Pos Terkini

Diberdayakan oleh Blogger.

Surat Yang Kubaca Di Pemakaman

3/12/2018


Ilustrasi: Edu-On/aap


"Hidupmu tidak akan jadi seperti hidupku, jadilah orang baik. Jadilah pemaaf."

Begitu kata ibuku ketika usiaku 12 tahun. Waktu itu ibuku selesai memasak nasi dan lauk-pauk yang kemudian di hamburkan ayahku begitu saja karena masakan yang terlalu atau kurang asin. Kakiku berdarah terkena pecahan entah itu gelas atau piring, yang pasti mereka pecah karena dibanting.
.....

Dia, ibuku, memijakkan kaki yang lemah di bumi yang keras. Aku tidak akan pernah bisa melupakan namanya. Dia adalah bendahara yang cerdas sekaligus malang. Cerdas karena pandai mengatur bagaimana uang yang sedikit cukup untuk membuat perut kami kenyang. Malang sebab seseorang kadang menuduhnya korupsi, kemudian harus dipukul guna membayar kecurangannya yang sebenarnya tidak ia lakukan. Dia tidak mau menangis di depanku. Aku masih ingat ketika aku diajarinya menggambar dan menulis. Tuhan sepertinya memberiku anugerah ingatan yang kuat, aku ingat bagaimana dia pertama kali mengajariku  menggambar rumah dengan awan di atasnya dan pot bunga di halaman rumah. Aku ingat bagaimana aku diajari menulis huruf hijaiyah "ba" dengan sempurna, yang harus aku lakukan puluhan kali agar bisa membentuk ba seperti yang dicontohkan dia.

Dia berada di tanah yang asing dari kelahirannya, dengan seseorang yang selalu menyakiti ketika seharusnya orang itu melindungi. Dia harus memakai lipstik yang warnanya tidak ia inginkan, memasak masakan yang baru saja ia pelajari, dan harus selalu membelikan rokok yang tidak pernah ia hisap. Dia memiliki wajah yang bisa menimbulkan kesenangan sekaligus fitnah. Dia tidak bisa mengenakan gaun seperti halnya bagaimana sseharusnya perempuan diagungkan. Dia tidak lagi memiliki mahar sebab mahar harus dijual untuk menyambung kehidupan disaat mendesak.
Umurku sepuluh tahun ketika aku pulang dari sekolah dan terkejut ketika di dalam rumah aku melihat seorang gadis remaja sedang menonton televisi. Dia memiliki kulit yang sama dengan kulitku. Ketika aku melihatnya, dia tersenyum ke arahku dan ibu mendatangiku sambil memberitahuku siapa dia. Dia bernama Maya. Umurnya tiga belas tahun. Tampaknya kami memiliki mata yang sama. Setelah Maya tertidur di kamar yang sama denganku, ibuku menceritakan tentang siapa Maya dan mengapa dia ada di sini. Maya ternyata adalah kakak tiriku, dulu sebelum ayah menikah dengan ibuku, ayah sudah menikah terlebih dahulu dengan ibu Maya. Ibu sambil berlinangan air mata menceritakan semuanya. Dahulu, ibuku tidak tahu sama sekali bahwa ayah sudah pernah menikah, atau bahkan memang masih dalam ikatan pernikahan. Dengan kata lain, selama sebelas tahun pernikahan, ibuku sudah dibohongi oleh ayah dan keluarga ayah sendiri. Aku juga tidak menyangkanya sama sekali. Dulu ayah mengaku bahwa dia adalah bujangan. Ibuku, yang saat itu masih gadis polos percaya-percaya saja. Ayah menikah dengan ibu Maya yang tidak kutahu namanya ketika mereka lulus SMA. Beberapa bulan setelah pernikahan, mereka kemudian berpisah. Ayah lalu merantau ke pulau jawa dan akhirnya bertemu dengan ibuku. Mereka menikah dan ketika aku berusia tujuh tahun, ayah merasa bahwa lebih mudah berwirausaha di luar jawa, selain itu ayah juga ingin dekat dengan keluarga besar dan ingin memberiku pengalaman hidup di luar jawa.

Tahun pertama kami di luar jawa berjalan baik, usaha ayah lancar dan tidak ada masalah yang berarti bagi kami. Tahun berikutnya usaha ayah semakin berkembang dan maju. Namun, ada banyak perubahan dalam sikap ayah. Mulai dari mengeluh jika makan masakan yang tidak terlalu enak (padahal menurut kami enak), mengeluh jika ada sedikit keributan, dan mudah marah setiap pulang kerja. Ibuku bingung bagaimana menghadapi sikap ayah, sebab jika ibu diam saja bahkan ayah mulai berani main tangan dengan ibu, tapi jika ibu membantah ayah, rumah terasa seperti bom yang akan meledak. Dan sekarang, tiba-tiba ayah harus membawa gadis remaja itu ke rumah kami, dengan alasan bahwa keluarganya sudah tidak dapat lagi membiayai hidupnya karena keterbatasan ekonomi, mantan isteri ayah, ibu Maya sudah meninggal dua bulan lalu dan almarhumah ibunya belum memiliki suami lagi, sehingga Maya harus diasuh kakeknya sementara kakeknya sudah jatuh miskin. Mau bagaimana lagi, ayahku harus mengasuhnya sebab dia memang ayah kandungnya.

Hari-hari berlaku semakin muram, kami harus mengatur uang sepintar-pintarnya. Sikap ayah semakin kasar, ibu sering menangis merindukan keluarganya di pulau seberang. Bila aku bosan dengan suasana rumah, maka aku melukis. Kakak tiriku, Maya, dia putus sekolah. Sebenarnya dia masih bisa melanjutkan SMP, tetapi dia lebih memilih bekerja di toko bibiku dan bahkan tinggal bersama bibiku. Aku tetap harus belajar giat dan melanjutkan sekolahku setinggi-tingginya, sampai aku jadi orang sukses. Umurku sebelas tahun, tapi aku punya banyak cita-cita. Tapi di balik cita-citaku yang banyak dan rumit itu, aku hanya memiliki impian sederhana, yaitu memiliki keluarga yang bahagia, meskipun miskin, tapi kaya akan cinta. Beda dengan keluargaku, mereka miskin dan hanya punya sedikit cinta. Seandainya tidak ada ibu, aku mungkin akan jadi orang yang paling membenci ibuku. Tapi ibuku malah membenciku ketika aku berkata aku benci ayah. Aku tidak tahu kenapa, apa karena cinta?

Satu tahun kenudian,yaitu ketika umurku dua belas tahun, ibu mendapati alat pendeteksi kehamilan di saku celana ayahku sewaktu ibu akan mencucinya. Awalnya ibu berfikir ingin mencari uang di saku ayah, barangkali ada sebab uang yang diberikan ayah kepada ibuku hanya cukup untuk makan, tanpa pernah untuk ibu bersenang-bersenang barang sekadar membeli selembar kerudung. Betapa ibu terkejut melihat alat itu, berada di pakaian suaminya. Dia kemudian mengecek handphone ayah, dan terkejut lagi melihat foto foto ayah bersama perempuan lain yang lebih muda.
.....

"Apakah kau merindukan ayahmu?"
Tanya Gerald sambil memandangku.
"Iya. Meskipun di waktu waktu kesulitan aku membencinya. Benci sebab aku merasa dialah yang membuat hidupku dan hidup ibuku menderita."
"Tapi sekarang hidupmu jauh lebih baik, ibumu sudah menikah dengan pria yang  lebih baik, hidup tentram dan berkecukupan, dan yang paling harus kau syukuri adalah kau mendapat beasiswa kuliah di london. Jika tidak, bagaimana kau bisa ngobrol dengan laki-laki tampan sepertiku. Haha"
Aku kemudian tertawa mendengar pernyataan Gerald. Bijak sekali apa yang ia katakan.
"Kenapa terus tertawa? Jadi kau masih benci ayahmu atau tidak?"
"Aku tidak tahu, aku takut memaafkan. Iya, aku memang rindu. Tapi aku bahkan tidak pernah bertanya kepada ibuku apa dia sudah memaafkan ayahku atau belum."
"Takut memaafkan? Kenapa? Ketahuilah, ketakutanmu lebih menakutkan dari takut itu sendiri. Kau harus belajar memaafkan. Itu suatu keharusan."
"Aku kira orang sepertimu tidak bisa berkata seperti itu. Bijak sekali."

Kami pun tertawa dan menghabiskan hidangan kami di restoran yang dekat dengan Big Ben, sebuah menara jam yang terletak di Istana Westminster, London, Britania Raya. Aku memandangi langit London sejenak dan menyisipkan harapan hari hari baik.

Ketika sampai di kamarku aku memikirkan kembali pertanyaan gerald. Aku pikir, kecemasanku ini tidak berpengaruh apa-apa untuk aktifitasku. Tapi nyatanya tidak. Aku bahkan resah memikirkan hatiku yang tidak bisa memaafkan. Jujur, aku memang sangat merindukan ayah tapi bayang-bayang kebencianku juga sering muncul.
...

Beberapa bulan lagi aku lulus kuliah. Gerald sengaja memberitahu isi hatinya ketika ibu dan ayah tiriku tiba di london. Setelah mengucapkan selamat atas kelulusanku, dia mengungkapkan perasaanya kepadaku. Dia adalah orang barat yang keramahannya bahkan melebihi orang asia. Dia juga punya mata biru yang indah, tapi juga berbahaya. Aku tidak menyangka dan tidak tahu apa yang harus aku jawab. Kemudian kami makan malam dan dia menceritakan apa yang akan dia lakukan di masa depan, tentu saja ada hubungannya denganku. Aku bersyukur, dia mencintaiku dan memahami apa yang harus dia lakukan untukku. Dia sejak dahulu diam-diam sudah mempelajari agamaku, meski aku tidak tahu apakah dia terlebih dahulu jatuh cinta denganku, atau jatuh cinta dengan tuhanku. Dia juga menanyakan padaku apakah aku lebih bahagia tinggal di negeriku sendiri, atau di negeri orang. Aku menjawab bahwa aku setelah ini ingin tinggal di indonesia saja, dekat dengan keluarga, dan ingin mendedikasikan ilmuku untuk indonesia. Dia pun sudah mempelajari bahasa indonesia diam-diam, dan aku dibuat takjub olehnya karena dia bisa aku ajak bercakap-cakap bahasa indonesia, meskipun logatnya masi kental sekali. Aku merasa bersyukur dicintai laki-laki seperti gerald, dan bahagia berkat doa ibuku yang selalu ia panjatkan dalam sujudnya, agar kami memiliki ksatria yang senantiasa menjaga, melindungi, menyayangi dan mengayomi kami sebagai perempuan. Ibu benar-benar tidak ingin masa lalunya datang lagi kepadaku.

Beberapa bulan setelah menikah, suamiku memberiku kejutan dengan kue tart dan kado kecil yang aku tidak tahu apa. Kado itu ringan sekali. Aku hampir tidak bisa menebaknya, yang pasti mungkin itu adalah surat cinta yang ia tulis sepenuh hati. Ternyata salah, kado itu berisi dua lembar tiket perjalanan menuju salah satu kota di kalimantan. Itu adalah kota dimana aku tinggal bersama ayah dan ibuku dulu, sebelum akhirnya ibuku dan aku pergi ke Jawa lagi meninggalkan kota itu, tempat masa-masa suram itu berlalu. Itu adalah kota dimana ayahku dan keluarga barunya tinggal.
"Aku ingin kau bertemu ayahmu, kalian pasti saling merindukan tapi seperti ada jarak di antara kalian. Hubungan kalian dingin, dan aku tahu kau pasti sering kesepian dikarenakan rindumu kepad ayahmu."
"Bagaimana kau tahu?" Tanyaku sambil menitikkan air mata, karena terharu dengan kejutan suamiku, dan sedih mengingat kerinduanku.
"Aku lebih memahamimu. Lebih dari yang kau pahami, dan lebih memahamimu daripada memahami diriku sendiri. Kau harus memaafkan ayahmu dan buat hubunganmu dengan beliau menjadi hangat lagi. Biarkan dia melewati hari tuanya dengan bahagia, tanpa ada perasaan berhutang kebahagiaan terhadapmu".
"Iya, terima kasih sudah memahamiku. Aku akan belajar memaafkan ayah dan aku mau bertemu ayah."
Kami bepelukan dan dia mengusap air mataku. Aku bersyukur sekali.

Aku memberi kabar kepada ayahku bahwa aku akan mengunjunginya, setelah 10 tahun lebih kami tidak bertemu. Ayahku tampak gembira, meski  aku menilainya hanya dari pesan singkat. Aku dan suami menuju bandara, dengan tangan yang dingin aku membawa koperku yang di dalamnya sudah kusiapkan beberapa baju untuk ayah dan saudara-saudaraku di sana. Aku merasa gugup ketika hendak menaiki pesawat, bukan karena pertama kali naik pesawat, melainkan karena akan bertatap muka dengan wajah-wajah yang sudah lama tidak kulihat.

Satu jam setelah matahari terbit, aku dan suamiku sudah sampai di rumah ayah. Aku agak kecapaian sebab perjalanan yang hampir memakan waktu satu hari. Aku kebingungan sebab rumah ayahku lengang, tampak tidak ada penghuninya. Beberapa saat kemudian hp ku berdering, itu telfon dari tanteku. Tanteku, adik dari ayahku berkata bahwa dua jam yang lalu ayah  harus di antar ke rumah sakit. Dia bilang sebentar lagi ada keluarga yang menjemput kami dan membawa kami ke rumah sakit. Sesampainya di runah sakit, aku menjadi lemas ketika tahu ayah koma. Semua seperti mimpi, dan menjadi lebih seperti mimpi ketika di malam harinya ayah dinyatakan meninggal dunia, tanpa sempat aku ajak bicara sedikitpun.


Aku ikut mengantar ayah di pemakaman dan berharap ayah melihatku. Setelah orang-orang pulang, aku masih di pemakaman. Sendiri dan bersedih. Tiba-tiba aku menemukan sepucuk surat bertuliskan judul di bagian depan: "Untuk Dian, anakku. Berisi permohonan maaf seorang ayah".

*)Penulis adalah Asmahan Aji Rahmania, kru magang LPM Edukasi angkatan 2017.