April 2017

Judul buku      : Potret Intervensi di Bilik Redaksi
Tim Penyusun : Pratono, dkk.
Penerbit           : Aliansi Jurnalist Independen (AJI) Semarang
Tahun Terbit    : 2014
Tebal Buku      : xii + 152 halaman
Resensator       : Ahmad Najib           

         Media masa yang berfungsi sebagai sumber informasi bagi khalayak umum dituntut untuk bersifat objektif dan independen dalam menyampaikan pemberitaan.  Namun dewasa ini independensi jurnalistik hanyalah tampilan “muka” dari media masa saja. Pada praktiknya independensi semakin kesini semakin tergerus karena berbagai interfvensi yang berasal dari internal dan eksternal media itu sendiri.

           Apalagi jika kita mengaca pada beberapa kasus belakang ini. Beberapa media masa telah menjadi “arena” pertarungan partai, sehingga wahana hiburan yang seharusnya disuguhkan ke masyarakat menjadi minim. Perihal ini adalah salah satu bagian bagaimana intervensi pada sebuah media masa sangatlah kuat.

             Tekanan yang berangkat dari rdaktur media itu sendiri misalnya. Merupakan segelintir contoh dari intervensi dari dalam.  Sedangkan intervensi eksternal bisa berangkat dari pemilik modal. Beberapa Intervensi tersebut mengakibatkan tidak objektifnya sebuah pemberitaan, sehingga berita yang dikonsumsi publik menjadi bias.

Buku yang diterbitkan oleh Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Semarang berusaha menguak perihal itu. Buku yang mencoba menampilkan beberapa kasus secara rinci dan jelas tentang intervensi, dalam pemberitaan media masa, khusunya lingkup Semarang. Dimana kasus intervensi ini tidak bisa lepas adanya hubungan hukum dan politik.

Buku ini menggelompokkan media intervensi tersebut menjadi dua. Pertama, Intervensi Internal Perusahaan. Intervensi tersebut dapat berasal dari redaktur, pemilik perusahaan, pemimpin redaksi, jurnalis sekantor, juga bagian iklan dan sirkulasi. Sebagai contoh, Yuha (nama samaran) sebagai jurnalis bidang liputan hukum di sebuah harian lokal di Semarang, mendapatkan tugas untuk meliput keterlibatan Wali Kota Semarang, Soemarmo Hadi Saputro dalam kasus suap yang dilakukan oleh Akhmat Zaenuri (Sekretaris Daerah Kota Semarang) kepada sejumlah anggota legislatif untuk meloloskan APBD Kota Semarang 2012.

Namun, di tengah proses penyusunan berita tersebut sang redaktur menghampirinya dan memintanya agar keterlibatan Soemarmo jangan ditulis, dengan alasan “ada perintah khusus” dari pemilik media. Alasan tersebut muncul karena Wali Kota memang dikenal dekat dengan sang pemilik media tempat Yuha bekerja.

Penggolongan yang Kedua berupa Intervensi Eksternal Perusahaan. Intervensi ini bisa berupa tekanan, ancaman, bahkan “amplop” dengan tujuan berita yang diterbitkan sesuai dengan kehendak dan permintaan pihak luar yang merasa bersangkutan.  Bahkan tidak jarang pihak luar ini meminta agar berita yang sudah diliput tidak usah diterbitkan.

Sebagai contoh pihak luar itu  salah satunya adalah pemasang iklan. Sering kali media masa tidak bisa memberitakan kasus-kasus yang melibatkan pemasang iklan di media tersebut. Tentu atas pertimbangan “amplop” yang akan mereka kantongi guna menutupi biaya percetakan dan lain sebagainya.Intervensi eksternal juga barasal dari narasumber, birokrat pemerintah, aparat keamanan, pengacara, organisasi jurnalis, dan tidak menutup kemungkinan juga jurnalis dari media lain.

Selain menampilkan beberapa kasus intervensi di media massa daerah Semarang, buku ini juga memaparkan riset kuantitatif dan kualitatif tentang independensi dan obyektivitas lima media lokal di daerah Semarang, juga solusi yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang berhubungan dengan independensi dan obyektivitas media massa,

Buku ini kiranya sangat menarik dan wajib untuk dibaca karena berusaha menampilkan berbagai kasus di media masa.  Pemaparan kongkret dan jelas serta didukung riset yang akurat tentang bagaimana kasus-kasus tersebut terjadi menjadi kelebihan tersendiri. Tak hanya  berbicara dari sudut media saja. Buku ini juga memberi arahan sikap kepada masyarakat sebagai penerima informasi media menanggapi hal tersebut.

Beberapa intervensi tersebut yang menjadikan tumpulnya media masa dalam menghadapi sebuah masalah. Guna menghadapi itu, seharusnya media membuat prosedur operasional yang semestinya, supaya independensi jurnalistik tetap terjaga sehingga informasi yang disampaikan bersifat objektif.

Guru diibaratkan seperti “pena” yang selalu menulis untuk mengasilkan suatu karya, karya yang bisa memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Analogi ini memang cocok untuk disandingkan pada pundak sang pendidik, melihat perjuangan guru yang selalu tampil di barisan terdepan bagi kecerdasan putra bangsa.
Sewaktu kecil saya pernah memimpikan menjadi seorang guru, guru yang bisa memberikan disiplin keilmuan, pengalaman dan nasehat-nasehat baiknya kepada anak didik hingga mereka sukses. Akan tetapi, cita-citaku itu entah mengapa tiba-tiba surut ketika mengetahui bahwa guru saat ini jauh berbeda dengan sosok guru pada masa lampau, dimana  sejarah telah mencatat bahwa Indonesia besar berkat campur tangan guru. Jati diri atau kepribadian guru yang bertugas mencerdaskan putra-putri bangsa kini telah tinggal sejarah. Dibuktikan dengan pemetaan profesi guru yang hanya terpaku untuk mengejar kenikmatan semata dan melupakan esensi dari peran guru tersebut.

Istilah ‘Guru’ sekarang sudah mendapat arti yang lebih luas di dalam tatanan masyarakat. Semua orang yang pernah memberikan suatu ilmu atau kepandaian kepada seseorang atau sekelompok dapat disebut ‘Guru’. Misalnya; guru silat, guru ngaji, guru mengetik, guru menjahit, bahkan guru mencopet dan sebagainya. Beberapa contoh diatas selaras dengan profesi guru sebagai pengajar bukan sebagai pendidik, pasalnya ia hanya memberikan pengajaran sebatas pada hal yang belum diketahui oleh khalayak. Sifat dan sikap guru yang hanya bisa memberikan pengajaran secara teoritis dan enggan hadir sebagai sosok orang tua di sekolah mencerminkan ‘Guru’ hanya sebagai profesi yang matrealistis, yang mengabdi dengan mengarapkan upah atau imbalan. Penegasan, bahwa Indonesia saat ini tidak membutuhkan lagi peran dan kehadiran guru yang bermodel seperti ini, namun bangsa kita butuh sosok guru yang dapat memberikan pendampingan, perlindungan, pemahaman selain dari pengajaran kepada anak didik tanah air.

Oleh karena itu, saya mencoba menguraikan pendapat yang menjadi realita saat ini, guru hanya terfokus untuk melahirkan generasi muda yang berkompeten bukan cerdas akal budinya. Perlu dimengerti terlebih dahulu bahwa kata ‘mendidik dan mengajar’ memiliki makna yang berbeda tetapi saling berhubungan. ‘Mendidik’ mempunyai arti memelihara dan memberikan ajaran, tutunan, dan kepemimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran secara bekesinambungan. Kata ‘mendidik’ biasanya terfokus pada sosok orang tua dalam lingkup pendidikan keluarga, namun hal itu hanya sebatas makna sempit. Adapun yang benar bahwa kata mendidik juga dapat disematkan pada sosok guru di lingkup pendidikan formal. Dan mengenai makna ‘mengajar’ hanya sebatas memberikan informasi kepada seseorang yang belum tahu sehingga mereka mengetahui, contonya; “kita memberikan informasi terkait rute jalan menuju rumah sakit kepada orang yang tersesat, kemudian ia tahu”, hal ini merupakan penjelasan tentang makna ‘mengajar’. Walaupun secara eksplisit dari kedua pengertian di atas hampir sama dan menimbulkan makna yang kontras, tetapi dua makna tersebut saling bersinergi. Kemudian Mengajar harus diikuti dengan mendidik, karena ‘mengajar’ hanya sebatas memberikan pengajaran secara teoritis dan berhenti pada hal itu. Akan tetapi ‘mendidik” lebih dari sekedar mengajar, guru yang berjiwa pendidik akan mampu memberikan motivasi, nasehat, pendampingan, dan evaluasi. Sehingga putra-putri bangsa tidak hanya cerdas secara intelektual saja tetapi cerdas secara emosional.

           Harapanya, guru harus mampu memberikan pendidikan yang layak dan tidak terfokus pada makna profesi saja, karena jika guru dimaknai sebagai profesi akan timbul makna baru yang terarah hanya sebatas mengajar untuk mengejar kenimatan duniawi saja. Akan tetapi, guru saat ini harus menempatkan dirinya sebagai pendidik, mendidik anak didiknya yang belum mengerti, memberikan motivasi kepada mereka yang putus asa, dan memberikan arahan atau evaluasi kepada mereka yang bersalah. Inilah makna “Guru” yang tepat dan sempat bergeser secara maknawi sehingga banyak yang salah persepsi.

Ditulis oleh M Z Muttaqin mahasiswa PBI


                 April, bulan ini nampak seperti bulannya para wanita Indonesia. Pada satu hari spesial di bulan ini para wanita di seluruh lapisan masyarakat akan sibuk khususnya wanita Jawa. Mereka akan berpakaian ala wanita Jawa tempo doeloe alias mengenakan kebaya. Tak hanya itu, berbagai lomba pun dilaksanakan, dari lomba memasak, fashion show dan masih banyak lagi. Hari itu tepatnya jatuh pada 21 April, dimana sejarah mengatakan bahwa Raden Ajeng Kartini di lahirkan di atas bumi Jepara, Indonesia.

                Uforia 21 April sebagai hari bersejarah juga ramai dijumpai di dunia maya, ribuan orang menuliskan satu, dua kata dengan bubuhan hastag ibu Kartini atau Kartini Day. Namun hal semacam itu, nampaknya belum bisa memberikan pemahaman yang komprehensif kepada masyarakat mengenai figur perempuan revolusioner yang telah memperjuangkan nasib anak cucunya itu.

                Maka dari itu, alternatif untuk mengenalkan sosok Kartini sedikit lebih jauh kepada masyarakat bisa dengan menonton film “ Surat Cinta Untuk Kartini”. Melalui media ini seluruh masyarakat bisa menikmati dan memahaminya, dari usia anak-anak, remaja, dewasa bahkan hingga orang tua dapat direkomendasikan untuk menonton film semacam ini. Selain sifatnya yang menghibur, tidak jarang film tersebut sarat akan nilai-nilai positif.

***

                Dalam skenario yang ditulis oleh Vera Varidia ini, Chiko Jerico memeroleh peran sebagai Sarwadi. Petugas kantor pos wilayah setempat yang setiap harinya bertugas mengantar surat, tanpa ia (Sarwadi) sadari ternyata salah satu surat yang akan diantarnya ialah surat untuk R.A. Kartini, dalam drama ini diperankan oleh Rania Putri Sari. Kali pertama Sarwadi menatap R.A. Kartini pandangannya tak ingin berpaling, ia kagum melihat sifat Kartini yang merakyat meski dari kaum bangsawan. Sepulang dari kediaman ayah Kartini yang juga menjabat sebagai Bupati Jepara, yakni Raden Mas Ario Sosroningrat (Donny Damara) ingatan Sarwadi tidak bisa lepas dari bayangan Kartini. Lalu ia pun berbagi cerita kepada Mujur (Ence Bagus) sahabat karib sekaligus pak dhe bagi putri semata wayang Sarwadi, Ningrum (Christabelle Grace Marbun).

                Sarwadi rutin mengantarkan surat untuk Nil, panggilan sayang ayahnya kepada R.A Kartini. Semakin hari Sarwadi semakin mengenal dan mengagumi R.A. Kartini. Begitu pula setiap harinya ia masih berbagi kisah tentang wanita pujaannya kepada Mujur. Akan tetapi tanggapan Mujur tidak terlalu menyenangkan terhadap sosok Kartini, karena Mujur dan masyarakat setempat menilai R.A. Kartini sebagai wanita yang aneh, pasalnya R.A Kartini sebagai keturunan ningrat berani melawan adat yang telah dipegang kokoh oleh masyarakat Jawa pada saat itu.

                Sarwadi tidak puas dengan keterangan tersebut, akhirnya dia memutuskan untuk mencari informasi kepada abdi wanita R.A Kartini. Hingga akhirnya terdengar kabar di telinga Sarwadi bahwa R.A Kartini akan mendirikan sekolah bagi Bumi Poetra. Sarwadi berupaya menemui R.A Kartini di sebuah pasar, dan mencuri kesempatan untuk dapat bercengkrama dengan gadis anggun nan sederhana itu. Sarwadi mengutarakan niatnya untuk menitipkan Ningrum kepada R.A Kartini supaya anak yang sudah tidak memiliki ibu itu bisa tumbuh menjadi gadis yang pandai.

                R.A Kartini menyambut niat Sarwadi dengan sumringah, kendati ia masih memiliki kendala untuk mewujudkan mimpinya itu yakni belum ada tempat untuk melaksanakan proses belajar mengajar. Semangat Kartini untuk mencerdaskan kehidupan bangsa mulai tampak, seperti gayung bersambut Sarwadi yang sejak awal menaruh hati pada Raden ayu Kartini ini dengan senang hati menyiapkan tempat belajar ala kadarnya di bantaran sungai, di bawah pohon besar yang rindang. Hanya tersedia satu ayunan yang di gantungkan di batang pohon yang biasanya digunakan Kartini untuk duduk ketika memberi pelajaran atau sekadar duduk santai sambil menunggu murid-muridnya datang. Film fiksi yang berlatarkan sejarah ini mengajarkan kepada masyarakat bahwa belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja.

                Ningrum adalah murid pertama Kartini sekaligus satu-satunya murid yang datang pada hari pertama mulai dibuka tempat belajar bagi Bumi Poetra. Ningrum tidak berhasil mengajak teman-teman sebayanya karena mereka tidak diijinkan oleh orang tuanya. Pandangan orang tua pada saat itu, perempuan sekolah dan menjadi pandai tidak ada gunanya sama sekali yang terpenting adalah mengabdi dengan totalitas kepada suami. Kecuali Sarwadi yang sedang dimabuk cinta, pemahamannya tercerahkan oleh kata-kata yang keluar dari mulut wanita dambaannya tersebut, bahwasanya wanita itu harus pandai, karena kelak ia yang kan mendidik anak-anaknya.

                Singkat cerita, sekolah Kartini semakin maju, ia memiliki murid yang cukup banyak, hingga akhirnya sang ayah memberikan tempat yang layak untuk belajar di salah satu sudut kediaman bupati Jepara itu. Selain bergerak di bidang pendidikan, dalam film yang disutradarai oleh Azar Kinoi Lubis itu, Kartini juga diperankan sebagai sosok yang memiliki perhatian cukup besar terhadap sektor perekonomian masyarakat Jepara, khususnya di bidang ukir. R.A Kartini selalu memotivasi masyarakat untuk menghasilkan ukiran terbaik agar karyanya dapat diekspor ke luar negeri. Tak heran jika sampai saat ini kota Jepara masih istiqomah dengan julukan Kota Ukir.

Perjodohan

                Pada saat keliling desa,  Raden Mas Ario Sosroningrat ditemani oleh Nil. Ayahnya adalah orang terdekat Nil, ia memahami betul karakter anaknya. Bupati Jepara itu selalu mendukung gagasan-gagasan Kartini. Namun ketika R.A Kartini mengelak perjodohan dirinya dengan bupati Rembang yang telah memiliki tiga orang istri itu, ayahnya tetap kekeh pada keputusan yang telah diambilnya. sebagai anak perempuan, Nil tidak bisa berbuat banyak kecuali pasrah.

                Pernikahan tetap berlangsung meskipun ada hati tukang pos yang tersakiti. Konsep 
pernikahan sederhana dipilih atas permintaan Kartini. Sebelum menikah ia meminta beberapa persyaratn yakni tidak ada upacara pembasuhan kaki seorang suami. Salah satu upaya Kartini mengangkat derajat seorang wanita. Kedua,Ngasirah (Ayu Dyah Pasha) ibu kandung Kartini yang selama ini tidak mau dipanggil ibu oleh Kartini demi kebaikan puterinya itu, karena statusnya hanya sebagai selir dan berasal dari keturunan orang pribumi biasa dimintakan kamar yang lebih layak kepada ayahnya. Ketiga, ketika sudah tinggal bersama di Rembang, suaminya tidak berhak melarang upaya yang dilakukan Kartini untuk mewujudkan cita-citanya. Jadi, meskipun nampak Kartini menyerah kepada takdir, tetapi tidak sepenuhnya ia pasrah akan nasib yang telah menimpanya. Karena dalam kepasrahannya ia masih terus berusaha.

***

                “Selesai sudah cerita tentang Raden Ajeng Kartini”, ungkap Rangga dengan mimik muka penuh ekspresi di hadapan siswa-siswinya. Anak didiknya terlihat puas dan penuh antusias dengan dongeng berbalut sejarah yang telah disampaikan gurunya. Semua metode pembelajaran itu baik asalkan guru jeli menempatkan pada situasi dan kondisi yang tepat.


Dari cucumu,
yang selalu ingin meneladani jejakmu
Ulfatul Qoyyimah, Pimpinan Umum LPM Edukasi periode 2016


three magical word” , “tiga kata ajaib”

Apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar kalimat tersebut? Apakah itu berarti suatu kata yang memiliki kekuatan supranatural? Bukan. Tiga kata ajaib ini merupakan kata yang memiliki makna dan efek yang sangat besar dalam kehidupan. Dalam kehidupan tentu perlu yang namanya bersosialisasi dengan yang lain. Dalam bersosialisasi kita memiliki kode etik yang perlu kita perhatikan guna menjalin hubungan yang baik. Tiga kata ajaib ini ringan untuk diucapkan, namun sangat jarang dari kita yang mengucapkannya bahkan banyak yang mengabaikannya.

Apa saja tiga kata ajaib itu? Ya. Maaf, tolong, dan terimakasih. Ketiga kata ini nampaknya sederhana dan sangat familiar ditelinga kita. Tapi, ketiga kata ini memiliki kekuatan yang luar biasa dan memiliki kekuatan yang posistif dalam membangun hubungan sosial yang baik antar manusia. Tiga kata ini juga bisa merekatkan tali silaturahmi, mendekatkan hubungan sosial yang renggang, juga bisa meredakan perselisihan juga perbedaan pendapat.
 
Maaf

Kata “maaf” ini sebenarnya sangat mudah untuk diucapkan, namun ego kita yang terkadang sulit untuk mengeluarkan kata ini. Banyak dari kita yang gengsi untuk mengucapkan kata ini. Mengapa? Biasanya karena kita enggan untuk mengakui kesalahan kita sendiri dan juga karena adanya prasangka buruk dari diri kita kepada orang lain.

Seharusnya kita tahu bahwasanya fitrah kita sebagai manusia yaitu “nobody is perfect”. Dalam ungkapan ini memiliki makna bahwasannya kita akan selalu melakukan salah dan khilaf baik yang kita sadari atau tanpa kita sadari. Dari sini meminta maaf sangat penting dalam kehidupan ketika kita melakukan salah, atau hanya sekedar sebagai tindakan dari kekhawatiran kita sudah melakukan keasalahan. Dalam kehidupan sosial antar manusia kata ini sangat penting untuk berlatih menjadi jiwa rendah hati juga tidak sombong.

Tolong

Mengungkapkan kata ini masih tentang ke-ego-an diri kita. Terkadang kita sombong untuk mengucapkan kata yang satu ini. Kita merasa bisa melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita berprinsip bahwasannya kita harus hidup “mandiri”. Apakah kita lupa kodrat kita sebagai makhluk sosial? Sebagai makhluk sosial kita tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang disekitar kita. Dari sini seharusnya kita sadar akan keterbatasan dan kelemahan kita.

Perlu kita ketahui dengan kata tolong ini, orang yang kita mintai bantuan pun akan merasa lebih senang hati dan tidak ada paksaan. Contoh kecil perhatikan dua kalimat ini. “ambilkan buku itu” dengan “tolong ambilkan buku itu”. Tentu dengan adanya kata tolong akan terkesan lebih lembut dan menghargai orang lain. Berbeda dengan kalimat yang tanpa ada kata tolong, terkesan kurang menghargai dan terkesan memerintah.

Terima kasih

Kata yang ketiga ini memiliki kekuatan yang sangat besar dan sangat penting dalam kehidupan sosial. Kata ini biasanya kita ucapkan kepada mereka yang memberikan hadiah atau ketika mereka memberikan bantuan kepada kita ketika kesusahan. Jangan pernah lupa dan enggan untuk mengucapkan terimakasih kepada mereka yang sudah memberi kita sesuatu , bantuan, atau hal apapun yang bermanfaat untuk kita.

Ungkapan terimakasih ini merupakan bentuk penghargaan kita kepada mereka yang memberikan bantuan. Pemberian penghargaan berupa materi sudah baik, namun akan lebih bermakna lagi ketika disertai dengan ucapan terimakasih. Tentu dengan ungkapan terimakasih akan membuat yang menerimanya merasa senang dan memberikan dorongan kepadanya untuk terus berbuat kebaikan. Tapi ucapan terimakasih ini sulit untuk diucapkan karena perlu dikhususkan dan ketulusan.

Dengan begitu, ketiga kata itu “three magical word” selain sebagai etika dalam berkomunikasi juga sebagai sarana untuk mendidik diri kita menjadi pribadi yang rendah hati juga baik. Marilah kita budayakan untuk mudah mengucapkan ketiga kata ini dalam kehidupan kita. Dengan kita menghargai oang lain, kita telah menghargai diri kita sendiri dan tentu akan dihargai oleh orang lain pula. Marilah kita ciptakan kehidupan yang saling menghargai.


Oleh: Desy Sulistyaningsih
Crew LPM Edukasi Angkatan 2014 dan Mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam Semester6 
Foto bersama dipenghujung acara oleh dua lembaga bahasa//Foto: LSB
Semarang, EdukasiOnline— Lembaga Studi Bahasa (LSB) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang bersama Ushuluddin Language Club (ULC) Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FuHum) mengadakan kongkow bahasa sore tadi, Jum’at (28/4) di taman Revolusi kampus 2.

Acara yang dimulai pukul 3 sore Ini sendiri membincang terkait materi bahasa inggris dengan menggunakan metode yang lebih santai. “Kebanyakan diisi dengan permainan yang mengarah pada speacking sama memperkaya kosakata,” ujar Muhtam Amala, ketua LSB.

Diskusi bahasa yang berlangsung di taman Revolusi//Foto: LSB

Muhtam, sapaan akrabnya menambahkan, awalnya acara ini sebagai wadah pengakraban sesama member Unit Kegitan Mahasiswa (UKM) bahasa FITK dan FuHum. Selain itu, ia juga mengatakan ingin sekali menghilangkan stigma bahasa asing yang dianggap sulit. “Stigma bahasa asing yang sulit perlu direduksi karena bahasa adalah kunci untuk menguasai dunia, terlebih di era global seperti ini,” imbuhnya.

Acara yang berakhir pada pukul 5 sore ini diharapkan akan menjadi pemancing awal semua lembaga bahasa di UIN Walisongo termasuk Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) bahasa untuk berkumpul dalam satu wadah agar terjalin harmonisasi antar lembaga. “Jadi kedepannya nanti bakal kita ajak semua lembaga bahasa untuk bisa join studi kongkow bahasa,” harap mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab semester 4 ini. (Edu_On/Riz)
Afid, pembicara diskusi sedang menyampaikan materi //Foto: Ozy
Semarang, EdukasiOnline Ada Apa dengan Kampus?”, sebuah tema yang diusung oleh Aliansi Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo dalam diskusinya, Rabu (26/04) kemarin di samping Auditorium 2 Kampus 3. Sejak transformasi dari IAIN menjadi UIN sejak 2014 lalu, kampus senantiasa berhias dan membangun wajah baru, bahkan pembangunan gedung menjulang tinggi menjadi pemandangan baru di kampus.

Setelah banyak mahasiswa yang berkumpul, diskusi ini pun dimulai dengan pemaparan masalah dari Afid Khomsani, salah satu pembicara. Banyak masalah yang dieluhkan Afid, mulai dari carut marutnya TOEFL dan IMKA, Regulasi Anggaran KKN, Poliklinik, administrasi kemahasiswaan, hingga tranparansi Uang Kuliah Tunggal (UKT) pun masih belum menemukan titik terang. “Sarana dan prasarana semakin tidak bersahabat, namun UKT semakin mencekik. UIN Walisongo ini institusi pendidikan atau pusat pengembangan bisnis?” keluhnya dengan amarah.

Menanggapi apa yang disampaikan oleh pembicara, para peserta diskusi pun mulai kasak-kusuk dengan masalah yang mereka alami. Ahmad Sajidin, salah satu pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), mengeluhkan perihal mahalnya peminjaman gedung di UIN, carut marutnya anggaran biaya untuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) kampus, dan transparansi UKT pun masih menjadi masalah yang pelik baginya.

Selain itu, Riza, mahasiswa jurusan Ilmu Hukum juga ikut menaggapi tentang permasalahan UKT. Sadar bahwa UKT yang diembannya begitu mahal, dia pun hampir melakukan banding UKT, namun dia mengurungkan niatnya. “Rektor bilang UKT bisa naik kalau ikut banding, itu sebabnya saya urungkan niat untuk ikut banding”, terangnya.

Tidak hanya perihal UKT yang dikeluhkan para mahasiswa, Riski, Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Dakwah  juga menyinggung terkait ketidakjelasan prosedur pencairan dana Muawanah –dana sumbangan untuk mahasiswa yang mengalami musibah. Sedangkan Ridwan, presiden BEM FITK lebih mengkritisi terkait kondisi kampus kotor. “UIN adalah kampus hijau, tapi mengapa lingkungan begitu kotor?”, keluhnya.

Setelah mengumpulkan beberapa masalah yang dikeluhkan, diskusi ini pun berakhir pada pukul 18.00 WIB. Sebelum menutup acara, sebagai perwakilan dari SEMA Universitas Baihaqi sangat mengapresiasi apa yang telah mahasiswa suarakan. Ia bersama Aliansi Mahasiswa lainnya akan berusaha mengawal permaslahan ini hingga menemukan titik terang. (Edu_On/Nil)
Judul buku: Kisah Di Balik Pintu
Pengarang: Soe Tjen Marching
Tebal buku: 256
Penerbit: Ombak
Resensator:  Aziz Afifi

            Identitas merupakan sebuah tawar-menawar dari pribadi, sosial maupun idiologi. Secara tidak langsung dalam kata “saya” maupun “aku” identitas pada diri seseorang itu muncul. Tidak berhenti pada tahap itu saja, dalam tahap seperti itu seorang pribadi juga berusaha dalam merekontruksi sebuah jati diri yang mereka punya, meskipun dalam tekanan lingkungan yang ada.
            Dalam masyarakat tradisional Indonesia Benedict Anderson mengatakan persepsi orang dibentuk oleh lingkungan luas, dengan alam serta ruang sekitar. Sehingga orang menggunakan kata “saya” atau “aku” masih  dianganggap individualistik atau angkuh, karena telah melepaskan diri dari lingkungan luas. Hal ini terbukti dengan beberapa sejarah Indonesia yang telah terjadi. Seperti dalam tradisi oral melayu, sang pendongeng atau pencipta lebih suka menggunakan kata “hamba”. Ini juga ditorehkan dalam beberapa karya sastra yang ada di jawa, bahkan babad lebih mengagungkan para raja.
            Dalam pendekatan pandangan filsafat, pembentukan identitas ini menurut Levinas manusia memiliki dua unsur yaitu keterpisahan dan interioritas. Keterpisahan merujuk pada relasi diri kita dan orang lain, bahwa pada konsep ini manusia sebagai sesuatu yang berbeda satu dengan yang lain. Sedangkan dalam konsep interioritas manusia cenderung terikat pada ego atau sang aku. Sehingga manusia lebih nyaman dengan dirinya sendiri. disinilah lantas kata “aku” atau “saya” muncul dari seseorang.   
            Identitas inilah yang lantas menjadi topik menarik dalam bukunya Soe Tjen Marching. Mencoba menelusuri beberapa karya otobiografi, biografi sampai diary seseorang, Soe Tjen berusaha mengungkapnya secara gamblang. Namun dalam pembedahannya terkait identitas ini, Soe Tjen memfokuskan akan budaya partriarki dalam masyarakat kita.
            Budaya yang berpandangan bahwa lelaki selalu di atas wanita ini berlangsung di Indonesia sudah sangat lama. Tercatat oleh Soe Tjen bahwa budaya ini dipengaruhi dari tiga masa di Indonesia. Masa pertama yang memberi corak budaya semacam ini adalah kerajaan. Pengaruh selanjutnya adalah kolonial dan terakhir pada masa orde baru.
            Buku ini mencoba mengali hal tersebut, terutama pada masa Orde Baru, dimana segala pembentukan wanita ideal didasarkan pada keluarga yang nasionalis atau berdasarkan pahlawan nasional. Konsep wanita macak, manak, masak ditekankan dalam zaman ini. Konsep inilah yang menjadi konstruk di masayarakat kita. Sehingga bisa kita temui anggapan, jika seseorang keluar asas tersebut, maka mempunyai sifat menyimpang. Bentuk penyimpangan ini seperti ditunjukkan pada beberapa julukan wanita tomboy dan lain sebagainya.
            Selain itu wanita ideal tak dapat lepas dari segi kemaskulinan. Bahwa tolak ukur wanita yang ideal adalah wanita yang mampu melaksanakan beberapa konsep tersebut dengan baik dan tidak neko-neko. Selain itu konsep menjadi ibu, pendidik dan istri terbaik melekat dengan kuat dalam zaman ini. Hal inilah yang dirangkum dalam panca darma wanita: istri sebagai pendamping suami, ibu sebagai pendidik dan pendamping penerus bangsa, pengatur rumah tangga, pekerja penambah hasil keluarga, dan anggota masyarakat yang berguna.
            Bentuk lain yang dihadirkan oleh budaya patriarki berupa terciptanya jurang pendidikan yang sangat jauh. Seorang wanita biasanya hanya berhenti pada tahap tertentu saja. pandangan ini tidak jauh dari konsep macak, manak, masak tadi. Sebaliknya, seorang lelaki bisa mencapai pendidikan yang setinggi-tingginya dengan anggapan, bahwa seorang lelaki adalah tulang punggung keluarga.

Pemberontakan

            Orde baru menjadi kekuasaan yang memanipulasi wanita indonesia. Ini berkaitan dengan idiologi dan politik orde baru yang terpengaruh sistem hirarki orang jawa. Bahwa pemimpin selalu dijunjung setengah dewa. Sehingga corak inilah yang lantas ditagkap oleh Soe Tjen, bahwa Soeharto selalu memposisikan dirinya sebagai negara dan pancasila sehingga tidak dibantah lagi.
            Dalam kondisi yang otoriter semacam itu, peran wanita sangat minim. Bahwa wanita hanya surga nunut neraka katut. Tapi tidak menutup kemungkinan pemberontakan akan terjadi. Bahkan pada buku ini memaparkan bahwa terjadi pemberontakan pada diri wanita. Meskipun pada konteks pemberontakan itu masih secara tersembunyi melalui beberapa buku catatan harian.
            Memang bentuk wacana dari kekuasaan adalah mempengaruhi sebanyak-banyaknya manusia untuk menjalankan apa yang telah dirumuskan. Namun jangan dilalikan dalam sisi lain. Bahwa kekuasaan akan menghadapi setiap individu yang ada. Meskipun hanya berupa bentuk pemberontakan secara individu, kajian dari buku harian dan otobiografi ini memberi wacana bentuk dari sejadinya perempuan Indonesia. Sehingga buku ini bisa menjadi refrensi mahasiswa dan memberi pandangan baru soal sejarah sendiri. Terlebih membantu membentuk  pandangan baru mengenai wanita Indonesia sendiri.  



Semarang, EdukasiOnlineRabu pagi, sekitar pukul 10.00 WIB Surat Edaran Nomor: B-1165/Un. 10. 0/R/HM.00/4/2017 beredar di lingkungan Kampus 2 UIN Walisongo Semarang, (26/4). Surat Edaran tersebut ditujukan kepada para Wakil Rektor, Kepala Biro, Dekan, Direktur Pascasarjana, Sekretaris Kopertais wil. X Jateng, Ketua Lembaga, Kepala UPT, Kepala Bagian, Sub bagian TU Pascasarjana, Ketua DEMA, Ketua SEMA, Ketua UKM, serta Komandan SATPAM di wilayah UIN Walisongo Semarang.

Dalam rangka menjaga dan meningkatkan ketertiban, keamanan, kenyamanan, dan keindahan lingkungan Kampus (4K), Muhibin selaku Rektor UIN Walisongo menyampaikan beberapa hal dalam surat edarannya tersebut.

Pertama, pedagang asongan/ Pedagang Kaki Lima (PKL) dilarang berjualan di wilayah Kampus (termasuk trotoar pintu gerbang masuk Kampus UIN Walisongo), kedua, Mahasiswa dan civitas akademika UIN Walisongo agar ikut berpartisipasi aktif demi menjaga martabat dan keindahan Kampus Universitas, dan yang ke-ketiga, Mahasiswa dan civitas akademika UIN Walisongo agar memarkirkan kendaraan di tempat yang telah disediakan dan dilarang parkir di jalan raya sekitar pintu gerbang kampus dan jalan depan koperasi Mahasiswa.

 Terakhir, surat edaran tersebut disahkan oleh Muhibin, selaku Rektor UIN Walisongo Semarang pada Selasa, 25 April 2017 lalu. (Edu_On/Wir)
dok. internet


Semarang, EdukasiOnline -- Akhir-akhir ini banyak mahasiswa semester akhir Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, disibukkan dengan memenuhi kelengkapan prasyarat untuk pendaftaran ujian komperhensif. Banyak dari mereka yang terlihat mondar-mandir untuk melakukan pengecekan sertifikat kepada korektor masing-masing jurusan. Tidak sedikit dari mahasiswa yang mengeluhkan perihal masih diberlakukannya Satuan Kredit Ko-Kurikulum (SKK). Padahal sudah ada Imka dan Toefl sebagai prasyarat untuk ujian komperhensif.

Menurut penjelasan dari Durotul Yatima, mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) semester delapan, dengan adanya SKK tersebut membuatnya kuwalahan, pasalnya ia hanya memiliki SKK yang jumlahnya tak seberapa. Akhirnya Ima begitu sapaan akrabnya, meminta-minta SKK ke teman-temannya. “Adanya SKK sebagai syarat mengikuti ujian komprehensif, saya sendiri merasa kewalahan. Sedangkan SKK yang saya miliki terbatas,” tuturnya.

Dalam penilaian SKK meliputi lima aspek yang harus dipenuhi yaitu aspek bakat dan minat, aspek pengabdian pada masyarakat, aspek keagamaan dan kebangsaan, aspek kepemimpinan dan loyalitas, serta aspek penalaran dan idealisme. Namun, adanya keharusan untuk memenuhi lima aspek tersebut menimbulkan prasangka-prasangka di kalangan mahasiswa jika dipikirkan secara rasional seperti yang dituturkan Ima. "Tak pikir mahasiwa yang aktifpun tidak sampai mempunyai SKK sebanyak itu dengan lima aspek tersebut," pikirnya.

Terkait ketentuan poin, tim redaksi juga menanyakan kepada  Fina Hidayatur, mahasiswa dari jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), yang beberapa waktu lalu mengikuti pembekalan terkait SKK dijurusannya. Menurutnya dalam proses penilaian terdapat beberapa kriteria. Pertama, untuk mendapatkan nilai A maka point yang harus dikumpulkan sebanyak delapan puluh lebih. Kedua, jika pointnya hanya tujuh puluh nilainya B. Terakhir apabila hanya mendapatkan enam puluh poin saja maka nilainya terpaksa C.

Dia pun mengeluhkan dengan rentetan point yang begitu banyaknya. Menurutnya point-point itu perlu dikaji ulang. "Bila perlu aspek-aspeknya dikurangi,"imbuhnya.

Setelah tim redaksi mencoba menanyakan terkait pengaruh SKK pada sistem perpoinan di Ujian Komperhensif. Ternyata tidak semua mahasiswa mengetahui betul fungsi dari tetap diberlakukan SKK tersebut. "Sayapun sebenarnya menanyakan manfaat dari pengumpulan SKK ini untuk apa?" keluhnya perempuan semester delapan.

Perempuan inipun menjelaskan lebih lanjut, kemungkinan-kemungki­nan yang coba dihadirkan dalam premis-premis menuju kebenaran. Ima mengatakan "Mungkin saja dengan diberlakukannya SKK ini untuk mendorong mahasiswa untuk lebih aktif dalam seminar-seminar yang ada di kampus maupun luar kampus," jelasnya. Lalu Ima pun mencoba mengkaitkan sisi negatif dari adanya sistem pengumpulan SKK.

Menurut ceritanya tidak sedikit dari teman-teman seangkatannya yang melakukan manipulasi dengan menjadikan sertifikat itu sebagai piala bergilir. "Iya terkadang teman-teman joinan SKK dan nanti dibuat gantian," tuturnya. Menanggapi hal itu Ima merasa bahwa mahasiswa diajari untuk berbohong. Tuturnya lebih lanjut “Itu jika melihat SKK dari segi negatif," imbuhnya.

Harapan dari Ima sendiri untuk mahasiswa apabila SKK tetap diberlakukan, mahasiswa harus banyak mengikuti seminar. "Maka banyak-banyaklah mengikuti seminar-seminar," sarannya. Sedangkan untuk birokrasi Ima menyarankan agar lebih ditekankan lagi kejelasan dari pengumpulan SKK itu untuk apa. "Ataukah hanya untuk menambah poin ketika ujian komperhensif atau ada unsur lain yang menguntungkan dalam jangka waktu panjang bagi mahasiswa," resahnya. (Edu_On/Fat)

Semarang, EdukasiOnline –Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) gelar acara “Today 2nd Anniversary Celebration”. Agenda perayaan hari jadi HMJ ini cukup sukses menyedot para peserta. Terbukti dengan sesaknya Aula Gedung Q yang padat oleh para mahasiswa pada Senin, (10/4).
Menurut penuturan dari Hananda Friscania Dewi sebagai ketua panitia, tujuan diadakannnya acara ini untuk memperkenalkan program kerja HMJ PBI, terkhusus kepada mahasiswa PBI.
Selain itu, acara ini juga dimaksudkan untuk menjalin kedekatan dengan Kepala Jurusan PBI yang dikemas dengan model saharing-sharing bersama.
“Tidak hanya menjelaskan proker HMJ semata, acara kali ini akan diisi dengan sharing-sharing bersama Pak Kepala Jurusan (kajur) PBI”, papar perempuan berkerudung merah muda tersebut.
Ari Irfan Fahrudin-Ketua HMJ PBI pada periode ini menambahkan bahwa mahasiswa PBI masih banyak yang kebinggungan terhadap Passionnya. Oleh karena itu, dengan di adakannya acara ini diharapkan mampu menjadikan wadah untuk mengatasi kebingungan tersebut.
“Karena banyak dari mereka yang belum mengetahui jati diri mereka sebenarnya, saya selaku Ketua HMJ bersama pengurus lainnya, bekerjasama membuat sebuah acara, agar mahasiswa PBI tidak kebingungan lagi”, terang pria tersebut dengan penuh harap.
Menanggapi apa yang disampaikan oleh ketua panitia dan ketua HMJ di atas mimbar tersebut. Ikhrom selaku Ketua Jurusan yang turut hadir dalam acara ini, mengharapakan agar program kerja HMJ PBI bisa selaras dengan program kerja dari Universitas. Pun tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Sayyidatul Fadhilah- Sekertaris Jurusan PBI yang mengharapakan mahasiswa PBI untuk tidak malu-malu dalam menunjukkan bakatnya. “Show your talent. Don’t be afraid”, tuturnya.
Hananda berharap dengan adanya harlah tersebut, kinerja HMJ lebih diketahui lagi oleh semua mahasiswa. Begitupun harapan Ari, “Semoga mahasiswa tahu apa tujuan dari kami dan mereka mampu memanfaatkan apa yang kami suguhkan. Karena HMJ adalah tempat aspirasi mereka”, imbuh Ketua HMJ. (Edu_On/niL)

Karya: Ardyon Steville
Dibatas siang
Diantara gugusan gelisah
Yang kubiarkan melajang
Mana yang harus dipilih-lakukan
Mencuri pandang atau stagnan hanya menjadi bayang?
Membenarkan candu atau mengkambing-hitamkan lugu?
Sebab aku; sebentuk puisi yang dilacurkan waktu
Kau; jantung yg mendetak barisan huruf beku