Maret 2018




Judul   : Tokyo Ghoul Live-Action 2017

Genres :Action, Mystery, Horror, Psychological, Supernatural, Drama, Seinen

Penulis Naskah : Sui Ishida dari manga, Ichiro Kusuno

Studio : Fuji TV

Tanggal Rilis : 13 September 2017 (Indonesia)

Negara Asal : Jepang

Bahasa Film : Jepang

Durasi : 119 menit


“Manusia mengira mereka berada di puncak rantai makanan, tapi makhluk tertentu memburu manusia sebagai makanan. Di Tokyo, keberadaan mereka sudah lama dikenal, mereka dikenal dengan “Ghoul” dan dianggap sebagai ancaman serius. Komisi Pemberantasan Ghoul dibentuk oleh pemerintah telah memusnahkan banyak Ghoul. Namun, Ghoul terus ada, di tengah bayang-bayang Tokyo.”

Film ini diangkat dari anime Tokyo Ghoul, mengisahkan tentang Ghoul (makhluk yang memakan manusia). Tokoh utama dari film yang disutradai oleh Kentaro Hagiwara ini adalah seorang laki-laki yang bernama Kaneki Ken diperankan oleh Masata Kubota. Awal mulanya, Kaneki menyukai seorang gadis yang bernama Rizen. Kamishiro yang diperankan Yuu Aoi. Mereka memiliki hobi yang sama yaitu membaca buku.

Kaneki akhirnya mengajak Rize berkencan, padahal yang diajaknya berkencan adalah seorang Ghoul. Pada akhir kencannya, Rize melancarkan aksinya untuk memakan Kaneki. Tetapi ada sebuah tragedi yang membuat Rize akhirnya dalam kondisi lebih parah daripada Kaneki yang sudah ditusuk-tusuk oleh kagune Rize. Pada akhirnya dokter memindahkan organ dalam Rize ke Kaneki yang memiliki banyak peluang untuk diselamatkan. Maka, karena Kaneki telah menerima salah satu organ dari Ghoul, Kaneki menjadi manusia setengah Ghoul.

Permulaan film ini berbeda dengan permulaan versi animenya. Pada permulaan versi anime, seolah-olah penonton diperkenalkan terlebih dahulu tentang pengertian Ghoul. Tetapi pada live-actionnya, langsung dimulai dengan ditunjukkannya penonton pada tokoh utamanya.

Di dalam versi animenya menggunakan alur campuran, sehingga penonton akan mengetahui latar belakang kejadian-kejadian yang terjadi. Tetapi dalam live-actionnya hanya terdapat alur maju. Penonton sebaiknya sebelum menonton versi filmnya akan lebih baik menonton versi animenya, karena cerita alur mundur juga dapat mejawab kejadian-kejadian yang terjadi saat itu.

Ada juga beberapa kejadian yang dihilangkan, walaupun kejadian tersebut tidak penting dan sedikit menjumpai tokoh utama. Akan tetapi terkadang kejadian yang dihilangkan tersebut dapat mengubah penilaian ataupun cerita yang dimaksudkan oleh si pembuat berbeda dengan si penonton. Percakapan yang dihilangkan dari versi animenya juga dapat mempengaruhi penangkapan cerita penonton. Tetapi setelah menikmati kejadian selanjutnya, penonton akan memiliki penangkapan cerita seperti di animenya.

Film yang dirilis pada tanggal 13 September 2017 di Indonesia ini sangat menarik, karena memiliki banyak persamaan dengan versi anime dalam penggambarannya. Versi anime sendiri sudah banyak memikat para penyuka anime, ditambahi dengan adanya Live-Action Tokyo Ghoul ini. Menampilkan aksi memakan manusia yang dengan tampilan yang memuaskan, karena ini film aksi yang banyak memuat kejadian-kejadian yang berbeda dari kenyataan.

Versi anime Tokyo Ghoul sendiri memiliki 2 season, setiap season terdiri dari 12 episode. Tetapi film live-action yang berdurasi 199 menit ini sangat disayangkan, karena hanya memuat cerita sampai pertengahan episode 9 season 1. Para penyuka Tokyo Ghoul akan sedikit kecewa karena tidak adanya cerita pada season 2 di film ini. Padahal pada season 2, banyak kejadian yang menarik untuk dijadikan live-action.

*)Penulis adalah Adelya Aisah, kru magang LPM Edukasi tahun 2017



Ilustrasi: Edu-On/aap


"Hidupmu tidak akan jadi seperti hidupku, jadilah orang baik. Jadilah pemaaf."

Begitu kata ibuku ketika usiaku 12 tahun. Waktu itu ibuku selesai memasak nasi dan lauk-pauk yang kemudian di hamburkan ayahku begitu saja karena masakan yang terlalu atau kurang asin. Kakiku berdarah terkena pecahan entah itu gelas atau piring, yang pasti mereka pecah karena dibanting.
.....

Dia, ibuku, memijakkan kaki yang lemah di bumi yang keras. Aku tidak akan pernah bisa melupakan namanya. Dia adalah bendahara yang cerdas sekaligus malang. Cerdas karena pandai mengatur bagaimana uang yang sedikit cukup untuk membuat perut kami kenyang. Malang sebab seseorang kadang menuduhnya korupsi, kemudian harus dipukul guna membayar kecurangannya yang sebenarnya tidak ia lakukan. Dia tidak mau menangis di depanku. Aku masih ingat ketika aku diajarinya menggambar dan menulis. Tuhan sepertinya memberiku anugerah ingatan yang kuat, aku ingat bagaimana dia pertama kali mengajariku  menggambar rumah dengan awan di atasnya dan pot bunga di halaman rumah. Aku ingat bagaimana aku diajari menulis huruf hijaiyah "ba" dengan sempurna, yang harus aku lakukan puluhan kali agar bisa membentuk ba seperti yang dicontohkan dia.

Dia berada di tanah yang asing dari kelahirannya, dengan seseorang yang selalu menyakiti ketika seharusnya orang itu melindungi. Dia harus memakai lipstik yang warnanya tidak ia inginkan, memasak masakan yang baru saja ia pelajari, dan harus selalu membelikan rokok yang tidak pernah ia hisap. Dia memiliki wajah yang bisa menimbulkan kesenangan sekaligus fitnah. Dia tidak bisa mengenakan gaun seperti halnya bagaimana sseharusnya perempuan diagungkan. Dia tidak lagi memiliki mahar sebab mahar harus dijual untuk menyambung kehidupan disaat mendesak.
Umurku sepuluh tahun ketika aku pulang dari sekolah dan terkejut ketika di dalam rumah aku melihat seorang gadis remaja sedang menonton televisi. Dia memiliki kulit yang sama dengan kulitku. Ketika aku melihatnya, dia tersenyum ke arahku dan ibu mendatangiku sambil memberitahuku siapa dia. Dia bernama Maya. Umurnya tiga belas tahun. Tampaknya kami memiliki mata yang sama. Setelah Maya tertidur di kamar yang sama denganku, ibuku menceritakan tentang siapa Maya dan mengapa dia ada di sini. Maya ternyata adalah kakak tiriku, dulu sebelum ayah menikah dengan ibuku, ayah sudah menikah terlebih dahulu dengan ibu Maya. Ibu sambil berlinangan air mata menceritakan semuanya. Dahulu, ibuku tidak tahu sama sekali bahwa ayah sudah pernah menikah, atau bahkan memang masih dalam ikatan pernikahan. Dengan kata lain, selama sebelas tahun pernikahan, ibuku sudah dibohongi oleh ayah dan keluarga ayah sendiri. Aku juga tidak menyangkanya sama sekali. Dulu ayah mengaku bahwa dia adalah bujangan. Ibuku, yang saat itu masih gadis polos percaya-percaya saja. Ayah menikah dengan ibu Maya yang tidak kutahu namanya ketika mereka lulus SMA. Beberapa bulan setelah pernikahan, mereka kemudian berpisah. Ayah lalu merantau ke pulau jawa dan akhirnya bertemu dengan ibuku. Mereka menikah dan ketika aku berusia tujuh tahun, ayah merasa bahwa lebih mudah berwirausaha di luar jawa, selain itu ayah juga ingin dekat dengan keluarga besar dan ingin memberiku pengalaman hidup di luar jawa.

Tahun pertama kami di luar jawa berjalan baik, usaha ayah lancar dan tidak ada masalah yang berarti bagi kami. Tahun berikutnya usaha ayah semakin berkembang dan maju. Namun, ada banyak perubahan dalam sikap ayah. Mulai dari mengeluh jika makan masakan yang tidak terlalu enak (padahal menurut kami enak), mengeluh jika ada sedikit keributan, dan mudah marah setiap pulang kerja. Ibuku bingung bagaimana menghadapi sikap ayah, sebab jika ibu diam saja bahkan ayah mulai berani main tangan dengan ibu, tapi jika ibu membantah ayah, rumah terasa seperti bom yang akan meledak. Dan sekarang, tiba-tiba ayah harus membawa gadis remaja itu ke rumah kami, dengan alasan bahwa keluarganya sudah tidak dapat lagi membiayai hidupnya karena keterbatasan ekonomi, mantan isteri ayah, ibu Maya sudah meninggal dua bulan lalu dan almarhumah ibunya belum memiliki suami lagi, sehingga Maya harus diasuh kakeknya sementara kakeknya sudah jatuh miskin. Mau bagaimana lagi, ayahku harus mengasuhnya sebab dia memang ayah kandungnya.

Hari-hari berlaku semakin muram, kami harus mengatur uang sepintar-pintarnya. Sikap ayah semakin kasar, ibu sering menangis merindukan keluarganya di pulau seberang. Bila aku bosan dengan suasana rumah, maka aku melukis. Kakak tiriku, Maya, dia putus sekolah. Sebenarnya dia masih bisa melanjutkan SMP, tetapi dia lebih memilih bekerja di toko bibiku dan bahkan tinggal bersama bibiku. Aku tetap harus belajar giat dan melanjutkan sekolahku setinggi-tingginya, sampai aku jadi orang sukses. Umurku sebelas tahun, tapi aku punya banyak cita-cita. Tapi di balik cita-citaku yang banyak dan rumit itu, aku hanya memiliki impian sederhana, yaitu memiliki keluarga yang bahagia, meskipun miskin, tapi kaya akan cinta. Beda dengan keluargaku, mereka miskin dan hanya punya sedikit cinta. Seandainya tidak ada ibu, aku mungkin akan jadi orang yang paling membenci ibuku. Tapi ibuku malah membenciku ketika aku berkata aku benci ayah. Aku tidak tahu kenapa, apa karena cinta?

Satu tahun kenudian,yaitu ketika umurku dua belas tahun, ibu mendapati alat pendeteksi kehamilan di saku celana ayahku sewaktu ibu akan mencucinya. Awalnya ibu berfikir ingin mencari uang di saku ayah, barangkali ada sebab uang yang diberikan ayah kepada ibuku hanya cukup untuk makan, tanpa pernah untuk ibu bersenang-bersenang barang sekadar membeli selembar kerudung. Betapa ibu terkejut melihat alat itu, berada di pakaian suaminya. Dia kemudian mengecek handphone ayah, dan terkejut lagi melihat foto foto ayah bersama perempuan lain yang lebih muda.
.....

"Apakah kau merindukan ayahmu?"
Tanya Gerald sambil memandangku.
"Iya. Meskipun di waktu waktu kesulitan aku membencinya. Benci sebab aku merasa dialah yang membuat hidupku dan hidup ibuku menderita."
"Tapi sekarang hidupmu jauh lebih baik, ibumu sudah menikah dengan pria yang  lebih baik, hidup tentram dan berkecukupan, dan yang paling harus kau syukuri adalah kau mendapat beasiswa kuliah di london. Jika tidak, bagaimana kau bisa ngobrol dengan laki-laki tampan sepertiku. Haha"
Aku kemudian tertawa mendengar pernyataan Gerald. Bijak sekali apa yang ia katakan.
"Kenapa terus tertawa? Jadi kau masih benci ayahmu atau tidak?"
"Aku tidak tahu, aku takut memaafkan. Iya, aku memang rindu. Tapi aku bahkan tidak pernah bertanya kepada ibuku apa dia sudah memaafkan ayahku atau belum."
"Takut memaafkan? Kenapa? Ketahuilah, ketakutanmu lebih menakutkan dari takut itu sendiri. Kau harus belajar memaafkan. Itu suatu keharusan."
"Aku kira orang sepertimu tidak bisa berkata seperti itu. Bijak sekali."

Kami pun tertawa dan menghabiskan hidangan kami di restoran yang dekat dengan Big Ben, sebuah menara jam yang terletak di Istana Westminster, London, Britania Raya. Aku memandangi langit London sejenak dan menyisipkan harapan hari hari baik.

Ketika sampai di kamarku aku memikirkan kembali pertanyaan gerald. Aku pikir, kecemasanku ini tidak berpengaruh apa-apa untuk aktifitasku. Tapi nyatanya tidak. Aku bahkan resah memikirkan hatiku yang tidak bisa memaafkan. Jujur, aku memang sangat merindukan ayah tapi bayang-bayang kebencianku juga sering muncul.
...

Beberapa bulan lagi aku lulus kuliah. Gerald sengaja memberitahu isi hatinya ketika ibu dan ayah tiriku tiba di london. Setelah mengucapkan selamat atas kelulusanku, dia mengungkapkan perasaanya kepadaku. Dia adalah orang barat yang keramahannya bahkan melebihi orang asia. Dia juga punya mata biru yang indah, tapi juga berbahaya. Aku tidak menyangka dan tidak tahu apa yang harus aku jawab. Kemudian kami makan malam dan dia menceritakan apa yang akan dia lakukan di masa depan, tentu saja ada hubungannya denganku. Aku bersyukur, dia mencintaiku dan memahami apa yang harus dia lakukan untukku. Dia sejak dahulu diam-diam sudah mempelajari agamaku, meski aku tidak tahu apakah dia terlebih dahulu jatuh cinta denganku, atau jatuh cinta dengan tuhanku. Dia juga menanyakan padaku apakah aku lebih bahagia tinggal di negeriku sendiri, atau di negeri orang. Aku menjawab bahwa aku setelah ini ingin tinggal di indonesia saja, dekat dengan keluarga, dan ingin mendedikasikan ilmuku untuk indonesia. Dia pun sudah mempelajari bahasa indonesia diam-diam, dan aku dibuat takjub olehnya karena dia bisa aku ajak bercakap-cakap bahasa indonesia, meskipun logatnya masi kental sekali. Aku merasa bersyukur dicintai laki-laki seperti gerald, dan bahagia berkat doa ibuku yang selalu ia panjatkan dalam sujudnya, agar kami memiliki ksatria yang senantiasa menjaga, melindungi, menyayangi dan mengayomi kami sebagai perempuan. Ibu benar-benar tidak ingin masa lalunya datang lagi kepadaku.

Beberapa bulan setelah menikah, suamiku memberiku kejutan dengan kue tart dan kado kecil yang aku tidak tahu apa. Kado itu ringan sekali. Aku hampir tidak bisa menebaknya, yang pasti mungkin itu adalah surat cinta yang ia tulis sepenuh hati. Ternyata salah, kado itu berisi dua lembar tiket perjalanan menuju salah satu kota di kalimantan. Itu adalah kota dimana aku tinggal bersama ayah dan ibuku dulu, sebelum akhirnya ibuku dan aku pergi ke Jawa lagi meninggalkan kota itu, tempat masa-masa suram itu berlalu. Itu adalah kota dimana ayahku dan keluarga barunya tinggal.
"Aku ingin kau bertemu ayahmu, kalian pasti saling merindukan tapi seperti ada jarak di antara kalian. Hubungan kalian dingin, dan aku tahu kau pasti sering kesepian dikarenakan rindumu kepad ayahmu."
"Bagaimana kau tahu?" Tanyaku sambil menitikkan air mata, karena terharu dengan kejutan suamiku, dan sedih mengingat kerinduanku.
"Aku lebih memahamimu. Lebih dari yang kau pahami, dan lebih memahamimu daripada memahami diriku sendiri. Kau harus memaafkan ayahmu dan buat hubunganmu dengan beliau menjadi hangat lagi. Biarkan dia melewati hari tuanya dengan bahagia, tanpa ada perasaan berhutang kebahagiaan terhadapmu".
"Iya, terima kasih sudah memahamiku. Aku akan belajar memaafkan ayah dan aku mau bertemu ayah."
Kami bepelukan dan dia mengusap air mataku. Aku bersyukur sekali.

Aku memberi kabar kepada ayahku bahwa aku akan mengunjunginya, setelah 10 tahun lebih kami tidak bertemu. Ayahku tampak gembira, meski  aku menilainya hanya dari pesan singkat. Aku dan suami menuju bandara, dengan tangan yang dingin aku membawa koperku yang di dalamnya sudah kusiapkan beberapa baju untuk ayah dan saudara-saudaraku di sana. Aku merasa gugup ketika hendak menaiki pesawat, bukan karena pertama kali naik pesawat, melainkan karena akan bertatap muka dengan wajah-wajah yang sudah lama tidak kulihat.

Satu jam setelah matahari terbit, aku dan suamiku sudah sampai di rumah ayah. Aku agak kecapaian sebab perjalanan yang hampir memakan waktu satu hari. Aku kebingungan sebab rumah ayahku lengang, tampak tidak ada penghuninya. Beberapa saat kemudian hp ku berdering, itu telfon dari tanteku. Tanteku, adik dari ayahku berkata bahwa dua jam yang lalu ayah  harus di antar ke rumah sakit. Dia bilang sebentar lagi ada keluarga yang menjemput kami dan membawa kami ke rumah sakit. Sesampainya di runah sakit, aku menjadi lemas ketika tahu ayah koma. Semua seperti mimpi, dan menjadi lebih seperti mimpi ketika di malam harinya ayah dinyatakan meninggal dunia, tanpa sempat aku ajak bicara sedikitpun.


Aku ikut mengantar ayah di pemakaman dan berharap ayah melihatku. Setelah orang-orang pulang, aku masih di pemakaman. Sendiri dan bersedih. Tiba-tiba aku menemukan sepucuk surat bertuliskan judul di bagian depan: "Untuk Dian, anakku. Berisi permohonan maaf seorang ayah".

*)Penulis adalah Asmahan Aji Rahmania, kru magang LPM Edukasi angkatan 2017.
Doc. LPM Edukasi
Menyambut Haul KH, A. Tamamuddin Munji, tanggal 19 Maret 2018, PP. Bait As Syuffah An Nahdliyyah, Sidorejo Pamotan Rembang, telah mengadakan diskusi pada tanggal 03 Maret 2018, bertema peran taklim muta'alim dalam membentuk nilai keislaman melalui pembelajaran. Penulis yang menjadi narasumber pada acara ini, menemukan pertanyaan penting yang sangat mengikat yang mendorong untuk penulis bagikan pada tulisan ini: karena sekarang ini ditekankan untuk pendidikan karakter, bagaimana relevansinya dengan kajian kitab Taklim Muta'alim?

Dalam diskusi yang sangat sederhana, saya kira sangat penting mengkaji jawaban dari pertanyaan ini, sebab sekarang ini dunia pendidikan dihadapkan pada problem bagaimana dapat membentuk kepribadian dan karakter anak didik?  Pertanyaan ini relevan dengan kitab Ta’lim al Muta’allim karya Syekh Burhanuddin Az-Zanurji. Karya kitab ini relevan dengan keprihatinan para praktisi pendidikan melihat fenomena pelajar sekarang ini yang semakin meninggalkan etika dan perilaku yang baik. Banyak anak didik yang memiliki nilai bagus, namun realitas telah menunjukkan adanya kerusakan tatanan hubungan guru dan murid, orang tua dan anak, lingkungan masyarakat dan pendidilan anak.

Dalam kitab ini, membentuk karakter siswa dimulai dengan penataan hubungan antara guru dengan siswa sebagai sebuah ikatan ruhaniyah. Karenanya, mengutip pendapat Imam Al Ghazzali, guru ibarat ahlu ruh bagi anak didik. Karenanya, relasi guru dan siswa memerlukan kesepahaman keduanya. Misalnya, menerapkan pedoman dan rambu rambu sebagai pegangan bersama. Bagaimana kontrak belajar dalam kitab Ta'lim Al Muta'allim?

Teks Ta'lim Al Muta'allim

Jika membaca teks Ta'lim Al Muta'allim, maka akan kita temukan kejanggalan dalam sistem pembelajaran di beberapa sekolah. Beberapa proses pembelajaran telah banyak mengabaikan prinsip etika pembelajaran, antara relasi guru dan murid. Misalnya, pada kasus ‘Kontrak belajar’ yang selama ini masih jauh dari panggang model pendidikan para calon Ulama. Model pendidikan modern, telah memancing konflik relasi yang harmonis antara guru dan murid atau wali murid. Sebagai contoh, banyak wali yang mengadukan guru ke polisi dengan alasan terjadi tindak kekerasan.

Dalam kitak ta'lim al muta'allim, telah menata relasi guru-murid sesuai dengan etika yang baik yang dapat membentuk keseimbangan kebutuhan fisik dan psikis. Dengan demikian, akan terjadi proses pendidikan yang lebih efektif. Misalnya, memudahkan guru memberikan pendekatan dari hati ke hati kepada Murid, yang sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaannya secara utuh. Dalam kitab Ta'lim ini, guru tidak hanya memiliki fungsi mengajar, namun juga berfungsi memberikan pendampingan secara total dan mendidik hingga murid dapat membentuk kepribadian yang memiliki pandangan dan sikap yang terpuji.

Kitab ta'lim merupakan rujukan penting di pesantren NU, karena telah memberikan contoh pendidikan karakter yang bagus. Hal ini sangat bermanfaat, jika dikembangkan di luar pesantren. Kitab Ta’lim Al Muta’alim ini, memiliki 13 pasal, yang sekarang ini diperhatikan para santri di pesantren. Para santri banyak yang menjadikannya sebagai pedoman dan menunjukkan bukti kemanfaatan nilai pendidikan yang diajarkannya.

Oleh karena itu, tidak heran telah banyak para santri yang berhasil menyebarkan ilmu agama di pelosok tanah air, yang bemula dari metode kitab ta'lim. Ada lima hal penting, dalam kitab ta'lim ini: belajar harus mencari Ridlau Allah, menata niyat yang lurus untuk pengembangan keilmuan, membebaskan diri dari ketidaktahuan dan merendahkan diri tanpa ilmu, melestarikan ilmu yang terkait dengan pandangan, sikap dan perilaku, mensyukuri nikmat akal dan kesehatan yang dianugrahkan oleh Allah.

Yang menerik dari teks ini, manusia secara umum itu berbeda dengan Nabi dan Rasul. Jika Nabi dan Rasul menerima ilmu langsung bersumber dari Hidayah Allah dan melalui Malaikat, maka masyarakat awam menerima ilmu melalui guru. Meskipun demikian, jika proses pembelajaran ini dilakukan dengan baik, maka akan menghasilkan seorang ulama yang istiqamah.

Ta'lim Al Muta'allim Sebagai Kitab Kontrak Belajar


Salah satu hal penting dalam pembelajaran santri (siswa), adalah kontrak belajar. Tujuan kontrak belajar, adalah untuk memotivasi santri (siswa) agar menekuni ilmu yang dipelajari dapat membentuk pandangan, sikap dan perilaku yang baik sesuai dengan ajaran wahyu dan kenabian. Karena arti penting kontrak belajar, maka para kiai di lingkungan pesantren telah membuat standar umum kontrak belajar santri. Karya penting dari salah seorang Ulama, yang dijadikan pedoman pembuatan sistem kontrak belajar, adalah kitab Ta'lim Al Muta'allim.

Kitab Ta'lim Al Muta'allim ini, telah dirasakan oleh para santri di lingkungan NU hingga sekarang. Karenanya, beberapa pesantren di lingkungan NU, banyak yang menggunakan kitab ini. Dari pengalaman penulis bertemu beberapa teman di pesantren, banyak yang menegaskan sistem belajar santri masih sangat memerlukan model pembelajaran kitab Ta'lim ini.  Di antara teman yang sudah menjadi Kiai di kampung dan lingkungan masing masing menegaskan, bahwa khazanah klasik yang dikaji di pesantren, jika tidak diinternalisasikan dengan kitab ini, maka akan sulit membentuk cara pandang, sikap dan perilaku santri sesuai dengan modeling para Kiai.

Oleh karena itu, seiring dengan perkembangan waktu dan zaman, berkah kitab ini, para santri tetap konsisten dengan dua hal: pertama, dengan etika ulama salaf, yang bersumber dari khazanah klasik dan bersandar kepada Nabi Muhammad. Kedua,telah termotivasi untuk mendalami dan menginternalisasikan hal hal yang terkait dengan attitude keberagamaan dalam khazanah klasik. Ketiga, adanya sikap kemandirian para santri, yang ditekankan dalam kitab ta'lim.

Secara psikologis, santri yang mandiri akan mendapatkan pengetahuan yang lebih mendalam dan permanen. Pandangan dan sikap mandiri santri ini, telah menjadi model para kiai untuk mendorong santri belajar secara mandiri. Dalam teori pebdidikan modern, model yang mampu mendorong santri belajar mandiri disebut kontrak belajar. Model kontrak belajar ini, yang mendorong para santri mampu belajar tanpa pengawasan para Kiai, di antara: pertama, musyawarah kitab fiqh, kalam, dan tasawuf. Kedua, musyawarah ilmu nahwu. Ketiga, menghafal sendiri tanpa pendampingan langsung Kiai.

Oleh karena itu, jika para santri tidak memiliki komitmen belajar mandiri, maka tidak akan menghasilkan khazanah keilmuan di pesantren yang sangat tinggi. Meskipun demikian, dalam setiap pesantren memerlukan sosok Ulama yang mampu menjadi modeling atau percontohan bagi para santri. Selain itu, para Kiai diharapkan mampu menjawab persoalan santri dan masyarakat.


Oleh: Ubaidillah Achmad
Penulis Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek, Khadim PP. Bait As Syuffah An Nahdliyah Sidorejo Pamotan Rembang.

Tradisi berjualan pada momen wisuda (Doc. Internet)
Semarang, EdukasiOnline— Momen wisuda seringkali dimanfaatkan para pedagang untuk meraup keuntungan, baik dari pedagang luar kampus sampai kalangan mahasiswa kampus itu sendiri. Hal ini pula yang terjadi di UIN Walisongo, hari ini Senin (5/3) Pusat Pengembangan Bisnis UIN Walisongo mengadakan pembagian lokasi stand baik untuk lembaga intra kampus maupun pedagang di Kampus I UIN Walisongo.

Dalam pembagian stand untuk pedagang, tahun ini ada sedikit yang berbeda. Pihak kampus memberikan lokasi khusus untuk pedagang dengan mematok harga Rp. 25.000 per meter persegi. “Katanya si tadi buat penertiban, supaya ketika acara wisuda yang berlangsung di kampus III tidak terjadi macet,”tutur Hesti salah satu mahasiswa UIN Walisongo yang berencana berjualan bunga pada momen wisuda, Rabu (7/3).

Hesti sendiri mengeluhkan sistem pinjam lahan usaha tahun ini, karena para pedagang diberi jatah 3 meter persegi yang menjadikannya harus membayar sewa sebesar Rp. 225.000. “Padahal saya tahu jika tahun-tahun sebelumnya hanya sekitar Rp. 20.000 sampai 25.000, tapi sekarang sampai segini mahalnya, itupun belum termasuk mendapat tenda, hanya sebatas lahan,”keluhnya.

Hesti berharap, pihak kampus agar menindak tegas apabila terjadi kecurangan, seperti munculnya pedagang-pedagang yang tidak ada izin dari kampus untuk berdagang. “Tinggal tunggu besok, semisal banyak terjadi kecurangan, kami akan menuntut untuk pengembalian uang yang telah kami bayarkan kepada kampus untuk biaya sewa lahan,”tandasnya. (Edu-On/Riz)