuntaskannya. Biasanya, catatan yang tidak berbau faktual selalu tidak dianggap lebih. Lalu seorang kawan mengingatkan bahwa pementasan teater tidak pernah kadaluwarsa. Ia mesti dikabarkan, walaupun dengan apapun caranya.

Kamis (27/06) Komunitas Seni Kampus (KSK)  Wadas mementaskan lakon "Kapai-Kapai", sekelompok seni yang tergabung dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). Tentu aku mempercayai, mereka menyiapkan pementasan ini dengan waktu yang cukup lama. Pementasan ini disutradarai oleh  M. Khoirun Nadhif, dengan naskah masterpiece dramawan Indonesia yang berjudul "Kapai-Kapai" karya Arifin C. Noor.

Pementasan ini dilakukan di gedung tua yang masih bisa berdiri dengan kokoh sampai saat ini. Bertempat di Aula 1 Kampus Satu UIN Walisongo.


Teks Kapai-Kapai

Doc. Edukasi/Pengikut Yang Kelam

Pementasan yang berkisah tentang Abu, lelaki yang termarjinalkan dari realitas kehidupan. Ia terjebak dalam kubangan kemiskinan baik material,  moral dan spiritual. Satu-satunya yang ia miliki adalah  sebuah harapan.

Pada pementasan bagian pertama,  Abu hadir dengan kesenangan, ia selalu mendengarkan dongeng dari si Emak. Dongeng antara pangeran dan putri jelita yang berhasil selamat dari mara bahaya karena cermin tipu daya.

Pada bagian kedua, ada empat bagian penting.
Pertama, perjalanan Abu bersama dengan istrinya, Iyem. Mereka memulai perjalanan panjang untuk menemukan cermin tipu daya. Emak mengatakan bahwa cermin tipu daya bisa didapatkan di ujung dunia nun jauh disana, di toko Nabi Sulaiman. Abu berharap jikalau cermin itu bisa ia temukan, luka dan lara dalam hidupnya bisa teratasi dengan cermin tipu daya. Kedua, bencana yang menimpa Abu, Emak menghibur Abu dengan dongeng, dan rutinitas Abu sebagai buruh yang mengabdi pada majikan.

Sebuah usaha untuk mencari cermin tipu daya. Namun, apa yang dicari itu tak kunjung didapatkan. Lalu, ditengah perjalanan Abu disadarkan oleh sesuatu hal. Ia dipertemukan dengan Kakek tua, yang sedang berdzikir. Dalam percakapan ini, konflik akan dimulai. Jiwa spiritual Abu mulai diuji. Sebuah pertentangan batin yang mulai dialami oleh Abu.

Pementasan bagian ketiga, peristiwa ditunjukkan secara simbolik dan erotis. Ketidakmampuan Abu untuk menemukan Cermin Tipu Daya membuatnya terlena. Ia semakin tua dan renta. Penyiksaan juga dilakukan oleh Yang Kelam kepada Abu dan Iyem.

Bagian keempat, menceritakan kehidupan Abu yang masih didera kemiskinan. Ia masih berjuang mencari cermin tipu daya yang dipercaya akan membawa kebahagiaan

Bagian kelima, Abu pada akhirnya menemukan Cermin Tipu Daya yang selama ini dicari dan diidamkannya sebagai sumber kebahagiaan. Namun, waktu Abu mendapatkan Cermin Tipu Daya ternyata adalah waktu di mana Abu menemui ajalnya.

Pementasan yang terkesan sentralistik kepada tokoh Abu. Relasi terlihat antara Abu dengan alam, dan tokoh sekitarnya. Namun relasi hanya terfokus pada penderitaan yang dialami oleh Abu.

Kapai-Kapai ala KSK Wadas

Doc. Edukasi/Dialog antara Emak, Bulan dan Yang Kelam

Pementasan lakon "Kapai-Kapai" ini dilakukan selama tiga jam. Menghadirkan enam belas tokoh. Penataan panggung yang serba gelap dengan perpaduan lampu warna merah dan biru.

Sosok Abu yang diperankan oleh Sukron, mahasiswa FDK. Adegan awal dimulai dengan kelakuan Abu yang bergerak kesana dan kesini. Melompat, menggeliat dan merobek bajunya sendiri. Baju yang ia kenakan pun compang-camping.

Lalu datang seorang perempuan yang digambarkan dengan sosok yang kuat dan mempunyai suara yang lantang. Ya,  dia adalah Emak yang sering menceritakan dongeng kepada Abu. Terlihat ia mengenakan pakaian yang mewah dengan tatanan rias yang membuatnya kian seram.

Pementasan ini tidak menggunakan banyak material. Sederhana, namun peranan masing-masing tokoh bisa di tangkap oleh penonton.

Tak sedikit pula,  tokoh selalu melakukan improve ketika adegan pangeran ingin menyelamatkan putri dari jin. Seketika itu, ucapan yang mengandung sentilan dan humor muncul dari pemeran tokoh. Dan penonton pun ikut tertawa terbahak-bahak.

Meskipun Cermin Tipu Daya yang dipercaya dapat memberikan kebahagiaan berhasil diraih oleh Abu pada bagian akhir, namun ternyata pada saat itulah ia harus menemui ajalnya.

Kompleksitas kemisikinan yang menjerat tokoh Abu membuatnya gagap dalam menyikapi kehidupan. Ia semakin terjerembab pada kemalangan. Kemiskinan materi membuat moralitasnya terkikis. Sedangkan kemiskinan spiritual menjebaknya pada persepsi kebahagiaan yang serba instan.

*Ditulis oleh perempuan yang sedang ingin merasakan kebebasan dalam berpikir dan berperilaku.  FR

Posting Komentar

0 Komentar