
Massa aksi membakar ban di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah saat aksi Panca Tuntutan Rakyat (PANTURA) berlangsung, Senin (15/6/2026). Doc. LPM Edukasi
SEMARANG, lpmedukasi.com – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Semarang Raya menggelar aksi Panca Tuntutan Rakyat (PANTURA) di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Senin (15/6/2026). Aksi tersebut terbagi menjadi dua titik, yakni gerbang utara yang diisi massa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan gerbang selatan yang ditempati massa Aliansi BEM Semarang Raya.
Ketua Umum HMI Cabang Semarang, Muhammad Nabil Mualif, menjelaskan bahwa pembagian massa di dua gerbang merupakan hasil kesepakatan bersama karena kedua kelompok sama-sama membawa mobil komando.
"Memang karena dari HMI juga membawa mokom (mobil komando) dan teman-teman aliansi juga membawa mokom, jadi kita tadi sepakat untuk dua gerbang di DPRD Provinsi ini kita penuhi. Satu dari mokomnya teman-teman aliansi, satu lagi dari teman-teman HMI," ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua BEM Universitas Diponegoro (Undip), Majid, menyatakan bahwa aksi berjalan sesuai teknik lapangan (teklap) yang telah disepakati dalam konsolidasi sebelumnya. Ia mengaku tidak mengetahui adanya aksi lain di luar kesepakatan tersebut.
"Aksi berjalan sesuai teklap yang telah disepakati oleh teman-teman dalam konsolidasi sebelumnya. Kami tidak mengetahui jika ada aksi lain di luar itu, karena itu merupakan kebebasan masing-masing peserta," ujarnya.
Aksi yang awalnya berlangsung damai mulai memanas setelah terjadi pembakaran ban di gerbang selatan Kantor Gubernur Jawa Tengah. Petugas kepolisian segera memadamkan api menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Hal serupa terjadi di gerbang utara, ketika massa Aliansi BEM dari berbagai perguruan tinggi juga melakukan pembakaran ban. Situasi di lokasi aksi pun semakin memanas.
Salah satu mahasiswa Undip, Ardi, mengungkapkan bahwa kericuhan dipicu oleh perselisihan antara dua orang yang berbeda pandangan mengenai jalannya aksi.
"Kericuhan itu dipicu oleh dua orang yang berseteru karena memiliki perbedaan pandangan mengenai aksi ini," ungkapnya.
Meski sempat terjadi ketegangan, aksi tetap berlangsung hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai.