Pos Terkini

Diberdayakan oleh Blogger.

Adakah Resitasi* yang Lebih Mengenalkan Budaya Akademik?

8/29/2018
Terlihat resitasi pom-pom tercecer di area audit 2 kampus III (Doc. Prayoga)


Orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) merupakan awal untuk mengenal institusi di mana mahasiswa baru akan berkuliah. Awal ketika ia akan mengetahui bagaimana budaya akademik yang ada, sebelum mengenal lebih jauh tentang institusinya. Setiap tahunnya, ospek terkesan menjadi momen hura-hura. Meski tujuan dari ospek yaitu pengenalan budaya akademik kepada mahasiswa baru tersampaikan, hal-hal yang mengitarinya adalah pemicu munculnya anggapan tersebut.

Dari tahun ke tahun, ospek selalu dibuat menjadi lebih meriah. Panitia selalu berusaha menghadirkan hal baru. Mulai dari rangkaian acaranya hingga hal-hal yang dibebankan kepada mahasiswa baru untuk mereka; penugasan atau yang biasa dikenal resitasi. Seperti yang pernah saya temukan di sebuah tulisan di media sosial. Pada ospek yang diadakan di Universitas Gadjah Mada, panitia membebankan resitasi pom-pom pada mahasiswa baru. Bahkan, dalam tulisan tersebut, ada yang berkomentar bahwa ia harus mengganti pom-pomnya karena tidak sesuai persyaratan.

Resitasi ternyata menjadi persoalan di setiap institusi. Entah karena sulitnya menjangkau keperluan resitasi atau karena kekonyolan yang ditimbulkannya. Ketika ospek bergulir, saya mengingat masa orientasi pada masa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang sesungguhnya memiliki inti kegiatan yang sama. Saya mengingat bagaimana sulitnya menerjemahkan apa yang panitia minta, seperti ‘alat tulis profesi’ dan lain sebagainya. Belum ditambah dengan membuat kartu nama yang cukup untuk menutupi perut dan menganyam tali rafia warna pelangi. Itu merupakan sesuatu yang sulit saya terjemahkan.

Sepertinya, resitasi yang dari tahun ke tahun selalu ‘baru dan kreatif’ tidak membuat mahasiswa baru untuk mengenal institusi mereka dengan mudah. Namun resitasi malah menjadi beban bagi mahasiswa baru. Walaupun tak mengurangi dan mengganggu proses pengenalan yang ada, bukan berarti pembebanan resitasi adalah hal baik. Pada Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang diadakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo tahun ini, timbul beberapa kejanggalan. Seperti pengadaan resitasi oleh kepanitiaan yang memunculkan upaya monopoli hingga pembebanan resitasi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan proses pengenalan budaya akademik. Contohnya adalah resitasi pin dan resitasi pom-pom. Meski menimbulkan kontroversi karena pengadaannya yang dimonopoli oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas—tapi pada akhirnya membolehkan pihak lain untuk menjual, adanya resitasi pin cukup masuk akal karena pin tersebut dapat digunakan untuk aksesori. Lalu bagaimana dengan resitasi pom-pom?

Nampaknya pembebanan resitasi malah menjadi momen hura-hura, pemborosan, dan sebuah upaya untuk menunjukkan institusi siapa yang paling meriah. Parahnya, hal itu juga menjadi tunggangan bagi beberapa manusia untuk keuntungan pribadi atau kelompok. Sewaktu masa orientasi SMA, satu-satunya (atau mungkin salah satunya) kepentingan yang ada dalam masa tersebut adalah membuat siswa baru takut dengan siswa-siswa tua yang mendekati masa akhir dan memiliki wajah ngeri lalu diakhiri dengan maaf-memaafkan pada hari terakhir masa orientasi. Tapi di dunia kampus, tidak sesederhana itu saja. Ada banyak sekali kepentingannya. 

Apalagi mahasiswa baru memiliki beban Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang semakin mahal ternyata harus ditambah dengan beban resitasi yang juga tidak murah. Ketika masa SMA, tidak ada beban untuk membayar uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), sehingga pembebanan resitasi bukanlah sesuatu yang cukup menyusahkan. Tetapi pada masa setelahnya, yaitu masa pendidikan tinggi, ada beban UKT yang ternyata tidak masuk akal. Nampaknya DEMA tidak berpikir soal ini jauh-jauh hari sebelum PBAK.

Selain itu, mahasiswa baru juga diminta untuk membawa buku dan menulis artikel. Pada tahun lalu, ketika ospek, saya dan teman-teman juga diminta hal yang sama. Iming-iming akan dibuatkan perpustakaan fakultas, buku-buku yang terkumpul ternyata hanya dibiarkan bertumpuk. Sebuah tindaklanjut yang mengecewakan dan sekaligus sebuah bentuk kejahatan. Pembiaran itu sama hal-nya dengan membakar buku-buku yang menjadikan tidak berguna. Hal itu memunculkan pertanyaan apakah ini hanya upaya membangun citra bahwa ada kepedulian literasi?

Lalu soal penulisan artikel yang sampai saat ini saya pun merasa sukar membuatnya. Saya  yakin bahwa sampai saat ini, saya dan kawan-kawan yang terlibat dalam PBAK tahun lalu tidak paham dengan tema yang disodorkan. Mungkin juga termasuk dengan panitia yang menyodorkan tema. 
Bahkan mungkin saja telah terlupakan. Ketika awal masa PBAK, saya tak berpikiran macam-macam soal ini. Saya menganggap bahwa panitia telah memiliki kompetensi dan paham betul tema itu. Lalu setahun berlalu dan saya tahu bahwa sebagian besar dari mereka nampaknya sama saja seperti kami, yang tak tahu apa-apa soal tema, perihal buku dan tulis-menulis. Meski menyusahkan, ada sisi baiknya sedikit, resitasi penulisan artikel ternyata berguna untuk mengenalkan bagaimanakah karakter dunia akademik. Setidaknya bagi saya sendiri. Meskipun sebenarnya sisi buruknya lebih besar, tugas tersebut dapat menimbulkan tindakan plagiarisme yang merupakan kejahatan terkejam dalam dunia akademik.

Dari ingatan tentang PBAK dan masa orientasi ketika SMA, saya jadi yakin, bahwa resitasi adalah suatu yang tidak penting dalam dunia akademik kampus. Barangkali, jika ada upaya untuk merubah resitasi menjadi suatu hal yang lebih bermanfaat—mengenalkan budaya akademik kemahasiswaan, saya akan mendukungnya.

Lagi-lagi, saya harus mengingatkan kembali, ini adalah sebuah tulisan opini. Semoga tidak ada lagi kesalahpahaman tentang macam-macam tulisan. Terima kasih.

*) Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia luring, kata ‘resitasi’ memiliki arti: 1) pembacaan hafalan (pengajian) di muka umum; 2) hafalan yang diucapkan oleh murid-murid di dalam kelas. Adanya penulisan yang jauh dari arti semata-mata menyesuaikan penyebutan dan pemahaman yang ada di UIN Walisongo.


Penulis : A.A. Prayoga